Senin, 01 Desember 2025

TRIPTOMAG BITES: EFEKTIVITAS BISKUIT FUNGSIONAL TRIPTOFAN-MAGNESIUM DARI PISANG CAVENDISH DAN BAYAM MERAH DALAM MEREDUKSI INTENSITAS MALADAPTIVE DAYDREAMING (MD)

 Pendahuluan

Maladaptive Daydreaming (MD) adalah kondisi psikologis yang ditandai oleh  aktivitas berkhayal atau melamun secara berlebihan sehingga mengganggu  interaksi sosial dan kemampuan fungsional individu sehari-hari. Fenomena ini  melibatkan fantasi intens dan kompulsif yang dapat menghambat produktivitas  sosial, akademik, maupun pekerjaan. Walau sampai saat ini MD belum diakui  sebagai gangguan resmi dalam klasifikasi gangguan mental internasional,  penelitian terus berkembang dan kriteria diagnostik pun mulai diajukan oleh para  ahli untuk pengakuan resmi secara global (Sitoresmi & Andriani, 2024; Somer et  al., 2017). 

Maladaptive Daydreaming tidak hanya merupakan fenomena psikologis yang  relatif baru tapi juga memiliki prevalensi yang tidak sedikit. Studi epidemiologi  global memperkirakan sekitar 2,5% dari populasi dunia mengalami Maladaptive  Daydreaming. Jika dirunut secara kuantitatif, angka ini berarti bahwa lebih dari 190  juta orang di seluruh dunia mengalami kondisi ini dengan intensitas yang  mengganggu fungsi sehari-hari (Somer et al., 2016). 

Di Indonesia, studi yang dilakukan oleh Gifari Mutia Ningtyas (2022) pada generasi  Z menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden mengalami maladaptive  daydreaming dalam kategori sedang, dengan masing-masing aspek dimensi  melamun seperti yearning, impairment, kinesthesia, dan music menunjukkan  tingkat yang bervariasi namun signifikan. Penelitian ini melibatkan 485 responden  dari 22 provinsi di Indonesia, yang memperlihatkan bahwa fenomena MD cukup  meluas dan perlu mendapatkan perhatian serius dalam konteks kesehatan mental di  tanah air (Ningtyas, 2022). 

Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan dampak samping intervensi  farmakologis, terdapat kebutuhan mendesak untuk mencari alternatif alami yang  dapat mengurangi gejala MD dengan risiko efek samping yang minimal.  Pendekatan non-obat, seperti program mindfulness dan self-monitoring, telah  menunjukkan efektivitas signifikan dalam mengurangi intensitas MD (Herscu et al., 2023). Selain itu, intervensi dietetik sebagai bagian dari pendekatan holistik mulai  mendapat perhatian, mengingat peranan pola makan yang sehat dalam mengatasi  komorbiditas seperti kecemasan, depresi, dan stres yang kerap menyertai MD  (Taylor & Holscher, 2020). 

Salah satu pendekatan fungsional yang menjanjikan adalah penggunaan nutrisi  yang dapat membantu menjaga kestabilan aktivitas mental. Triptofan sebagai  prekursor serotonin, penting untuk regulasi mood dan fokus, serta magnesium yang  memiliki fungsi sebagai modulator stres dan antagonis reseptor NMDA, berperan  penting dalam menjaga kesehatan psikologis (Jenkins et al., 2016; Boyle et al.,  2017). 

Kajian ini fokus pada pengembangan biskuit fungsional TriptoMag Bites, yang  diformulasikan menggunakan pisang Cavendish sebagai sumber triptofan dan  bayam merah sebagai sumber magnesium. Melalui formulasi ini diharapkan ada  pengurangan intensitas gejala maladaptive daydreaming pada konsumen,  memberikan alternatif intervensi alami untuk membantu mengatasi masalah  tersebut secara efektif dan berkelanjutan.


Pembahasan

Maladaptive Daydreaming (MD) adalah sebuah fenomena yang diperkenalkan oleh  Somer pada tahun 2002, yang mengacu pada aktivitas berfantasi secara berlebihan  yang menggantikan interaksi sosial maupun mengganggu fungsi akademik,  interpersonal, atau pekerjaan seseorang. Inti dari definisi ini adalah bahwa  berkhayal yang berlebihan bukan lagi sekadar pelarian sesaat, melainkan sudah  mengganggu kehidupan sehari-hari dan dianggap sebagai mekanisme koping yang  tidak sehat atau maladaptif. 

Maladaptive daydreaming telah diteliti dari berbagai sisi, termasuk faktor risiko,  tingkat prevalensi, hingga intervensi yang telah diuji. Para peneliti menemukan  bahwa MD sering terjadi bersama gangguan psikologis lain seperti gangguan  pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD), kecemasan, depresi, autisme  spektrum, gangguan obsesif-kompulsif, hingga kecanduan zat. Bahkan, terdapat  dugaan bahwa MD mirip atau termasuk dalam kategori gangguan disosiatif,  obsesif-kompulsif, atau kecanduan. 

Penelitian oleh Brenner, Somer, dan Abu-Rayya (2021) menunjukkan bahwa bagi  para pelamun maladaptif, berfantasi berfungsi sebagai kompensasi untuk  memenuhi kebutuhan pribadi yang tidak tercapai secara nyata. Namun, lamunan ini  hanya memberikan kepuasan sementara sehingga sebenarnya membuat mereka  kurang produktif dan melewatkan waktu yang seharusnya dipakai untuk menjalani  kehidupan nyata. Terutama pada masa dewasa awal, saat individu seharusnya  bertanggung jawab pada dirinya sendiri, pelamun maladaptif cenderung memiliki  perasaan rendah diri, kesulitan mempercayai orang lain, dan ambivalen terhadap  hubungan interpersonalnya. Mereka berharap pengertian dan kasih sayang dari  orang lain, namun merasa tidak aman dalam menjalin hubungan tersebut (Sandor,  2021). 

Secara humanis, kondisi ini menggambarkan bagaimana rasa tidak terpenuhi dalam  kehidupan nyata bisa mendorong seseorang masuk ke dunia fantasi yang 

berlebihan, namun dunia tersebut justru menimbulkan kesulitan dan tantangan baru  dalam hidup nyata mereka. 

