Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Mei 2017

STRATEGI IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM MENANAMKAN JIWA INTEGRITAS PADA PASUKAN TNI-AL

STRATEGI IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM MENANAMKAN JIWA INTEGRITAS PADA PASUKAN TNI-AL


Oleh :
Toni Chanigia
Abstrak

Kondisi laut yang mencapai dua per tiga luas wilyah Indonesia memunujakan diperlukanya meningkatkan kualitas TNI-AL dalam menjaga kedaulatan khusunya area laut. Demi meningkatkan integritas tersebut pemerintah melakukan gebrakan dengan meningkatkan anggaran TNI Angkatan Laut untuk melengkapi persenjataanya dan melengkapi kapal-kapal yang berfungsi untuk melakukan operasi serta pengawasan terhadap laut Indonesia. Namun persenjataan yang lengkap belum terasa cukup untuk meningkatkan integritas TNI-AL. Hal yang paling utama meningkatkan pasukan TNI-AL adalah pondasi pasukan yang jujur, amanah, berjiwa pemimpin, berwibawa, dan cerdas. Apa lagi melihat pemberitaan belakang ini mengenai terseretnya anggota TNI-AL oleh beberapa kasus seperti gratifikasi, penyelundupan BBM, pelanggaran HAM, dan tindak asu sila menunjukan perlu adanya lebih penekanan penanaman moral. Penanaman moral dalam pasukan TNI-AL dapat dilakukan dengan menginternalisasi ajaran Ki Hajar Dewantara seperti ajaran pendidikan karakter, agama, pendidikan tanpa politik, serta menanamkan tiga semboyan besar Ki Hajar Dewantara.
Adapun hal-hal yang akan dicapai dalam penulisan karya tulis ini yaitu berupa memberikan indentifikasi nilai-nilai Ajaran Ki Hajar Dewantara yang dapat diaplikasikan dikalangan anggota TNI-AL dan menggambarkan program pengaplikasian nilai-nilai Ajaran Ki Hajar Dewantara yang dapat diterapkan dikalangan anggota TNI-AL.
Penerapan ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara dapat dilakukan dari proses seleksi calon anggota TNI-AL dengan mengunakan sistem penilaian transparan untuk menghindari terjadi politik uang. Kemudian dalam tahap pendidikan calon anggota TNI-AL dapat ditanamkan pendidikan agama dan pendidikan karakter. Demi benar-benar mendapatkan pasukan yang integritas yang tinggi bisa diberlakukan sistem kontrak untuk melihat hasil tindakan selama terjun langsung kelapangan. Dari sistem ini baru akan didapat pasukan dengan integritas tinggi dan siap mengemban tugas negara. Selanjutnya dalam menjalankan tugas, TNI-AL juga perlu menanamkan nilai-nilai arti tiga semboyan Ki Hajar dewantar yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Dengan penerapan nilai-nilai tersebut akan dihasilakan pasukan yang handal dan disegani dunia.

Kata Kunci : Integritas, Pendidikan Moral, Ajaran Ki Hajar Dewantara

Versi full disini

INTERNALISASI AJARAN KI HAJAR DEWANTARA SEBAGAI UPAYA PENANANAMAN JIWA ANTIKORUPSI

INTERNALISASI AJARAN KI HAJAR DEWANTARA SEBAGAI
UPAYA PENANANAMAN JIWA ANTIKORUPSI


Oleh :
Toni Chanigia

Budaya korupsi semakin menjangkiti kehidupan birokrasi dan peran eksekutif Indonesia. Kewenangan dan peran yang dijalankan lembaga – lembaga anti-korupsi belum efektif karena kurang terintegrasinya kerjasama yang dijalin antar lembaga- lembaga tersebut. Peran pelajar sangat dinantikan demi mewujudkan cita – cita Indonesia yang bersih dari tindak pidana korupsi (tipikor). Bertahun – tahun lalu, Bapak Ki Hajar Dewantara mengajarkan kata – kata mutiara yang seharusnya diaplikasikan pada saat ini, yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Selain tiga semboyan tersebut, masih banyak sekali nilai-nilai ajaran Ki Hajar Dewantara yang diterapkan pada saat ini sehingga membantu penanaman nilai antikorupsi.


Versi full download disini dan disini

Senin, 27 Februari 2017

Bahan Bakar Minyak dari Oli Bekas

MENGUBAH OLI BEKAS MENJADI BAHAN BAKAR MINYAK



KARAKTERISTIK OLI BEKAS


Kemajuan teknologi diberbagai bidang telah mempermudah kegiatan manusia dalam melakukan aktivitasnya, terutama kemajuan dibidang teknologi mesin. Hampir semua masyarakat menggunakan teknologi mesin setiap harinya, seperti berkendara dengan mobil atau sepeda motor, menggiling padi, dan lain-lain. Dalam pemakaianya, mesin-mesin kendaraan dan perusahaan memerlukan minyak pelumas atau yang sering disebut oli. Minyak pelumas adalah suatu zat yang berada atau disisipkan diantar dua permukaan yang bergerak secara relatif  agar dapat mengurangi gesekan antara dua permukaan. 

Sejalan dengan banyaknya mesin-mesin yang menggunakan minyak pelumas membuat jumlah limbah pelumas bekas meningkat. Tercatat setiap hari bengkel-bengkel mobil dan motor setiap harinya menghasilkan oli bekas rata-rata 26,4 liter (Wikipedia, 2011). Banyaknya minyak pelumas bekas atau oli bekas yang dihasilkan dari kendaraan bermotor dan mobil sering kali menimbulkan permasalahan baru. Penanganan minyak pelumas atau oli yang sudah tidak terpakai seringkali dilakukan dengan cara asal-asalan (dengan cara disimpan atu dibuang sembarangan), dan cenderung terabaikan. Minyak pelumas bekas sendiri sebenarnya mengandung sejumlah sisa hasil pembakaran yang bersifat asam dan korosif, deposit, dan logam berat yang bersifat karsinogenik. Berdasarkan kandungan dan sifatnya, pelumas bekas termasuk kategori limbah “ Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) “ yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (Wahyuni sri, 2012).

Minyak pelumas atau oli adalah minyak pelumas mesin kendaraan maupun mesin produksi. Berdasarkan data yang diperoleh, kapasitas oli yang diproduksi oleh Pertamina adalah sekitar 450.000 kilo liter per tahun, belum lagi tambahan kapasitas dari ratusan merek oli yang membanjiri pasaran pelumas tanah air, untuk konsumsi kendaraan bermotor, industri dan perkapalan.

