Senin, 01 Desember 2025

TAPIS JEJAK: INOVASI DIGITAL UNTUK PELESTARIAN DAN KEBERLANJUTAN KOTA BANDAR LAMPUNG

 PENDAHULUAN 

Sebagai ibu kota Provinsi Lampung, Kota Bandar Lampung menghadapi  berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks seiring pertumbuhan  penduduk dan aktivitas perkotaan. Salah satu permasalahan paling mendesak  adalah meningkatnya volume timbulan sampah setiap tahunnya. Pada tahun 2025,  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat produksi sampah kota mencapai 800 - 1.000 ton per hari, dengan lonjakan signifikan selama bulan Ramadhan. Kondisi ini  menjadikan Bandar Lampung sebagai salah satu penyumbang terbesar timbulan  sampah provinsi, yang secara total mencapai sekitar 4.719 ton per hari. Sayangnya,  sistem pengelolaan yang ada masih didominasi pola konvensional “angkut-buang”  ke TPA Bakung, yang kapasitasnya semakin terbatas dan belum dilengkapi  teknologi pengolahan modern. 

Masalah tidak berhenti di situ. Infrastruktur pendukung seperti TPS (Tempat  Pembuangan Sementara) masih minim dan tersebar tidak merata, sehingga  tumpukan sampah sering terlihat di pinggir jalan dan kawasan permukiman padat.  Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam  pengelolaan sampah rumah tangga. Di sisi lain, tantangan lingkungan seperti  penurunan daya resap tanah dan meningkatnya risiko banjir juga menjadi perhatian  penting. Berdasarkan laporan Antara News Lampung (2025), Pemerintah Kota  Bandar Lampung telah melakukan langkah nyata berupa monitoring terhadap  23.500 lubang resapan biopori dan program penanaman pohon dalam rangka  memperkuat daya dukung lingkungan kota. Upaya ini merupakan bagian dari  rangkaian kegiatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025. Namun,  efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat  dan kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. 

Kasus lain juga menjadi tantangan bagi Bandar Lampung, dalam laporan  Seputar Lampung (2025), pada peringatan HUT ke-343 Kota Bandar Lampung,  diungkap bahwa sebagian besar masyarakat, khususnya generasi muda, mulai  kehilangan pengetahuan tentang asal-usul dan perjalanan sejarah kotanya. Banyak  situs bersejarah seperti kawasan Teluk Betung Lama, bekas pelabuhan rempah, dan  bangunan kolonial kini terabaikan dan tidak lagi menjadi bagian dari ruang belajar  publik. Minimnya literasi sejarah ini membuat identitas kultural Bandar Lampung kian memudar di tengah pesatnya pembangunan modern. Kondisi tersebut  menunjukkan perlunya langkah konkret untuk menghidupkan kembali kesadaran  sejarah masyarakat, agar nilai-nilai lokal dan warisan budaya kota tidak hilang  ditelan perkembangan zaman. 

Beragam persoalan lingkungan dan sejarah yang terus muncul menunjukkan  bahwa cara penanganan konvensional tidak lagi cukup untuk menjaga  keberlanjutan kota. Diperlukan sebuah langkah baru yang tidak hanya fokus pada  pembangunan fisik, tetapi juga mampu menghubungkan data permasalahan nyata  di lapangan dengan pengetahuan sejarah serta sistem pemerintahan. Inilah celah di  mana inovasi digital dapat berperan besar. Melalui teknologi, potensi kolaborasi  antara masyarakat dan pemerintah dapat diperkuat, sambil menghadirkan cara  belajar sejarah kota dan kondisi lingkungan yang lebih menarik dan interaktif. 

Sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut, lahirlah gagasan “Tapis Jejak”,  sebuah aplikasi mobile yang menggabungkan tiga elemen penting seperti pemahaman sejarah lokal, informasi lingkungan terkini, dan akses langsung  terhadap kanal partisipasi pemerintahan. Inovasi ini menawarkan pendekatan baru  dalam menjaga kota, bukan sekadar membenahi masalah saat muncul, tetapi  membangun kesadaran kolektif melalui data dan cerita yang hidup di setiap sudut  Bandar Lampung. Dengan demikian, pelestarian kota tidak hanya menjadi  tanggung jawab pemerintah, tetapi juga gerakan bersama seluruh lapisan  masyarakat.

 

ISI 


Gambaran Umum Inovasi Tapis Jejak 

Sebagai kota yang terus berkembang, Bandar Lampung membutuhkan  pendekatan baru dalam menjaga keberlanjutan lingkungannya. Tantangan  urbanisasi tidak cukup dijawab dengan pembangunan fisik semata, melainkan juga  dengan inovasi yang mampu menyatukan data, budaya, dan partisipasi publik.  “Tapis Jejak” hadir sebagai gagasan digital yang menawarkan cara berbeda untuk  melihat kota: bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga ruang pengetahuan yang  merekam sejarah, mengawasi kondisi lingkungan secara real-time, dan membuka  jalur komunikasi dua arah dengan pemerintah. Konsep ini terinspirasi dari  keberhasilan aplikasi lokal lain yang memanfaatkan teknologi sebagai media  pelestarian sejarah, seperti aplikasi “Pontianak Heritage” yang terbukti mampu  meningkatkan minat masyarakat terhadap sejarah lokal melalui platform interaktif  berbasis Android (Firmansyah & Bibi, 2023). 

Lebih dari sekadar arsip digital, “Tapis Jejak” dirancang untuk menjadi alat  kolaborasi. Melalui fitur pelaporan warga, pengguna dapat melaporkan  permasalahan lingkungan seperti tumpukan sampah, drainase tersumbat, atau  pohon tumbang secara langsung kepada dinas terkait. Mekanisme ini terbukti  efektif mempercepat respons pemerintah, sebagaimana dibuktikan oleh aplikasi  pengaduan sampah di Kota Gorontalo yang berhasil menghubungkan masyarakat  dan instansi lingkungan secara lebih responsif (Sidik & Ismail, 2022). Dengan  melibatkan warga sebagai pengamat aktif, data lapangan menjadi lebih kaya dan  akurat, sekaligus membangun budaya partisipasi publik dalam pengelolaan kota. 