2.1 Peran Triptofan dan magnesium 

Triptofan adalah asam amino penting yang kita dapatkan dari berbagai makanan  seperti daging, susu, buah, dan biji-bijian. Selain berperan dalam pembentukan  protein, triptofan juga sangat penting karena merupakan bahan baku utama  pembentukan serotonin, neurotransmitter yang mengatur suasana hati dan fokus.  Jika asupan triptofan berkurang, kadar serotonin di otak ikut turun, yang berdampak  pada perasaan sedih dan sulit berkonsentrasi. Jadi, triptofan punya peran besar  dalam menjaga mood dan kemampuan fokus. 

Sedangkan magnesium adalah mineral penting yang membantu menjaga fungsi  saraf dan mengatur sistem stres tubuh. Mineral ini bekerja dengan menstabilkan  sinyal saraf dan membantu produksi neurotransmitter seperti serotonin.  Kekurangan magnesium bisa menyebabkan masalah seperti kram otot, kecemasan,  hingga depresi. Selain itu, magnesium juga berperan dalam mengatur hormon  melatonin yang mengontrol siklus tidur, sehingga magnesium membantu  meningkatkan kualitas tidur dan membuat kita merasa lebih rileks dan tenang. 

2.2 Sumber Alam Triptofan dan Magnesium 

a. Kandungan Triptofan pada Pisang Cavendish (Musa Cavendishii

Pisang Cavendish dipilih sebagai salah satu bahan Tripto-Mag Bites bukan  hanya karena kandungan asam aminonya, tetapi juga karena profil nutrisinya  yang mendukung penyerapan di otak. Berdasarkan database USDA (diperbarui  2023) dan analisis HPLC dari studi botani, pisang Cavendish matang  mengandung 10-13 mg triptofan per 100 gram buah segar. Ini setara dengan 12- 20 mg triptofan, menyumbang sekitar 4-7% dari kebutuhan harian dewasa (280- 

350 mg/hari untuk pria dan wanita). 

Pisang Cavendish juga mengandung vitamin B6 (0.4 mg/100g), yang berfungsi  sebagai kofaktor enzim triptofan hidroksilase untuk mengonversi triptofan 

menjadi serotonin. Karbohidrat sederhana (23g/100g) di pisang memfasilitasi  transportasi triptofan ke otak melalui lonjakan insulin, meningkatkan  bioavailabilitas hingga 20-30%. 

Triptofan melintasi blood-brain barrier dan diubah menjadi 5-HTP, kemudian  serotonin, yang mengatur emosi di area otak seperti prefrontal cortex dan  hippocampus. Rendahnya serotonin sering menjadi akar penyebab MD,  menyebabkan peningkatan lamunan sebagai mekanisme coping untuk stres.  Triptofan meningkatkan kadar serotonin hingga 15-25%, menstabilkan mood  dan mengurangi impulsivitas emosional. Serotonin dari triptofan menurunkan  pelepasan kortisol (hormon stres), mengurangi pemicu MD seperti overthinking  atau trauma-related triggers. Dengan memodulasi jalur serotonin, triptofan  membantu mengurangi distraksi emosional, menargetkan penyebab seperti  ADHD komorbid yang memperburuk MD. 

b. Kandungan Magnesium pada Bayam Merah (Amaranthus tricolor

Bayam Merah (Amaranthus tricolor) dipilih sebagai sumber Magnesium dalam  Tripto-Mag Bites karena kandungannya yang efektif dibandingkan bahan lain.  Berdasarkan data USDA (diperbarui 2023) dan analisis nutrisi lokal (misalnya  dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Indonesia), bayam merah  segar mengandung 70-85 mg magnesium per 100 gram daun segar. Ini setara  dengan satu Porsi (100g, sekitar 1 ikat kecil): 70-85 mg magnesium, atau 17- 21% dari kebutuhan harian dewasa (pria: 400-420 mg/hari; wanita: 310-320  mg/hari). Bayam merah juga kaya vitamin B6 (0.2 mg/100g) dan folat (sekitar  140 mcg/100g), yang membantu magnesium dalam regulasi neurotransmitter.  Protein rendah (2.9g/100g) membuat magnesiumnya bioavailable tinggi. 

Magnesium bertindak sebagai kofaktor lebih dari 300 enzim, termasuk yang  mengatur transmisi sinapsis di otak. Ia mengikat reseptor NMDA (N-methyl-D aspartate) untuk mengurangi eksitabilitas glutamat (neurotransmitter eksitator),  sehingga mencegah overstimulasi yang memicu stres dan rumination— penyebab utama MD. 

Magnesium meningkatkan aktivitas GABA (neurotransmitter penghambat),  menekan pelepasan kortisol, dan mengurangi pemicu MD seperti overthinking  atau pelarian emosional. Pendukung triptofan, magnesium membantu konversi  menjadi serotonin, menstabilkan mood dan mengurangi disregulasi emosi yang  menyebabkan MD. Magnesium mengatur melatonin dan mengurangi insomnia,  sehingga meningkatkan regulasi impuls di prefrontal cortex. 

2.3 Biskuit Fungsional TriptoMag Bites 

TriptoMag Bites hadir sebagai inovasi biskuit fungsional yang diformulasikan  menggunakan bahan utama berupa pisang cavendish (Musa Cavendishii) dan  bayam merah (Amaranthus tricolor) yang dipilih karena kandungan triptofan dan  magnesium yang tinggi. Pisang Cavendish diproses secara khusus untuk menjaga  stabilitas kandungan triptofannya, sedangkan bayam merah diolah agar magnesium 

mudah diserap oleh tubuh. Kombinasi kedua bahan ini menciptakan produk  makanan ringan yang bernutrisi dan berpotensi memberikan efek positif pada  sistem syaraf dan fungsi kognitif.  

Keunggulan TriptoMag Bites sebagai produk makanan fungsional yaitu  menawarkan metode konsumsi yang praktis dan mudah dikonsumsi disegala kondisi. Biskuit ini menggabungkan antara aspek kesehatan sekaligus cita rasa makanan bernutrisi dengan dosis yang terkontrol asupna triptofan dan magnesium,  mendukung pengelolaan maladaptive daydreaming secara alami dan berkelanjutan.  