Secara umum terdapat dua macam minyak pelumas bekas yang dihasilkan. Pertama, minyak pelumas industri (Light Industrial Oil). Pelumas bekas industri relatif lebih bersih dan mudah dibersihkan dengan perlakuan sederhana, seperti penyaringan dan pemanasan. Kedua, minyak pelumas hitam berasal dari pelumasan otomotif. Pelumas ini dalam pemakaimya mendapat beban termal dan mekanis yang lebih tinggi. Dalam oli hitam terkandung pertikel logam dan sisa pembakaran.

Setelah pemakaian beberapa lama sifta-sifat fisik dan kimia minyak pelumas akan mengalami perubahan karena temperatur yang tinggi dan tekanan sehingga tidak memenuhi persyaratan lagi sebagai pelumas, terutama viskositasnya yang terlalu rendah. Sesudah dilakukan proses pembersihan dari kotoran, minyak pelumas diharapkan mempunyai karakteristik yang mirip dengan bahan bakar diesel light diesel oli (Wahyu PR, 2007).

Pelumas atau oli bekas mengandung sejumlah zat yang bisa mengotori udara, tanah dan air. Minyak pelumas bekas mengandung logam, larutan klorin, dan zat-zat pencemaran lainya. Satu liter minyak pelumas bekas dapat merusak jutaan liter air segar dari sumber air dalam tanah.

Beradasarkan, kriteria limbah yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup, minyak pelumas bekas termasuk ketegori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Meski minyak pelumas bekas masih dapat dimanfaatkan, tapi bila tidak dikelola dengan baik maka bisa membahayakan lingkungan (Wahyuni sri, 2012).

Untuk lebih lanjut limbah bekas untuk oli bekas juga diatur dengan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) No. KEP-225/BAPEDAL/08/1996 tentang syarat-syarat penyimpangan dan pengumpulan limbah oli bekas jika tidak dikelola dengan baik dan dibuang secara sembarangan sangat berbahaya bagi lingkungan. (Sumber : wikipedia.org/wiki/Minyak_bumi, 2012)

Sebenarnya jika dikaji lebih jauh lagi pelumas atau oli bekas yang dihasilkan oleh bengkel-bengkel kendaraan bermotor maupun industri produksi dapat dipakai menjadi alternatif bahan bakar, mengingat karakteristik setelah dilakukan proses pembersihan dari kotoran mirip dengan light diesel oil (Wahyu PR, 2007). Minyak pelumas yang dipanaskan pada suhu tinggi dalam keadaan tanpa oksigen menyebabkan oli terpecah menjadi berbagai campuran gas, cairan, dan material padat. Gas-gas dan cairan dapat diubah menjadi bahan bakar. Namun proses tradisional tidak dapat memanaskan oli secara merata sehingga proses perubahan menjadi bahan bakar menjadi sulit. Pada penelitian yang sudah dilakukan digunakan H2SO4 untuk mengubah minyak pelumas bekas menjadi solar. H2SO4 ini berfungsi sebagai pemecah partikel-partikel kotoran dalam minyak dan pemerata panas dalam proses pembakaran. Dalam proses pengolahan minyak pelumas bekas menjadi bahan bakar solar menggunakan H2SO4 ternyata membutukan biaya pembuatan Rp 46.750,- setiap 1  liter minyak pelumas bekas yang diolah. Hal ini terjadi karena harga H2SO4 sendiri cukup mahal dan membutuhkan bahan tambahan lainnya seperti lempung aktif 300 gram dan minyak tanah sebanyak 1,5 liter. Kemudian hasil solar dari pengolahan H2SO4 ini juga belum bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermesin. Selain harga pengolahan yang digunakan cukup mahal, ternyata H2SO4 sendiri termasuk dalam bahan kimia berbahaya yang jika digunakan terus-menurus akan menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan.

METODE MEMANFAATKAN OLI BEKAS (METODE ASAM SULFAT)


Minyak pelumas bekas yang sudah dilakukan pembersihan dari kotoran memiliki karakteristik yang mirip dengan LDO (Light Diesel Oil). Namun proses pembersihan minyak pelumas bekas dari kotoran terbilang sulit, seperti proses menggunakan bahan kimia misalnya asam. Minyak pelumas bekas setelah dididihkan awal, dicampur dengan asam. Beberapa asam yang dapat digunakan asam fluoride, asam klorida, asam nitrat, asam fosfat, asam sutfat dan asam hipoklorit. Yang umumnya digunakan adalah asam sulfat dan dan asam hipoklorit. (James G. Speight, 1980).

Tahap pertama, daur ulang oli bekas dengan menggunakan asam kuat untuk memisahkan kotoran dan aditif dalam oli bekas. Selanjutnya dilakukan pemucatan dengan lempung. Produk yang dihasilkan ini bersifat asam dan tidak memenuhi syarat.

Tahap kedua, campuran pelarut alkohol dan keton digunakan untuk memisahkan kotoran dan aditif dalam oli bekas. Campuran pelarut dan pelumas bekas yang telah dipisahkan di fraksionasi untuk memisahkan kembali pelarut dari oli bekas. Kemudian dilakukan proses pemucatan dan proses blending serta reformulasi untuk menghasilkan pelumas siap pakai.

Tahap ketiga, pada tahap awal digunakan senyawa fosfat dan selanjutnya dilakukan proses perkolasi dan dengan lempung serta diikuti proses hidrogenasi. Dalam proses pengolahan minyak pelumas bekas ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang masih terkandung di dalamnya, agar menjadi lebih steril dan akhirnya menghasilkan olahan yang baik, untuk dicampur dengan minyak tanah sehingga menghasilkan bahan bakar minyak yang sesuai atau mendekati spesifikasi bahan bakar minyak berdasarkan SK dirjen Migas No.3675K/24/DJM/2006. Namun hasil bahan bakar minyak dari olahan ini belum bisa digunakan dalam mesin karena masih perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam. Maka kita perlu mengetahui cara proses pengolahan minyak pelumas bekas sesuai dengan petunjuk yang ada (Sumber: Mukhibin.,STT,M.Eng, 2011).

MENGUBAH OLI BEKAS MENJADI MINYAK MENGGUNAKAN BELIMBING WULUH


Dalam kehidupan sehari-hari minyak pelumas bekas menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang berbahaya. Minyak pelumas bekas sendiri termasuk dalam kategori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Minyak pelumas mengandung sejumlah sisa hasil pembakaran yang bersifat asam dan korosif, deposit, dan logam berat yang bersifat karsinogenik. Sehingga dalam proses pengolahan minyak pelumas bekas menjadi bahan bakar minyak diperlukan senyawa bersifat asam. Salah satunya asam yang digunakan adalah ekstrak buah belimbing wuluh (Averrhoa belimbi). Asam dalam ekstrak buah belimbing wuluh ini dapat menjadi elektrolit yang bersifat dapat mengikat material, hal ini dibuktikan melalui asam belimbing wuluh dapat menggantikan elektrolit dalam batu baterai. 

