Sabtu, 06 Desember 2025

PEMANFAATAN LIMBAH AIR CUCIAN BERAS SEBAGAI BAHAN DASAR BIOFOAM PENGGANTI STYROFOAM RAMAH LINGKUNGAN

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara dengan peringkat ke 2 setelah Negara China dalam

menghasilkan sampah plastik (styrofoam) sebesar 187,2 ton. Data tersebut juga

selaras dengan data yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan

Kehutanan dimana hasil dari data tersebut yaitu styrofoam yang dihasilkan selama

kurun waktu 1 tahun sudah menimbulkan timbunan mencapai 10,95 juta buah

sampah. Sampah styrofoam terbesar dihasilkan non rumah tangga sebanyak 11,9

ton per bulan. Sementara, rumah tangga menyumbang sebanyak 9,8 ton per bulan.

Persentase sampah styrofoam mencapai 1,14% dari 12% sampah plastik yang

terkumpul setiap bulannya (Dinanti dkk., 2024).

Berdasarkan data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah

melakukan penelitian di 18 kota utama Indonesia, sebanyak 270.000 hingga

590.000 ton sampah masuk ke laut Indonesia selama tahun 2018. Dari jumlah

sampah tersebut, didominasi oleh styrofoam. Permintaan kemasan styrofoam di

Indonesia berada di kisaran 700-800 ton per bulan. Banyak pelaku usaha mikro

kecil dan menengah (UMKM) khususnya sektor makanan, menggunakan styrofoam

sebagai makanan karena selain mudah dan praktis, daya tahan terhadap suhu panas

maupun dingin juga menjadi pertimbangan bagi pengguna kemasan ini. Kelebihan

lainnya dari kemasan ini yaitu bahannya yang ringan, anti air, serta tidak gampang

mengalami kerusakan karena suhu panas (Abdullah dkk, 2022). Tidak hanya itu

permasalahan sampah semakin naik setiap tahunnya, dari periode tahun 2017-2025

kenaikan jumlah sampah terutama sampah plastik terus meningkat, namun belum

ada solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Gambar 1. Grafik Penimbunan Sampah di Indonesia 2017-2025


Sumber Kompas.com


Styrofoam merupakan jenis bahan kimia organik yang tidak bisa terurai oleh alam,

bahaya styrofoam berasal dari butiran-butiran styrene, yang diproses dengan

menggunakan benzana. Benzana inilah yang termasuk zat yang dapat menimbulkan

banyak penyakit. Styrofoam bukan barang yang bisa didaur ulang, seperti gelas,

kertas, atau metal, yang dapat didaur ulang menjadi material mentah untuk dibuat

kembali menjadi barang serupa. Membutuhkan waktu yang sangat lama agar

styrofoam dapat terurai, namun tidak semua partikel penyusunnya dapat terurai

secara sempurna sehingga styrofoam disebut bahan kimia organik yang tidak bisa

terurai oleh alam (Sari dkk., 2019).

Styrofoam mengandung senyawa styrene yang dapat bermigrasi dan berpotensi

mengkontaminasi makanan, dalam kondisi suhu makanan, waktu penyimpanan

makanan, dan jenis makanan tertentu. Semakin tinggi temperatur dan lama

penyimpanan makanan pada kemasan styrofoam, maka semakin tinggi pula tingkat

migrasi senyawa styrene. Kandungan styrene pada styrofoam dapat menyebabkan

gangguan pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata pada tingkat rendah dan

dapat menyebabkan kanker pada penggunaan tingkat tinggi. Perkembangan industri

membawa kemudahan dalam kehidupan, namun di sisi lain menimbulkan

permasalahan lingkungan yang cukup serius, salah satunya akibat penggunaan

olahan plastik seperti styrofoam. Styrofoam banyak digunakan sebagai bahan

pengemas makanan maupun minuman karena sifatnya yang ringan, tahan air, dan

murah. Namun, bahan tersebut sulit diuraikan oleh alam, jika penggunaannya terus

bertambah, hal tersebut dapat menimbulkan pencemaran tanah dan air yang

berdampak negatif terhadap lingkungan. Untuk mengatasi masalah tersebut,

dibutuhkan alternatif yang ramah lingkungan dan dapat terurai secara alami yaitu

biofoam yang berbahan dasar pati. (Chofifa dkk, 2021).

Air cucian beras seringkali dibuang begitu saja saat mencuci beras, air cucian

tersebut masih mengandung banyak senyawa tersuspensi seperti karbohidrat yang

sebagian besar terdiri dari pati sekitar 75%. Kandungan pati terdiri atas amilosa dan

amilopektin yang berfungsi sebagai bahan pembentuk struktur polimer alami yang

mudah terurai oleh mikroorganisme dan tidak meninggalkan zat berbahaya setelah

terurai. Di dalam beras terkandung beberapa komponen penting bagi manusia


diantaranya karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Beberapa kandungan

gizi beras dan zat pati tertinggi terdapat pada endosperma serta kulit pembungkus

biji. Pada pencucian beras, beberapa komponen tersebut akhirnya ikut terlarut

terbawa (Lestari & Hidayat, 2020).

Dari kandungan nutrisi yang terdapat dalam air cucian beras tersebut maka air

cucian beras memiliki potensi menjadi bahan dasar utama pembuatan biofoam

sebagai inovasi ramah lingkungan untuk menjawab permasalahan sampah

(stryrofoam) yang terus meningkat. Atas dasar inilah penulis membuat karya yang

berjudul ‘‘Pemanfaatan Limbah Air Cucian Beras Sebagai Bahan Dasar Biofoam

Pengganti Styrofoam Ramah Lingkungan”. Pemanfaatan limbah air cucian beras

diperlukan karena tingginya aktivitas pencucian beras setiap harinya dan limbahnya

terbuang begitu saja. Selain itu penggunaan styrofoam setiap harinya dapat

berdampak pada kesehatan, styrofoam juga bersifat non-biodegradable, artinya

tidak dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme di lingkungan. Akibatnya,

limbah styrofoam dapat mencemari tanah dan perairan, serta membutuhkan waktu

yang sangat lama untuk terurai. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran masyarakat

dan upaya pemerintah dalam mendorong penggunaan wadah makanan alternatif

yang lebih ramah lingkungan, seperti kemasan berbahan kertas, daun, atau

bioplastik.


ISI

Masalah pencemaran lingkungan akibat limbah plastik dan styrofoam menjadi

tantangan besar bagi dunia. Kedua bahan tersebut sulit terurai dan dapat mencemari

tanah maupun air dalam jangka panjang. Untuk mengurangi dampak tersebut, para

peneliti mulai mengembangkan biofoam, yaitu bahan kemasan berbasis biopolimer

alami yang bersifat biodegradable atau mudah terurai oleh mikroorganisme.

Biofoam dirancang untuk memiliki karakteristik serupa dengan styrofoam, tetapi

dengan dampak lingkungan yang jauh lebih kecil. Salah satu bahan potensial yang

dapat dimanfaatkan untuk membuat biofoam adalah air cucian beras. Air cucian

beras mengandung amilosa dan amilopektin, dua komponen utama pati yang

berfungsi sebagai biopolimer alami. Dengan memanfaatkan limbah rumah tangga

yang sering terbuang, inovasi ini tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga

memberi nilai tambah pada limbah organik. Melalui proses pemanasan dan

pengeringan, air cucian beras dapat diolah menjadi biofoam dengan struktur ringan,

berpori, dan dapat terurai secara hayati di alam (Lestari dkk., 2022).

Konsep ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hevira dkk., (2021),

yang mengembangkan biofoam berbahan dasar ampas tebu. Hasil penelitian

tersebut menunjukkan bahwa biofoam dari bahan alami memiliki daya serap air

yang rendah serta tingkat biodegradabilitas yang tinggi, mencapai 100% dalam

waktu tiga minggu. Penelitian ini memperkuat bukti bahwa bahan-bahan alami

seperti ampas tebu maupun air cucian beras berpotensi besar untuk dikembangkan

sebagai bahan pengganti styrofoam yang ramah lingkungan. Pengembangan

biofoam dari air cucian beras tidak hanya menjadi solusi teknis terhadap limbah

plastik, tetapi juga wujud penerapan ekonomi sirkular dan pembangunan

berkelanjutan. Pemanfaatan limbah organik sebagai bahan dasar produk baru

menciptakan siklus produksi yang lebih efisien dan minim limbah.

Inovasi ini berfokus pada pemanfaatan air cucian beras sebagai bahan dasar

pembuatan biofoam ramah lingkungan dengan penambahan bahan alami sederhana

berupa gliserol, cuka (asam asetat), serta tepung tapioka atau jagung sebagai bahan

opsional. Gliserol berperan sebagai plastisizer yang meningkatkan kelenturan


biofoam, sedangkan cuka berfungsi membantu proses gelatinisasi pati, dan tepung

berkontribusi memperkaya struktur biopolimer. Proses pembuatannya meliputi

pengumpulan dan penyaringan air cucian beras, pemanasan hingga mengental

sambil ditambahkan gliserol dan cuka, kemudian pencetakan dan pengeringan

hingga terbentuk padatan yang siap diuji dari segi ketahanan, kelenturan, dan

tingkat biodegradabilitas. Keunggulan inovasi ini terletak pada penggunaan bahan

yang sepenuhnya alami, murah, mudah diperoleh, serta tidak menghasilkan limbah

berbahaya, sehingga berpotensi diterapkan di laboratorium sekolah maupun

perguruan tinggi (Hakim dkk., 2024).

Hasil dari pembuatan biofoam berbahan dasar air cucian beras ini menghasilkan

material dengan struktur ringan, berpori, serta memiliki sifat yang elastis dan

mudah terurai di lingkungan. Biofoam yang dihasilkan memiliki karakteristik fisik

yang menyerupai styrofoam konvensional, seperti kemampuan melindungi produk

dari benturan dan sifat tahan air dalam batas tertentu, namun jauh lebih ramah

lingkungan karena dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme dalam waktu

yang relatif singkat. Dari segi manfaat, biofoam ini berpotensi digunakan sebagai

bahan kemasan makanan, serta alternatif pengganti styrofoam dalam berbagai

kebutuhan industri dan rumah tangga.