2.4 Proses Pembuatan TriptoMag Bites  

Proses pembuatan TriptoMag Bites dirancang agar kandungan triptofan dari pisang  Cavendish dan magnesium dari bayam merah tetap stabil selama pengolahan.  Karena kedua senyawa ini sensitif terhadap panas dan oksidasi, metode  pengeringan dan pemanggangan dipilih dengan memperhatikan suhu moderat dan  durasi waktu optimal.

1. Pilih pisang Cavendish matang dan bayam merah segar, cuci bersih dan  tiriskan. 

2. Iris pisang dan potong bayam, keringkan dengan suhu rendah (50–55°C  pisang, 45–50°C bayam) selama beberapa jam. 

3. Haluskan bahan kering pisang dan bayam jadi bubuk, ayak untuk seragam,  simpan kedap udara. 

4. Campur bubuk pisang dan bayam dengan bahan lain seperti tepung,  margarin, telur, dan madu. Uleni hingga kalis. 

5. Bentuk adonan jadi biskuit ukuran kecil, panggang suhu 150–160°C selama  15–20 menit. 

6. Dinginkan dan kemas biskuit dengan wadah kedap udara, simpan di tempat  sejuk jauh dari sinar matahari. 

Gambar 1. Prototipe produk Tripto-Mag Bites 

2.5 Keterbatasan dan Rekomendasi untuk Aplikasi ke Depan 

Penelitian TriptoMag Bites sebagai intervensi nutrisi untuk mengurangi  maladaptive daydreaming memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, kepatuhan  peserta terhadap intervensi diet sulit dikontrol dan bisa memengaruhi hasil. Kedua,  desain penelitian nutrisi sering mengalami kendala dalam pengacakan dan  pembutaan, sehingga validitas internal berkurang. Ketiga, sampel dan durasi studi  magnesium yang terbatas membuat hasil sulit diinterpretasi secara luas. Keempat,  pengukuran intensitas MD masih mengandalkan instrumen subjektif tanpa  pengukuran fisiologis yang mendukung. Terakhir, kandungan nutrisi alami bahan  baku bervariasi tergantung kondisi tumbuh dan pemrosesan.


Kesimpulan

1. Kesimpulan dari esai ini adalah bahwa Maladaptive Daydreaming (MD)  merupakan kondisi psikologis yang melibatkan aktivitas berfantasi  berlebihan yang mengganggu fungsi sosial, akademik, dan pekerjaan.  Fenomena ini sering kali disertai dengan komorbiditas gangguan psikologis  lain seperti ADHD, kecemasan, depresi, dan gangguan obsesif-kompulsif.  Penanganan MD perlu pendekatan non-farmakologis yang aman dan  efektif. 

2. Triptofan dan magnesium merupakan nutrisi penting yang berperan dalam  regulasi mood, konsentrasi, dan pengendalian stres. Triptofan sebagai  prekursor serotonin membantu menstabilkan mood dan mengurangi  impulsivitas, sedangkan magnesium berperan dalam mengatur  neurotransmitter dan meningkatkan kualitas tidur. 

3. TriptoMag Bites, biskuit fungsional yang diformulasi dari pisang Cavendish  sebagai sumber triptofan dan bayam merah sebagai sumber magnesium,  merupakan inovasi dengan potensi mengurangi intensitas MD secara alami  dan berkelanjutan. Proses pembuatannya dirancang agar kandungan nutrisi  tetap terjaga dengan pemrosesan suhu rendah dan pengemasan kedap udara. 

4. Meski memiliki keterbatasan dalam validitas penelitian dan variabilitas  nutrisi bahan baku, TriptoMag Bites menawarkan alternatif intervensi  nutrisi yang menjanjikan sebagai dukungan dalam pengelolaan maladaptive  daydreaming.

________

Ditulis oleh:

1. Abrelitita Vanesa - 2414131024

2. Triaswari Ayunandini - 2413031029 3. Pristia Sugita - 2515061024 4. Shinta Olivia - 2517031082

Pemanfaatan Potensi Sampah Organik sebagai Produk Zymora untuk Menanggulangi Limbah Organik di Wilayah Padat Penduduk Bandar Lampung demi tercapainya SDGs poin 11

 PENDAHULUAN 

Limbah organik menjadi tantangan lingkungan besar di Indonesia, terutama di kota  padat seperti Bandar Lampung yang menghasilkan ribuan ton sampah setiap hari  dari rumah tangga dan pasar, sering kali tidak berdampak baik dan menyebabkan  masalah kesehatan serta ekonomi. Limbah ini, berupa sisa makanan, sayuran, dan  dedaunan mudah busuk, dapat mencemari tanah dengan mengurangi kesuburan  lahan, mengotori air sungai dan sumur yang mengancam sumber daya air bersih,  serta mencemari udara dengan bau busuk yang mengganggu kenyamanan hidup,  plus menghasilkan emisi metana jika pengelolaan buruk yang memberikan kualitas  atmosfer. Dampaknya mencakup kerugian ekonomi dari hilangnya potensi daur  ulang untuk produk seperti kompos, biaya pembuangan yang membebani anggaran  daerah, serta kontaminasi luas dan percepatan perubahan iklim melalui gas rumah  kaca dari dekomposisi anaerobik (Subekti et al., 2023). 

Di Bandar Lampung, limbah organik mencapai sekitar 585 ton per hari (65% dari  total sampah), melebihi kapasitas TPA yang berlebihan dan memicu kontaminasi  akibat penanganan yang lambat serta infrastruktur terbatas seperti kurangnya  pemilahan rumah tangga. Penanggulangan memerlukan pendidikan intensif,  regulasi ketat, dan inovasi seperti Zymora teknologi fermentasi mikroba yang  mengubah limbah menjadi pupuk cair dan kompos mendukung SDGs poin 11: kota  berkelanjutan dengan pengurangan volume sampah hingga 80% dan pengelolaan  hijau (Susanto et al., 2024). 

Dalam situasi ini, inovasi efektif diperlukan untuk mengatasi limbah organik secara  menyeluruh di daerah padat seperti Bandar Lampung. Solusi yang diusulkan adalah  produksi Zymora, yang memanfaatkan sampah organik melalui proses biokimia  alami dengan enzim dan bakteri pengurai, menghasilkan output ramah lingkungan  tanpa residu berbahaya. Pendekatan ini mengurangi volume limbah hingga 70-80%,  mengubah ancaman menjadi aset untuk keberlanjutan kota. 