Tahap pertama pembuatan minyak pelumas bekas menjadi bahan bakar minyak adalah proses pemanasan minyak pelumas bekas atau oli yang bertujuan membuat oli terpecah menjadi beberapa campuran gas, cairan, dan material padat. Minyak pelumas bekas ditakar sebanyak 1 liter kemudian dilakukan pemanasan dengan suhu antara 80°C sampai 100°C. Dalam proses pemanasan ini perlu dilakukan pencampuran sari buah belimbing wuluh sebanyak 200 mL. Ekstrak buah belimbing akan berfungsi untuk meratakan suhu pemanasan keseluruh bagian oli sehingga dengan pemanasan sampai gelembung-gelembung hilang. Selain itu, penambahan sari buah belimbing wuluh bertujuan untuk mengurangi kandungan senyawa olefin, aromatic maupun senyawa nonhidrokarbon yang terdapat dalam minyak pelumas bekas (Mukhibin, 2011). Proses pemanasan ini bertujuan untuk menghilangkan air yang melarut dan material yang mudah menguap seperti fraksi ringan minyak bumi di dalam minyak pelumas bekas. Terdapatnya air yang melarut dalam minyak pelumas bekas akan menyebabkan terjadinya emulsi, sehingga mengganggu proses selanjutnya. Saat proses pemanasan selesai, minyak pelumas bekas yang telah masuk tahap pemanasan akan diendapkan selama 24 jam. Kemudian pisahkan dengan cara disaring endapan dan minyaknya untuk proses selanjutnya. 

Minyak yang didapatkan dari hasil penyaringan pertama masih memiliki karakter seperti minyak pelumas bekas sebelumnya yaitu berwarna coklat kehitaman dan viskositasnya masih tinggi. Hal ini disebabkan karena masih adanya kandungan aspal yang ada di dalam minyak tersebut. Untuk memperbaiki karakteristik minyak tersebut, maka dilakukan penambahan lempung aktif pada pengolahan minyak pada tahap kedua. Penambahan lempung ini bertujuan untuk mengendapkan kotoran, aspal, mengabsorb senyawa sulfur dan memperbaiki warna.(Purwono, 1999 dimuat dalam Mukhibin, 2011). Setelah proses pencampuran minyak pelumas bekas dengan lempung, dilakukan proses pemanasan kembali selama ± 10 menit dengan pengadukan pelan-pelan (dalam suhu antara 80°C sampai 100°C) . Kemudian setelah proses pemanasan, dilakukan pengendapan selama 24 jam. Dalam proses pengendapan ini akan mengangkut minyak ke atas dan aspal beserta kotoran-kotoran lain turun ke bawah mengendap, sehingga akan mendapatkan hasil minyak yang sudah terpisah dari aspal dan kotoran-kotoran yang terkandung dalam minyak sebelumnya. Karakteristik warna dari hasil proses tahap kedua ini yaitu minyak berwarna kuning kegelapan, beserta kekentalan minyak yang sudah tidak terlalu kental.. 

Minyak yang dihasilkan dari beberapa proses di atas belum memenuhi standar bahan bakar minyak rumah tangga, terutama pada kualitas warna dan kekentalan. Untuk menyempurnakan hasil minyak pelumas bekas menjadi bahan bakar minyak rumah tangga (MRT) perlu dilakukan proses blending. Proses blending digunakan untuk mendapatkan bahan bakar minyak rumah tangga (MRT) yang sesuai standar. Dalam proses blending ini menggunakan minyak plastik sebagai campurannya. Minyak plastik didapatkan dari pengolahan sampah plastik non-biodigredable. Plastik ini dibuat oleh industri plastik menggunakan bahan dasar minyak bumi, oleh karena itu plastik ini dapat di re-making kembali menjadi minyak, yakni minyak plastik. Proses pembuatan minyak plastik ini yaitu pertama dengan memanaskan plastik hingga meleleh, pada saat pemanasan sudah melampaui titik didih lelehan plastik, maka plastik tersebut akan berubah menjadi vapor atau uap. Uap yang dihasilkan akan mengalir melalui pipa yang terhubung dengan tempat pemanasan, uap akan melalui ruang kondensor. Di dalam kondensor yang berisikan air dingin/es batu, akan terjadi proses pendinginan yang mengakibatkan vapor atau uap tadi berubah wujud menjadi liquid berupa minyak plastik. Minyak plastik yang digunakan dalam blending yaitu 25% dari jumlah minyak pelumas bekas. Minyak plastik yang berkarakteristik berwarna bening, dan memiliki viskositas yang rendah, maka saat proses blending dengan minyak hasil pengolahan pelumas bekas atau disebut dengan minyak inovasi akan memperbaiki kekentalan dan warna dari minyak inovasi tersebut. Setelah proses blending ini selesai, akan didapat minyak rumah tangga (MRT) yang bewarna kuning terang dan menyala terang.

SUMBER PUSTAKA


Mukhibin., ST, M.Eng. 2011. Mengubah Oli Bekas Menjadi Solar. Yogyakarta: Pustaka Solomon.

Wahyu P R. 2007. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi Pemanfaatan Tea (Three Ethyl Amin) Dalam Proses Penjernihan Oli Bekas Sebagai Bahan Bakar Pada Peleburan Alumunium The Use Of Tea (Three Ethyl Amin) In Ex-Oil Filering Process As The Material For Alumunium Melting. Jurusan Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret.

Wahyu P R. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi Pemanfaatan OLi Bekas Dengan Pencampuran Minyak Tanah Sebagai Bahan Bakar Pada Atomizing Burner The Usu Of Trace Oil With Petroleum Blanded As Fuel In Burner Atomizing, Jurusan Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret.

Wahyuni sri. 2012. Macam-Macam Minyak Bumi. wikipedia.org/wiki/Minyak_bumi (diakses 28 Oktober 2014).

VERSI FULL DISINI

By: Toni Chanigia

Jumat, 03 Februari 2017

TEKNOLOGI PENGUSIR TIKUS (SANGAT PENTING UNTUK PETANI)

By: Toni Chanigia
Sumber: Kabartani.com

Teknologi Ampuh Pengusir Tikus (Sangat Penting Untuk Petani)


PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau. Keanekaragaman alam, budaya dan suku bangsa menjadi ciri khas di Indonesia. Namun selain itu, Indonesia juga disebut sebagai agraris. Hal ini dikarenakan penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani pada umumnya (Sugiati,2004). Hasil pertanian yang dihasilkan banyak sekali contohnya, seperti padi, jagung, singkong, sagu dan lain-lain. Dari sekian aneka ragam produk pertanian, padi adalah salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Tentu tidak heran karena beras berperan menjadi makan pokok rakyat Indonesia. Maka produksi padi di Indonesia harus dipertahankan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia. Apalagi dengan profesi sebagian besar sebagai petani, maka tingkat konsumsinya cukup tinggi karena membutuhkan energi yang sangat banyak.