Keunggulan utama dari biofoam berbahan dasar air cucian beras antara lain berasal

dari bahan yang sepenuhnya alami, murah, mudah diperoleh, proses pembuatannya

sederhana, serta tidak menghasilkan limbah berbahaya selama produksi maupun

setelah digunakan dan waktu maksimal yang dibutuhkan untuk biodegradable foam

terurai dalam tanah adalah 6 sampai 9 bulan. Namun demikian, biofoam ini juga

memiliki beberapa kelemahan, seperti ketahanan yang masih lebih rendah

dibandingkan styrofoam sintetis, serta keterbatasan terhadap suhu dan kelembapan

tinggi yang dapat memengaruhi bentuk dan kekuatannya. Meski demikian, dengan

pengembangan formula dan teknologi yang lebih lanjut, biofoam dari air cucian

beras berpotensi menjadi solusi berkelanjutan dalam mengatasi permasalahan

limbah plastik dan mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat

(Hakim dkk., 2024).


PENUTUP

Pemanfaatan limbah air cucian beras sebagai bahan dasar pembuatan biofoam

ramah lingkungan merupakan langkah inovatif yang memiliki nilai ekologis dan

ekonomis tinggi. Inovasi ini tidak hanya memberikan solusi terhadap permasalahan

limbah rumah tangga yang selama ini terbuang sia-sia, tetapi juga menjadi alternatif

nyata dalam mengurangi ketergantungan terhadap styrofoam yang sulit terurai dan

berbahaya bagi kesehatan serta lingkungan. Melalui penerapan teknologi sederhana

dan bahan alami yang mudah diperoleh, biofoam berbasis air cucian beras dapat

menjadi produk berkelanjutan yang mendukung prinsip ekonomi sirkular.

Diharapkan, inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk lebih bijak

dalam mengelola limbah serta mendorong pemerintah, akademisi, dan sektor

industri untuk berkolaborasi dalam mengembangkan dan menerapkan teknologi

ramah lingkungan. 


Ditulis Oleh: 

1. Chintya Ananda (Teknik Lingkungan/2515014044) 

2. Indri Yani (Teknik Sipil/2515011069) 

3. Najwa Amalia (Biologi/2417021017) 

4. Sahvira Okta Viola (IESP/2411021141) 


INOVASI POHON DURIAN KAKI TIGA : UPAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DAN KEBERLANJUTAN PERTANIAN MENUJU SDGs 2030

PENDAHULUAN

Pertanian merupakan salah satu sektor utama dalam perekonomian Indonesia karena berperan penting dalam penyediaan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagai negara agraris dengan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan berbagai komoditas unggulan yang bernilai ekonomi tinggi (Badan Pusat Statistik, 2023). Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena masih adanya beberapa kendala yang dihadapi, seperti degradasi lahan, perubahan iklim, serta rendahnya penerapan teknologi modern di kalangan petani. Kondisi ini berdampak pada penurunan produktivitas dan efisiensi pertanian, sehingga dibutuhkan inovasi yang berkelanjutan agar sektor pertanian tetap mampu berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional (Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 2022). 

Salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan mempunyai peluang besar untuk dikembangkan adalah durian (Durio zibethinus Murr.). Durian dikenal sebagai buah tropis unggulan dengan cita rasa khas dan kandungan gizi yang lengkap, seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Indonesia bahkan menjadi pusat keanekaragaman genetik durian dengan lebih dari seratus varietas unggul yang telah terdaftar secara resmi (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2021). Namun, produktivitas durian di tingkat petani masih rendah akibat sistem perakaran yang lemah, pengelolaan lahan yang kurang efisien, serta kondisi lingkungan yang tidak menentu. Perlunyagagasan inovatif yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman durian sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. 

Inovasi durian kaki tiga juga berkontribusi terhadap keberlanjutan pertanian yang  sejalan dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Sistem kaki  tiga memanfaatkan bahan tanam lokal yang tahan penyakit, sehingga mengurangi  ketergantungan pada pestisida dan bahan kimia sintetis yang berpotensi merusak  lingkungan. Berdasarkan penelitian Nugroho dan Rahmawati (2020) dalam Jurnal  Pembangunan Berkelanjutan, penerapan teknologi budidaya adaptif seperti ini  dapat menekan kerusakan tanah dan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. 

Selain itu, sistem akar yang lebih kuat membantu tanaman beradaptasi terhadap  kondisi iklim ekstrem, mendukung efisiensi penggunaan air, serta meningkatkan  daya serap karbon tanah. Peningkatan efisiensi sumber daya ini menjadikan  budidaya durian kaki tiga sebagai langkah konkret menuju pertanian berkelanjutan  yang ramah lingkungan. Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya berorientasi  pada hasil ekonomi, tetapi juga mencerminkan komitmen petani dalam  mewujudkan sistem pertanian tangguh yang mendukung ketahanan pangan  nasional dan keberlanjutan lingkungan menuju SDGs 2030. Oleh karena itu,  inovasi pohon durian kaki tiga merupakan langkah nyata dalam mendukung  ketahanan pangan dan keberlanjutan pertanian di Indonesia. Dengan sistem akar  yang kuat dan produktivitas tinggi, inovasi ini tidak hanya meningkatkan  kesejahteraan petani, tetapi juga berkontribusi terhadap tercapainya tujuan SDGs  2030 di bidang pertanian berkelanjutan.


ISI 

Pohon durian kaki tiga merupakan inovasi teknologi budidaya yang berpotensi besar untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan tanaman durian. Gagasan ini diadaptasi dari metode Triple Trees Planting yang dijelaskan dalam Buku Lapang Budidaya Durian (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2021). Teknik ini dilakukan dengan menanam tiga bibit durian pada satu lubang tanam berbentuk segitiga sama sisi dengan jarak antarbatang sekitar satu hingga dua meter. Ketiga batang tersebut kemudian dipelihara hingga menyatu menjadi satu pohon utama dengan sistem perakaran yang lebih kuat dan luas. Dengan sistem ini, tanaman memiliki tiga kali lipat jaringan akar dibandingkan tanaman tunggal, sehingga kemampuan menyerap air dan unsur hara meningkat secara signifikan. 

Secara fisiologis, sistem akar yang lebih banyak memberikan suplai nutrisi dan air yang lebih stabil, terutama pada musim kemarau atau pada tanah dengan kadar hara rendah. Akar yang kuat juga memperkuat ketahanan tanaman terhadap angin dan erosi tanah. Dengan dukungan perakaran yang luas, pertumbuhan vegetatif menjadi lebih cepat karena proses fotosintesis berjalan optimal. Hal ini akhirnya mempercepat fase pembungaan dan pembuahan. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Ghoffar dan Ashari ,(2018 )yang menunjukkan bahwa penggunaan tiga batang bawah pada grafting dua jenis durian lokal Wonosalam menghasilkan pertumbuhan vegetatif tertinggi dibandingkan perlakuan satu atau dua batang bawah. Semakin banyak sistem akar yang menopang batang atas, semakin tinggi kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara dan air. Hal ini memperkuat dasar teori pengembangan sistem pohon durian kaki tiga

keberhasilan sistem kaki tiga juga bergantung pada kompatibilitas antara batang bawah dan batang atas. Penelitian Rahmatika dan Setyawan (2021) menegaskan bahwa pasangan batang bawah dan batang atas yang kompatibel memiliki daya tumbuh dan kualitas bibit yang lebih baik. Ketiga batang bawah yang digunakan harus memiliki kesesuaian genetik agar dapat tumbuh serasi menjadi satu pohon utama yang sehat. Ketidaksesuaian genetik dapat menghambat penyatuan jaringan kambium dan menyebabkan pertumbuhan tidak seimbang.

penerapan teknologi kaki tiga belum sepenuhnya merata di kalangan petani. Tantangan utama terletak pada keterbatasan pengetahuan teknis dan biaya awal yang relatif tinggi. Oleh karena itu, Wibowo dan Hidayat (2023) merekomendasikan perlunya pendampingan teknologi dan pelatihan intensif agar petani mampu menguasai teknik sambung multi-batang secara benar. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga penelitian, dan perguruan tinggi juga menjadi kunci keberhasilan dalam memperluas adopsi teknologi ini. Melalui kerja sama yang terarah, inovasi durian kaki tiga dapat menjadi model pengembangan pertanian cerdas (smart agriculture) yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan di masa depan. 

Keberhasilan teknik ini juga dipengaruhi oleh perlakuan terhadap entres atau batang atas. Penelitian Yuliani dan Sari, (2022) menunjukkan bahwa penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) dan pemangkasan daun entres dapat mempercepat munculnya tunas baru serta meningkatkan pertumbuhan awal bibit durian varietas Bawor. Dalam sistem kaki tiga, penerapan ZPT dan pemangkasan daun dapat mempercepat proses penyatuan batang serta memperbaiki kualitas pertumbuhan vegetatif. Hasil ini menegaskan pentingnya kombinasi perlakuan fisiologis dan mekanis dalam menciptakan tanaman yang kuat dan produktif. 

Dari sisi agronomis, penerapan pohon durian kaki tiga memberikan efisiensi dalam penggunaan lahan. Dalam sistem tanam konvensional, peningkatan hasil biasanya dilakukan melalui perluasan lahan yang berisiko menyebabkan degradasi tanah. Sebaliknya,sistem kaki tiga meningkatkan produktivitas persatuan luaslahan tanpa memperluas area tanam. Hal ini mendukung prinsip intensifikasi berkelanjutan (Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 2022). Teknik ini juga dapat dikombinasikan dengan pemangkasan tajuk dan pemupukan terarah untuk mempertahankan keseimbangan pertumbuhan antar batang. 

Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2021) juga menegaskan bahwa pengembangan durian unggul berbasis inovasi teknologi seperti sistem kaki tiga dapat memperkuat daya saing buah lokal di pasar global serta menjaga keseimbangan ekologi melalui praktik budidaya berkelanjutan. Teknologi ini terbukti mendukung sistem pertanian modern yang tidak hanya fokus pada hasil

panen, tetapi juga pada keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan petani. Implementasi inovasi ini di berbagai daerah seperti Banyumas dan Wonosobo telah menunjukkan hasil positif, di mana produktivitas durian meningkat hingga 40% tanpa menambah luas lahan tanam. 

Inovasi pohon durian kaki tiga memiliki potensi besar dalam mendukung beberapa Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, terutama yang berhubungan dengan ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan petani. Berikut beberapa poin SDGs yang relevan dengan penerapan inovasi ini: 

1. SDG 2: Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) 

Sistem kaki tiga berkontribusi terhadap peningkatan ketahanan pangan melalui peningkatan produktivitas tanaman durian tanpa perlu memperluas lahan pertanian. Dengan tiga sistem perakaran yang saling terhubung, pohon durian memilik kemampuan penyerapan air dan unsur hara yang lebih tinggi sehingga dapat menghasilkan buah dengan jumlah dan kualitas yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan tujuan SDG 2 untuk mengakhiri kelaparan serta memastikan ketersediaan pangan yang berkelanjutan bagi masyarakat. Selain itu, peningkatan hasil panen juga berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani lokal. 