Tujuan esai ini adalah mengeksplorasi pemanfaatan Zymora untuk mencegah  keparahan limbah organik, memperkenalkan bioteknologi inovatif guna 

meminimalkan dampak seperti pencemaran dan emisi gas rumah kaca terhadap  lingkungan kota. Dengan Zymora, penanganan limbah dapat dilakukan cepat,  mencegah kerusakan ekosistem urban berlebih, dan selaras dengan SDGs poin 11  untuk kota yang inklusif, aman, tangguh, serta berkelanjutan. 

PEMBAHASAN 

1. Konsep Produk Zymora 

Zymora merupakan inovasi pemanfaatan sampah organik rumah tangga  melalui fermentasi sederhana yang menghasilkan cairan enzim pengurai alami  dan kompos padat. Ide ini muncul dari kebutuhan masyarakat Bandar Lampung  untuk mengelola sampah organik mandiri dengan metode murah dan efisien  tanpa teknologi canggih. Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan bahan  organik segar seperti kulit buah, sisa sayuran, dan dedaunan, dicampur gula  merah atau molase serta udara, lalu difermentasi anaerobik dalam wadah  tertutup selama 2-3 bulan. Mikroorganisme alami mengurasi senyawa organik  menjadi cairan cokelat gelap aman, mendukung pengelolaan limbah  berkelanjutan di komunitas. 

Potensi utama terletak pada bahan baku yang melimpah di Bandar Lampung,  yang menghasilkan 585 ton sampah organik setiap hari sering berakhir di TPA,  memicu pemanasan, emisi gas rumah kaca, dan polusi (Pratiwi et al., 2024).  Fermentasi mengurangi volume hingga 80% menjadi produk bernilai seperti  pupuk cair atau pembersih alami, dan kompos nutrisi. Zymora dapat  berinteraksi dengan komunitas bank sampah untuk produksi skala kecil hingga  besar, mendukung hidroponik atau ruang hijau kota, mendorong partisipasi  warga dalam sistem pengelolaan tangguh. 

Kekuatan Zymora termasuk kemudahan pembuatan tanpa peralatan mahal,  penghematan biaya, dan peluang partisipasi komunitas untuk ketahanan  lingkungan. Produk ini memberikan manfaat ekologis dan ekonomi melalui  penjualan pupuk dan kompos. Namun kelemahannya meliputi edukasi teknik  fermentasi seperti menjaga pH dan mencegah bau busuk (Subekti, et al., 2023), 

serta tantangan kebijakan dan partisipasi suboptimal yang menghambat  skalabilitas. Pelatihan, pendampingan, dan integrasi program kota penting  untuk mencapai jangka panjang melalui kolaborasi pemangku kepentingan  (Nugraha & Lestari, 2024). 

2. Fitur Produk Zymora 

a. Komponen Alat 

- Wadah fermentasi tertutup 

- Keran Pembuangan Cairan (Tap Valve) 

- Saringan internal 

- Tutup Berkatup (Airlock) 

- Label dan Panduan Digital 

b. Cara Kerja Produk 

- Proses Pengumpulan dan Fermentasi 

Sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran, kulit buah, dan  bahan dapur dikumpulkan lalu dimasukkan ke dalam wadah tertutup.  Ditambahkan larutan molase sebagai sumber energi mikroorganisme.  Wadah ditutup rapat dengan sistem airlock dan difermentasi selama 2- 

3 bulan secara anaerob. 

- Produksi Cairan Zymora 

Selama fermentasi, mikroorganisme menguraikan bahan organik  menjadi cairan bernutrisi tinggi. Cairan ini mengendap di bagian bawah  wadah dan dapat dikeluarkan melalui keran tanpa membuka seluruh  wadah. Hasilnya berupa pupuk cair alami yang kaya unsur hara. 

- Pemisahan dan Pemanfaatan Ampas 

Ampas padat dipisahkan menggunakan saringan internal, kemudian  dikeringkan dan dimanfaatkan sebagai kompos atau media tanam.  Seluruh bahan organik dapat digunakan tanpa limbah terbuang.

- Pemanfaatan Hasil Produk 

Cairan dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman hias atau  sayuran, serta membantu mengurangi bau pada selokan. Produk ini juga  memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual kembali. Ampas padat  memperbaiki struktur dan kesuburan tanah. 

- Pemberdayaan dan Replikasi 

Prosesnya sederhana dan murah, sehingga dapat diterapkan oleh  masyarakat secara mandiri. Teknologi ini mudah direplikasi di wilayah  padat penduduk, membantu mengurangi volume sampah organik ke  TPA dan meningkatkan kualitas lingkungan. 

3. Strategi Implementasi 

a. Tahap Persiapan 

Tahap awal dimulai dengan pemetaan permasalahan sampah organik di  lingkungan perkotaan, khususnya wilayah permukiman padat penduduk.  Pemerintah kota dan tim pelaksana melakukan survei terhadap volume  sampah organik rumah tangga, pola pembuangan, serta kesiapan  masyarakat dalam berpartisipasi. Data ini penting untuk menentukan lokasi  prioritas penerapan, ketersediaan bahan baku organik, serta potensi  komunitas yang dapat menjadi penggerak utama program. 

b. Perancangan Konsep dan Program 

Berdasarkan hasil survei, tim pelaksana merancang konsep program  Zymora yang meliputi sistem pengumpulan bahan organik, metode  fermentasi, serta pemanfaatan hasil produk. Konsep ini juga mencakup  penyesuaian desain wadah fermentasi agar sesuai dengan kondisi lahan  sempit di lingkungan padat penduduk. Selain itu, disusun pula strategi  edukasi masyarakat mengenai teknik fermentasi, pengelolaan limbah, serta  manfaat produk Zymora untuk lingkungan dan ekonomi rumah tangga.

c. Pengembangan dan Produksi 

Tahap ini mencakup pembuatan perangkat fermentasi secara massal, baik  dalam bentuk drum plastik, ember tertutup, maupun botol besar yang  dilengkapi sistem airlock dan keran pengeluaran cairan. Tim pengembang  memastikan bahwa desainnya mudah dipahami, hemat biaya, dan dapat  diproduksi menggunakan bahan lokal. Pada tahap ini juga dilakukan  pelatihan teknis kepada perwakilan masyarakat atau pengelola bank  sampah untuk memastikan kemampuan mereka dalam memproduksi dan  mengelola Zymora secara mandiri. 

