Jumat, 25 November 2022

PENGARUH ILMU PENGETAHUAN TERHADAP STRATIFIKASI SOSIAL PADA ERA GENERASI Z (GEN-Z)

 "Kadang kesendirian menjadi indah ketika keramaian tak mampu memberikan

kebahagiaan."

"Kesendirian mungkin bisa memberimu kekuatan untuk menjalani hidup. Tapi untuk

menjadi seseorang yang kuat, kamu tidak bisa sendirian."


Meninjau dari dua kutipan di atas mengenai kesendirian, mungkin bagi sebagian

orang sendiri membuat perasaan mereka lebih nyaman serta mampu memberikan

mereka kebahagiaan. Tetapi, apakah dengan kesendirian membuat kita merasa cukup

dan kuat untuk menjalankan kehidupan panjang di dunia ini? jawabannya tentu tidak,

karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri-

sendiri dan selalu membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Dengan adanya

interaksi sosial ini manusia akan cenderung membentuk sebuah kelompok. Secara

umum pengelompokan masyarakat di Indonesia sendiri terbagi menjadi dua bentuk,

yang pertama, pengelompokan secara horizontal berupa deferensiasi dan yang kedua,

pengelompokan secara vertikal berupa stratifikasi sosial. (Untari, dkk., 2019).


Dalam setiap lapisan masyarakat di manapun selalu dan pasti mempunyai sesuatu

yang dihargai. Sesuatu yang dihargai di masyarakat bisa berupa kekayaan, ilmu

pengetahuan, status haji, status darah biru, atau keturunan dari keluarga tertentu yang

terhormat, atau apapun yang bernilai ekonomis. Namun hal-hal yang dapat dihargai

itu sangat tergantung dari wilayah dan lingkungan dimana masyarkat itu tinggal.

Sebagai contoh, banyaknya dan luasnya jumlah tanah yang dimiliki oleh masyarakat

pedesaan menjadi penentu status sosial mereka tetapi masyarakat perkotaan mungkin

akan memilih determinan lain untuk menentukan dan mengklasifikasikan status sosial

sesorang. Aspek-aspek itulah yang menentukan strata sosial seseorang (Mulyadi dan

Bukhory, 2019).


Secara etimologis istilah stratifikasi atau stratification berasal dari kata strata atau

stratum yaitu lapisan. Oleh karena itu stratifikasi sosial sering diterjemahkan sebagai

pelapisan sosial masyarakat, atau yang memiliki arti lain suatu individu yang

memiliki kedudukan sama menurut ukuran tertentu di tengah masyarakat. Stratifikasi

sosial adalah pelapisan sosial atau sistem hierarki suatu kelompok di dalam

masyarakat yang dipengaruhi oleh beberapa unsur tertentu (Chozin dan Prasetyo,

2021).


Pelapisan sosial masyarakat yang menonjol sebagai dasar terjadinya pelapisan di

masyarakat yaitu ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sangat erat kaitannya dengan

pendidikan. Tingkat ilmu dan pendidikan terkadang seringkali digunakan di tengah-

tengah masyarakat terutama di desa yang dimana masyarakatnya sangat menghargai

ilmu pengetahuan. Anak desa biasanya hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat

menengah, karena keinginan untuk lanjut ke jenjang berikutnya terhambat oleh biaya

pendidikan yang umumnya mahal, karena tidak semua orang tua mampu dalam

membiayai pendidikan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi (Chozin dan

Prasetyo, 2021).


Begitu pula dengan tingkat pendidikan seseorang. Berbagai macam pendapat

mengatakan bahwa tingkat kesuksesan seseorang ditentukan berdasarkan gelar

sarjana seseorang serta perguruan tinggi yang menjadi tempat seseorang mengemban

ilmu pengetahuan hingga wisuda. Semakin tinggi gelar atau semakin terkenal

almamater kampus maka akan semakin mudah untuk mendapatan kedudukan sosial

yang tinggi. Padahal perguruan tinggi yang dianggap sebagai suatu syarat mobilitas

sosial pun tidak mampu menjanjikan lulusannya untuk memperoleh kedudukan sosial

yang baik, tetapi justru kini sudah bertambah sulit untuk memperoleh kedudukan

yang empuk di masyarakat.


Menurut UU SIDIKNAS No. 20 Tahun 2003, Pendidikan adalah proses

pembelajaaran bagi peserta didik yang diperoleh baik formal maupun non formal,

dengan mengikuti program-program pembelajaran guna membentuk pribadi yang

dapat mengerti, memahami, dan mampu berpikir kritis. Pendidikan juga dapat

diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yaang diperlukan dirinya dan

masyarakat.