Tanaman padi di Indonesia sangat bergantung dengan musim. Jadi, membutuhkan waktu 3-4 bulan untuk menunggu atau menuliskan usia panen (Sunarto, 2007). Dalam proses penanaman padi membutuhkan beberapa tahap atau proses hingga pemanenan. Pertama adalah membuat bibit padi dengan proses penyemaian. Seiring dengan masa pembibitan, dibuat lahan tempat penanaman padi. Setelah bibit padi siap tanam, maka bibit padi siap ditanam (Wikipedia, 2009). Tentu tidak hanya menunggu begitu saja untuk menunggu hasil panen. Membutuhkan perawatan supaya hasil padi yang diperoleh maksimal. Banyak gulma ataupun hama yang mengganggu proses pertumbuhan padi yang dapat menurunkan tingkat produksi padi. Tindakan seperti penyemprotan atau mencabut gulma sangat penting dalam tahap ini. Selain itu, hama padi seperti wereng, walang sangit, kepik, burung, tikus dan lain-lain menjadi hama pemakan padi yang mulai tua (Supriyadi, 2009). Untuk menangani masalah tersebut, para petani perlu melakukan penyemprotan padi menggunakan obat hama atau membuat jebakan racun untuk memberantas hama-hama tersebut. Untuk hal ini, tikus menjadi hama yang paling sulit untuk diberantas.

Tikus adalah mamalia yang termasuk dalam suku Muridae. Spesies tikus yang paling dikenal adalah mencit (Mus spp.) serta tikus got (Rattus norvegicus) yang ditemukan hampir di semua negara (Wikipedia, 2011). Tikus sawah (Rattus argentiventer) sendiri adalah hama penting yang menyerang seluruh bagian tanaman padi (Winarti, 2007). Cara menyerangnya yaitu merusak tanaman padi pada semua fase tumbuh dari semai hingga panen, bahkan sampai penyimpanan. Serangan tikus di sawah sudah dimulai sejak benih disemai di pesemaian (Sukamto, 2007). Di sini tikus memakan biji-biji yang sedang berkecambah, akibatnya petani terpaksa menyemai ulang. Serangan kedua terjadi pada saat tanaman padi dalam fase anakan (vegetatif). Pada saat ini tikus mengerat anakan pada bagian pangkalnya untuk memakan bagian dalam (titik tumbuh). Serangan ketiga terjadi pada fase generatif, dimana serangan ini merupakan yang paling parah hingga dapat menyebabkan puso atau gagal panen, karena saat itu pembentukan anakan sudah berhenti dan dimulainya pembentukan bakal biji sampai panen sehingga tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru (Wikipedia, 2006).

Tikus menyerang padi malam hari, pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampunagn dekat sawah. Pada periode sawah bera, sebagian besar tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif (Irianto, 2007). Sebagai hewan pengerat (rodent) tikus sawah sering merusak tanaman padi dalam jumlah yang jauh melebihi kebutuhan makannya. Hal itu disebabkan tikus perlu "mengasah" gigi serinya yang selalu tumbuh agar senantiasa dalam ukuran yang pas (Irianto, 2000). Hal ini tentu meresahkan para petani. Hama pengerat ini muncul sebagai dampak dari terjadinya anomally iklim dengan cuaca tahun yang cenderung basah. Jika kawanan tikus sawah tidak segera dibasmi, maka kualitas padi yang dihasilkan menjadi buruk dan akan berimbas pada kuantitasnya pula sehingga menurunkan tingkat produksi padi oleh para petani karena pertumbuhannya terganggu.

TIKUS DI LAHAN PERTANIAN

Tikus sawah sebagian besar tinggal di persawahan dan lingkungan sekitar sawah. Daya adaptasi tinggi, sehingga mudah tersebar di dataran rendah dan dataran tinggi. Mereka suka menggali liang untuk berlindung dan berkembangbiak, membuat terowongan atau jalur sepanjang pematang dan tanggul irigasi.

Tikus sawah termasuk omnivora (pemakan segala jenis makanan). Apabila makanan berlimpah mereka cenderung memilih yang paling disukai, yaitu biji-bijian/padi yang tersedia di sawah. Pada kondisi bera, tikus sering berada di pemukiman, mereka menyerang semua stadium tanaman padi, sejak pesemaian sampai panen. Tingkat kerusakan yang diakibatkan bervariasi tergantung stadium tanaman.
Jumlah anak tikus per induk beragam antara 6-18 ekor, dengan rata-rata 10,8 ekor pada musim kemarau dan 10,7 ekor pada musim hujan, untuk peranakan pertama. Peranakan ke 2-6 adalah 6-8 ekor, dengan rata-rata 7 ekor. Peranakan ke 7 dan seterusnya, jumlah anak menurun mencapai 2-6 ekor, dengan rata-rata 4 ekor. Interval antar peranakan adalah 30-50 hari dalam kondisi normal.

Pada satu musim tanam, tikus betina dapat melahirkan 2-3 kali, sehingga satu induk mampu menghasilkan sampai 100 ekor tikus, sehingga populasi akan bertambah cepat meningkatnya. Tikus betina terjadi cepat, yaitu pada umur 40 hari sudah siap kawin dan dapat bunting. Masa kehamilan mencapai 19-23 hari, dengan rata-rata 21 hari. Tikus jantan lebih lambat menjadi dewasa daripada betinanya, yaitu pada umur 60 hari. Lama hidup tikus sekitar 8 bulan.

Sarang tikus pada pertanaman padi masa vegetatif cenderung pendek dan dangkal, sedangkan pada masa generatif lebih dalam, bercabang, dan luas karena mereka sudah mulai bunting dan akan melahirkan anak. Selama awal musim perkembangbiakan, tikus hidup masih soliter, yaitu satu jantan dan satu betina, tetapi pada musim kopulasi banyak dijumpai beberapa pasangan dalam satu liang/sarang. Dengan menggunakan Radio Tracking System, pada fase vegetatif dan awal generatif tanaman, tikus bergerak mencapai 100-200 m dari sarang, sedangkan pada fase generatif tikus bergerak lebih pendek dan sempit, yaitu 50-125 m dari sarang (Maspary,2010).