d. Uji Coba Lapangan dan Evaluasi Awal 

Sebelum diterapkan secara luas, program Zymora diuji coba di beberapa  titik lingkungan padat penduduk, seperti perumahan, kelurahan, atau pasar  tradisional. Uji coba ini bertujuan untuk mengidentifikasi kendala teknis,  seperti pengaturan pH, durasi fermentasi, dan cara pengumpulan sampah  organik. Hasil dari tahap ini akan menjadi dasar untuk menyempurnakan  panduan teknis, sistem pelatihan, serta menyesuaikan metode fermentasi  dengan kondisi lingkungan setempat. 

e. Peluncuran dan Replikasi Program 

Setelah program uji coba dinilai berhasil, dilakukan peluncuran resmi  program Zymora dengan melibatkan pemerintah daerah, komunitas  masyarakat, media lokal, serta organisasi lingkungan. Peluncuran ini  disertai kampanye edukasi publik dan pembagian perangkat fermentasi  kepada warga sasaran. Program kemudian direplikasi ke wilayah-wilayah  lain dengan sistem pendampingan berkelanjutan dan integrasi ke dalam  kegiatan bank sampah komunitas atau kelompok swadaya masyarakat. 

f. Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan 

Tahap akhir berfokus pada pemantauan dan evaluasi rutin untuk mengukur  efektivitas penerapan Zymora, baik dari segi pengurangan volume sampah,  kualitas produk yang dihasilkan, maupun partisipasi masyarakat. Tim 

pelaksana melakukan evaluasi berkala terhadap proses fermentasi,  distribusi hasil, serta dampak lingkungan dan ekonomi. Masukan dari  masyarakat akan digunakan untuk perbaikan sistem, peningkatan kapasitas,  dan pengembangan inovasi lanjutan agar program Zymora dapat berjalan  secara mandiri dan berkelanjutan dalam jangka panjang. 

PENUTUP 

Dalam menghadapi permasalahan serius yang ditimbulkan oleh penumpukan  sampah organik di wilayah padat penduduk Bandar Lampung, solusi inovatif  seperti Zymora menjadi langkah penting untuk diterapkan. Melalui proses  fermentasi sederhana yang melibatkan partisipasi masyarakat, Zymora mampu  mengubah limbah organik rumah tangga menjadi produk bernilai guna seperti  pupuk cair dan kompos, sekaligus menekan volume sampah yang berakhir di TPA. 

Dengan penerapan program Zymora, pengelolaan sampah dapat dilakukan  langsung dari sumbernya, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat,  dan produktif. Inovasi ini tidak hanya membantu mengurangi beban sistem  persampahan kota, tetapi juga mendorong terciptanya ekonomi sirkular melalui  pemanfaatan kembali sumber daya lokal. Dengan demikian, Zymora menjadi salah  satu solusi nyata dalam mendukung tercapainya SDGs poin 11, yaitu membangun  kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.

________

Ditulis oleh:

1. Fatma Fauziah - 2413034020 2. Zhafira Arifatina - 2414151020 3, Valerie Alana Yusri - 2415061046 4. Ni Putu Anggun Abditia Putri - 2455041007


NANO-ENZYME SOAP: KOMBINASI ENZIM ALAMI DAN TEKNOLOGI NANO UNTUK KEBERSIHAN MAKSIMAL


Pendahuluan


Sabun merupakan sebuah zat pembersih dengan bahan baku yang berbeda-beda dari tahun ke-tahun, serta bahan baku sabun bergantung pada asal atau sumber sabun tersebut. Kebudayaan Mesir pada 1550 SM menyebut pemakaian lemak hewani maupun nabati untuk bahan baku sabun. Lalu pada era 600 SM, kebudayaan Fenisia memanfaatkan lemak kambing sebagai salah satu bahan pembuat sabun. Sampai dengan sekitar 1700-an, bahan baku sabun memang berasal dari bahan alami baik hewani maupun nabati (Josephus Primus 2022). Komponen penyusun sabun yang umumnya dijual di pasaran adalah surfaktan (22-30%), senyawa fosfat (bahan builders), dan bahan aditif (pewangi dan pemutih) (Kusumawati & Putri, 2022). Bahan baku sabun yang telah ada sudah terbilang baik untuk saat ini, namun tidak jarang beberapa orang mengalami gatal-gatal akibat bahan baku pada sabun yang tidak cocok dengan kulitnya. seringkali sabun konvensional mengandung surfaktan berupa Sodium Lauryl Sulfat (SLS) dan Linear Alkil Sulfonat (LAS) yang berfungsi meningkatkan daya bersih serta membentuk busa dan membersihkan lemak (Nurdianti et al. 2024). Dalam jumlah besar dan sering, surfaktan seperti SLS sulit terurai dan dapat mencemari lingkungan perairan dan tanah (Tambaksogra 2023).

Limbah rumah tangga merupakan buangan berbentuk cair dan padat baik dari dapur, kamar mandi dan cucian. Sedangkan limbah organik rumah tangga adalah limbah yang dapat terurai tanpa campur tangan manusia seperti sisa makanan, buah-buahan, dan sayuran. Meski dapat terurai sendiri tanpa bantuan manusia, limbah ini perlu waktu untuk terurai dan dalam prosesnya selalu menimbulkan bau yang tidak sedap. Dengan menggunakan eco-Enzyme biaya pembuatan sabun dapat menjadi lebih murah disebabkan banyaknya Limbah organik yang tersedia. Selain itu sabun ini juga dikenal ekonomis karena bahannya yang terbuat dari limbah organik. Meski demikian sabun ini dapat memberikan efek yang baik untuk kulit.

Karena beberapa alasan yang telah dijelaskan tersebut dan banyaknya limbah organik rumah tangga pada saat ini, maka pembuatan sabun yang berbahan baku alami yaitu eco-Enzyme menjadi solusi yang dinilai dapat mengatasi permasalahan limbah organik rumah tangga berlebih. Dengan begitu sabun ini diharapkan dapat membersihkan tubuh dengan baik dan sekaligus mengurangi dampak pada lingkungan akibat limbah organik rumah tangga yang berlebih.