Generasi Z atau kerap kali dikenal dengan istilah Gen-Z, adalah generasi muda,

generasi ini juga biasannya disebut dengan generasi internet atau I-generation. Gen-Z

lebih banyak berhubungan dengan sosial lewat dunia maya. Sejak kecil Gen-Z sudah

dikenalkan oleh teknologi dan sangat akrab dengan smartphone serta mendapat

julukan sebagai generasi muda yang kreatif. Karakteristik Gen-Z lebih suka dunia

usaha multitasking, startup, menguasai teknologi dan mudah dalam

mengoperasikannya, serta mudah menangkap informasi dengan cepat (Anonim,

2015)


Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan atas dan

dipandang dalam masyarakat atau lingkungan yang bersangkutan. Penguasaan

keilmuan yang dimiliki Gen-Z biasanya terdapat pada rekam jejak pendidikan yang

bagus, gelar akademik bagi yang sudah kuliah, serta skill pemanfaatan teknologi

yang dikuasai seorang Gen-Z yang dimana membawa dampak baik dan bermanfaat

terhadap dirinya, lingkungan dan masyarakat.


Berbagai tingkatan atau kelompok lulusan seorang Gen-Z dinilai oleh masyarakat

berdasarkan prasangka dimana bahwa mereka yang berpendidikan tinggi memiliki

strata yang baik serta memiliki peluang kesuksesan yang besar dibandingkan mereka

yang hanya tamatan SMA. Namun dalam hal ini bukan berarti seorang Gen-Z yang

hanya memiliki ijazah SMA tidak bisa memiliki peluang sukses, justru terkadang

banyak lulusan sarjana yang menjadi pengangguran. Persepsi yang salah ini pada

akhirnya terjadi di tengah – tengah masyarakat.


Pendidikan mempunyai peran penting dalam menentukan perkembangan dan

pembentukan karakter Gen-Z, tingkat pendidikan seseorang mempunyai hubungan

yang tinggi dengan kedudukan sosialnya. Saat ini banyak orang tua yang

berkeinginan untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai kejenjang setinggi

mungkin, tanpa melihat bagaimana keadaan ekonomi keluarganya saat ini. Karena

dianggapnya dengan semakin tinggi tingkat pendidikan dan skill keilmuan yang

dimiliki dan ditempuh, maka semakin besarlah kesempatan untuk mendapatkan

kedudukan terhormat dan disegani masyarakat serta bisa mendapatkan kesuksesan,

dengan demikian masuk golongan sosial menengah atas.


Namun demikian, pencapaian untuk menaikkan strata sosial tidak hanya diperoleh

dari pendidikan formal saja, namun faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah

kualitas pendidikan dari sistem yang diterapkan di lembaga pendidikan tempat Gen-Z

mengenyam pendidikan tersebut. Kualitas sistem pendidikan yang diterapkan sangat

berpengaruh dalam pembentukan karakter peserta didik yang selanjutnya akan

melahirkan generasi yang berkualitas, baik akhlak mapun keilmuan. Dimana secara

otomatis akan menempatkan diri mereka pada strata sosial kelas atas ditengah-tengah

masyarakat (Mukminin, 2018).


Sratifikasi sosial dalam pendidikan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari

sebagai sebuah kenyataan dan terdapat dalam masyarakat. Selanjutnya persepsi

mengenai kebutuhan pendidikan yang mahal serta cita-cita terhadap kualitas

pendidikan semua tidaklah luput dari adanya stratifikasi sosial, baik secara langsung

atau tidak langsung, sistem pendidikan bersama faktor lain telah menimbulkan

adanya stratifikasi sosial. Upaya untuk meminimalisir adanya stratifikasi sisal Gen-Z

dalam dunia pendidikan dengan adanya sekolah gratis dan pemberian beasiswa

terhadap Gen-Z yang kurang mampu dalam segi ekonomi. Kemudian lembaga

pendidikan juga harus sanggup meminimalisir kesenjangan sosial, timbulnya konflik,

dan sebagainya. Sehingga stratifikasi sosal tidak terlalu kontras dalam sistem

pendidikan di Indonesia.


Ilmu pengetahuan merupakan salah satu faktor stratifikasi sosial, karena pentingnya

pendidikan di generasi z saat ini. Persepsi mengenai kebutuhan pendidikan yang

mahal serta cita-cita terhadap kualitas pendidikan semua tidaklah luput dari adanya

stratifikasi sosial, baik secara langsung atau tidak langsung. Selain itu, sesorang dapat

menelaah yang mana yang baik dan yang mana yang buruk yaitu melalui pendidikan.

Meskipun demikian, stratifikasi memang tidak hanya dilihat dari faktor ilmu

pengetahuan, namun ilmu pengetahuan menjadi salah satu indikasi terjadinya atau

tercapainya sebuah jabatan yang memang menjadi faktor lain pada stratifikasi

masyarakat.


---

Salam Peneliti Muda!

Untuk hasil karya yang lebih lengkap dapat menghubungi:

Instagram: @ukmpenelitianunila

Email: ukmpenelitianunila@gmail.com / ukmpunila@gmail.com

Youtube: UKM Penelitian Unila

Tiktok: ukmpunila

0 comments:

Posting Komentar

Postingan Populer