TEKNOLOGI STICK REGURATOR SPRAY

Perangkat teknologi Stick Regurstor Spray terdiri atas stick penyemprot, selang regulator, regurator gas, dan tabung gas LPG. Semua perangkat ini akan bekerja ketika gas mengalir melewati selang regulator, regurator gas, dan stick penyemprot sehingga akan menghasilkan api ketika terkena percikan api. Setiap perangkat yang digunakan memiliki fungsi yang berbeda-beda dan akan berfungsi sesuai dengan kebutuhan yang digunakan.

Tabung gas LPG merupakan tabung yang berfungsi untuk menampung gas hasil kilang gas sehingga dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga seperti memasak (Wikipedia, 2009). Komponen utama dalam gas LPG adalah gas propana (C3H8) dan gas butana (C4H10) kurang lebih 99 % serta selebihnya gas pentana (C5H10) yang dicairkan. Gas LPG memiliki karateristik lebih berat dari pada udara dengan berat jenis sekitar 2,01 (dibandingkan dengan udara) dan memiliki tekanan uap dalam tabung sekitar 5,0 – 6,2 Kg/cm2 (Sainti, 2010). Tabung gas yang digunakan dalam teknologi stick regurator spray adalah tabung gas LPG ukuran 3 Kg. Fungsi tabung gas LPG dalam teknologi ini adalag sebagai penyedia sumber energi dalam bentuk gas yang nantinya akan dikonversikan menjadi nyala api sehingga dapat digunakan untuk membakar belerang dalam membrantas hama tikus di area persawahan.

Pengertian regurator adalah alat pengatur tekanan yang berfungsi sebagai penyalur dan mengatur serta menstabilkan tekanan gas yang keluar dari tabung supaya aliran gas menjadi konstan (Rudianto, 2010). Jeni-jenis regurator cukup banyaka diantaranya regurator oxygen, regurator LPG, regurator acetylene, dan regurator CO2 (Supriyadi, 2006). Pada teknologi stick regurator spray menggunakan jenis regurator gas LPG. Untuk inovasi ini regurator gas LPG memiliki fungsi sebagai pengatur keluarnya gas dari tabung gas LPG. Regurator gas LPG fungsinya bersamaan dengan selang regulator. Gas yang keluar dari  regurator akan dihubungkan ke stick penyemprot menggunakan selang regulator sehingga gas akan keluar secara aman tanpa ada kebocoran. http://www.indonesiastudent.com/pengertian-karya-tulis-ilmiah-kriteria-contoh-menurut-ahli/

Stick penyemprot sendiri akan berfungsi sebagai pengarah atau penempat posisi keluarnya gas di lubang tikus. Stick penyemprot dapat dibuat dengan menggunakan besi silinder berongga dengan diameter rongga ± 0,5 cm dengan memberikan kran pengatur untuk mengatur gas keluar dan memberikan corong di ujung stick yang berfungsi sebagai penghalang angin supaya ketika api menyala tidak mati. Selain stick penyemprot dapat dibuat, stick  penyemprot dapat menggunakan barang bekas dari stick bekas tabung penyemprot yang banyak digunakan oleh petani. Namun stick bekas tabung penyemprot perlu dimodifikasi dengan memberikan corong penghalang angin di ujung stick.

PRINSIP KERJA STICK REGURATOR SPRAY

Teknologi stick regulator spray bekerja jika terdapat gas LPG yang bertindak sebagai sumber energi. Gas yang ada di dalam tabung gas LPG akan keluar karena ada tekanan dari regulator. Selanjutnya gas akan masuk kedalam selang regulator dan akan disalurkan ke stick penyemprot. Di stick penyemprot terdapat kran yang berfungsi sebagai pengatur keluarnya gas supaya dapat menimbulkan api. Ketika kran dalam keadaan off maka gas tidak dapat keluar dan ketika dalam keadaan on gas akan keluar menuju ujung stick yang dipasang corong penghalang angin. Kemudian gas yang keluar dipicu menggunakan korek api sehingga akan terbentuk kobaran api. Kobaran api tidak akan padam karena angin terhalang oleh corong dan api akan padam ketika kran dalam keadaan of. Ketika api sudah muncul dari stick penyemprot, letakan belerang di muka lubang rumah tikus  dan selanjutnya bakar belerang dengan meletakan corong stick di muka lubang rumah tikus. Belerang yang terbakar  akan membentuk gas CO dan gas racun lainnya sehingga tikus yang berada didalam lubang akan mati ketika menghirup gas hasil pembakaran belerang.

PENERAPAN TEKNOLOGI STICK REGURATOR SPRAY

Beras adalah makanan pokok seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Lampung Tengah. Oleh karena itu, tingkat konsumsi beras cukup tinggi. Banyak petani yang menanam padi pada lahan persawahannya. Hal ini dapat dilihat dari potensi lahan sawah yang setiap tahun dapat ditanami padi di Kabupaten Lampung Tengah pada tahun 2005 mencapai luas areal total 68.489 ha meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2003 (45.435 ha).  Total lahan sawah irigasi tehnis PU dan irigasi tehnis Non PU yang dapat ditanami dalam satu tahun pada tahun 2005, masing-masing adalah seluas 48.237 ha (di 23 Kecamatan) dan 2.379 ha (di 9 Kecamatan).  Sementara luas lahan sawah irigasi tehnis dan semi tehnis yang diusahakan dan dapat ditanami padi pada 2005, masing-masing adalah 41.727 ha (di 19 kecamatan) dan 2.843 ha (di 7 Kecamatan).  Luas lahan sawah tadah hujan, sawah pasang surut, sawah irigasi sederhana, dan sawah lebak yang diusahakan dan dapat ditanami padi pada tahun 2005, masing-masing mencapai 9.325 ha (ada di 19 Kecamatan), 711 ha (Kec. Way Sepitih dan Seputih Banyak), 3.667 ha (10 Kecamatan, terutama Kec. Sendang Agung, Padang Ratu, Anak Tuha, Kalirejo, dan Pubian) dan 7.837 ha (9 Kecamatan, terutama di Kecamatan Rumbia dan Seputih Surabaya) (Pertanian Lampung Tengah , 2013).  

Teknologi Stick Regulator Spray adalah teknologi inovasi dengan bahan berupa gas LPG dan belerang (batu gamping) sebagai pemberantas hama tikus sawah pada areal penanaman padi. Dengan teknologi ini, individu dapat memberantas hama tikus di area sawah ± 2 ha yang membutuhkan bahan gas LPG 3 Kg dan belerang secukupnya. Tentu dengan adanya teknologi tersebut sangat membantu petani padi dalam mengoptimalkan hasil panen sehingga meminimalkan tingkat kerugian. Teknologi ini dapat bekerja ketika regulator memberikan tekanan pada tabung gas. Kemudian gas yang keluar dari tabung akan menyalur pada selang regulator. Pada ujung selang regulator juga dipasang stick penyemprot yang dilengkapi dengan kran pengatur keluarnya gas. Kran ini dapat diposisikan off ataupun on. Jadi, setelah gas berada pada selang regulator, gas akan dilanjutkan pada stick tersebut. ketika kran berada pada keadaan off, maka gas tidak keluar dan ketika pada posisi on maka gas akan keluar. Teknologi Stick Regulator Spray tidak hanya dapat digunakan pada lahan persawahan, tetapi dapat digunakan pada area lain yang terserang hama tikus.