Selain itu, keunggulan “Tapis Jejak” juga terletak pada integrasi teknologi  lingkungan. Melalui sensor dan basis data sederhana, aplikasi dapat menampilkan  informasi real-time seperti kualitas udara, tingkat kebisingan, hingga keberadaan  vegetasi lokal. Model seperti ini sudah banyak diujicobakan dalam riset  pengembangan aplikasi monitoring lingkungan berbasis Android, yang terbukti  efektif meningkatkan transparansi kondisi lingkungan kepada masyarakat luas  (Lubis et al., 2023). Dengan kombinasi antara arsip sejarah, data ekologis, dan kanal  partisipatif, “Tapis Jejak” menawarkan pendekatan pelestarian kota yang tidak hanya informatif, tetapi juga menggerakkan kesadaran kolektif warga terhadap  kotanya sendiri. 

Strategi Implementasi dan Kolaborasi 

Keberhasilan sebuah inovasi digital tidak hanya ditentukan oleh ide yang  cemerlang, tetapi juga oleh strategi implementasi yang matang dan kolaborasi lintas  sektor yang kuat. “Tapis Jejak” dirancang bukan sekadar sebagai proyek teknologi,  melainkan sebagai gerakan kota yang menekankan sinergi antara pemerintah,  masyarakat, akademisi, dan komunitas lokal. Tahap awal pelaksanaannya  difokuskan pada pemetaan kawasan prioritas, seperti ruang publik, area bersejarah,  dan titik rawan lingkungan. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa  peluncuran aplikasi benar-benar menyentuh lokasi yang memiliki urgensi tinggi,  sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga. Pendekatan serupa  pernah diterapkan dalam program Smart City di Surabaya, yang menitikberatkan  pada integrasi data spasial dan partisipasi publik sebagai fondasi pengambilan  kebijakan kota (Utami & Nugraha, 2023). 

Agar implementasi berjalan efektif, strategi komunikasi publik menjadi  kunci utama. Sosialisasi dilakukan secara berlapis, mulai dari institusi pendidikan,  komunitas masyarakat, hingga kanal media lokal. Pengalaman menunjukkan bahwa  penerapan inovasi berbasis teknologi akan lebih berhasil ketika masyarakat  memahami manfaat langsung yang mereka dapatkan (Pratiwi et al., 2023). Oleh  karena itu, dalam tahap awal, kampanye “Tapis Jejak” tidak hanya berfokus pada  fitur teknis aplikasi, tetapi juga pada nilai historis dan lingkungan yang ingin  disampaikan. Dengan cara ini, aplikasi tidak sekadar diunduh, tetapi benar-benar  digunakan dan dijaga bersama. 

Tahapan berikutnya adalah membangun sistem kolaborasi yang  berkelanjutan. Pemerintah daerah berperan sebagai pengelola kebijakan dan  penyedia infrastruktur, sementara masyarakat dan komunitas menjadi mata serta  telinga di lapangan. Kolaborasi ini diperkuat dengan dukungan perguruan tinggi  yang berperan sebagai penyedia riset, validasi data, dan pengembangan teknologi  lanjutan. Model kolaboratif seperti ini terbukti efektif dalam berbagai proyek  pengelolaan kota berbasis teknologi, seperti yang ditunjukkan dalam studi mengenai integrasi civic technology dalam perencanaan kota di beberapa kota Asia  Tenggara (Yuan et al., 2022). Dengan pendekatan yang menyatukan inovasi  teknologi dan kekuatan sosial masyarakat, “Tapis Jejak” memiliki potensi besar  menjadi penggerak perubahan nyata dalam pelestarian dan tata kelola Kota Bandar  Lampung. 

Tampilan dan Fitur 

 
Gambar 1. Design logo Tapis Jejak

Logo Tapis Jejak menampilkan perpaduan simbol yang sederhana namun  sarat makna, mencerminkan semangat pelestarian dan kolaborasi kota Bandar  Lampung melalui pendekatan modern. Bentuk utama berupa jejak kaki  melambangkan langkah nyata masyarakat dalam merawat kota, menunjukkan  bahwa perubahan dimulai dari pijakan kecil setiap individu. Di tengah jejak  tersebut, terdapat ikon penanda lokasi (pin) yang menegaskan fungsi aplikasi  sebagai alat pelacak dan penghubung informasi sejarah serta kondisi lingkungan  kota secara real time. Penempatan simbol ini di bagian tengah memberikan kesan  fokus dan arah yang jelas, seakan mengajak pengguna untuk menapaki kembali  jejak kota mereka dengan cara yang lebih cerdas dan terarah. 

Sementara itu, elemen daun yang menyatu di sisi kiri jejak kaki menjadi  representasi dari kehidupan dan keberlanjutan lingkungan. Daun tersebut  menggambarkan komitmen terhadap pelestarian alam, sejalan dengan misi aplikasi  untuk mengedukasi serta mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kualitas ekologis kota. Pemilihan warna dark teal menghadirkan kesan elegan,  modern, dan terpercaya, sedangkan latar putih polos mempertegas kejelasan visual  sehingga logo mudah diaplikasikan pada berbagai media. Secara keseluruhan, logo  ini bukan sekadar identitas visual, melainkan simbol gerakan bersama untuk  menautkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Bandar Lampung dalam satu  langkah terukur yang berkelanjutan. 

Gambar 2. Tampilan dan Fitur Tapis Jejak 

Aplikasi Tapis Jejak dirancang sebagai ruang digital yang tidak hanya  informatif, tetapi juga interaktif dan mengedepankan kolaborasi antara masyarakat  dan pemerintah. Pada halaman beranda, pengguna langsung disambut dengan peta  mini yang responsif, menampilkan informasi penting kota secara real time. Dari  sini, mereka dapat mengakses berbagai pintasan fitur utama dengan cepat, mulai  dari data lingkungan hingga agenda kegiatan kota, sehingga pengalaman pengguna  menjadi lebih intuitif dan efisien. 

Selanjutnya, fitur Peta Sejarah & Lingkungan menjadi jantung edukatif  aplikasi ini. Melalui tampilan peta interaktif, pengguna dapat menelusuri jejak  sejarah kota sambil memantau kondisi lingkungan seperti kualitas udara, ruang  terbuka hijau, dan wilayah resapan air. Fitur ini bukan hanya memperkaya  pengetahuan warga, tetapi juga menumbuhkan rasa kepedulian terhadap warisan  budaya dan kelestarian lingkungan sekitar. 

