Sabtu, 16 Desember 2023

ELING (EDUWISATA SYSTEM LEARNING): PERAN PENDIDIKAN DALAM MEMBANGUN KESADARAN LINGKUNGAN MASYARAKAT MELALUI SISTEM PEMBELAJARAN WISATA EDUKASI DI ERA SOCIETY 5.0

PENDAHULUAN

Indonesia kini sedang menyiapkan diri untuk menghadapi era society 5.0. Konsep

society 5.0 merupakan konsep dengan masyarakat masa depan yang menempatkan

manusia sebagai pusat inovasi (human centered) dengan memanfaatkan kemajuan

teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup, tanggung jawab sosial,

serta berkembang secara berkelanjutan (Usmaedi, 2021). Era society 5.0 dapat

mendorong inovasi dalam pendidikan. Pendidikan di era society 5.0 yang baik

tidak hanya membuat peserta didik berpengetahuan, tetapi memiliki sikap

keilmuan terhadap teknologi, yaitu sikap kritis, logis, inovatif, dan inventif.

Pendidikan pun memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk

kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, terutama melalui sistem pembelajaran

wisata edukasi berkelanjutan era society 5.0.

Perubahan lingkungan, perubahan iklim, penurunan kualitas udara dan air, sampah

dan hilangnya keanekaragaman hayati telah meningkatkan kesadaran terhadap

isu-isu lingkungan. Pendidikan berperan dalam mendidik masyarakat tentang


dampak negatif tersebut. Berdasarkan data BPS, ada 399,376 unit sekolah di

Indonesia pada tahun ajaran 2022/2023. Hal tersebut menunjukkan bahwa

pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan

negara-negara lain. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pembelajaran wisata

edukasi berkelanjutan dapat dijadikan sebagai sebuah konsep penting di era

society 5.0. Pendidikan pariwisata atau yang lebih dikenal sebagai wisata edukasi

merupakan suatu program dengan peserta kegiatan wisata melakukan suatu trip

atau perjalanan ke lokasi tertentu secara berkelompok dengan tujuan mendapatkan

pengalaman belajar mengenai lokasi yang dikunjungi secara langsung (Saeroji,

2022). Sistem pembelajaran ini memadukan pemahaman dampak pariwisata

terhadap lingkungan dan budaya lokal dengan pengembangan bentuk pariwisata

berkelanjutan. Hal ini memungkinkan simulasi lingkungan dan pengalaman

pembelajaran mendalam tentang pembangunan berkelanjutan.

Di daerah Lampung, pemerintah sudah cukup banyak membuat objek wisata

edukasi, seperti PKK Agropark Lampung yang berlokasi di Lampung Selatan.

Objek wisata tersebut memadukan beberapa tempat rekreasi yang dijadikan

sebagai bahan edukasi. PKK Agropark Lampung sendiri dibangun dengan tujuan

untuk mengedukasi dan memperkenalkan pertanian kepada pengunjung (Suryani

dkk., 2022). Meskipun begitu, pengunjung yang datang ke objek wisata tersebut

cenderung bertujuan untuk bertamasya atau bersenang-senang ke kebun serta

taman, alih-alih untuk belajar atau menambah wawasan mengenai pertanian.

Selain itu, pemerintah juga belum menghadirkan wisata edukasi mengenai

perlindungan serta pengelolaan lingkungan. Oleh itu, melalui kurikulum yang

terintegrasi dengan isu lingkungan dan kegiatan wisata edukasi berkelanjutan,

maka dibentuk ELING (EduWisata System Learning) yang dapat membantu

masyarakat memahami pentingnya perlindungan lingkungan dan bagaimana

mereka dapat berkontribusi untuk melindunginya. Sistem pembelajaran ini

mendorong masyarakat untuk berpikir kreatif dalam mencari solusi permasalahan


lingkungan seperti pengurangan sampah plastik dan efisiensi energi. Selain itu,

ELING juga mendorong kolaborasi dan komunitas dalam masyarakat. Melalui

proyek berkelanjutan, siswa dan masyarakat dapat menerapkan praktik ekologi

bersama-sama. Dengan demikian, pendidikan pada era society 5.0, khususnya

melalui sistem pendidikan wisata edukasi berkelanjutan ELING, mempunyai

potensi besar untuk mengembangkan kesadaran lingkungan masyarakat serta

mengajarkan keterampilan pembangunan berkelanjutan dan mendorong tindakan

positif ke arah perlindungan lingkungan.