Individu yang sudah melakukan pemberantasan hama tikus dengan teknologi Stick Regulator Spray sebanyak satu kali, diharapkan mengobservasi keadaan lahan setelah dilakukan pemberantasan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hasil pemberantasan terhadap hama tikus. Jika masih terdapat tikus yang lolos dari pemberantasan pertama, maka individu dianjurkan untuk pemberantasan kedua hingga tidak ditemukan hama tikus lagi. Dengan prinsip teknologi Stick Regulator Spray, individu tidak perlu bersusah payah mengejar-ngejar tikus untuk dibunuh. Maka teknologi Stick Regulator Spray memiliki beberapa kelebihan, yaitu efisiensi waktu dalam proses pemberantasan, pembuatan teknologi tersebut lebih mudah, dapat digunakan berkali-kali, dana yang dikeluarkan lebih murah karena dapat menggunakan beberapa barang bekas, hasil pemberantasan hama tikus lebih optimal, dan efisiensi  tenaga untuk memberantas hama tikus. http://www.indonesiastudent.com/pengertian-karya-tulis-ilmiah-kriteria-contoh-menurut-ahli/

Terciptanya inovasi teknologi Stick Regulator Spray memberikan pengaruh yang sangat besar dalam dunia pertanian, khususnya petani padi. Karena dengan adanya teknologi tersebut, individu dapat mengoptimalkan hasil panen serta meminimalkan kerugian gagal panen akibat hama tikus yang merajalela pada area penanaman padi. Sehingga tingkat ketersediaan beras sebagai makanan pokok masyarakat Kabupaten Lampung Tengah dapat mengimbangi jumlah penduduk dikabupaten tersebut. Dan kelangkaan ataupun harga beras yang cukup tinggi dapat diatasi di Kabupaten Lampung Tengah. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa keberadaan teknologi Stick Regulator Spray sebagai pemberantas hama tikus sangat berpengaruh terhadap tingkat ketersediaan beras dan keberhasilan petani padi ketika panen. 

Salep Cangkang Keong Sebagai Pembeku Darah

By: Toni Chanigia

Fungsi Salep Cangkang Keong Sebagai Pembeku Darah



PENDAHULUAN

Hemofilia adalah suatu penyakit yang membuat darah seorang penderitanya sukar membeku ketika mengalami luka. Ini terjadi karena jumlah zat pembeku darah jenis tertentu kurang dari jumlah normal, bahkan hampir tidak ada. Pada orang normal, pembekuan darah memerlukan waktu ± 5–7 menit. Sementara, pada penderita hemofilia darah akan membeku dalam waktu 50 menit sampai 2 jam. Jika hal tersebut terjadi, maka penderita akan meninggal akibat kehabisan darah. Hemofilia disebabkan oleh gen resesif h yang terpaut pada kromosom-X. Gen H mengakibatkan sifat normal pada darah dan gen h merupakan penyebab hemofilia. Penderita hemofilia mayoritas adalah laki-laki, sangat jarang ditemukan penderita hemofilia perempuan karena bersifat semi-letal (Buku Sekolah Elektronik SMA XII, 2009).

Perlu dilakukan penanganan yang cepat kepada seorang penderita Hemofilia yang terluka, supaya orang tersebut tidak kehabisan darah. Penanganan luka pada penderita hemofilia yang terkenal adalah Replacement Therapy, yaitu pemberian zat atau faktor pembeku darah yang dibutuhkan penderitanya dalam bentuk tranfusi plasma. Proses terapi ini memerlukan biaya mahal untuk melakukannya,  dan dalam pemberian dosis serta jadwal terapi juga harus dibawah pengawasan dokter hematologi. Selain Replacement Therapy, penanganan luka dapat dilakukan dengan cara pemberian alkohol dengan menekan luka dalam waktu yang lama, namun hal ini tentu belum dapat menghentikan penderita hemofilia secara cepat. Penanganan menggunakan alkohol hanya membutuhkan sedikit biaya dan cara penanganannya mudah, tetapi penanganan ini hanya digunakan untuk pertolongan pertama dan tidak bisa dipastikan mutlak dapat menghentikan darah penderita hemophilia (World Federation of Hemophilia, 1998)

Selain permasalahan penghentian luka pada penderita hemofilia, saat ini keong mas ( Pomacea canaliculata L.) yang mayoritas berhabitat di persawahan ataupun lingkungan rawa sangat melimpah tetapi pemanfaatan hewan ini masih sangat kurang, sebagian besar petani menganggap keong mas hanya kumpulan hama yang menyerang tanaman mereka, dan petani banyak menggunakan moluscisida (bahan kimia pembunuh keong) untuk memusnahkannya. Hanya sebagian kecil masyarakat yang memanfaatkannya, misalkan dagingnya untuk pakan ternak seperti bebek, dan memanfaatkan daging keong itu untuk dijadikan lauk makan. Akan tetapi cangkang keong mas sampai saat ini sangat jarang dimanfaatkan, bahkan belum termanfaatkan dan hanya terbuang sia-sia. Cangkang keong mas memiliki kandungan nutrisi per 100 gram cangkang yaitu protein 2,94%, lemak 0,12 %, kalsium (dalam bentuk kapur atau kalsium karbonat) 30,35%, fosfor 0,19 % serta mineral lain (Bahrul Mahdi, 2013).