Tak kalah penting, fitur Pelaporan & Partisipasi Publik memberikan ruang  bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam pembangunan kota. Warga dapat  melaporkan permasalahan seperti tumpukan sampah, banjir, atau kerusakan  fasilitas publik dengan mudah melalui foto dan titik GPS. Setiap laporan akan  ditindaklanjuti secara transparan, menciptakan ekosistem partisipatif yang  mendorong kolaborasi nyata antara masyarakat dan pemerintah untuk menciptakan  kota yang lebih tangguh dan berkelanjutan. 

Terakhir ada fitur Event yang dirancang sebagai kalender digital kolaboratif dengan menampilkan agenda kegiatan kota secara real-time dan efisien, sehingga  mendukung pengalaman pengguna. Mengingat misi aplikasi yang berfokus pada  pelestarian sejarah dan keberlanjutan lingkungan, fitur ini berfungsi untuk  mempromosikan dan menyosialisasikan event yang relevan. Ini termasuk kegiatan  lingkungan seperti bersih-bersih kota atau program penanaman pohon, serta festival  budaya lokal, yang semuanya bertujuan menggerakkan kesadaran kolektif warga.  Dengan menyediakan informasi event secara terpusat, fitur ini secara efektif  mendorong warga untuk terlibat aktif dalam menjaga dan merawat Kota Bandar  Lampung. 

Pemetaan Stakeholder dan Potensi Kolaborasi 

Pengembangan Tapis Jejak sebagai inovasi pelestarian sejarah dan  lingkungan Kota Bandar Lampung tidak bisa dilakukan secara sepihak.  Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh kolaborasi lintas sektor yang  terencana antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas lokal, sektor swasta, dan  masyarakat. Setiap pihak memiliki peran strategis yang saling melengkapi, mulai  dari penyediaan data dan arsip, pengembangan teknologi, hingga pelibatan aktif  masyarakat sebagai pengguna dan penggerak utama pelestarian kota. 

Dalam aspek sejarah dan arsip data, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Daerah bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menjadi sumber utama  penyedia dokumen autentik, catatan sejarah kota, hingga arsip visual bangunan  bersejarah yang akan diintegrasikan ke dalam aplikasi. Data tersebut menjadi  fondasi keakuratan konten yang disajikan kepada publik. Perguruan tinggi berperan  penting melalui program studi sejarah, lingkungan, dan teknologi informasi dalam proses digitalisasi arsip, validasi data ilmiah, serta pengembangan sistem aplikasi  yang fungsional dan mudah digunakan. Sinergi akademik ini juga memungkinkan  munculnya inovasi lanjutan seperti pemetaan interaktif dan analisis spasial berbasis  laporan warga. 

Di sisi lain, komunitas lokal dan pegiat budaya memperkaya konten dengan  cerita rakyat, kisah turun-temurun, serta pengetahuan lokal yang sering luput dari  dokumentasi resmi, sehingga aplikasi menjadi lebih hidup dan dekat dengan  masyarakat. Pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas  Pariwisata menyediakan dukungan regulasi, akses data lingkungan, serta  mendorong promosi ke masyarakat luas. Kolaborasi ini diperkuat oleh kehadiran  fitur pelaporan masyarakat langsung ke pemerintah, yang memungkinkan warga  menyampaikan temuan di lapangan seperti kerusakan situs bersejarah, penumpukan  sampah, atau pelanggaran tata ruang secara cepat dan terarah. Laporan ini akan  diterima oleh dinas terkait, dipetakan secara otomatis, dan dapat dipantau status  tindak lanjutnya oleh pelapor. 

Terakhir, sektor swasta berperan dalam memperkuat sisi teknologi,  menyediakan dukungan finansial, dan membuka peluang kemitraan jangka  panjang. Dengan skema kolaborasi yang komprehensif ini, Tapis Jejak bukan  sekadar aplikasi informatif, tetapi juga platform partisipatif yang menghubungkan  pengetahuan sejarah, kondisi lingkungan, dan respons kebijakan secara langsung 

mendorong masyarakat dan pemerintah bergerak bersama menjaga identitas kota. 

Analisis Strategis Inovasi Tapis Jejak 

Dalam upaya merealisasikan gagasan Tapis Jejak sebagai solusi pelestarian  sejarah dan lingkungan kota Bandar Lampung, diperlukan pemetaan strategi yang  matang. Untuk memastikan pengembangan berjalan strategis, dilakukan analisis  SWOT guna memetakan kondisi internal dan eksternal yang memengaruhi inovasi  ini. Analisis ini membantu mengidentifikasi kekuatan seperti konsep unik dan  dukungan kolaboratif, serta kelemahan seperti keterbatasan sumber daya dan  tantangan teknis. Selain itu, peluang besar hadir melalui dukungan kebijakan  pemerintah, kolaborasi multipihak, dan tren digitalisasi budaya, sedangkan ancaman dapat muncul dari perubahan teknologi yang cepat, minat publik yang  fluktuatif, dan potensi munculnya inovasi serupa. 

Dengan pemetaan SWOT tersebut, strategi pengembangan Tapis Jejak dapat  disusun secara lebih terarah dan adaptif. Kekuatan dan peluang dapat dimanfaatkan  secara optimal, sementara kelemahan dan ancaman dapat diantisipasi melalui kerja  sama lintas sektor dan inovasi berkelanjutan. Pendekatan ini memastikan Tapis  Jejak tidak hanya menjadi platform informatif dan historis, tetapi juga menjadi  gerakan kolektif yang mendorong pelestarian sejarah dan lingkungan kota secara  modern dan partisipatif. Berikut tabel 1. terkait analisis SWOT Tapis Jejak. 

Tabel 1. Analisis SWOT Aplikasi Jejak Tapis

Aspek 

Uraian

Strength  

(Kekuatan)

1. Integrasi unik antara data sejarah, lingkungan, dan  partisipasi publik. 

2. Kolaborasi lintas bidang (sejarah, biologi terapan,  teknik lingkungan, pemerintahan). 

3. Nilai edukatif tinggi untuk masyarakat dan  wisatawan.

Weakness  

(Kelemahan)

1. Ketergantungan pada teknologi & jaringan internet  yang belum merata. 

2. Literasi digital masyarakat masih terbatas di  beberapa wilayah. 

3. Sumber daya awal (dana dan SDM teknis) belum  optimal.

Opportunity  

(Peluang)

1. Dukungan program smart city dan digitalisasi  pemerintah kota. 

2. Kesempatan kolaborasi dengan berbagai lembaga  dan komunitas. 

3. Tren meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap  sejarah dan lingkungan.



 

Threat  

(Ancaman)