2. SDG 12: Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) 

Penerapan sistem durian kaki tiga mendukung prinsip efisiensi lahan dan sumber daya alam melalui praktik intensifikasi berkelanjutan. Dengan meningkatkan hasil panen pada lahan yang sama, petani tidak perlu membuka hutan atau lahan baru, sehingga penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, sistem ini mendorong penggunaan bahan organik dan pupuk alami dalam perawatan tanaman, yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis. Dengan demikian, inovasi ini mendukung pola produksi yang bertanggung jawab serta menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

3. SDG 15: Life on Land (Menjaga Ekosistem Darat) 

Inovasi pohon durian kaki tiga membantu menjaga keberlanjutan ekosistem darat dengan meminimalkan alih fungsi lahan dan degradasi tanah. Dengan memaksimalkan produktivitas tanpa perlu perluasan areal tanam, teknik ini berperan dalam menjaga kesuburan tanah serta mengurangi risiko erosi. Selain itu, akar yang kuat dan menyebar dapat membantu memperkuat struktur tanah di sekitar pohon, sehingga mencegah longsor pada lahan miring atau berbukit. Hal ini mendukung tujuan SDG 15 untuk melestarikan ekosistem daratan dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. 

Secara keseluruhan, inovasi pohon durian kaki tiga adalah bukti nyata bahwa kemajuan teknologi pertanian dapat sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Sistem akar yang kuat, pertumbuhan cepat, dan produktivitas tinggi, inovasi ini bukan hanya meningkatkan kualitas durian nasional, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, kesejahteraan petani, serta pencapaian target SDGs 2030. Sejalan dengan pandangan Suprapto (2024), sistem kaki tiga mencerminkan integrasi antara ilmu pengetahuan, inovasi, dan nilai-nilai ekologis yang berorientasi pada masa depan pertanian Indonesia yang berdaya saing, tangguh, dan berkelanjutan.

KESIMPULAN 

Kesimpulan yang dapat diambil dari esai ini adalah sebagai berikut: 1. Pohon durian kaki tiga memiliki potensi besar sebagai inovasi teknologi budidaya yang mampu meningkatkan produktivitas serta ketahanan tanaman durian. Melalui sistem tiga perakaran yang saling terhubung, tanaman menjadi lebih kuat, efisien dalam penyerapan air dan unsur hara, serta lebih tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem. Inovasi ini juga menjadi langkah nyata dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani melalui hasil panen yang lebih banyak dan berkualitas. Meskipun demikian, penerapan teknik ini memerlukan pengetahuan teknis, kesesuaian bahan tanam, dan perawatan yang tepat agar hasilnya optimal dan dapat diterapkan secara luas di berbagai daerah penghasil durian di Indonesia. 

Inovasi pohon durian kaki tiga mendukung beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, terutama SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 15 (Menjaga Ekosistem Darat). Penerapan sistem ini membantu meningkatkan ketahanan pangan melalui intensifikasi berkelanjutan tanpa perluasan lahan, mempromosikan praktik budidaya ramah lingkungan, serta menjaga kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati. Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya memiliki nilai teknis dalam meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga menjadi bagian darisolusi nyata menuju pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Ditulis oleh:

Revie Nevilla Extin 2413031027

Ary Dinata Sitepu 2414211027

Aisyah Abellia Azzahra 2414231021

Akbar Ikhan Ibrahim 2517011059

Senin, 01 Desember 2025

Siceria : Smart Learning App Berbasis AI sebagai Terobosan Literasi Anak Menuju SDGs 4 (Quality Education)



PENDAHULUAN

Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia -Nelson Mandela. Pendidikan adalah ujung tombak dari kemajuan suatu negara. Melalui pendidikan seorang manusia dapat mengetahui dan menguasai hal yang sebelumnya tidak dimengerti. Pendidikan dalam arti luas adalah proses pengetahuan belajar yang berlangsung sepanjang hayat (long life) dalam semua tempat dan situasi yang memberikan dampak positif pada individu (Desi Pristiwanti et al., 2022). Saat ini pendidikan yang berkualitas menjadi program yang sedang digaungkan pemerintah, karena untuk mencapai sumber daya manusia yang berkualitas harus didahului oleh pendidikan yang berkualitas pula. Melihat hasil data yang diperoleh UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) hasil yang dilaporkan pada tahun 2016, mutu atau kualitas pendidikan di Indonesia menduduki tingkat 10 dari 14 negara berkembang yang ada di dunia (Utami, 2019). Sementara itu, merujuk kepada hasil survey Programme for International Student Assessment (PISA) yang merupakan sebuah organisasi yang menilai mutu pendidikan di dunia, pada tahun 2018 peringkat kualitas pendidikan di indonesia masih berada di kedudukan golongan rendah, yaitu dengan menduduki peringkat 72 dari 78 negara.

Hasil data tersebut cenderung stagnan di dalam kurun waktu 10-15 tahun terakhir (Susiani, 2021). Menurut Departemen Pendidikan Nasional dikutip (wahyuni, 2021) bahwa salah satu aspek perkembangan pendidikan yang menjadi dasar adalah kemampuan bahasa. Kemampuan berbahasa dan literasi menjadi issue yang sangat penting khususnya di era revolusi industri 4.0, karena letak kesuksesan suatu masyarakat bergantung pada kemampuan generasi nya menciptakan inovasi. Bangsa dengan budaya literasi tinggi menunjukkan kemampuan bangsa tersebut dalam berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, komunikatif sehingga dapat memenangi persaingan global (Laksmi., 2020). Kemampuan berbahasa tidak hanya diperlukan oleh manusia yang sudah dewasa saja, tapi juga diperlukan bagi kehidupan anak. Anak anak sebagai calon penerus bangsa diharapkan menjadi generasi unggul, ini diajarkan dari anak berusia dini yaitu dengan melatih keterampilan berbahasa dan literasi. Namun, sangat disayangkan kemampuan literasi anak di Indonesia masih tergolong rendah. Menurut hasil asesmen yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan & Kebudayaan mengungkap data bahwa rata-rata nasional distribusi literasi pada kemampuan membaca pelajar di Indonesia adalah 46,83% berada pada kategori Kurang, hanya 6,06% berada pada kategori Baik, dan 47,11 berada pada kategori Cukup. Dalam hal ini peran guru menjadi sangat penting untuk mengarahkan para pelajar untuk dapat menggiatkan literasi. Akan tetapi, kuantitas guru yang belum seimbang dengan peningkatan murid tiap tahunnya menyebabkan terjadinya kewalahan dalam proses pengajaran. Sehingga proses ini masih dapat diperbaiki lagi agar menjadi lebih efektif. Untuk mengatasi problema ini, teknologi digital 4.0 menjadi peluang yang dapat kita manfaatkan. Adanya Aplikasi Siceria berbasis teknologi AI akan membantu jalannya proses pengajaran tanpa harus berinteraksi face to face antar guru dan murid. Hal ini sekaligus untuk mengatasi permasalahan kurangnya tenaga pendidik yang ada di Indonesia. Maka, ide ini lahir dari keresahan generasi muda Indonesia yang ingin turut berperan dalam perbaikan kesetaraan pendidikan, sebagaimana tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 yaitu pendidikan yang berkualitas.

PEMBAHASAN

Analisis Permasalahan

Permasalahan utama yang diangkat dalam judul ini berakar pada rendahnya tingkat literasi anak di Indonesia, yang masih menjadi tantangan besar dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-4, yaitu Quality Education. Banyak anak usia dini dan sekolah dasar yang mengalami kesulitan membaca, memahami teks, dan menulis secara efektif. Faktor penyebabnya meliputi minimnya pendampingan orang tua, terbatasnya waktu dan sumber daya guru, serta keterbatasan akses terhadap bahan ajar yang menarik dan adaptif. Berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor literasi membaca siswa Indonesia hanya mencapai 371 poin, menempatkan Indonesia pada peringkat 68 dari 81 negara peserta. Skor ini masih jauh tertinggal dari rata-rata OECD yang mencapai 487 poin. Temuan tersebut memperlihatkan adanya tantangan serius dalam sistem pendidikan nasional, terutama pada jenjang pendidikan menengah pertama (OECD, 2023). Rendahnya skor ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran literasi di sekolah belum sepenuhnya mampu mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, seperti analisis, refleksi, dan penarikan kesimpulan berbasis pemahaman kontekstual.(Sarjono,2025).

Di sisi lain, perkembangan teknologi yang begitu pesat justru belum dimanfaatkan secara maksimal dalam mendukung literasi anak. Aplikasi belajar yang ada sering kali bersifat satu arah, tidak adaptif terhadap kebutuhan belajar individu, dan kurang mengintegrasikan kecerdasan buatan untuk memberikan pengalaman belajar yang personal. Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi monoton, tidak sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar masing masing anak, sehingga minat membaca dan belajar menurun. Selain itu, kesenjangan digital (digital divide) juga memperparah permasalahan terutama di daerah dengan akses internet terbatas atau rendahnya literasi digital orang tua. Akibatnya, transformasi digital di bidang pendidikan belum sepenuhnya inklusif. Dengan latar belakang tersebut, muncul kebutuhan akan inovasi pembelajaran berbasis AI seperti Siceria: Smart Learning App, yang dirancang untuk menghadirkan pembelajaran interaktif, adaptif, dan menyenangkan. Aplikasi ini diharapkan dapat menjadi solusi konkret dalam meningkatkan kemampuan literasi anak sejak dini, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian SDGs 4: Pendidikan Berkualitas untuk Semua.

Kondisi Literasi Anak di Indonesia

Salah satu faktor penting dalam memajukan suatu bangsa adalah memiliki sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan berkualitas. Sumber daya manusia yang terampil dan berkualitas lebih dibutuhkan daripada sumber daya alam (SDA) yang melimpah, apalagi manusianya tidak tahu bagaimana mengelolanya dengan baik. Mewujudkan SDM yang berkualitas tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan tulus dari seluruh masyarakat. SDM yang tangguh dan cakap hanya dapat terwujud melalui pendidikan yang bermutu karena pendidikan merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia bangsa secara keseluruhan. Salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki oleh SDM terampil adalah literasi (Kharizmi, 2019).

Keterampilan membaca dan menulis harus lebih dikembangkan daripada keterampilan mendengarkan dan berbicara. Kemampuan literasi yang tinggi sangat mempengaruhi kemampuan dalam memperoleh berbagai macam informasi yang berguna dalam menjalani kehidupan yang kompetitif. Memiliki banyak informasi membantu membentuk SDM yang tidak hanya dapat hidup dengan baik tetapi juga menghargai kehidupan dan berkontribusi pada kemajuan bangsa. Kemampuan literasi dasar memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, terutama dalam mencapai kesuksesan akademik. Kemampuan literasi ini harus menjadi alat utama bagi generasi muda bangsa Indonesia dan seharusnya diajarkan sejak usia dini (Kharizmi, 2019).

