Jumat, 25 November 2022

“GO-GEN (GOLD GENERATION): APLIKASI UJIAN BERBASIS ARTIFICIAL INTELLIGENCE SEBAGAI IMPLEMENTASI DALAM WUJUDKAN PENDIDIKAN BERMUTU DI INDONESIA TAHUN 2030”

 “Pada hakikatnya, tujuan pendidikan tidak hanya sekedar pengetahuan,

melainkan juga pola pikir dan tindakan.”


Penyusunan Sustainable Development Goals (SDGs) saat ini telah

digambarkan sebagai sebuah gerakan atau proses politik yang paling inklusif di

mana suara dari jutaan orang di seluruh dunia didengar. Program SDGs telah dipuji

karena ambisi dan keberaniannya dalam merangkul keterkaitan isu-isu sosial,

lingkungan, dan ekonomi. Indonesia merupakan salah satu negara yang

menyepakati rencana aksi global tersebut dan menjadikan ketujuh belas tujuan


SDGs sebagai prioritas utama. Namun, dalam essay ini Penulis hanya akan meng-

highlight salah satu dari tujuh belas tujuan SDGs, yaitu tujuan ke-4, Pendidikan

Bermutu (Quality Education). Tujuan ini berarti negara harus mampu menjamin

pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan merata, serta meningkatkan kesempatan

belajar sepanjang hayat untuk semua masyarakat pada tahun 2030 mendatang.

Dalam aspek pendidikan formal, Indonesia masih memiliki banyak PR

yang perlu diperbaiki. Seperti pemerataan pendidikan, akses sarana dan prasarana

sekolah, hingga kualitas di dalam sistem pendidikan itu sendiri. Seperti yang kita

semua ketahui sebagai para survival, selama dua tahun terakhir, hampir semua

kegiatan terpaksa harus dilakukan dari rumah sebagai bentuk usaha preventif dalam

menghadapi situasi pandemi. Salah satu hal yang juga dilakukan dari rumah adalah

kegiatan belajar mengajar. Sebagian besar kegiatan belajar mengajar yang dialihkan

menjadi online ini secara tidak sengaja telah menciptakan peluang kecurangan yang

semakin bengkak dalam dunia pendidikan. Budaya curang ---yang paling sering

terjadi dalam bentuk menyontek--- sendiri umumnya terjadi karena Pelaku merasa

ada kesempatan untuk melakukan kecurangan tersebut. Selama pembelajaran

dilakukan jarak jauh, kesempatan bagi siswa atau pun mahasiswa untuk menyontek

atau berbuat curang menjadi lebih besar sebab melonggarnya peran para guru/dosen

dalam mengawasi siswa/mahasiswa mereka. Tak bisa dipungkiri bahwa secara

historis, kegiatan menyontek di Indonesia memang sudah membudaya sejak lama.

Namun, kondisi pandemi membuat kebiasaan ini kian hari kian menjadi hal yang

dianggap biasa. Siswa yang sebelumnya tidak menyontek, jadi menyontek, dan

siswa yang memang sudah terbiasa menyontek justru semakin menjadi-jadi. Jika

tetap dibiarkan begitu saja tanpa adanya tindakan lebih lanjut, hal ini akan sangat

mempengaruhi mental para penerus bangsa. Akan jadi seperti apa bangsa Indonesia

apabila generasi penerusnya adalah orang-orang yang menormalisir kecurangan?

Sadar atau tidak, kecurangan besar dimulai dari kecurangan-kecurangan kecil yang

dinormalisasi. Oleh sebab itu, penulis beranggapan jika hal tersebut terus dibiarkan

tanpa adanya suatu perubahan atau tindakan yang tegas, maka masa depan bangsa

berada dalam bahaya. Penulis menekankan betapa tingginya urgensi terhadap kasus

kecurangan di dunia Pendidikan di Indonesia, sebab identitas suatu bangsa

terbentuk dari karakter individu-individu di dalamnya.


Sebagai salah satu upaya untuk mencapai Pendidikan Bermutu di

Indonesia pada tahun 2030, Penulis ingin menyampaikan sebuah inovasi sebagai

bentuk sinergi bangsa agar dapat segera mengikis kecurangan dalam dunia

pendidikan. Bagaimana caranya? Saat ini, ada banyak sekali platform online yang

digunakan untuk pembelajaran, seperti Google Classroom, Zoom Meeting, Google

Meet, dan lain-lain. Namun, tak satu pun dari platform tersebut yang dapat

menjamin kejujuran siswa dalam proses belajar mengajar, khusunya pada saat

ujian. Maka dari itu, kaum milenial dari kalangan ahli dapat bekerja sama dengan

pemerintah dan semua stakeholder terkait untuk membuat sebuah aplikasi ujian

yang didukung dengan kecerdasan buatan. Yang mana aplikasi ini dapat menjamin

kemurnian dalam setiap ujian yang dilakukan sehingga dapat mengurangi angka

kecurangan dalam dunia pendidikan.


Menurut Whitby, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan

adalah studi tentang perilaku kecerdasan pada manusia, hewan, dan mesin,

kemudian perilaku tersebut direkayasa menjadi artefak, seperti komputer dan

teknologi terkait komputer. Dari definisi tersebut, jelas bahwa kecerdasan buatan

adalah teknologi yang berhubungan dengan komputer, mesin, dan inovasi serta

perkembangan teknologi komunikasi informasi, yang mana AI dapat memberikan

komputer kemampuan untuk melakukan fungsi yang mirip dengan manusia.