Pembahasan


Limbah organik rumah tangga, seperti sisa makanan dan kulit buah, merupakan penyumbang sampah domestik terbesar di Indonesia, mencapai lebih dari 50% dari total timbunan (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021). Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini menumpuk di TPA, menghasilkan gas metana (CH₄) yang mempercepat pemanasan global, mencemari air tanah, dan menimbulkan bau tidak sedap.

Pengolahan limbah organik umumnya masih menggunakan metode konvensional seperti pengomposan yang memakan waktu lama, padahal limbah ini berpotensi diolah menjadi produk bernilai seperti eco-enzyme. Eco-enzim adalah cairan hasil fermentasi limbah organik yang mengandung enzim bioaktif dengan sifat anti bakteri, pengurai bau, serta berfungsi sebagai pembersih alami (Septinar et al., 2023). Namun pemanfaatannya di masyarakat masih terbatas, biasanya hanya sebagai pupuk cair atau pembersih lantai.

Gagasan yang ditawarkan adalah pengembangan sabun padat berbasis eco-enzyme penerapan dengan nanoteknologi melalui pembentukan nanoemulsi dan penambahan nanopartikel antibakteri seperti perak (AgNPs) atau seng oksida (ZnO-NPs) untuk meningkatkan aktivitas antibakteri serta menjaga kestabilan enzim dalam sabun padat. Produk ini diharapkan tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga lebih unggul dibandingkan sabun konvensional berbahan kimia sintetis (Salata, 2004; Khan et al., 2019).

Penelitian di Surabaya menunjukkan penerimaan masyarakat terhadap sabun berbasis eco-enzyme (Budiwitjaksono et al., 2024), sedangkan studi di Universitas Bosowa menemukan bahwa penambahan 2,5–5% eco-enzyme meningkatkan efek pembersihan sekaligus menjaga stabilitas pH dan kualitas busa (Battong & Tang, 2024). Pemberdayaan masyarakat di Maluku juga membuktikan bahwa produksi eco-enzyme dan sabun dari limbah buah dapat mengurangi timbulnya sampah sekaligus membuka peluang ekonomi lokal (Novianty et al., 2025). Tren global pun mendukung, dengan meningkatnya permintaan produk perawatan pribadi alami (Grand View Research, 2022).

Metode pembuatan Nano-Enzyme Eco Solid Soap diawali dengan proses fermentasi limbah buah untuk menghasilkan eco-enzyme berkualitas. Limbah yang digunakan terdiri atas kulit jeruk, nanas, dan melon yang menghasilkan aroma alami segar. Bahan dicacah kecil, kemudian dicampurkan dengan gula merah dan air destilasi dalam rasio 1:3:10 (limbah:gula:air). Campuran difermentasi secara anaerob selama ±6 bulan hingga terbentuk cairan eco-enzyme berwarna coklat jernih dengan aroma segar dan pH asam ringan (Gumilar et al., 2023).

Setelah fermentasi selesai, eco-enzyme disaring dan digunakan sebagai bahan aktif utama sabun. Tahapan berikutnya yaitu pembuatan larutan alkali dengan melarutkan 76 gram NaOH ke dalam 110 gram air destilasi secara hati-hati karena bersifat eksoterm, larutan alkali direndam hingga ±35°C. Campuran minyak (minyak jarak 25 g, kelapa 150 g, zaitun 150 g, dan sawit 175 g) kemudian dicampur dengan eco-enzyme sebagai pelarut bioaktif.

Penerapan nanoteknologi dilakukan melalui pembuatan nanoemulsi eco-enzyme dan penambahan nanopartikel ZnO (0,5–1% dari total berat sabun). Nanoemulsi dibuat dengan mencampurkan eco-enzyme dan surfaktan alami (Tween 80 atau lesitin) menggunakan homogenizer hingga terbentuk emulsi berukuran nano (<200 nm). Nanoemulsi ini membantu menjaga kestabilan enzim serta meningkatkan aktivitas antibakteri, sedangkan ZnO-NPs memperkuat efek antimikroba, meningkatkan kestabilan sabun, dan memberi perlindungan UV ringan (Sirelkhatim et al., 2015).

Campuran minyak dicampur perlahan dengan larutan alkali hingga mengental (proses saponifikasi). Setelah homogen ditambahkan ±2% minyak esensial jasmin dan pewarna alami dari mika. Adonan sabun kemudian dicetak warna dan dibiarkan dalam wadah tertutup selama beberapa hari untuk proses curing. Dengan kombinasi eco-enzyme hasil fermentasi limbah buah dan teknologi nanoemulsi–ZnO, sabun padat ini tidak hanya ramah lingkungan dan aman pada kulit, tetapi juga memiliki daya antibakteri tinggi, busa stabil, dan masa simpan lebih lama dibandingkan sabun konvensional.

Implementasinya memerlukan kolaborasi multisektor: pemerintah untuk regulasi dan insentif, universitas dan laboratorium untuk penelitian dan pengujian, masyarakat untuk pengumpulan limbah, serta UMKM dan sektor swasta untuk produksi dan distribusi. Pendekatan ini menciptakan siklus ekonomi sirkuler, di mana limbah menjadi produk bernilai tinggi sekaligus mendukung ekosistem lingkungan dan peluang ekonomi lokal (Pratiwi & Handayani, 2019).

Gagasan ini bertujuan menghasilkan produk perawatan pribadi yang ramah lingkungan dan menyehatkan kulit, sekaligus mengurangi timbulnya limbah organik rumah tangga. Dalam jangka panjang, inovasi ini diharapkan membangun kesadaran masyarakat terhadap teknologi hijau serta memperluas peluang usaha berkelanjutan di pasar nasional maupun global.

Penutup


Inovasi Nano-Enzyme Soap menghadirkan solusi kebersihan yang ramah lingkungan melalui pemanfaatan enzim alami dari limbah organik dan penguatan fungsi antibakteri dengan teknologi nano. Sabun ini tidak hanya efektif dalam membersihkan kotoran dan membasmi mikroorganisme, tetapi juga mendukung pengurangan limbah rumah tangga serta meminimalkan pencemaran lingkungan.