Kemampuan literasi dasar sangat penting dalam kehidupan seseorang terutama dalam mencapai kesuksesan akademik. Kemampuan literasi ini seharusnya menjadi alat utama bagi generasi muda Indonesia dan harus diajarkan sejak usia dini (Farihatin, 2013). Kondisi literasi anak di Indonesia masih menjadi tantangan besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, serta menggunakan informasi secara cerdas dalam kehidupan sehari-hari. Literasi yang baik merupakan dasar penting bagi kualitas pendidikan, kemampuan bersaing bangsa, serta kemampuan menghadapi tantangan pada abad ke-21 (Kemendikbudristek., 2022).

Pendidikan di era ke-21 fokus pada pembentukan generasi muda yang mampu dalam berliterasi melalui penguasaan empat keterampilan berbahasa. Namun, hingga saat ini tingkat literasi, terutama di kalangan siswa SD di Indonesia, masih tertinggal dibandingkan negara negara lain di dunia. Isu literasi perlu mendapat perhatian khusus dari masyarakat Indonesia, terutama pada jenjang pendidikan sekolah dasar. SD adalah institusi pendidikan dasar yang ditempuh anak-anak usia 6 hingga 12 tahun dalam masa 6 tahun, yang harus diikuti oleh seluruh warga negara (Anisa Hidayati, 2024). Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-65 dari 81 negara dalam kemampuan membaca. Skor rata-rata siswa Indonesia adalah 359 poin, yang jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata OECD yaitu 476 poin (OECD, 2023). Data ini membuktikan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam memahami bacaan masih rendah dibandingkan negara lain di dunia. Sementara itu, laporan UNESCO tahun 2021 menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% (UNESCO, 2021), artinya hanya satu orang dari seribu orang yang biasa membaca secara rutin. Kondisi ini menunjukkan bahwa rendahnya literasi bukan hanya soal kemampuan membaca secara teknis, tetapi juga mencerminkan lemahnya budaya membaca yang belum tumbuh kuat di tengah masyarakat.

Konsep Smart Learning App Siceria

Siceria merupakan singkatan dari “Smart Intelligent Children Reading Assistant”, yaitu sebuah aplikasi pembelajaran cerdas berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk membantu meningkatkan kemampuan literasi anak secara adaptif, interaktif, dan menyenangkan. Aplikasi ini dikembangkan sebagai bentuk inovasi digital dalam bidang pendidikan, khususnya untuk mendukung pencapaian SDGs 4 (Quality Education), yaitu menjamin pendidikan yang inklusif dan berkualitas bagi semua anak. Konsep utama dari Siceria adalah pemanfaatan teknologi AI untuk menciptakan pengalaman belajar yang personal dan responsif terhadap kebutuhan individu anak. AI berperan dalam menganalisis kemampuan membaca, kecepatan belajar, serta gaya belajar setiap anak, sehingga sistem dapat menyesuaikan tingkat kesulitan materi, memberikan umpan balik langsung, dan merekomendasikan aktivitas literasi yang sesuai. 

Selain itu, Siceria mengintegrasikan fitur gamifikasi, pengenalan suara (speech recognition), dan natural language processing (NLP) agar anak dapat berinteraksi secara aktif melalui membaca cerita, menjawab pertanyaan, atau berdialog dengan karakter virtual yang membantu anak lebih imajinatif dan juga menampilkan visual yang menarik, mampu berimajinatif, karena anak anak bisa membuat gambar yang mereka inginkan, lalu dari smart learning siceria akan di ubah menjadi karakter yang menarik dan menjadi sebuah alur cerita sehingga membaca menjadi sebuah kegiatan yang tidak membosankan. Dengan pendekatan ini, Siceria tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca dan memahami teks, tetapi juga menumbuhkan motivasi dan kebiasaan literasi sejak dini. Secara konsep, Siceria bukan sekadar aplikasi pembelajaran digital, tetapi sebuah media atau wadah edukatif berbasis AI yang menggabungkan teknologi, psikologi belajar anak, dan prinsip inklusivitas pendidikan. Tujuannya adalah untuk membangun generasi yang melek literasi, berpikir kritis, serta mampu beradaptasi dengan tantangan era digital. Literasi digital merupakan kemampuan untuk memahami, menggunakan dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber digital. Kemampuan ini adalah kunci untuk membantu siswa mengakses, memproses, dan menggunakan informasi secara bermakna dan bertanggung jawab di era digital ini. Pentingnya literasi digital dalam pendidikan diakui di seluruh dunia. Hal ini tercermin dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB untuk tahun 2030. Salah satu tujuan SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas adalah memastikan akses inklusif dan adil terhadap pendidikan berkualitas dan mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua. (Tasliah dkk.,2024).

Rendahnya literasi dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu akses, motivasi, dan metode belajar konvensional. Faktor akses berkaitan dengan keterbatasan fasilitas seperti perpustakaan, buku bacaan, dan akses internet, terutama di daerah terpencil. Faktor motivasi muncul karena minat baca anak masih rendah, kurangnya dukungan lingkungan keluarga, serta dominasi hiburan digital yang lebih menarik daripada membaca. Sementara itu, metode belajar konvensional yang cenderung monoton dan berfokus pada hafalan membuat anak kurang tertarik untuk mengembangkan kemampuan literasi secara aktif dan kreatif. (Hijjayati, 2022). Di era digital, tantangan utama adalah persaingan antara aktivitas membaca dengan konten hiburan digital seperti media sosial, video pendek, dan game online yang lebih instan dan interaktif. Anak-anak menjadi lebih mudah terdistraksi dan kehilangan fokus untuk membaca teks panjang.Oleh karena itu, perlu adanya inovasi dalam pembelajaran literasi digital yang menggabungkan teknologi dengan cara baca yang menarik, agar minat baca anak tetap terjaga di tengah perkembangan dunia digital. Salah satu terobosannya yaitu dengan mengembangkan aplikasi Siceria untuk membangun minat baca pada anak anak.

Gambaran Aplikasi



Gambar 1. Logo Siceria

Siceria merupakan singkatan dari “Smart Intelligent Children Reading Assistant”, yaitu sebuah aplikasi pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan literasi anak-anak secara interaktif, adaptif, dan menyenangkan. Aplikasi ini berfokus pada pengembangan kemampuan membaca, memahami teks, dan menumbuhkan minat baca sejak dini melalui pendekatan digital yang ramah anak.

Siceria memiliki maskot utama berupa robot bernama “Mr.Ceria”, yang berfungsi sebagai pendamping belajar anak. Ceria menyapa, memotivasi, dan memberi arahan selama anak menggunakan aplikasi, menciptakan pengalaman belajar yang hangat dan personal. Tampilan aplikasi didesain dengan warna pastel cerah, ikon besar, dan ilustrasi sederhana agar mudah digunakan oleh anak-anak usia dini hingga sekolah dasar.

Aplikasi ini memiliki empat fitur utama, yaitu:

1. Belajar Membaca : melatih kemampuan fonetik, membaca kata dan kalimat dengan bantuan suara serta penilaian otomatis dari AI.

2. Cerita Interaktif : menyajikan bacaan bergambar dengan narasi suara dan pilihan alur cerita yang melatih pemahaman bacaan.

3. Permainan Literasi : menyediakan mini games seperti menyusun huruf, mencari arti kata, dan kuis kosa kata untuk belajar sambil bermain.

4. Profil Belajar : menampilkan grafik perkembangan anak, jumlah cerita yang dibaca, dan penghargaan dalam bentuk bintang atau lencana motivasi.

Keunggulan utama Siceria terletak pada fitur AI adaptif yang mampu menyesuaikan materi dengan kemampuan dan minat anak. Selain itu, Siceria dapat digunakan dalam mode offline, sehingga tetap bermanfaat bagi daerah dengan akses internet terbatas. Secara keseluruhan, Siceria bukan sekadar aplikasi belajar membaca, tetapi juga teman digital cerdas yang membantu anak belajar dengan cara yang menyenangkan, inklusif, dan selaras dengan tujuan SDGs 4 yaitu Pendidikan Berkualitas untuk Semua.

Gambar 2. Tampilan design aplikasi siceria

Fitur – Fitur Aplikasi Siceria

Terdapat berbagai fitur unggulan pada aplikasi Siceria, yaitu :

1. Belajar Membaca

Fitur ini membantu anak-anak dalam proses belajar membaca dasar dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Menyediakan latihan pengenalan huruf, suku kata, dan kata sederhana. Dilengkapi dengan audio pelafalan, animasi huruf, dan contoh gambar agar anak mudah memahami. Ada sistem tingkatan belajar dari mudah ke sulit untuk menyesuaikan kemampuan anak. dengan tujuan Membantu anak membangun kemampuan membaca secara bertahap dan mandiri.

2. Cerita Interaktif

Berisi kumpulan cerita anak bergambar yang bisa dibaca atau didengarkan. Setiap cerita dilengkapi narasi suara, efek suara menarik, dan animasi tokoh. Anak dapat berinteraksi dengan elemen cerita (misalnya menyentuh karakter atau objek untuk melihat reaksi). Di akhir cerita terdapat kuis pemahaman agar anak belajar memahami isi bacaan. Dengan tujuan Meningkatkan minat baca, pemahaman cerita, dan kemampuan bahasa anak.

3. Permainan Literasi

Fitur ini berisi berbagai game edukatif yang melatih kemampuan bahasa, membaca, dan berpikir logis. Contoh permainan: Tebak Kata, Susun Huruf, Puzzle Cerita, dan Kuis Literasi Cepat. Menggunakan sistem reward (bintang atau poin) untuk memotivasi anak terus belajar. Dapat dimainkan secara offline untuk memudahkan akses belajar kapan saja. Dengan tujuan Membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan interaktif.

4. Profil Belajar

Fitur ini menampilkan perkembangan belajar anak secara personal. Menunjukkan jumlah buku yang sudah dibaca, skor permainan, dan level kemampuan membaca. Dapat digunakan oleh orang tua atau guru untuk memantau kemajuan anak. Ada fitur motivasi, seperti lencana atau pesan penyemangat dari mascot Ceria. Dengan tujuan Mendorong anak untuk terus berkembang dan memberi umpan balik positif atas usahanya.