Dari berbagai jenis ujian yang sering digunakan di Indonesia, hanya ada

satu jenis ujian yang tidak memungkinkan bagi pelajar/mahasiswa untuk

melakukan kecurangan, yakni ujian secara lisan. Sayangnya, ujian lisan sendiri

memiliki kekurangan dalam hal efisiensi waktu. Oleh karena itu, Penulis

memperkenalkan GO-GEN (Gold Generation), sebuah aplikasi ujian berbasis AI

yang berperan seperti guru dalam ujian lisan. Aplikasi ini dapat meningkatkan

efektifitas dan efisiensi dalam setiap ujian yang berlangsung. Waktu yang

digunakan akan relatif lebih singkat, dan kecurangan dapat diatasi.


Dalam aplikasi GO-GEN disertakan teknologi kecerdasan buatan yang

mampu melihat, mendengar, bahkan merekam serta menganalisis jawaban dalam

bentuk suara berdasarkan kata kunci yang telah disediakan. Dalam aplikasi GO-

GEN, akan ada dua jenis ujian yang dapat dilakukan, yakni pilihan ganda secara

lisan dan ujian lisan. Alur penggunaan aplikasi pun dirancang seminimalis mungkin

agar mudah digunakan. Ketika GO-GEN dijalankan, pengguna wajib mendaftar dan

memilih role: sebagai guru/dosen dan sebagai siswa/mahasiswa. Sebagai pengajar,

terdapat beberapa fitur yang dapat digunakan, seperti penginputan soal, input kunci

jawaban atau kata kunci jawaban, daftar nilai, serta fitur monitoring ujian.

Sementara bagi pelajar akan disediakan menu ujian dan evaluasi nilai. Setelah

memilih peran, Pelajar akan diarahkan untuk melengkapi data diri, termasuk

mendaftar fitur pengenalan wajah. Hal ini sama seperti sistem yang dimiliki

beberapa jenis ponsel, yang mana GO-GEN akan mengingat wajah pemilik akun

yang telah terdaftar.


Sebelum memulai ujian, pelajar diwajibkan menghadap ke layar

dengan posisi wajah lurus, sesuai dengan arahan yang telah disediakan dari aplikasi.

Selama ujian berlangsung, pelajar tidak diperkenankan berpindah posisi, sebab

aplikasi secara otomatis tidak akan membaca hasil jawaban apabila ada indikasi

yang tidak sesuai dengan peraturan, yakni salah satunya pergeseran wajah di luar

batas yang ditentukan.


Masuk dalam fitur ujian, siswa perlu memasukkan kode soal yang

diberikan oleh pengajar terlebih dahulu. Sepanjang ujian berlangsung, sistem

aplikasi akan merekam wajah dan suara pelajar, kemudian langsung menyimpannya

di database mereka. Dengan teknologi kecerdasan buatan, aplikasi ini dapat secara

otomatis menganalisis jawaban pelajar berdasarkan kata kunci yang telah diinput

pengajar sebelumnya. Hal ini memungkinkan ujian dalam bentuk lisan yang hemat

waktu. Sementara untuk ujian dalam bentuk pilihan ganda kurang lebih memiliki

alur yang sama, hanya saja dalam ujian ini, pelajar cukup menyebutkan pilihan

gandanya saja. Sistem akan merekam ujian yang sedang berlangsung secara live

dan dapat dimonitor oleh Pengajar. Untuk lebih menjamin kejujuran, pengajar dapat

menentukan sendiri durasi soal berdasarkan bobot masing-masing soal yang telah

mereka buat. Pengajar juga dapat menyaksikan sendiri pergerakan nilai

siswa/mahasiswanya melalui fitur monitor. Setelah sesi ujian berakhir, pelajar dapat

langsung melihat nilai dan pembahasan terkait ujian yang telah diselesaikan. Hal

ini memungkinkan adanya transparansi yang jelas, sehingga jika dirasa ada yang

tidak sesuai, hal itu bisa segera dibahas bersama pengajar.


GO-GEN tetap sangat efektif untuk digunakan meski pembelajaran

telah sepenuhnya dilakukan secara langsung (offline). Sebab keberadaan aplikasi

tersebut dapat membantu pengajar dalam hal efisiensi waktu dan efektifitas ujian.

Penulis optimis bahwa dengan adanya GO-GEN, Indonesia pasti mampu menekan

dan mengurangi angka kecurangan di dunia Pendidikan secara signifikan sehingga

menghasilkan pelajar-pelajar yang jujur dan bermental juara. GO-GEN adalah

jawaban untuk memutus rantai kecurangan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Penulis yakin bahwa Indonesia belum terlambat untuk mengakhiri budaya

menyontek atau curang yang merajalela. Dalam pengimplementasiannya sendiri,

GO-GEN memerlukan kerjasama yang kuat dari tiap stakeholder terkait, mulai dari


Pemerintah, instansi Pendidikan, Pengajar, hingga masing-masing individu Pelajar

itu sendiri. Untuk mencapai Indonesia Emas, Generasi Emas pula lah yang harus

dijaga terlebih dahulu, baik dari intelektualnya, pola pikirnya, hingga tindakannya.

GO-GEN merupakan implementasi dalam mewujudkan Pendidikan Bermutu di

Indonesia pada Tahun 2030 mendatang.


---

Salam Peneliti Muda!

Untuk hasil karya yang lebih lengkap dapat menghubungi:

Instagram: @ukmpenelitianunila

Email: ukmpenelitianunila@gmail.com / ukmpunila@gmail.com

Youtube: UKM Penelitian Unila

Tiktok: ukmpunila

0 comments:

Posting Komentar

Postingan Populer