Dengan kandungan eco-enzyme yang aman di kulit dan penambahan nano-ZnO yang memperpanjang daya simpan serta menstabilkan enzim, sabun ini menjadi alternatif unggul dibanding sabun konvensional berbahan kimia sintetis. Dalam jangka panjang, pengembangan sabun ini diharapkan mendorong masyarakat beralih pada produk kebersihan berbasis teknologi hijau, sekaligus menciptakan peluang ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

____
Ditulis oleh:
1. Vivi Solekha kusumawati - 2413024005
2. Putri Bintang Reviliani - 2415041061
3. Royan Kholid Firdaus - 2515011066
4. Arif Hidayat - 2517041051

INOVASI BIOKOMPOSIT SEBAGAI KEMASAN MAKANAN KERING RAMAH LINGKUNGAN BERBASIS PATI BIJI SALAK DAN ECOFILLER SERAT KULIT SALAK

 PENDAHULUAN 

Berdasarkan data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia terus meningkat dari tahun ketahun. Pada tahun 2019 jumlah sampah plastik mencapai 64 juta ton per tahun dan pada tahun 2020 meningkat menjadi 66 juta ton, sedangkan pada 2021 jumlahnya mencapai sekitar 68 juta ton. Dari total tersebut, sekitar 3,2 juta ton sampah plastik tersebut dibuang ke laut. Hampir 76% dari sampah plastik tersebut adalah kemasan sekali pakai seperti sachet dan pouch yang sulit didaur ulang karena ukurannya yang kecil, sulit dikumpulkan, dan mengandung lapisan material yang sulit dipisahkan. Sebagian besar sampah plastik adalah konsumsi rumah tangga, yaitu sedotan plastik, botol plastik, kantong plastik, dan kemasan saset (Arbintarso dan Kurnawati., 2022). 

Masalah sampah plastik kini telah menimbulkan berbagai dampak serius terhadap lingkungan. Beberapa dampak sampah plastik terhadap lingkungan adalah pencemaran tanah, air tanah hingga makhluk bawah tanah. Selain itu partikel yang terkandung pada plastik akan meracuni hingga membunuh hewan pengurai seperti cacing, kantong plastik dapat menghambat air yang meresap ke dalam tanah, menurunkan kesuburan tanah karena plastik mengganggu sirkulasi udara di dalam tanah. Sampah plastik yang dibuang secara sembarangan ke sungai, anak sungai, bahkan drainase dapat mengakibatkan sungai menjadi dangkal dan terhambat alirannya. Selain itu, kandungan racun yang ada di plastik akan masuk ke dalam tubuh hewan tersebut, meracuni tubuhnya dan manusia yang mengkonsumsinya secara tidak langsung akan juga teracuni (Safriani dkk., 2022). 

Salah satu solusi inovatif yang dikembangkan untuk mengatasi masalah sampah kemasan ini adalah penggunaan bioplastik berbasis biokomposit. Bioplastik dapat diurai oleh lingkungan dengan bantuan mikroorganisme dan air. Plastik biodegradable yang berbahan dasar tepung atau pati dapat didegradasi oleh bakteri pengurai dengan memutus rantai polimer menjadi monomer-monomernya. Pembuatan plastik biodegradable dari pati telah berhasil dilaksanakan untuk berkontribusi dalam meminimalisasi masalah akibat tumpukan limbah plastik sintetik. Sumber pati didapatkan dari tumbuh-tumbuhan, biji-bijian, batang pohon, dan umbi umbian, menjadikannya bahan alternatif yang ramah lingkungan dan mudah terurai secara alami. Dengan demikian, pemanfaatan pati sebagai bahan dasar plastik biodegradable menjadi solusi potensial dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbasis minyak bumi. (Ramadhan dan Nugraha, 2021).

Peningkatan konsumsi salak di masyarakat membuat produksi buah salak juga semakin meningkat. Namun, di balik tingginya produksi tersebut, muncul permasalahan baru berupa meningkatnya jumlah limbah salak, seperti kulit dan bijinya, yang sering kali terbuang begitu saja tanpa dimanfaatkan. Padahal kulit salak merupakan limbah yang umumnya tidak terpakai lagi tetapi kulit buah salak mempunyai kandungan nilai gizi berupa protein, karbohidrat, air serta rendah lemak. Kulit salak juga memiliki senyawa yang dapat bermanfaat sebagai antimikroba dan mengandung serat alami yang bisa digunakan sebagai bahan penguat atau ecofiller (Dalimunthe dkk., 2023). 

Limbah kulit dan biji salak bisa dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan biokimposit. Prosesnya dikakukan dengan mencampurkan pati dari biji salak dengan serat dari kulit salak, maka akan terbentuk biokomposit yang lebih kuat dan tahan lama, namun tetap ramah lingkungan. Kombinasi ini sangat berpotensi untuk dijadikan bahan kemasan yang bisa menggantikan plastik biasa yang sulit terurai, sehingga bisa membantu mengurangi sampah plastik di sekitar kita. Oleh karena itu, melalui penelitian ini diharapkan dapat mengurangi jumlah limbah plastik kemasan dan limbah pertanian, sekaligus menciptakan produk inovatif yang memiliki nilai guna yang tinggi dan ramah lingkungan. 

PEMBAHASAN

Salah satu pemanfaatan bagian dari buah salak yang masih belum banyak dilakukan adalah bagian bijinya. Kurangnya pemanfaatan tersebut karena biji salak termasuk limbah hasil pengolahan buah salak yang memiliki tekstur keras dan sulit dihancurkan. Padahal, biji salak mengandung pati (amilum) sekitar 25–30% dari beratnya. Kandungan pati ini menjadikan biji salak memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioplastik alami yang dapat diperbarui. Bioplastik yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan alami pengganti penggunaan kemasan makanan kering dari plastik sintetis, yang akan signifikan mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan plastik serta membantu mengurangi limbah (Anwar dkk., 2022). 