ISI

Kesadaran lingkungan masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Hal tersebut

dibuktikan dengan data timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2022 yang

mencapai 35.833.450,64 ton (SIPSN, 2022). Perlu adanya suatu sistem

pembelajaran inovatif yang mampu menyelesaikan masalah minimnya kesadaran

lingkungan. Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis memberi solusi yang

dapat diterapkan yaitu EduWisata System Learning yang berbasis pada wisata

edukasi berkelanjutan berupa outbond. Outbond merupakan suatu program

pembelajaran yang dilakukan di alam terbuka dengan menerapkan prinsip belajar

melalui pengalaman langsung (experimental learning) yang umumnya disajikan

dalam bentuk diskusi, simulasi, permainan, dan petuangan sebagai media

penyampaian materi (Yunaida dan Rosita, 2018). Peserta outbond secara aktif

dilibatkan dalam seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan. Dengan begitu,

peserta akan mendapat umpan balik dari kegiatan yang dilakukan yang dapat

dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan diri oleh peserta outbond. Melalui

outbond, peserta juga dapat melatih kepekaan sosial yang dimilikinya karena

dalam pelaksanaannya, kegiatan ini lebih banyak menuntut untuk

mengembangkan kemampuan ESQ (Emotional and Spiritual Quotient)


A. KONSEP ELING (EDUWISATA SYSTEM LEARNING)

Pada ELING, akan diadakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk

meningkatkan keterampilan serta ilmu-ilmu terapan mengenai lingkungan

sehingga tingkat kesadaran akan lingkungan dapat meningkat pula. Konsep

ELING menggunakan kurikulum yang terintegrasi dengan isu lingkungan dan

kegiatan wisata edukasi berkelanjutan. Peserta akan berkontribusi dalam sebuah

proyek dan kegiatan yang berbasis pada praktik ekologi. Dengan begitu, output

yang dididapatkan oleh peserta yang paling utama adalah meningkatnya kesadaran

lingkungan dan tumbuhnya rasa cinta pada lingkungan. Adapun rancangan alur

kegiatan ELING adalah sebagai berikut.

Pengarahan oleh guide dilakukan sebelum peserta memulai seluruh rangkaian

kegiatan. Pengarahan dilakukan dengan memberikan penjelasan dasar mengenai

kondisi bumi saat ini, keadaan lingkungan di Indonesia, serta permasalahan

sampah yang menumpuk di lingkungan. Kemudian dilanjutkan dengan

menjelaskan rangkaian kegiatan secara singkat.

B. BIOPORI

Kegiatan berikutnya adalah biopori. Biopori atau lubang resapan biopori

memanfaatkan prinsip teknologi sederhana yang memperbanyak volume air yang

terserap ke dalam tanah. Pembuatan lubang resapan biopori dilakukan dengan cara

melubangi tanah menggunakan bor biopori yang berdiameter 10 cm dengan

kedalaman 80-100 cm. Tanah yang sudah dilubangi kemudian diisi dengan

sampah organik. Sampah organik tersebut akan membantu organisme-organisme

tanah membentuk pori-pori pada tanah, sehingga air yang nantinya mengalir di

atas permukaan tanah dapat terserap ke dalam pori-pori tersebut. Metode ini

dicetuskan oleh salah satu peneliti di Institut Pertanian Bogor, Dr. Kamir R. Brata

(Purnami, 2016). Manfaat yang didapatkan dari pembuatan lubang resapan

biopori adalah dapat mencegah terjadinya banjir, serta biopori akan menghasilkan

kompos dari sampah-sampah organik yang telah diuraikan oleh organisme tanah

setelah 4-5 bulan. Hasil kompos yang telah dapat dipanen dari biopori dapat

dipergunakan para peserta untuk dicampurkan pada tanah sebagai pupuk dalam

penanaman pohon.