1. Risiko rendahnya partisipasi masyarakat dalam  pelestarian dan pelaporan data. 

2. Potensi kurangnya pembaruan konten sejarah dan  lingkungan yang berdampak pada kredibilitas  aplikasi. 

3. Tantangan dalam menjaga keberlanjutan dan  konsistensi pengelolaan aplikasi jangka panjang.




PENUTUP

Kesimpulan 

Tapis Jejak merupakan inovasi digital yang menawarkan pendekatan baru  dalam pelestarian sejarah dan lingkungan Kota Bandar Lampung. Melalui integrasi  data historis, informasi ekologis, dan kanal pelibatan masyarakat, aplikasi ini  berpotensi menjadi sarana kolaboratif antara pemerintah, akademisi, komunitas,  sektor swasta, dan warga. Analisis strategis menunjukkan bahwa kekuatan utama  inovasi ini terletak pada keunikan konsep dan dukungan multipihak, sementara  tantangan dapat diatasi melalui pengelolaan berkelanjutan dan peningkatan  partisipasi publik. Jika dijalankan dengan strategi implementasi yang matang dan  komitmen bersama, Tapis Jejak tidak hanya menjadi alat digital, tetapi juga gerakan  kolektif untuk merawat identitas dan keberlanjutan Kota Bandar Lampung. 

Saran 

Agar inovasi ini dapat diimplementasikan secara efektif, ada beberapa hal  yang bisa diperkuat diantaranya: 

1. Bentuk tim pengelola lintas sektor untuk memastikan aplikasi terus  diperbarui dan dikelola secara berkelanjutan. 

2. Tingkatkan literasi digital masyarakat agar fitur pelaporan dapat  dimanfaatkan secara maksimal. 

3. Buat kerja sama resmi dengan perguruan tinggi, komunitas sejarah, dan  sektor swasta untuk mendukung riset, teknologi, dan pendanaan. 4. Lakukan promosi dan sosialisasi rutin supaya aplikasi dikenal luas dan aktif  digunakan masyarakat.


_______

Ditulis oleh:

1. Adita Nanda - 2413033029 

2. Raihan Alfareza - 2417061057 

3. Regina Septi Rahmadani - 2516021013 

4. Richard Antonius Tamba - 2515014043


DESA RE:GROW: SOLUSI KREATIF MENGATASI PENGANGGURAN REMAJA MELALUI PERTANIAN DIGITAL

 PENDAHULUAN 

Sektor pertanian memiliki peranan vital dalam menopang perekonomian  nasional dan menjaga ketahanan pangan di Indonesia, terutama di wilayah  pedesaan. Selain menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat desa, sektor ini  juga berkontribusi besar terhadap penyediaan lapangan kerja dan sumber  pendapatan utama bagi jutaan penduduk. Namun, sayangnya, meskipun menjadi  sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, desa-desa di Indonesia masih  menghadapi krisis pengangguran yang cukup tinggi, khususnya di kalangan  remaja. Data Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan bahwa tingkat  pengangguran pemuda di pedesaan masih berada pada angka yang  mengkhawatirkan dan cenderung stagnan dari tahun ke tahun. 

Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah menurunnya minat generasi  muda terhadap dunia pertanian. Bagi sebagian besar remaja desa, pertanian  konvensional dipandang sebagai pekerjaan yang monoton, padat tenaga, dan  kurang memberikan nilai tambah ekonomi maupun pengakuan sosial (Rahman &  Putri, 2023). Pandangan tersebut memunculkan sikap apatis serta rendahnya  motivasi untuk berkontribusi di bidang pertanian. Akibatnya, regenerasi petani  muda melemah, sementara potensi besar pertanian desa belum tergarap secara  optimal. 

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital kini membuka peluang baru  untuk mengubah wajah pertanian desa. Digitalisasi pertanian tidak hanya  menawarkan efisiensi melalui penggunaan aplikasi pertanian cerdas, drone  pemantau lahan, dan sistem manajemen tanam otomatis, tetapi juga menghadirkan  daya tarik baru bagi generasi muda yang tumbuh dalam budaya teknologi (Aliu,  2024). Transformasi ini menjadikan pertanian bukan lagi sekadar kegiatan  tradisional, melainkan ekosistem modern yang berorientasi pada inovasi,  produktivitas, dan keberlanjutan. 

Berangkat dari tantangan dan peluang tersebut, lahirlah gagasan Desa  Re:Grow sebagai konsep revolusioner yang berfokus pada pemberdayaan remaja  desa melalui integrasi teknologi digital dan semangat kewirausahaan. Program ini  bertujuan menciptakan ekosistem pertanian modern yang inklusif dan 

berkelanjutan, sekaligus menumbuhkan generasi muda desa yang kreatif, adaptif,  dan mandiri. Dengan memadukan potensi sumber daya alam pedesaan dan inovasi  teknologi, Desa Re:Grow diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan  menuju pertanian yang lebih produktif serta berperan penting dalam menekan  angka pengangguran pemuda di Indonesia. 

PEMBAHASAN 

Desa Re:Grow merupakan program pemberdayaan terstruktur yang  dirancang untuk mengintegrasikan teknologi digital ke dalam sistem pertanian  dengan fokus utama pada peningkatan kapasitas remaja desa. Program ini  menawarkan serangkaian kegiatan mulai dari pelatihan keterampilan digital,  penggunaan alat pertanian canggih seperti drone pemantau lahan dan sensor tanah,  hingga pembekalan pengelolaan usaha tani modern dan strategi pemasaran digital  (Aliu, 2024). Tujuannya bukan sekadar menjadikan remaja sebagai tenaga kerja di  sektor pertanian, melainkan melatih mereka menjadi wirausahawan pertanian  muda yang memiliki kemampuan manajerial, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Melalui penerapan sistem pertanian digital, Desa Re:Grow diharapkan  dapat menciptakan ekosistem pertanian yang lebih efisien dan produktif.  Penggunaan data berbasis sensor, pemantauan lahan melalui drone, serta analisis  digital memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat dalam  proses budidaya, pengairan, maupun panen (Rahman & Putri, 2023). Dengan  demikian, remaja desa tidak hanya dilatih untuk mengelola lahan, tetapi juga  memahami aspek ekonomi, teknologi, dan pemasaran pertanian secara terpadu. Program Desa Re:Grow tidak hanya berorientasi pada transfer teknologi,  tetapi juga pada transformasi sosial-ekonomi pedesaan. Di tengah menurunnya  minat generasi muda terhadap pertanian konvensional yang dianggap monoton  dan minim nilai tambah (Rahman & Putri, 2023), digitalisasi pertanian menjadi  jalan baru untuk membangun citra pertanian yang modern, dinamis, dan bernilai  ekonomi tinggi. 

Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan berbagai inovasi,  seperti smart farming, sistem irigasi otomatis, dan pemantauan lahan berbasis  sensor, yang secara nyata mampu meningkatkan efisiensi serta hasil panen (Aliu, 2024). Melalui aplikasi pertanian digital dan pemanfaatan e-commerce, hasil  panen dapat dipasarkan lebih luas tanpa bergantung pada tengkulak atau pasar  tradisional. Hal ini sejalan dengan laporan CropLife Indonesia (2025), yang  menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital dalam rantai pasok pertanian  dapat meningkatkan pendapatan petani hingga 30% dan memperluas akses pasar  hingga ke skala nasional dan internasional. Dengan demikian, Desa Re:Grow menjadi motor perubahan sosial yang  menghubungkan antara generasi muda, inovasi teknologi, dan penguatan ekonomi  desa. Program ini menumbuhkan kepercayaan diri remaja desa untuk berperan  sebagai agen pembangunan yang produktif, mandiri, dan kompetitif. 

Untuk memahami potensi dan tantangan implementasi Desa Re:Grow,  analisis SWOT memberikan gambaran menyeluruh terhadap kekuatan,  kelemahan, peluang, dan ancaman program, yaitu: 

1. Kekuatan (Strengths): 

a. Pemanfaatan teknologi pertanian modern yang relevan dengan karakter  generasi muda. 

b. Model pemberdayaan holistik yang menggabungkan pelatihan teknis,  literasi digital, dan pengembangan kewirausahaan. 

c. Pembentukan komunitas petani milenial yang menjadi pusat inovasi  dan berbagi pengetahuan antaranggota. 

2. Kelemahan (Weaknesses): 

a. Ketergantungan pada infrastruktur digital yang belum merata di  seluruh wilayah pedesaan  

b. Biaya investasi awal untuk perangkat seperti drone, sensor tanah, dan  sistem otomatisasi yang masih cukup tinggi 

c. Rendahnya literasi digital masyarakat yang memperlambat adaptasi  terhadap teknologi baru 

3. Peluang (Opportunities): 

a. Dukungan kebijakan pemerintah terhadap transformasi digital sektor  pertanian melalui program Smart Village dan Pertanian 4.0 (Rivo  Nugroho, 2025)

b. Potensi pasar digital nasional dan global yang semakin terbuka untuk  produk-produk pertanian lokal berkualitas. 

c. Kemungkinan kerja sama dengan universitas dan perusahaan teknologi  untuk riset serta pengembangan inovasi pertanian. 

4. Ancaman (Threats): 

a. Adanya resistensi budaya terhadap penerapan teknologi modern yang  dianggap mengancam tradisi lokal. 

b. Ketidakpastian iklim yang memengaruhi produktivitas lahan pertanian  (Nurarifin, 2025). 

c. Persaingan dengan produk impor yang memiliki daya saing harga dan  kualitas tinggi. 

Melalui pemetaan SWOT ini, Desa Re:Grow dapat merancang strategi  adaptif agar implementasinya tetap efektif dalam berbagai kondisi sosial,  ekonomi, dan lingkungan desa. 

Pelaksanaan Desa Re:Grow mengikuti pendekatan sistematis dan  partisipatif yang menempatkan masyarakat desa sebagai aktor utama. Adapun  tahapan pelaksanaan terdiri dari: 

1. Survei kebutuhan dan potensi desa, untuk menilai kondisi sosial, sumber  daya alam, dan kesiapan masyarakat 

2. Sosialisasi dan pembentukan komunitas petani milenial, guna menciptakan  rasa kepemilikan dan kolaborasi 

3. Pembangunan infrastruktur digital, termasuk penyediaan jaringan internet  dan distribusi perangkat teknologi 

4. Pelatihan literasi digital dan kewirausahaan pertanian, yang mencakup  penggunaan alat, manajemen usaha, serta pemasaran berbasis digital; 5. Fasilitasi akses modal, melalui kerja sama dengan lembaga keuangan  mikro dan program pembiayaan pemerintah 

6. Pengembangan pemasaran digital, lewat e-commerce dan media sosial  untuk memperluas jaringan pasar 

7. Monitoring dan evaluasi berkelanjutan, untuk memastikan peningkatan  kapasitas dan keberlanjutan program 

Pendekatan ini memastikan setiap tahapan saling terhubung, membentuk  siklus pemberdayaan yang berkelanjutan. 

Program Desa Re:Grow membawa dampak signifikan terhadap  pemberdayaan remaja desa, pengurangan pengangguran, dan peningkatan  produktivitas pertanian nasional (Rivo Nugroho, 2025). Melalui pelatihan dan  akses modal yang dikombinasikan dengan pemanfaatan teknologi digital, remaja  mampu mengelola usaha tani yang efisien, berbasis data, dan responsif terhadap  kebutuhan pasar. 

Untuk menjamin keberlanjutan, program ini mengedepankan pembentukan  komunitas petani milenial mandiri yang adaptif terhadap perubahan teknologi dan  dinamika ekonomi. Kolaborasi multipihak menjadi pondasi utama: 

1. Pemerintah daerah berperan dalam penyediaan regulasi, infrastruktur, dan  fasilitasi pembiayaan 

2. Perusahaan teknologi memberikan dukungan teknis dan pelatihan  perangkat digital pertanian 

3. Lembaga keuangan mikro menyediakan akses modal bagi petani muda 

Dengan pendekatan kolaboratif ini, Desa Re:Grow membentuk ekosistem  inovasi yang dinamis, memperkuat kapasitas sumber daya manusia desa, dan  menumbuhkan keberlanjutan jangka panjang dalam sektor pertanian. 