Bagian dari buah salak yang juga jarang dimanfaatkan selain biji, adalah kulitnya. Kulit salak mengandung mengandung metabolit sekunder seperti fenol, tanin, steroid, flavonoid, dan saponin yang bermanfaat sebagai antidiabetes, antioksidan, dan antibakteri. Selain

mengandung antioksidan. kulit salak juga mengandung serat, karbohidrat, protein, lemak (kadar rendah), dan air. Kandungan serat atau polimer seperti selulosa, pektin, dan lignin memiliki gugus hidroksil, karboksil, serta gugus bermuatan negatif lainnya. Gugus-gugus ini membuat kulit salak mampu berinteraksi dengan bahan lain, sehingga cocok dimanfaatkan sebagai ecofiller dalam pembuatan bioplastik. Senyawa tersebut membantu memperkuat struktur dan meningkatkan daya rekat antar partikel saat dicampurkan dengan adonan bioplastik. Selain itu, kandungan serat dan senyawa aktif pada kulit salak juga berperan dalam menambah sifat fungsional bioplastik, seperti kekuatan, elastisitas, dan ketahanan terhadap kerusakan (Hanifah dkk., 2023). 

Gambar 1. Proses formulasi biokomposit 

Proses preparasi ecofiller berbasis kulit salak mengacu pada metode yang dikemukakan oleh Dalimunthe dkk. (2023). Kulit salak terlebih dahulu dicuci menggunakan air bersih untuk menghilangkan kotoran dan zat pengotor yang menempel pada permukaan. Sampel kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu ±70°C hingga mencapai kondisi kering sempurna. Kulit salak kering selanjutnya dihaluskan menggunakan blender atau alat penggiling hingga diperoleh serbuk halus berukuran homogen. Serbuk halus kulit salak tersebut digunakan sebagai ecofiller alami, yaitu bahan penguat berbasis serat yang berfungsi memperbaiki sifat mekanik serta memberikan sifat tambahan seperti aktivitas antibakteri pada bioplastik. 

Bahan utama bioplastik yaitu pati biji salak yang diambil suspensinya. Menurut Naurah dkk. (2024) mengenai isolasi pati, yaitu dengan biji salak dicuci hingga bersih untuk menghilangkan kotoran dan pengotor permukaan, kemudian dikeringkan menggunakan oven pada suhu ±100°C selama 3–5 jam hingga mencapai kadar air rendah dan tekstur keras. Sampel kering selanjutnya dihaluskan hingga berbentuk serbuk halus, kemudian ditambahkan aquades dan dilakukan proses pemerasan selama ±1 jam untuk mengekstraksi kandungan patinya. Filtrat hasil pemerasan disaring menggunakan kain saring halus untuk memperoleh suspensi pati yang jernih. Suspensi tersebut kemudian diendapkan selama 48 jam pada suhu

ruang untuk memisahkan fraksi pati dari cairan supernatan. Endapan pati yang diperoleh dikeringkan kembali selama ±2 hari hingga mencapai kondisi kering sempurna. Pati kering biji salak yang dihasilkan memiliki tekstur halus dan tidak menggumpal, sehingga dapat tercampur merata serta mudah larut saat diformulasikan sebagai bahan dasar pembuatan bioplastik. 

Proses formulasi biokomposit berbasis kulit dan biji salak diawali dengan pencampuran ecofiller kulit salak kering ke dalam bahan utama bioplastik yang terdiri atas pati biji salak, tepung tapioka, gliserol, asam asetat, dan akuades. Serbuk kulit salak yang telah dikeringkan dan dihaluskan ditambahkan sebanyak 1–5% dari total berat campuran sebagai ecofiller alami. Seluruh komponen dihomogenisasi dengan pengadukan konstan, kemudian dipanaskan pada suhu 70–80°C hingga membentuk pasta kental dan transparan. Pasta yang telah terbentuk selanjutnya dicetak pada permukaan datar dengan ketebalan seragam, kemudian dikeringkan menggunakan oven bersuhu rendah atau melalui penjemuran selama beberapa hari hingga diperoleh lembaran bioplastik kering (Hendri & Bahruddin, 2017). 

Penambahan ecofiller kulit salak pada bioplastik menunjukkan adanya peningkatan pada sifat mekanik dan fungsional bahan yang dihasilkan. Bioplastik menjadi lebih kuat, tidak mudah sobek, dan memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap tekanan maupun benturan. Sementara itu, kehadiran gliserol membantu menjaga bioplastik tetap fleksibel dan tidak kaku, sehingga mudah dibentuk. Selain itu, senyawa aktif seperti tanin dan flavonoid dari kulit salak memberikan sifat antibakteri alami, yang membuat bioplastik lebih tahan terhadap pertumbuhan mikroorganisme. Secara keseluruhan, kombinasi pati biji salak dan ecofiller kulit salak menghasilkan bioplastik yang lebih kuat, elastis, dan memiliki nilai tambah fungsional dibandingkan bioplastik tanpa penambahan ecofiller (Rafid dkk., 2021). 

PENUTUP 

Pemanfaatan limbah biji dan kulit salak (Salacca zalacca) sebagai bahan dasar biokomposit menunjukkan potensi besar dalam menggantikan sebagian penggunaan plastik konvensional sekali pakai. Kombinasi antara pati biji salak sebagai polimer alami dan serat kulit salak sebagai ecofiller menghasilkan bioplastik yang kuat, elastis, dan mudah terurai secara biologis tanpa meninggalkan residu berbahaya. Inovasi ini tidak hanya memanfaatkan limbah pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal, tetapi juga berkontribusi

terhadap pengurangan timbulan limbah kemasan plastik hingga sekitar 10–15%, khususnya pada sektor kemasan rumah tangga dan makanan kering. Dengan demikian, biokomposit berbasis limbah salak dapat menjadi alternatif ramah lingkungan yang efisien serta mendukung pengelolaan sumber daya berkelanjutan. 

Secara global, penerapan bioplastik berbasis biokomposit ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya dan pengurangan limbah plastik sekali pakai, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dengan menurunkan emisi karbon dari proses produksi plastik sintetis berbasis minyak bumi, serta SDG 14 dan 15 (Ekosistem Laut dan Darat) karena berkurangnya pencemaran lingkungan akibat sampah plastik yang sulit terurai. Inovasi ini berperan penting dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim serta perlindungan ekosistem. Secara keseluruhan, pengembangan biokomposit dari biji dan kulit salak merupakan langkah strategis menuju ekonomi sirkular yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di Indonesia.

____

Ditulis oleh:

1. Zaskia Rahma Andini - 2414051008 - 2024 2. Kecin Agressa Setiana T.- 2417021086 - 2024 3. Kristi Giesela Turnip - 2513024046 - 2025 4. Rizky Aldi Permana - 2401051027 - 2024



Postingan Populer