Selain cangkang keong mas, tanaman genjer atau yang bernama latin (Limnocharis flava) berhabitat di lingkungan rawa biasa dimanfaatkan sebagai sayur oleh masyarakat, tetapi dengan rasa yang sedikit pahit sebagian masyarakat enggan untuk memasaknya menjadi lauk. Tanaman genjer ini mengandung vitamin K atau yang dikenal juga dengan vitamin Koagulasi. Vitamin K ini juga berperan dalam proses pembekuan darah (Wikipedia, 2009)


Cangkang keong mas yang mengandung banyak kalsium dalam bentuk kalsium karbonat dan genjer yang mengandung vitamin K, zat-zat tersebut memiliki sifat koagulan dalam proses pembekuan darah saat terjadi luka, apabila manusia kekurangan ion Ca2+ dan vitamin K ini, maka akan terjadi gangguan dalam proses pembekuan darahnya. Sistematika jalannya pembekuan darah saat terluka yaitu darah keluar jika terjadi luka sehingga darah berhubungan dengan udara. Trombosit yang keluar bersama darah akan pecah karena bergesekan dengan luka dan mengeluarkan trombokinase atau tromboplastin. Dengan bantuan ion ion Ca2+, tromboplastin mengubah protrombin (Protrombin adalah senyawa globulin yang larut dalam plasma dan dibuat di hati dengan bantuan vitamin K. Kalau kekurangan vitamin K, pembentukan protrombin terganggu. Dengan demikian, proses pembekuan darah juga terganggu) dalam darah menjadi trombin. Trombin akan mengubah fibrinogen yang ada dalam darah menjadi benang-benang fibrin, yaitu berupa benang-benang halus yang menutup luka sehingga darah tidak keluar lagi (Buku Sekolah Elektronik SMA XI, 2009)

MEKANISME KERJA SALEP KEONG

Luka bukan suatu hal yang asing bagi manusia. Luka terjadi karena akibat dari sesuatu hal, akibat terkena goresan pisau misalnya. Luka yang terjadi pada manusia memiliki spesifikasi yaitu luka ringan seperti luka akibat goresan kecil dan luka berat seperti luka yang diakibatkan oleh kebakaran hebat. Luka yang terjadi biasanya akan mengakibatkan darah keluar dari dalam tubuh, intensitas banyaknya darah yang keluar tergantung dari luka yang terjadi pada manusia. Darah yang keluar dari tubuh ini akan memicu trombosit untuk segera membekukan darah tersebut, yaitu pada saat  darah keluar dan darah berhubungan dengan udara luar, trombosit yang keluar bersama darah akan pecah karena bergesekan dengan luka dan mengeluarkan trombokinase atau tromboplastin. Dengan bantuan ion ion Ca2+, tromboplastin mengubah protrombin (Protrombin adalah senyawa globulin yang larut dalam plasma dan dibuat di hati dengan bantuan vitamin K. Kalau kekurangan vitamin K, pembentukan protrombin terganggu. Dengan demikian, proses pembekuan darah juga terganggu) dalam darah menjadi trombin. Trombin akan mengubah fibrinogen yang ada dalam darah menjadi benang-benang fibrin, yaitu berupa benang-benang halus yang menutup luka sehingga darah tidak keluar lagi (Buku Sekolah Elektronik SMA XI, 2009).

Dalam proses pembekuan darah tidak hanya membutuhkan trombosit untuk membekukannya, tetapi juga membutuhkan unsur zat yang berasal luar tubuh, seperti ion Ca2+ dan vitamin K. Lama waktu dalam pembekuan darah luka ini berbeda-beda untuk setiap orangnya, karena tidak semua manusia memiliki zat pembeku atau koagulan dengan konsentrasi normal dalam darahnya. Beberapa manusia penderita penyakit yang terpaut kromosom seks, yaitu hemofilia. Hemofilia disebabkan oleh gen resesif h yang terpaut pada kromosom-X. Gen H mengakibatkan sifat normal pada darah dan gen h merupakan penyebab hemofilia. (Buku Sekolah Elektronik SMA XII, 2009).  tentu akan mengalami masalah yang besar jika manusia penderita hemofilia ini mengalami luka yang mengeluarkan darah. Penderita hemofilia yang terluka jika tidak segera dihentikan lukanya akan mengakibatkan kekurangan sel darah merah dalam jumlah yang besar, dampak buruk dari kejadian ini yaitu dapat mengakibatkan kematian bagi penderita. Contoh penanganan luka pada penderita hemofilia adalah Replacement Therapy, yaitu pemberian zat atau faktor pembeku darah yang dibutuhkan penderita hemofilia dalam bentuk tranfusi plasma. Proses terapi ini memerlukan biaya mahal untuk melakukannya,  dan dalam pemberian dosis serta jadwal terapi juga harus dibawah pengawasan dokter hematologi. Selain dengan terapi ini biasanya dalam penanganan luka juga dilakukan dengan cara pemberian alkohol seraya menekan luka dengan waktu yang lama, namun tentu saja hal ini belum tentu dapat menghentikan penderita hemofilia dengan cepat. Penanganan yang dengan alkohol ini hanya membutuhkan sedikit biaya dan cara penanganannya mudah, tetapi penanganan ini hanya digunakan untuk pertolongan pertama dan tidak bisa dipastikan mutlak dapat menghentikan darah penderita hemofilia. (World Federation of Hemophilia, 1998).

Di sisi lain saat ini cangkang keong mas, dimana mengandung kapur kalsium karbonat yang dapat digunakan untuk membekukan darah belum termanfaatkan. Kalsium yang terkandung dalam cangkang dapat dimanfaatkan untuk membantu mempercepat pembekuan darah dengan cara merubah protrombin menjadi thrombin (Wikipedia, 2010). Tanaman genjer yang pemanfaatannya hanya sebatas untuk sayur dan kurang diminati ternyata mengandung vitamin K (Rudianto, 2004). Vitamin K ini juga disebut vitamin koagulan yang berperan dalam pembentukan protrombin dan juga membantu mengubahnya menjadi thrombin (Wikipedia, 2010). Untuk menambah nilai daya guna dari cangkang keong mas dan tanaman genjer ini, penulis menciptakan suatu produk yang dapat digunakan untuk mempercepat proses pembekuan darah saat terjadi luka.

Cara pembuatan salep dari cangkang keong mas dan tanaman genjer cukup sederhana, yaitu dengan membuat serbuk cangkang keong mas dengan cara menumbuknya dan membuat estrak tanaman genjer dengan cara di blender. Setelah itu mencampurkan serbuk cangkang keong mas dan estrak tanaman genjer ke dalam vaselin. Kemudian campuran ini dipanaskan selama kurang dari 5 menit. Pemanasan ini bertujuan untuk melunakan serbuk cangkang keong mas supaya tidak kasar saat dioleskan ke luka dan pemanasan ini juga bertujuan mencampurkan semua bahan secara sempurna.

Fungsi kerja dari salep ini adalah mempercepat proses pembekuan darah yang dialami saat terjadi luka. Prinsipnya kalsium karbonat yang terdapat pada cangkang keong ini bersifat koagulan atau pembeku. Kalsium yang terkandung dalam cangkang ini cukup besar dan bertugas dalam pengubahan protrombin yang berfungsi untuk pembekuan darah menjadi trombin. Thrombin ini akan mengubah fibrinogen dalam darah menjadi benang-benang fibrin yang dapat menutup luka dan menggumpalkan darah sehingga darah tidak terus-menerus keluar dari luka tersebut (Buku Sekolah Elektronik SMA XII, 2009). Genjer yang digunakan dalam salep ini juga berfungsi dalam proses pembekuan darahnya. Vitamin K yang sebenarnya berfungsi membentuk protrombin dalam hati, dalam konsep salep ini, vitamin K dalam genjer ditambahkan untuk mempercepat pembekuan darah dengan cara membantu mengubah protrombin menjadi thrombin (Wikipedia, 2010), dengan penambahan kalsium dan vitamin K ini didapatkan hasil penyingkatan waktu dalam proses pembekuan darah luka.