Secara strategis, Desa Re:Grow menargetkan penurunan angka  pengangguran remaja desa hingga 30% dalam tiga tahun pertama, serta  peningkatan pendapatan petani muda sebesar 25% melalui optimalisasi teknologi  digital. Program ini juga diharapkan mampu membekali sedikitnya 200 remaja  desa dengan keterampilan digital dan kewirausahaan berbasis pertanian. Lebih  luas lagi, keberhasilan Desa Re:Grow mendukung pencapaian Sustainable  Development Goals (SDGs), terutama poin ke-2 (Zero Hunger), ke-8 (Decent  Work and Economic Growth), dan ke-9 (Industry, Innovation, and Infrastructure).  Program ini memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas  desa, dan mendorong modernisasi pertanian berkelanjutan di Indonesia. Dengan  demikian, Desa Re:Grow bukan hanya inisiatif pemberdayaan remaja, tetapi juga 

gerakan nasional menuju transformasi digital pertanian desa, yang berpotensi  memperkuat kemandirian ekonomi dan masa depan pangan Indonesia. 

PENUTUP 

Desa Re:Grow merupakan model inovasi yang secara fundamental  mengubah paradigma pertanian pedesaan melalui integrasi teknologi digital dan  pemberdayaan sumber daya manusia muda sebagai fondasi pembangunan  berkelanjutan. Program ini tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan  produktivitas pertanian, tetapi juga pada transformasi pola pikir generasi muda  terhadap sektor agraria sebagai bidang yang menjanjikan, modern, dan bernilai  ekonomi tinggi. Dengan menggandeng berbagai pemangku kepentingan, mulai dari  pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, hingga masyarakat desa, Desa  Re:Grow menciptakan ekosistem kolaboratif yang memungkinkan transfer  pengetahuan, pelatihan teknis, serta akses terhadap teknologi dan pasar digital. Melalui sinergi tersebut, remaja desa tidak lagi diposisikan sebagai pencari kerja,  melainkan sebagai agen perubahan dan pelaku utama dalam pembangunan  ekonomi lokal. 

Keberhasilan dan keberlanjutan program ini diharapkan membawa dampak  positif jangka panjang dalam menekan angka pengangguran remaja,  meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat, serta memperkuat  ketahanan pangan nasional. Lebih dari itu, Desa Re:Grow menjadi simbol  kebangkitan desa-desa Indonesia menuju kemandirian dan kemajuan yang  inklusif, di mana teknologi dan kreativitas generasi muda menjadi motor utama  pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Ditulis oleh:
Annisa Nur’aini Agustin 2511021090
Lia junita 2514071011
Kresna Wana Pradja 2414201028


SENIK (SMART EMOTION & NICOTINE INSIGHT KIT) : INOVASI DIGITAL SEBAGAI UPAYA MENGUBAH KEBIASAAN MEROKOK



PENDAHULUAN


Kebiasaan merokok masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat paling serius di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah perokok aktif kini mencapai lebih dari 70 juta orang, dengan sebagian besar berasal dari kelompok usia muda antara 15-24 tahun (Kemenkes RI, 2024). Situasi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat perokok tertinggi di dunia. Menurut laporan Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, sekitar 33,5% populasi dewasa di Indonesia merupakan perokok aktif, meningkat dari 32,8% pada tahun 2011 (WHO dan Kemenkes, 2024).

Tingginya angka tersebut berdampak besar terhadap kesehatan dan produktivitas masyarakat. Rokok mengandung ribuan zat kimia berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker paru-paru, dan gangguan pernapasan kronis. Diperkirakan lebih dari 268 ribu kematian setiap tahunnya di Indonesia disebabkan oleh penyakit terkait rokok (WHO dan Kemenkes, 2024). Selain membebani sistem kesehatan, kebiasaan merokok juga menurunkan produktivitas tenaga kerja dan menambah beban ekonomi negara (Drope dan Hamill, 2025).

Upaya untuk mengajak perokok berhenti merokok sudah lama digencarkan melalui edukasi publik, konseling, maupun terapi medis. Namun, hasil yang dicapai masih belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah ketergantungan kuat terhadap nikotin serta pendekatan konvensional yang belum sepenuhnya sesuai dengan gaya hidup masyarakat modern, terutama generasi muda yang lekat dengan teknologi. Oleh karena itu, inovasi berbasis digital menjadi peluang baru untuk memperkuat efektivitas program berhenti merokok. Berangkat dari urgensi tersebut, dikembangkanlah SENIK (Smart Emotion and Nicotine Insight Kit), sebagai bentuk inovasi digital yang berfokus pada dukungan emosional dan pemantauan kebiasaan pengguna untuk membantu proses berhenti merokok. SENIK hadir sebagai terobosan baru yang menggabungkan aspek psikologis dan teknologi digital, dengan tujuan untuk membantu individu memahami pola perilaku merokok mereka serta mengelola dorongan yang muncul dengan cara yang lebih bijak. Melalui pemanfaatan teknologi yang mudah diakses dan berbasis data, SENIK diharapkan memberikan solusi yang lebih relevan bagi generasi muda yang hidup di era digital.

Dengan demikian, pengembangan SENIK menjadi salah satu langkah konkret menuju transformasi digital di bidang kesehatan masyarakat. Esai ini akan membahas bagaimana SENIK dapat menjadi solusi inovatif dalam mengubah kebiasaan merokok melalui intervensi berbasis data dan dukungan emosional, sejalan dengan kebutuhan masyarakat modern.

PEMBAHASAN


Berhenti merokok bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga perjuangan mental dan emosional. Banyak perokok yang gagal menghentikan kebiasaannya bukan karena kurang niat, melainkan karena tidak memiliki pendampingan yang tepat. Dari keresahan itulah muncul gagasan SENIK (Smart Emotion and Nicotine Insight Kit) sebuah aplikasi digital yang dirancang untuk mendampingi perokok berhenti secara bertahap, terukur, dan manusiawi. SENIK bekerja layaknya teman cerdas yang memahami kebiasaan dan emosi penggunanya. Melalui pengisian data sederhana seperti lama merokok, jenis rokok yang dikonsumsi, jumlah batang per hari, serta kadar nikotin yang dikira-kira, aplikasi ini akan menyusun rencana berhenti merokok yang realistis sesuai target pengguna.

Tak hanya itu, SENIK juga dilengkapi dengan fitur pengelolaan emosi dan rekomendasi pola hidup sehat. Pengguna akan mendapatkan panduan harian berisi saran makanan yang membantu tubuh mengeluarkan nikotin, latihan pernapasan, serta latihan mindfulness untuk meredam dorongan merokok saat stres.Konsep ini terinspirasi dari penelitian Mengga et al. (2022) yang menyebutkan bahwa latihan mindfulness dan meditasi kesadaran dapat menurunkan intensitas keinginan merokok, karena membantu individu lebih sadar terhadap dorongan tubuhnya sendiri. Dengan begitu, SENIK tidak hanya fokus pada berhentinya aktivitas merokok, tetapi juga pada pemulihan mental dan fisik secara menyeluruh.