Tujuan Pembuatan Aplikasi Siceria

Siceria memiliki tujuan untuk meningkatkan minat baca pada anak, terkhusunya pada anak Indonesia untuk menuju Pendidikan yang berkualitas, berikut tujuan dari Siceria: 1. Meningkatkan Minat dan Kemampuan Literasi Anak Usia Dini Tujuan utama Siceria adalah membantu anak-anak Indonesia belajar membaca dan memahami teks sejak dini dengan cara yang menarik, interaktif, dan menyenangkan. Berdasarkan data UNESCO dan Kemendikbud, tingkat literasi dasar anak di Indonesia masih tergolong rendah, terutama pada usia sekolah dasar awal.

2. Mendukung Pemerataan Akses Pendidikan Berkualitas (SDGs 4). Siceria dirancang agar dapat diakses secara offline dan berfungsi di perangkat sederhana, sehingga dapat digunakan di daerah terpencil yang minim akses internet. Banyak wilayah Indonesia, terutama di pedesaan dan pelosok, masih kesulitan mengakses sumber belajar digital.

3. Memanfaatkan Teknologi AI untuk Pembelajaran Adaptif. Aplikasi dilengkapi fitur AI interaktif yang menyesuaikan tingkat kesulitan bacaan dengan kemampuan anak serta memberikan umpan balik personal. Indonesia sedang mendorong transformasi digital di bidang pendidikan, namun pemanfaatan AI masih terbatas di level pendidikan dasar.

4. Mendukung Orang Tua dan Guru dalam Pembelajaran Literasi Anak. Menyediakan fitur profil belajar yang menampilkan perkembangan anak sehingga orang tua dan guru dapat memantau dan memberikan pendampingan. Banyak guru dan orang tua belum memiliki alat bantu digital yang efektif untuk memantau kemampuan literasi anak secara individual.

5. Menumbuhkan Budaya Literasi Sejak Dini. Melalui cerita bergambar, permainan edukatif, dan tokoh maskot “Ceria”, anak diajak mencintai membaca sejak kecil. Tantangan era digital membuat anak-anak lebih tertarik pada gawai hiburan daripada bacaan edukatif, Siceria hadir sebagai solusi untuk mengalihkan minat tersebut ke arah positif.

10

Metode Pelaksanaan

Gambar 4. Metode Pelaksanaan

1. Perancangan sistem & desain UI aplikasi Siceria. Tim pengembang membuat rancangan awal desain antarmuka dan alur fitur aplikasi.

2. Pengembangan algoritma AI (Speech Recognition & NLP). Pengembangan dan uji coba awal modul pengenalan suara dan pemrosesan bahasa alami.

3. Integrasi fitur gamifikasi & testing awal. Menggabungkan sistem Al dengan fitur permainan edukatif dan melakukan pengujian internal.

4. Implementasi & uji lapangan di sekolah/daerah sasaran. Melaksanakan uji coba aplikasi Siceria pada anak-anak di daerah target, misalnya sekolah dasar. 5. Analisis hasil & finalisasi laporan. Melakukan evaluasi hasil implementasi, penyempurnaan sistem, dan penyusunan laporan akhir.

Pihak-pihak yang terlibat dan juga kolaborasi dalam pengembangan aplikasi Siceria11

Gambar 4. Pihak-pihak yang terlibat

1. Pemerintah dan Lembaga Pendidikan Nasional

Seperti Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin), dan Balai Guru Penggerak. Mendukung kebijakan digitalisasi sekolah dan literasi nasional. Indonesia tengah mendorong program “Merdeka Belajar” dan Transformasi Digital Pendidikan, di mana teknologi seperti Siceria dapat menjadi bagian dari platform pembelajaran literasi dasar di sekolah.

2. Pengembang Teknologi & Startup Edukasi (EdTech)

Seperti Tim pengembang aplikasi Siceria, kerja sama dengan startup lokal seperti Ruangguru, Zenius, atau Pijar Sekolah. Mendesain, mengembangkan, dan memelihara aplikasi berbasis AI yang mudah diakses dan ramah anak. EdTech Indonesia berkembang pesat, namun masih perlu inovasi untuk menjangkau anak-anak usia dini dan daerah dengan keterbatasan akses digital.

3. Sekolah dan Guru Sekolah Dasar (SD)

Seperti Sekolah-sekolah di bawah program Sekolah Penggerak atau SD Negeri di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Mengintegrasikan Siceria sebagai media pendukung belajar membaca di kelas. Banyak sekolah dasar di Indonesia masih kekurangan bahan ajar literasi berbasis digital, sehingga Siceria dapat menjadi solusi praktis.

4. Orang Tua dan Komunitas Literasi

Seperti Forum Literasi Nasional, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan Relawan Gerakan Literasi Nasional. Dengan Menggunakan Siceria sebagai alat bantu mendampingi anak belajar di rumah atau di kegiatan komunitas. Menurut data Kemendikbudristek, peran keluarga dan komunitas sangat berpengaruh terhadap minat baca anak — Siceria dapat memperkuat sinergi ini dengan pendekatan digital.

5. Akademisi dan Ahli Pendidikan Anak

Seperti Dosen atau peneliti dari universitas seperti UNJ, UPI, UNNES, atau UNILA dan lembaga riset pendidikan. Memberikan kajian ilmiah, uji efektivitas, dan saran pedagogis agar konten dalam Siceria sesuai dengan tahap perkembangan anak. Kolaborasi akademis penting untuk memastikan aplikasi ini bukan sekadar hiburan, tetapi benar-benar berdampak pada peningkatan literasi.

6. Mitra CSR dan Donatur Swasta

Seperti Perusahaan BUMN, bank nasional, atau operator telekomunikasi seperti Telkomsel dan Indosat. Mendukung pembiayaan pengembangan aplikasi dan penyediaan perangkat belajar digital untuk sekolah di daerah terpencil. Program CSR pendidikan digital sedang menjadi tren di Indonesia untuk mendorong pemerataan pendidikan.

PENUTUP

Aplikasi Siceria “Smart Intelligent Children Reading Assistant” hadir sebagai inovasi nyata dalam mendukung peningkatan literasi anak-anak Indonesia di era digital. Dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan desain pembelajaran yang interaktif, inklusif, dan adaptif, Siceria tidak hanya membantu anak belajar membaca, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap literasi sejak usia dini. Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan beroperasi secara offline, menjadikannya solusi tepat bagi daerah-daerah yang masih minim akses internet, sebuah kondisi yang masih banyak dijumpai di Indonesia. Lebih dari sekadar aplikasi belajar, Siceria menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah, pendidik, pengembang teknologi, dan masyarakat untuk mewujudkan pemerataan pendidikan berkualitas Melalui Siceria, anak-anak Indonesia diharapkan dapat memperoleh kesempatan belajar yang setara, menyenangkan, dan bermakna, tanpa batasan wilayah maupun latar belakang sosial. Dengan demikian, pengembangan Siceria sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas, yaitu memastikan pemerataan akses belajar yang inklusif dan setara bagi semua anak. Melalui integrasi teknologi dan nilai-nilai literasi, Siceria diharapkan mampu menjadi media transformasi pendidikan yang memperkuat budaya literasi nasional, serta mempersiapkan generasi muda Indonesia agar lebih cakap, adaptif, dan berdaya saing di era digital.

Dipublikasikan oleh:

1. Annisa Nur Adhiak (Biologi/2517021007)

2. Nabila Aisyah Aurelia (Hubungan Internasional/2416071028)

3. Nadin Arisma (Biologi/2417021033)

4. Rizky Pratama (Teknik Mesin/2415021044)

SUSTAINABLE HYGIENE : PEMANFAATAN LIMBAH AGROINDUSTRI KULIT NANAS DAN DAUN SIRIH SEBAGAI INOVASI HAND SANITIZER BERBASIS BAHAN ALAMI



PENDAHULUAN


Latar Belakang

Kebersihan tangan merupakan aspek penting dalam menjaga kesehatan publik serta mencegah penularan penyakit infeksius. Meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya kebersihan pribadi memicu tingginya permintaan terhadap produk kebersihan seperti hand sanitizer. Produk ini sangat diminati karena mudah digunakan tanpa memerlukan air, tetapi banyak di antaranya mengandung bahan kimia, terutama alcohol dalam konsentrasi tinggi. Penggunaan alkohol dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan iritasi, kulit kering, serta menganggu keseimbangan mikrobiota pada kulit (Fadhilah dan Oktoviani, 2022). Situasi ini menciptakan kebutuhan akan inovasi produk higiene berbasis bahan alami yang aman bagi kulit dan lingkungan.

Salah satu bahan alami yang memiliki potensi besar dan dikenal luas karena sifat antiseptiknya adalah daun sirih (Piper betle L.). Daun sirih mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan minyak esensial yang berfungsi sebagai antibakteri alami (Triyani et al., 2021). Ekstrak dari daun sirih telah terbukti efektif dalam menekan pertumbuhan bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, yang sering kali menjadi indikator kebersihan pada tangan (Rahmadani dan Toga, 2025). Selain memiliki efek antibakteri, daun sirih juga aman untuk digunakan secara topikal karena tidak menyebabkan efek kering atau iritasi seperti alkohol. Penggabungan daun sirih dengan bahan alami lainnya dapat memperkuat aktivitas antibakteri melalui kandungan vitamin C dan antioksidan yang tinggi (Fadhilah dan Oktoviani, 2022). Oleh karena itu, daun sirih memiliki potensi besar untuk dijadikan bahan aktif utama dalam pengembangan hand sanitizer alami.

Selain daun sirih, sektor agroindustri juga menawarkan peluang besar, terutama lewat pemanfaatan limbah dari kulit nanas (Ananas comosus L.). Proses pembuatan nanas menghasilkan banyak limbah organik dalam bentuk kulit, yang sering kali

dibuang tanpa aplikasi lebih lanjut. Kulit nanas memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti bromelain, flavonoid, dan fenolik yang memiliki sifat antibakteri serta antioksidan yang kuat (Ramdani et al., 2025). Senyawa tersebut memiliki potensi untuk dijadikan bahan alami dalam pembuatan hand sanitizer berbasis tanaman. Penggunaan limbah kulit nanas tidak hanya membantu mengurangi limbah organik, tetapi juga menciptakan peluang untuk mengembangkan produk kebersihan yang ramah lingkungan. Limbah pertanian dapat diproses menjadi produk yang memiliki nilai tambah yang mendukung ekonomi berkelanjutan serta penggunaan sumber daya yang berkelanjutan.