C. EDUKASI SAMPAH

Edukasi sampah dilakukan dengan membuat pos pemajangan karya daur ulang

sampah dan memberikan materi mengenai sampah dan cara pemilahannya. Dalam

kegiatan ini, setelah pemaparan materi selesai, peserta akan berkontribusi secara

aktif dalam proses pemilahan sampah. Pemilahan sampah merupakan cara

penanganan sampah yang dianggap paling efektif dan sederhana, tetapi dalam

pelaksanaannya masih jauh dari kata berhasil. Berdasarkan data dari Sistem

Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) (2022), dari total produksi

sampah nasional, terdapat 65,71% (13,9 juta ton) sampah yang dapat terkelola,

sedangkan sisanya 34,29% (7,2 juta ton) belum terkelola dengan baik. Masyarakat

Indonesia cenderung abai dalam memilah sampah, dan lebih sering

mencampurkan semua jenis sampah dalam satu tempat. Hal tersebut yang

membuat sampah menjadi tertimbun dan mencemari lingkungan. Oleh karena itu,

kegiatan ini dilakukan dengan harapan peserta dapat mempraktikkan pemilahan

sampah yang tepat dalam kehidupannya sehari-hari. Setelah itu, peserta akan

melihat pos pemajangan karya daur ulang sampah. Di sekitar kita, banyak sekali

sampah plastik. Biasanya, sampah tersebut dimusnahkan dengan cara pembakaran.

Pembakaran sampah menghasilkan asap yang dapat memicu penyakit kanker,

gangguan pernapasan, gangguan sistem saraf, hingga hepatitis (Nofiyanti dkk.,

2020). Sampah, terutama sampah plastik, dapat didaur ulang menjadi suatu benda

yang memiliki nilai jual. Melihat dari potensi pemanfaatan hasil daur ulang

sampah plastik, sebenarnya sampah plastik tidak hanya menjadi sumber masalah,

tetapi dapat juga memberikan peluang bisnis. Produk-produk yang dipajang dalam

kegiatan ELING merupakan hasil tangan dari UMKM lokal yang bergerak dalam

bidang daur ulang limbah, dan para peserta dapat membeli karya tersebut sebagai

buah tangan. Dengan begitu, kegiatan ini juga dapat mendukung UMKM lokal.

D. ICE BREAKING DAN PENGUATAN

Ice breaking dan penguatan dilakukan setelah edukasi sampah. Ice breaking

merupakan sesi permainan yang dilakukan bersama-sama untuk menyegarkan

pikiran. Sementara itu, penguatan diberikan ketika peserta sedang beristirahat.

Peserta diajak untuk menyampaikan hal-hal yang mereka dapatkan selama

kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya, serta kesan dan pesan ketika

melakukan rangkaian kegiatan. Penguatan ini diberikan kepada para peserta

dengan tujuan agar semakin mencintai lingkungan.

E. ECOPRINT

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan ecoprint. Ecoprint merupakan suatu teknik

untuk mentransfer warna serta bentuk melalui kontak langsung pada kain dengan

memanfaatkan bahan-bahan dari bagian tumbuhan yang mengandung pigmen

warna, seperti daun, bunga, dan kulit batang (Hikmah dan Retnasari, 2021).

Ecoprint menghasilkan motif dan warna kain yang unik. Hal tersebut disebabkan

karena motif yang dihasilkan tidak bisa diduga meskipun menggunakan teknik

serta jenis tumbuhan yang sama. Beberapa hal yang mempengaruhi hasil dari

ecoprint, yaitu jenis kain, proses mordanting, serta fiksasi. Hal tersebut yang

menjadikan ecoprint memiliki nilai seni yang tinggi. Produk yang dihasilkan dari

ecoprint merupakan produk ramah lingkungan. Dalam kegiatan ini, para peserta

akan diberikan tutorial pembuatan ecoprint, kemudian langsung

mempraktikkannya. Karya dari masing-masing peserta dapat dibawa pulang

sebagai buah tangan.

F. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ELING

Dalam pengimplementasiannya, ELING memiliki beberapa kelebihan dan

kekurangan. Kelebihan dari ELING, yaitu dapat meningkatkan kesadaran para

peserta akan lingkungan melalui pengalaman langsung yang menambah

pemahaman mengenai permasalahan lingkungan yang terjadi; dapat membentuk

karakter para peserta agar kritis, inovatif, kreatif, bertanggung jawab, dan peduli

akan sesama; melibatkan aspek sosial dan ekonomi dalam kegiatannya sehingga

dapat menyeimbangkan antara pelestarian lingkungan, kesejahteraan sosial, dan

keberlanjutan ekonomi di era society 5.0; serta mendukung Sustainable

Development Goals pada poin Life on Land dan Quality Education.

ELING menjadi solusi bagi permasalahan lingkungan yang terjadi di Indonesia

melalui pendidikan. Sistem pembelajaran ini memberikan dampak kognitif,

psikomotorik, dan afektif bagi para peserta. Peserta juga diajarkan untuk

menanamkan kebiasaan hidup ekologis, yang menjadikan peserta termotivasi

untuk melakukan aktivitas mengenai gaya hidup ekologis, seperti mengurangi

penggunaan sampah plastik dengan membawa botol minum, tidak membuang

sampah sembarangan, dan belajar untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitar

kita sebagai sesuatu yang memiliki nilai penting. ELING dapat dijadikan sebagai

kurikulum atau percontohan bagi pendidikan nilai untuk membangun kesadaran

lingkungan di sekolah maupun masyarakat secara berkelanjutan di era society 5.0.

Sementara itu, ELING juga masih memiliki beberapa kekurangan, yaitu

keterbatasan aksesibilitas dimana tidak semua masyarakat memiliki akses yang

sama terhadap kegiatan ini; ketergantungan pada sumber daya; dan memakan

waktu yang tidak sebentar untuk mencapai tujuan ELING, yaitu menumbuhkan

sikap masyarakat yang peduli akan lingkungan.


PENUTUP

Indonesia saat ini sedang menyiapkan diri untuk menghadapi era society 5.0,

tetapi kesadaran lingkungan masyarakat masih tergolong rendah. Oleh karena itu,

dibentuk sistem pembelajaran wisata edukasi berupa ELING (EduWisata System

Learning) yang berbasis outbond yang mampu menyelesaikan masalah minimnya

kesadaran lingkungan. Konsep ELING yaitu dengan menggunakan kurikulum

yang terintegrasi dengan isu lingkungan dan kegiatan wisata edukasi

berkelanjutan. Sistem pembelajaran ini mendorong masyarakat society 5.0 untuk

berpikir kreatif dan inovatif dalam mencari solusi permasalahan lingkungan.

Rangkaian kegiatan ELING meliputi pengarahan dari guide, biopori, edukasi

sampah, ice breaking dan penguatan, serta ecoprint. Terciptanya wisata edukasi

berkelanjutan ini memberikan kesempatan bagi generasi mendatang untuk tetap

bisa merasakan, menikmati, serta sumber daya yang ada saat ini.



Sub Tema: Lingkungan, Pendidikan 

Disusun Oleh:

1. Chintia Putri Purwoadi

2. Indah Tri Ningrum

3. M. Nur Ari Affandi


---

Salam Peneliti Muda!

Untuk hasil karya yang lebih lengkap dapat menghubungi:

Instagram: @ukmpenelitianunila

Email: ukmpenelitianunila@gmail.com / ukmpunila@gmail.com

Youtube: UKM Penelitian Unila

Tiktok: ukmpunila

0 comments:

Posting Komentar

Postingan Populer