Inovasi SENIK memiliki beberapa keunggulan utama yang membuatnya berbeda dari metode konvensional berhenti merokok. Pertama, pendekatan multidisipliner. SENIK memadukan unsur teknologi, psikologi, dan biologi. Dari sisi biologi, aplikasi ini membantu tubuh menyesuaikan diri terhadap pengurangan nikotin secara bertahap. Dari sisi psikologi, SENIK memperhatikan kondisi emosi dan stres pengguna, yang sering kali menjadi pemicu kambuhnya kebiasaan merokok. Kedua, pendekatan personal. Setiap pengguna memiliki pola merokok yang berbeda, sehingga proses berhenti pun tak bisa diseragamkan. SENIK menghadirkan pengalaman yang disesuaikan dengan kondisi unik tiap individu mulai dari tingkat ketergantungan, suasana hati, hingga aktivitas harian. Ketiga, kemudahan akses. Berbasis aplikasi ponsel, SENIK dapat digunakan siapa saja dan kapan saja. Fitur-fitur seperti reminder, motivational quote, dan self-tracking membuat pengguna merasa selalu didampingi, bahkan di saat-saat sulit.

Temuan Arsari et al. (2021) dalam penelitiannya mengenai hipnoterapi untuk pecandu rokok juga memperkuat pendekatan SENIK. Ia menjelaskan bahwa penguatan sugesti positif dan pendampingan psikologis mampu mengubah perilaku adiktif menjadi lebih terkendali. Hal ini menunjukkan bahwa strategi digital seperti SENIK berpotensi besar meniru efektivitas terapi psikologis konvensional melalui media yang lebih praktis dan ramah pengguna.

Sistem kerja SENIK dirancang secara sederhana agar mudah digunakan oleh semua kalangan, baik perokok pemula maupun yang sudah lama kecanduan. Pengguna terlebih dahulu mengisi data pribadi seperti lama merokok, jumlah batang per hari, kadar nikotin, dan target waktu berhenti. Berdasarkan data tersebut, aplikasi akan melakukan analisis otomatis untuk menghitung tingkat ketergantungan nikotin serta memperkirakan waktu yang dibutuhkan tubuh untuk proses detoksifikasi. Setelah itu, SENIK menyusun rencana berhenti merokok secara bertahap, misalnya minggu pertama mengurangi konsumsi hingga 20%, kemudian menggantinya dengan aktivitas baru seperti olahraga ringan atau pola makan sehat. Aplikasi ini juga menyediakan panduan harian berupa tips nutrisi, latihan pernapasan, dan teknik pengelolaan stres, disertai notifikasi motivasi agar pengguna tetap konsisten. Setiap perkembangan ditampilkan dalam bentuk grafik sederhana yang menunjukkan jumlah rokok yang berhasil dikurangi dan peningkatan kesehatan yang diperoleh. Pendekatan bertahap ini sejalan dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan RI (2024) bahwa strategi berhenti merokok yang paling efektif adalah dengan mengurangi konsumsi secara perlahan sambil memperkuat pengendalian diri.
 
Gambar 1.1 Tampilan login aplikasi

Berdasarkan hasil diskusi berikut fitur lengkap dalam SENIK : Tampilan awal aplikasi SENIK (Smart Emotion & Nicotine Insight Kit) dirancang dengan tampilan yang sederhana namun menarik untuk memberikan kesan pertama yang positif bagi pengguna. Pada halaman ini, terdapat logo aplikasi SENIK yang menjadi identitas utama, disertai tombol login yang mudah diakses. Pengguna dapat masuk menggunakan beberapa pilihan, yaitu melalui akun Google, Facebook, atau nomor WhatsApp, agar proses pendaftaran terasa cepat dan fleksibel. Desain login ini dibuat agar ramah bagi semua kalangan, terutama pengguna yang baru pertama kali menggunakan aplikasi pendamping berhenti merokok.

   
Gambar 1.2 Tampilan Menu Utama aplikasi

Setelah berhasil login, pengguna akan diarahkan ke menu utama aplikasi yang menampilkan enam fitur utama SENIK secara jelas dan teratur. Setiap ikon fitur dilengkapi dengan ilustrasi sederhana yang mudah dikenali, sehingga pengguna bisa langsung memilih layanan yang diinginkan tanpa kebingungan. Tampilan menu ini menjadi pusat navigasi bagi seluruh fitur, mulai dari pemantauan kemajuan berhenti merokok, pencatatan kondisi emosional, hingga panduan gaya hidup sehat. Desain yang bersih, responsif, dan intuitif membuat pengguna merasa nyaman menjelajahi setiap bagian aplikasi dalamkesehariannya.



  
Gambar 1.3 Beranda/Dashboard

Selnjutnya ada Beranda/Dashboard dengan  ilustrasi rumah, Tampilan awal aplikasi SENIK dirancang sebagai pusat informasi utama pengguna. Di sini pengguna dapat melihat jumlah hari tanpa rokok, jumlah batang rokok yang berhasil dikurangi, serta estimasi peningkatan kesehatan seperti fungsi paru dan sirkulasi darah. Selain itu, terdapat grafik kemajuan (progress chart) yang menampilkan perjalanan pengguna dalam proses berhenti merokok. Aplikasi juga menambahkan sentuhan motivasi melalui kutipan harian, pengguna mengisi data diri dan riwayat kebiasaan merokoknya, sehingga pengalaman yang diberikan terasa personal dan relevan.


Gambar 1.4 Fitur Emotional Condition

Selanjutnya Emotional Condition, fitur ini menjadi jantung dari pendekatan psikologis aplikasi SENIK. Pengguna dapat mencatat suasana hati mereka setiap hari, apakah sedang bahagia, stres, cemas, atau tenang. Terdapat juga jurnal singkat “Apa yang kamu rasakan hari ini?” untuk membantu pengguna mengekspresikan emosi secara terbuka. Berdasarkan data tersebut, aplikasi memberikan rekomendasi aktivitas yang sesuai, seperti latihan pernapasan saat stres atau journaling ketika cemas. SENIK juga menyediakan grafik visual yang menampilkan perubahan emosi dari waktu ke waktu, membantu pengguna menyadari perkembangan stabilitas emosional mereka selama proses berhenti merokok.