Provinsi Lampung terkenal sebagai salah satu daerah penghasil nanas terbesar di Indonesia, dengan sektor pengolahan yang menghasilkan banyak limbah kulit. Sementara jumlah limbah kulit nanas di Lampung sulit untuk diukur secara akurat, statistik menunjukkan peningkatan ekspor ampas kulit nanas ke Jepang mencapai 503,33 ton pada tahun 2019, serta 265,77 ton pada kuartal pertama tahun 2020. Hal ini mengindikasikan bahwa limbah kulit nanas memiliki potensi ekonomi yang cukup signifikan. Berdasarkan informasi dari Liputan6.com, Jepang menjadi negara yang paling banyak mengimpor ampas kulit nanas dari Lampung, yang digunakan sebagai bahan tambahan pakan ternak. Ini menunjukkan bahwa limbah kulit nanas mengandung nilai yang tinggi apabila dikelola dengan baik, salah satunya dijadikan sebagai bahan dasar produk hand sanitizer alami. Dengan pendekatan yang lebih kreatif, limbah ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung konsep zero waste sekaligus mengurangi dampak lingkungan di kawasan produksi utama. 

Gambar 1. Data Statistik Produksi Nanas di Indonesia Tahun 2022 (sumber : Katadata Media Network)

Pemanfaatan sisa kulit nanas di Lampung untuk menciptakan produk alami yang bersih memiliki signifikansi penting dari sudut pandang lingkungan, sosial, dan ekonomi. Dari perspektif ekologis, pengelolaan sisa kulit nanas mampu menurunkan polusi organik di area industri pengolahan. Di bidang sosial-ekonomi, aktivitas ini memberikan kesempatan kepada komunitas lokal untuk meningkatkan keterampilan dengan mengolah limbah menjadi produk bernilai tinggi seperti hand sanitizer berbahan herbal. Pengelolaan limbah nanas yang berkelanjutan harus ditingkatkan untuk mencapai sistem ekonomi yang ramah lingkungan (Ramdani et al., 2025). Konsep ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yang menggarisbawahi bahwa hasil sampingan dari industri pertanian tidak dibuang melainkan dimanfaatkan kembali sebagai bahan mentah baru.

Konsep sustainable hygiene menjadi elemen penting dalam penciptaan produk pembersih yang menggunakan bahan alami dan sisa-sisa pertanian. Dengan memadukan ekstrak daun sirih dan kulit nanas, kita bisa mengembangkan formulasi hand sanitizer alami yang memiliki sifat antibakteri yang tinggi, aman untuk kulit, dan ramah lingkungan. Inovasi ini berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada poin ketiga mengenai kesehatan dan kesejahteraan serta poin kedua belas yang menekankan pada konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Di samping itu, inovasi ini juga berpotensi untuk menciptakan kesempatan wirausaha baru yang berbasis pada bahan alami lokal dalam komunitas. Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan hand sanitizer alami dari daun sirih dan kulit nanas, khususnya dari limbah industri pengolahan di Lampung, sangat penting untuk direalisasikan sebagai wujud nyata dari penerapan prinsip kebersihan berkelanjutan (Irhamsyah,2019).


ISI


Karakteristik Fitokimia dan Aktivitas Antibakteri Daun Sirih (Piper betle L.)

Daun sirih (Piper betle L.) memiliki karakteristik morfologis yang berbentuk hati dengan permukaan halus dan mengilap, memiliki warna hijau gelap, serta mengeluarkan bau yang khas akibat kandungan minyak esensialnya. Secara kimiawi, daun sirih kaya akan berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, eugenol, kavikol, quercetin, dan asam galat yang sangat berperan dalam fungsi biologisnya. Senyawa-senyawa tersebut bertindak sebagai antioksidan dan antibakteri alami, di mana flavonoid dan senyawa fenolik berperan dengan mendonasikan atom hidrogen untuk menetralisir radikal bebas, sedangkan eugenol dan kavikol dapat merusak membran sel mikroba dan menghambat enzim dalam proses metabolisme bakteri. Aktivitas kimiawi ini membuat daun sirih efektif dalam menghambat perkembangan mikroba penyebab infeksi, seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, serta mendukung perannya sebagai bahan antiseptik alami dalam pembuatan hand sanitizer yang berkelanjutan (Hidayah dkk.,2022).

Flavonoid juga berfungsi merusak membran sel serta mengubah struktur protein mikroba yang menghambat pertumbuhan bakteri, sementara tanin bekerja dengan mendenaturasi protein dan mengganggu integritas membran sel bakteri. Saponin memiliki peran dalam menurunkan tegangan permukaan membran, yang menyebabkan kebocoran isi sel dan kematian mikroba. Kandungan minyak atsiri, termasuk eugenol, kavikol, dan metileugenol dalam daun sirih, memberikan efek antimikroba dan antiseptik alami yang kuat (Ananda dan Dharmono, 2025). Kombinasi dari senyawa ini membuat daun sirih ampuh dalam membunuh berbagai jenis bakteri patogen yang biasanya terdapat di permukaan kulit manusia.

Mekanisme antibakteri dari daun sirih telah teruji secara ilmiah terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, yang dikenal sebagai penyebab infeksi kulit dan masalah pencernaan. Penelitian yang dilakukan oleh Fathoni et al. (2019) menunjukkan bahwa ekstrak dari daun sirih dengan konsentrasi 12 ml mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dengan ukuran 9,78 mm², yang jauh

lebih besar dibandingkan dengan hand sanitizer dari pasaran yang hanya mencapai 2,98 mm². Senyawa seperti saponin, tanin, dan flavonoid berkolaborasi dalam penetrasi dinding sel bakteri, merusak membran sitoplasma, dan mengurangi tegangan permukaan, yang berujung pada lisis sel. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih memiliki kemampuan antibakteri yang sangat baik, bahkan bisa menggantikan peran alkohol dalam produk pembersih tangan tanpa menyebabkan iritasi pada kulit pengguna.

Karakteristik Bioaktif Kulit Nanas (Ananas comosus L.)

Kulit nanas adalah limbah dari sektor agroindustri yang mengandung banyak senyawa bioaktif penting seperti flavonoid, tanin, saponin, dan enzim bromelain yang memiliki sifat antibakteri dan antioksidan yang kuat. Penelitian oleh Nirwana et al. (2025) menunjukkan bahwa ekstrak kulit nanas yang diperoleh dengan pelarut etanol 96% memperlihatkan kandungan positif terhadap senyawa-senyawa tersebut, dengan pH ekstrak yang berada antara 4,32–4,38 dan total padatan terlarut mencapai 79–81°Brix, yang menunjukkan stabilitas senyawa aktif di dalamnya. Flavonoid dan senyawa fenolik bertindak sebagai penangkap radikal bebas dan menghambat oksidasi lipid, sedangkan saponin dan tanin berperan dalam merusak membran sel mikroba serta menghambat aktivitas enzim bakteri. Selain itu, bromelain, sebagai enzim proteolitik alami dalam kulit nanas, memiliki kapasitas untuk membantu proses degradasi protein dinding sel mikroba, menjadikan ekstrak ini sebagai agen antimikroba alami yang efektif.

Hasil yang serupa juga dijabarkan oleh Fitriyani dan Septiani (2025), yang menemukan bahwa gel yang dibuat dari ekstrak kulit nanas menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi disebabkan kandungan flavonoid, fenolik, dan asam organik. Kandungan ini tidak hanya berkontribusi pada efek antimikroba, namun juga aman untuk digunakan secara topikal karena pH produk akhir tetap dalam batas fisiologis kulit (pH 4,5–6,5). Secara keseluruhan, komposisi bioaktif dari kulit nanas menunjukkan potensi besar sebagai bahan alami dalam pengembangan produk kebersihan seperti hand sanitizer, sambil mendukung inovasi produk kebersihan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan serta aman bagi kulit.

Potensi Limbah Kulit Nanas di Lampung

Provinsi Lampung dikenal sebagai salah satu sentra penghasil nanas terbesar di Indonesia, dengan volume produksi yang sangat tinggi setiap tahunnya. Berdasarkan data dari Liputan6.com (2020), ekspor ampas kulit nanas dari Lampung mencapai 503,33 ton pada tahun 2019 dan 265,77 ton pada kuartal I 2020, menunjukkan ketersediaan limbah dalam jumlah melimpah. Jepang berperan sebagai negara tujuan utama impor ampas kulit nanas dari Lampung untuk dijadikan campuran pakan ternak, yang menandakan bahwa limbah ini memiliki nilai ekonomi yang layak. Sayangnya, pemanfaatan di dalam negeri terhadap limbah kulit nanas masih terbilang minim, meskipun kulit nanas memiliki potensi besar sebagai bahan aktif untuk antibakteri dan disinfektan alami. Mengolah limbah ini menjadi produk kebersihan seperti hand sanitizer bukan hanya meningkatkan nilai jual, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan limbah agroindustri di wilayah penghasilnya.

Secara kimia, kulit nanas (Ananas comosus) memiliki beragam senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, terpenoid, steroid, saponin, dan enzim bromelain, yang berperan sebagai antibakteri serta antimikroba alami. Penelitian oleh Asngad dan Damayanti (2022) menunjukkan bahwa ekstrak kulit nanas terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan gram negative seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Salmonella typhii. Efektivitas antibakteri ini setara dengan kinerja hand sanitizer berbahan dasar alkohol, tetapi tidak menimbulkan iritasi pada kulit. Rentang pH alami kulit nanas yang berada di antara 6,09 hingga 6,77 juga menjadikannya aman untuk digunakan pada kulit manusia, sehingga berpotensi sebagai bahan utama dalam pembuatan hand sanitizer alami yang bersifat ramah lingkungan.

Penelitian yang dilakukan oleh Dewi et al. (2025) memperlihatkan bahwa ekstrak dari kulit nanas memiliki komponen minyak atsiri dan flavonoid yang memiliki aktivitas biologis serta menunjukkan kemampuan antimikroba yang kuat. Hasil pengecekan menggunakan GC-MS pada ekstrak kulit nanas juga mengungkapkan adanya senyawa aktif seperti asam asetat, limonen, dan bromelain, yang berfungsi dalam menghambat mikroorganisme penyebab infeksi pada kulit. Selain itu,

terdapat enzim alami dari kulit nanas yang berbentuk eco enzyme dapat mengurangi jumlah kuman di udara hingga 50% dalam waktu satu jam saat berada pada konsentrasi 25%. Sifat antibakteri ini berasal dari asam organik dan enzim bromelain, yang beroperasi dengan cara merusak dinding sel bakteri. Penemuan ini menunjukkan bahwa kulit nanas bisa berperan sebagai disinfektan alami setara dengan zat kimia sintetis, sehingga aplikasinya dapat diperluas tidak hanya untuk penyemprotan udara, tetapi juga untuk produk kebersihan kulit seperti hand sanitizer cair. Pemanfaatan eco enzyme dari kulit nanas sejalan dengan tren inovasi teknologi ramah lingkungan di sektor sanitasi yang menekankan pada prinsip keamanan, efektivitas, dan keberlanjutan (Zaenab et al., 2024).