Selanjutnya, fitur Nicotine Log berfungsi sebagai alat pencatat dan analisis kebiasaan merokok pengguna. Setiap hari, pengguna dapat menginput jumlah rokok yang dihisap dan melihat estimasi kadar nikotin yang masuk ke tubuh. SENIK juga memiliki pengingat batas konsumsi harian untuk membantu pengguna mengontrol diri. Berdasarkan pola tersebut, aplikasi akan memberikan saran pengurangan bertahap, misalnya mengurangi 20% dari konsumsi minggu sebelumnya. Selain itu, statistik mingguan ditampilkan agar pengguna dapat memantau progres secara objektif, menjadikan proses berhenti merokok lebih terukur dan realistis.

Gambar 1.5 Tampilan login aplikasi




   
Gambar 1.6 Fitur Quit Plan

Fitur ini berfokus pada penyusunan dan pelaksanaan strategi berhenti merokok yang sistematis. Pengguna dapat menentukan target berhenti berdasarkan tanggal dan durasi yang diinginkan, serta membuat tahapan pengurangan konsumsi rokok secara bertahap. Aplikasi juga menyediakan checklist aktivitas harian seperti olahraga ringan, minum air putih, atau meditasi, lengkap dengan pengingat otomatis agar pengguna tetap konsisten. Untuk menjaga motivasi, SENIK memberikan lencana pencapaian (achievement badge) setiap kali pengguna mencapai target tertentu, menciptakan rasa bangga dan dorongan positif dalam perjalanan mereka menuju hidup bebas rokok.


   
Gambar 1.7 Fitur Relaksasi

Bagian relaksasi dalam aplikasi SENIK difokuskan untuk membantu pengguna mengatasi stres dan dorongan merokok melalui berbagai teknik ketenangan. Di dalamnya tersedia latihan pernapasan terpandu dalam bentuk audio atau video, sesi meditasi singkat berdurasi 3–10 menit, serta musik relaksasi yang menenangkan pikiran. Selain itu, terdapat panduan teknik grounding dan afirmasi positif yang membantu pengguna menenangkan diri ketika muncul keinginan untuk merokok. Dengan pendekatan ini, SENIK tidak hanya mendampingi secara fisik, tetapi juga menenangkan sisi psikologis pengguna.


   
Gambar 1.8 Fitur Healthy Lifestylle

Fitur terakhir, Healthy Lifestyle Guide, bertujuan untuk mendukung pemulihan tubuh dan pembentukan kebiasaan hidup sehat setelah berhenti merokok. Aplikasi memberikan rekomendasi makanan yang membantu regenerasi paru-paru dan hati, serta tips olahraga ringan yang mudah dilakukan setiap hari. Pengguna juga mendapatkan pengingat untuk menjaga hidrasi dan pola tidur yang seimbang.

Dengan demikian, SENIK tidak hanya fokus membantu pengguna berhenti merokok, tetapi juga membimbing mereka membangun gaya hidup baru yang lebih sehat, bugar, dan berkelanjutan.

SENIK memiliki potensi besar untuk diterapkan di Indonesia. Dengan penetrasi pengguna smartphone yang mencapai lebih dari 80% populasi, aplikasi ini dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat, apalagi di tengah meningkatnya kesadaran terhadap gaya hidup sehat dan isu kesehatan mental. Potensi ini semakin kuat dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, seperti Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang berperan dalam validasi konten kesehatan dan kampanye nasional “Indonesia Bebas Rokok,” psikolog dan dokter paru yang memberikan rekomendasi ilmiah terkait pengelolaan stres dan detoksifikasi nikotin, komunitas anti-rokok serta kampus kesehatan sebagai mitra sosialisasi dan uji coba lapangan, serta startup digital dan mahasiswa IT yang berkontribusi dalam pengembangan desain dan fitur kecerdasan buatan. Hasil penelitian Safira et al. (2024) juga menegaskan bahwa dukungan sosial dan komunitas memiliki peran signifikan dalam keberhasilan berhenti merokok. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam keberhasilan implementasi dan keberlanjutan SENIK.

Keberlanjutan SENIK terletak pada kemampuannya untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan pengguna. Dalam jangka panjang, aplikasi ini dapat dikembangkan menjadi platform kesehatan digital terpadu yang mencakup berbagai fitur seperti konsultasi online bersama psikolog dan dokter paru, komunitas dukungan bagi pengguna untuk saling


berbagi pengalaman dan motivasi, serta integrasi dengan perangkat wearable seperti smartwatch untuk memantau detak jantung, kadar stres, dan pola tidur. Selain itu, SENIK dapat berkolaborasi dengan program nasional Healthy Lifestyle 2045 milik Kementerian Kesehatan guna mendukung visi Indonesia Sehat. Dengan inovasi yang berkelanjutan, SENIK tidak hanya menjadi alat bantu berhenti merokok, tetapi juga simbol perubahan gaya hidup menuju generasi yang cerdas emosi dan sehat tanpa nikotin.

KESIMPULAN

Kebiasaan merokok yang terus meningkat di Indonesia, khususnya di kalangan muda, menuntut adanya solusi yang lebih inovatif dan adaptif terhadap gaya hidup digital masyarakat masa kini. SENIK (Smart Emotion and Nicotine Insight Kit) hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut dengan mengintegrasikan teknologi, psikologi, dan biologi dalam upaya membantu individu berhenti merokok secara bertahap dan berkelanjutan. Melalui fitur seperti emotion tracker, nicotine log, dan personal quit plan, SENIK tidak hanya berfokus pada pengurangan konsumsi nikotin, tetapi juga pada pengelolaan emosi, peningkatan kesadaran diri, serta dukungan sosial virtual yang memperkuat motivasi pengguna. Keunggulan aplikasi ini terletak pada pendekatan personal dan berbasis data yang mudah diakses oleh siapa pun, kapan pun. Dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, tenaga medis, dan komunitas digital, SENIK berpotensi menjadi bagian penting dari transformasi kesehatan digital nasional, sekaligus mendukung tercapainya visi Indonesia Sehat 2045 melalui pembentukan generasi yang lebih sadar emosi, mandiri, dan bebas dari ketergantungan nikotin.

_______
Ditulis oleh:
1. Hannyfa Dwi Agnezia - 2413052083
2. Shabrina Anindita - 2416041040
3. Annisa Ayuningtiyas - 2415041038
4. Septiah Trie Wulandari - 2417041044

Postingan Populer