Efektivitas Antibakteri dan Stabilitas Fisik Hand Sanitizer

Evaluasi sejauh mana hand sanitizer yang berbasis bahan alami berfungsi dilakukan dengan berbagai pengujian fisik dan biologis, seperti tes difusi agar untuk menilai zona penghambatan mikroba, serta pengujian pH, homogenitas, organoleptik, daya sebar, dan iritasi pada kulit. Berdasarkan penilitian spray hand sanitizer yang menggunakan ekstrak kulit nanas menunjukkan penghambatan sebesar 22 mm terhadap Escherichia coli pada konsentrasi 90%, yang mengindikasikan adanya sifat antibakteri yang kuat. Nilai pH dari produk berada di kisaran yang aman (4,71 hingga 5,61) yang sesuai dengan pH alami kulit, tanpa menyebabkan iritasi atau kekeringan, dan mempertahankan stabilitas selama penyimpanan hingga empat minggu. Selain itu, hasil dari pengujian organoleptik dan preferensi pengguna menunjukkan bahwa konsentrasi tinggi dapat memberikan aroma segar yang alami serta tekstur yang nyaman, menjadikannya pilihan yang sangat baik untuk produk kebersihan yang ramah lingkungan (Rinni dkk.,2025). Sementara itu, penelitian oleh Patimah et al. (2025) menegaskan bahwa kombinasi bahan alami seperti daun sirih, serai, dan jeruk nipis juga efektif dalam menghasilkan hand sanitizer alami yang aman digunakan dan mudah dibuat. Kombinasi senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan sitral berperan dalam merusak dinding sel mikroba, memberikan efek antimikroba yang sebanding dengan produk berbasis alkohol namun lebih aman bagi kulit dan lingkungan.

Keuntungan dari daun sirih jika dibandingkan dengan zat kimia buatan seperti alkohol terletak pada sifatnya yang lebih aman, alami, dan berkelanjutan. Hand sanitizer yang berbasis daun sirih terbukti tidak menimbulkan rasa kering atau iritasi pada kulit karena mempunyai pH yang seimbang, yakni sekitar 5, yang sesuai dengan pH alami kulit manusia (Fathoni et al., 2019). Selain itu, daun sirih juga sangat mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, menjadikannya sumber bahan yang efisien dan berpotensi untuk dikembangkan dalam usaha kecil serta rumah tangga. Upaya untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tubuh dengan menggunakan bahan alami sejalan dengan prinsip hygiene yang berkelanjutan, yaitu kesadaran akan kebersihan yang tidak hanya melindungi kesehatan manusia tetapi juga memperhatikan keseimbangan ekosistem (Rokayah dan Widjaja, 2022). Dengan berbagai keunggulan tersebut, pengembangan produk berbasis limbah kulit nanas dan daun sirih baik dalam bentuk sabun antiseptik, hand sanitizer non alkohol, maupun disinfektan alami, sangat berpotensi mendukung kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian industri lokal berbasis bahan alami.

Konsep dan Prinsip Sustainable Hygiene

Sustainable hygiene adalah konsep kebersihan yang tidak hanya fokus pada kesehatan manusia tetapi juga menjaga keberlanjutan alam, menyatakan bahwa hygiene adalah usaha untuk menjaga dan melindungi kebersihan individu serta lingkungan demi mempertahankan tingkat kesehatan dan kesejahteraan manusia. Dalam kerangka berkelanjutan, konsep ini menekankan pada pengelolaan sumber daya yang efektif, pengurangan limbah, dan pemakaian bahan-bahan alami yang aman untuk ekosistem. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa kebersihan dan kesehatan lingkungan saling terkait, di mana WHO menekankan pentingnya lingkungan yang bersih dan stabil sebagai syarat utama bagi kesehatan global (Rokayah dan Widjaja, 2022). Sustainable hygiene menggabungkan perilaku higienis dengan kesadaran lingkungan untuk mencapai keseimbangan antara kesehatan manusia dan keberlangsungan alam.

Konsep kebersihan berkelanjutan sangat terkait dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama pada poin ketiga yang menekankan kesehatan dan kesejahteraan, serta poin kedua belas yang berkaitan dengan tanggung jawab dalam konsumsi dan produksi. Penggunaan produk kebersihan yang berkelanjutan seperti sanitizer tangan yang terbuat dari limbah agroindustri kulit nanas dan daun sirih menunjukkan sinergi antara kesehatan dan lingkungan. Produk yang berbasis pada bahan alami tidak hanya aman untuk pengguna, tetapi juga mendukung pengelolaan limbah organik dengan nilai tambah (Al Muhyi dan Rahmadia, 2024. Penerapan prinsip keberlanjutan harus menitikberatkan pada pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang untuk membangun ekosistem industri yang lebih ramah lingkungan (Irhamsyah,2019).

Keterkaitan Produk Sustainable Hygiene dengan SDGs (Sustainable Development Goals) 2030

Produk Sustainable Hygiene: Pemanfaatan Limbah Agroindustri Kulit Nanas dan Daun Sirih sebagai Inovasi Hand Sanitizer Berbasis Bahan Alami memiliki potensi besar dalam mendukung beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, lingkungan, dan ekonomi berkelanjutan.

Berikut adalah beberapa poin SDGs yang relevan dengan inovasi produk ini: 
1. SDG 3: Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera)

Produk Sustainable Hygiene mendukung pencapaian SDG 3 dengan menyediakan alternatif hand sanitizer alami yang aman bagi kulit dan efektif membunuh bakteri tanpa menimbulkan efek samping seperti iritasi atau kekeringan. Bahan aktif dari daun sirih (Piper betle L.) dan kulit nanas (Ananas comosus L.) mengandung senyawa antibakteri alami seperti flavonoid, tanin, saponin, dan bromelain yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dan E. coli. Dengan memanfaatkan bahan alami, produk ini membantu meningkatkan kebersihan tangan, mencegah penularan penyakit, dan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Langkah ini sejalan dengan tujuan SDG 3, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia.

2. SDG 12: Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab)

Produk ini menggunakan limbah kulit nanas dari sektor agroindustri sebagai bahan utama, yang sering kali terbuang tanpa dimanfaatkan. Melalui proses pengolahan menjadi hand sanitizer alami, limbah tersebut diubah menjadi produk bernilai tambah tinggi, sehingga mendukung prinsip ekonomi sirkular (circular economy).Pemanfaatan bahan alami dan terbarukan juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis, serta menekan dampak negatif produksi terhadap lingkungan. Inovasi ini mencerminkan penerapan pola konsumsi dan produksi yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, sesuai dengan tujuan SDG 12 yang menekankan pentingnya mengurangi limbah dan memanfaatkan sumber daya secara bijak.

3. SDG 8: Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)

Pengembangan produk Sustainable Hygiene tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan dan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan sosial. Dengan memanfaatkan bahan baku lokal seperti daun sirih dan kulit nanas yang banyak ditemukan di daerah seperti Lampung, inovasi ini membuka peluang wirausaha baru bagi masyarakat lokal. Produksi skala kecil atau rumah tangga dapat dijalankan dengan teknologi sederhana, sehingga membantu meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja layak, serta memperkuat kemandirian ekonomi daerah.Hal ini sejalan dengan tujuan SDG 8 yang menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi inklusif, produktif, dan berkelanjutan.

4. SDG 13: Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim)

Dengan menggantikan bahan kimia sintetis yang digunakan dalam produk pembersih konvensional, Sustainable Hygiene turut berkontribusi terhadap pengurangan pencemaran lingkungan dan emisi karbon yang dihasilkan oleh industri kimia.Pemanfaatan limbah kulit nanas juga membantu mengurangi volume sampah organik yang jika dibiarkan dapat menghasilkan gas metana, salah satu

penyebab efek rumah kaca. Selain itu, penggunaan bahan alami yang biodegradable dan renewable mendukung penerapan praktik produksi yang ramah iklim serta berkelanjutan, sesuai dengan visi SDG 13 untuk mengambil tindakan nyata terhadap perubahan iklim dan dampaknya.

KESIMPULAN


Inovasi Sustainable Hygiene melalui pemanfaatan limbah agroindustri kulit nanas dan daun sirih sebagai bahan dasar pembuatan hand sanitizer alami merupakan langkah nyata dalam menggabungkan aspek kesehatan, lingkungan, dan ekonomi berkelanjutan. Kombinasi kedua bahan alami ini memiliki kandungan bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan bromelain yang terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya tanpa menimbulkan efek iritasi pada kulit. Selain memberikan perlindungan kesehatan, produk ini juga mendukung upaya pelestarian lingkungan melalui pengelolaan limbah organik yang produktif.

Dari sudut pandang Sustainable Development Goals (SDGs), inovasi ini secara langsung mendukung:

• SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera / Good Health and Well-being): Produk hand sanitizer alami dari daun sirih dan kulit nanas membantu menjaga kebersihan tangan, mencegah penyakit menular, dan memberikan alternatif yang aman tanpa bahan kimia berbahaya. Hal ini mendorong peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan cara yang ramah terhadap tubuh manusia dan lingkungan.

• SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab / Responsible Consumption and Production): Pemanfaatan limbah kulit nanas mencerminkan penerapan prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Proses ini mengurangi timbunan sampah organik, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mendukung pola produksi yang berkelanjutan di sektor agroindustri.

Dengan demikian, pengembangan produk hand sanitizer berbasis bahan alami tidak hanya berperan sebagai solusi inovatif dalam bidang kesehatan, tetapi juga sebagai wujud nyata penerapan pembangunan berkelanjutan yang menyinergikan antara kesehatan masyarakat, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Inovasi ini membuktikan bahwa penerapan konsep “Sustainable Hygiene” dapat menjadi kontribusi nyata dalam mencapai tujuan global SDGs serta menciptakan masa depan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

_______
Ditulis oleh:
1. Philip Mark - Kehutanan - 2314151061
2. Marlinda Arisah  - Teknologi Industri Pertanian - 2314231062
3. Rahmat Lutfi Atqia - Peternakan - 2414141067
4. Lidyya Ananda Putri - Pendidikan Geografi - 2413034082

Optimalisasi Limbah Sekam Padi Sebagai Sumber Energi Terbarukan Melalui Produksi Bioetanol dalam Mendukung Green Economy Petani Lokal

PENDAHULUAN

 Pemerintah Indonesia saat ini tengah berupaya mencapai swasembada  pangan, terutama pada komoditas padi, guna memastikan ketahanan pangan  nasional. Upaya ini menjadi bagian penting dari strategi pembangunan pertanian  berkelanjutan yang menekankan peningkatan produktivitas, efisiensi, dan  kemandirian petani. Program swasembada pangan dirancang tidak hanya untuk  memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, tetapi juga sebagai langkah  memperkuat stabilitas ekonomi nasional melalui sektor pertanian yang tangguh.  Dalam pelaksanaannya, pemerintah mendorong penggunaan teknologi modern,  seperti mekanisasi pertanian, serta memperluas akses terhadap pupuk, benih  unggul, dan sistem irigasi yang memadai. Kebijakan ini sejalan dengan semangat  kemandirian pangan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang  Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, yang menegaskan bahwa ketersediaan  pangan harus berkelanjutan dan berbasis pada potensi sumber daya dalam negeri. 

Namun, peningkatan produksi padi sebagai hasil dari program tersebut juga  menimbulkan tantangan lingkungan baru yang perlu segera diatasi. Salah satu  dampak yang sering diabaikan adalah meningkatnya volume limbah pertanian,  terutama sekam padi yang berasal dari hasil penggilingan gabah. Sekam padi yang  tidak dikelola dengan baik kerap dibakar di area sekitar penggilingan atau dibuang  begitu saja, sehingga menimbulkan polusi udara dan pencemaran tanah. Padahal,  jumlah sekam padi yang dihasilkan di Indonesia setiap tahun mencapai jutaan ton,  yang jika dimanfaatkan dengan benar, dapat menjadi sumber energi alternatif yang  bernilai tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam mencapai  swasembada pangan seharusnya tidak hanya diukur dari peningkatan hasil panen,  tetapi juga dari sejauh mana sistem pertanian tersebut mampu mengelola limbahnya  secara efisien dan ramah lingkungan. 

Sekam padi sendiri memiliki potensi besar sebagai bahan baku energi  terbarukan karena kandungan lignoselulosanya yang tinggi. Struktur kimia sekam  terdiri dari selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang memungkinkan proses konversi  menjadi berbagai bentuk energi, seperti briket, arang sekam, bahkan bioetanol.  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sekam padi dapat  memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi masyarakat desa, sekaligus  mengurangi dampak lingkungan dari pembakaran terbuka. Misalnya, hasil  penelitian Rahmiati et al. (2019) membuktikan bahwa pengolahan sekam menjadi  arang aktif tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga menciptakan  peluang usaha baru di pedesaan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi berkelanjutan  yang mampu mengubah limbah sekam dari produk sisa menjadi komoditas bernilai  tinggi yang mendukung pertumbuhan ekonomi hijau.

Salah satu inovasi yang menjanjikan adalah produksi bioetanol dari limbah  sekam padi. Bioetanol merupakan bahan bakar cair hasil fermentasi biomassa yang  dapat digunakan sebagai pengganti bensin atau campuran bahan bakar kendaraan  bermotor. Keunggulan bioetanol terletak pada sifatnya yang ramah lingkungan,  dapat diperbarui, serta berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.  Dalam konteks Indonesia yang masih bergantung pada bahan bakar fosil,  pengembangan bioetanol dari limbah pertanian dapat menjadi solusi strategis untuk  mencapai kemandirian energi sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi  rendah karbon. Selain itu, pengolahan limbah menjadi bioetanol juga membuka  lapangan kerja baru di sektor pedesaan, memperkuat ekonomi lokal, dan  mendorong peningkatan kesejahteraan petani. 

Dengan demikian, optimalisasi limbah sekam padi sebagai sumber energi  terbarukan melalui produksi bioetanol merupakan langkah konkret dalam  mendukung konsep green economy di tingkat petani lokal. Pendekatan ini  mencerminkan sinergi antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam  pembangunan pertanian modern. Pengelolaan limbah pertanian secara inovatif  tidak hanya membantu menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat  daya saing pertanian Indonesia di era globalisasi. Melalui transformasi ini, sektor  pertanian dapat menjadi motor utama dalam menciptakan sistem produksi yang  berkelanjutan, efisien, dan berorientasi masa depan. Oleh karena itu, penting bagi  pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk berkolaborasi dalam  mengembangkan teknologi bioetanol berbasis limbah sekam padi demi  terwujudnya ketahanan energi dan ketahanan pangan nasional secara bersamaan.

ISI

Sekam padi merupakan hasil sisa dari proses penggilingan gabah yang  jumlahnya sangat melimpah di wilayah pertanian. Bahan ini mengandung  komponen lignoselulosa yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa, dan lignin,  sehingga berpotensi tinggi untuk dijadikan bahan dasar pembuatan bioetanol.  Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal ENGINE (2022), sekam  padi dapat diubah menjadi bioetanol melalui tahapan pra-perlakuan, hidrolisis, dan  fermentasi. Hasil uji menunjukkan bahwa bioetanol dari sekam menghasilkan nyala  api biru dengan densitas sekitar 0,88 g/mL, yang menandakan kualitas bahan  bakarnya cukup baik. Walaupun kadar air masih cukup tinggi, proses pemurnian  dengan bahan penyerap seperti silika gel dapat meningkatkan kemurnian etanol.  Dengan demikian, limbah sekam yang sebelumnya terbuang bisa dimanfaatkan  menjadi energi yang bernilai. Potensi ini menjadikan sekam padi sebagai bahan  baku alternatif yang ekonomis, terbarukan, dan ramah lingkungan. Oleh sebab itu,  pengembangan produksi bioetanol dari sekam perlu diterapkan lebih luas di daerah  penghasil padi. 

gambar 1. ilustrasi proses pembuatan bioetanol 

Proses pembuatan bioetanol dari sekam padi melibatkan beberapa tahapan  penting seperti pra-perlakuan, hidrolisis, fermentasi, dan distilasi. Tahap pra perlakuan berfungsi untuk merusak struktur lignoselulosa agar enzim dapat bekerja  lebih efektif dalam mengubahnya menjadi gula sederhana. Selanjutnya, proses  hidrolisis dilakukan untuk memecah komponen selulosa menjadi glukosa. Glukosa  yang dihasilkan akan difermentasi menggunakan mikroorganisme Saccharomyces  cerevisiae untuk menghasilkan etanol. Setelah itu, bioetanol yang terbentuk masih  mengandung air dan kotoran sehingga perlu dimurnikan melalui distilasi. Menurut  hasil penelitian Jurnal Teknologi Kimia (2021), faktor seperti waktu fermentasi,  suhu, dan pH sangat berpengaruh terhadap kadar etanol yang diperoleh. Jika  kondisi proses dikendalikan dengan baik, maka rendemen bioetanol dapat 

meningkat secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi proses sangat  menentukan keberhasilan produksi bioetanol dari sekam padi. 

Pemanfaatan sekam padi sebagai bahan baku bioetanol membawa manfaat  ekonomi yang besar bagi masyarakat pedesaan. Limbah yang tadinya dianggap  tidak bernilai kini bisa diolah menjadi sumber energi alternatif bernilai jual tinggi. Bioetanol yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin pertanian,  pengering hasil panen, atau keperluan rumah tangga. Berdasarkan penelitian dari  Jurnal Agroindustri (2020), teknologi pengolahan sederhana memungkinkan petani  memproduksi bioetanol secara mandiri dengan biaya rendah. Dengan cara ini,  petani dapat menghemat pengeluaran energi sekaligus memperoleh tambahan  pendapatan. Pengolahan bioetanol juga bisa menjadi peluang usaha baru di  pedesaan, terutama bila dikelola dalam kelompok tani. Selain itu, kegiatan ini turut  memperkuat ketahanan energi di tingkat lokal. Jika dikembangkan secara konsisten,  pemanfaatan sekam untuk bioetanol dapat menjadi model ekonomi hijau yang  berkelanjutan bagi komunitas petani. 

Dari sisi lingkungan, konversi sekam padi menjadi bioetanol memberikan  dampak positif yang besar terhadap pengurangan pencemaran. Pembakaran sekam  secara langsung biasanya menghasilkan asap pekat dan emisi karbon dioksida yang  tinggi. Dengan mengubahnya menjadi bioetanol, limbah tersebut dapat  dimanfaatkan menjadi bahan bakar yang lebih bersih. Bioetanol memiliki emisi gas  buang yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil seperti bensin atau solar.  Selain itu, pemanfaatan sekam membantu mengurangi penumpukan limbah di area  penggilingan padi yang sering menimbulkan debu dan bau tidak sedap. Pendekatan  ini selaras dengan konsep circular economy, yaitu pemanfaatan kembali limbah  untuk menghasilkan produk bernilai tambah. Dengan begitu, pengolahan sekam  padi tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menghasilkan energi  terbarukan. Inovasi ini menjadi langkah penting menuju sistem pertanian yang  ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

Pengembangan teknologi bioetanol dari sekam padi merupakan upaya  strategis menuju kemandirian energi di pedesaan. Dukungan berupa pelatihan,  bantuan alat, dan kebijakan yang berpihak pada energi terbarukan akan membantu  petani mengelola limbah secara produktif. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga  riset, dan masyarakat menjadi faktor kunci keberhasilan implementasi teknologi ini.  Peran kelompok tani dan koperasi desa juga penting dalam memperkuat sistem  produksi serta distribusi bioetanol. Selain memberikan manfaat ekonomi,  penggunaan bioetanol juga mendukung pengurangan emisi karbon di tingkat lokal.  Bahan bakar ini bisa menjadi solusi bagi daerah yang sulit dijangkau distribusi  energi fosil. Melalui pemanfaatan sekam sebagai sumber energi, petani dapat  berkontribusi dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, inovasi bioetanol dari sekam padi bukan hanya langkah teknologi, tetapi juga bagian dari  transformasi menuju ekonomi hijau yang mandiri dan berkelanjutan.


PENUTUP 

Optimalisasi limbah sekam padi melalui produksi bioetanol merupakan  solusi strategis dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan dan mendukung konsep  green economy di tingkat petani lokal. Proses konversi sekam menjadi bioetanol  tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai  ekonomi limbah pertanian yang selama ini terabaikan. Inovasi ini dapat menjadi  sumber energi alternatif yang ramah lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan  energi dan kemandirian petani di pedesaan. Untuk mencapai hasil yang optimal,  diperlukan dukungan kebijakan pemerintah, pendampingan teknologi, dan  partisipasi aktif masyarakat. Dengan demikian, pengembangan bioetanol dari  sekam padi tidak hanya menjadi bentuk pengelolaan limbah yang efisien, tetapi  juga langkah nyata menuju sistem pertanian hijau dan berdaya saing.


Dipublikasikan oleh:
Isma Rizky Saputri 2414211007 
Zahra Nur Azizah 2414161027 
Febiola Agustin 2415041066 
Gandi Saputra 2414151089

Postingan Populer