Dalam pembuatan salep ini digunakan vaselin yang berfungsi sebagai lotion supaya salep mudah untuk dioleskan di kulit. Vaselin ini bersifat hidrofilik (bersifat suka air), sehingga selain salep ini mudah dioleskan di kulit, juga mudah untuk membersihkannya dengan menggunakan air, tidak seperti salep yang menggunakan bahan dasar zat yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) seperti lemak hewan dan minyak (Bahrul, 2012). Tujuan dari pemanasan saat pembuatan salep ini yaitu agar partikel-partikel zat yang dicampurkan dapat menyatu dengan baik.

Dari segi ekonomis, pembuatan salep cangkang keong mas dan tanaman genjer ini hanya membutuhkan biaya produksi kurang lebih Rp 5.800,- per 400 gram salep ( 100 gram cangkang keong mas, 100 gram genjer, 200 gram vaselin ), tentu saja apabila diperuntukan untuk penghentian darah luka penderita hemofilia yang darahnya sukar membeku atau mungkin membutuhkan waktu yang lama dalam pembekuan darahnya  yang biasanya menggunakan Replacement Therapy untuk menghentikan darahnya dan dilakukan oleh dokter ahli hematologi tentu akan lebih murah apabila menggunakan treatment salep keong mas dan genjer untuk menghentikan pendarahan lukanya. Dalam segi efisiensi waktu, pembuatan salep ini hanya memerlukan waktu yang relatif singkat, dan cara pembuatannya yang sederhana dapat diimplementasikan di ruang lingkup masyarakat luas.

Dengan berbagai keuntungan tersebut, diharapkan supaya masyarakat sadar untuk dapat memanfaatkan benda-benda yang terbuang dan dianggap kurang  berguna seperti cangkang keong mas dan tanaman genjer menjadi sesuatu produk yang bernilai lebih dan dapat digunakan sebagai pemercepat  penggumpal darah luka dengan cara diproduksi menjadi salep dengan bahan tambahan vaselin. Untuk prospek kedepan, salep ini dapat diproduksi secara masal supaya masyarakat penderita hemofilia pada khususnya dapat memperoleh cara untuk mempercepat pembekuan darahnya jika terjadi luka  dan tidak berujung pada akibat fatal akibat kehabisan banyak sel darah merah yaitu kematian. 

Versi full disini

Kamis, 02 Februari 2017

Remote Controler Ajaib ! ! !

By : Toni Chanigia

Receiver Cahaya Inframerah untuk Mengendalikan Perangkat Elektronik dengan Sembarang Remote Controle


Desain by: Sadina One Day

        PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi diberbagai bidang mempermudah kegiatan manusia dalam melakukan aktivitas. Terutama kemajuan dibidang elektronik telah ditemukan pengendali jarak jauh yang semakin memanjakan kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Beberapa peralatan elektronik rumah tangga dibuat dengan sistem pengendalian jarak jauh. Hal ini terjadi setelah ditemukanya sistem sensor, salah satunya sistem sensor cahaya inframerah. Inframerah adalah radiasi elektromagnetik dari dari panjang gelombang lebih panjang dari cahaya tampak, tetapi lebih pendek dari radiasi gelombang radio.
Radiasi inframerah memiliki jangkauan tiga order dan memeliki panjang gelombang 700 nm – 1 mm. Inframerah ditemukan secara tidak sengaja oleh  Sie William Herschel, seorang astronomi kerajaan Inggris,ketika dia sedang melakukan penelitian mencari penyaring bahan optik yang digunakan untuk kecerahan gambar tata surya matahari dalam teleskop (Wikipedia, 2011).
Inframerah memilki karateristik: tidak dapat dilihat oleh manusia, tidak dapat menembus materi yang tidak tembus pandang (tembus cahaya), dapat ditimbulkan oleh komponen yang menimbulkan panas, dan panjang gelombang inframerah memiliki hubungan berbanding terbalik dengan suhu (Burhan, 2010). Penerapan sistem sensor inframerah pada pengendalian jarak jauh pada dasarnya menggunakan inframerah sebagai media komunikasi yang menghubungkan antara dua perangkat. Dalam sistem komunikasi selalu terdiri transmitter (pengirim/pemancar) dan recever (penerima). Dalam kehidupan sehari-hari yang berfungsi sebagai pemancar inframerah adalah remote controle sedangkan yang berperan sebagai penerima perangkat elektronik seperti TV, AC, alarm, dll yang dikendalikan dengan sistem pengendali jarak jauh.

Tidak semua perangkat elektrik rumah tangga yang dibuat pabrikan menggunakan sistem pengendali jarak jauh contohnya lampu (lampu pijar maupun lampu neon), kipas angin. Dalam kehidupan sehari-hari ketika sedang beristirahat biasanya kita berada di ruang keluarga untuk menonton televisi dengan menggunakan penerangan lampu dan menghidupkan kipas angin. Ketika kita sedang tiduran beristirahat sering kali kita direpotkan untuk mematikan lampu dan atau kipas yang jauh dari jangkauan karena belum dilengkapi sistem pengendali jarak jauh.

        PRINSIP ALAT

    Receiver Cahaya Inframerah untuk Mengendalikan Perangkat Elektronik dengan Sembarang Remote Controle dapat menerima atau mendeteksi cahaya inframerah semua remote controle. Cahaya inframerah yang mengenai sensor akan memberikan tegangan low (0 Volt). Keluaran dari sensor TSOP 1738 akan mengaktifkan IC 4017 kemudian terjadi pola on/off yang akan mengantarkan arus listrik ke gerbang SCR (Silicon Controlled Rectifer) sehingga SCR menghantarkan arus listrik untuk mensuplai listrik ke perangkat elektronik sehingga perangkat elektronik bekerja atau sebaliknya.  

        PEMAKAIAN

Ketika perkembangan teknologi dibidang elektronik belum berkembang seperti saat sekarang, semua orang melakukan aktivitas pekerjaan secara manual. Untuk mengatasi masalah tersebut, ketika itu ditemukan pengendali jarak jauh yang semakin memanjakan kehidupan manusia. Beberapa peralatan elektronik rumah tangga di lengkapi dengan sistem pengendali jarak jauh. Sistem pengendalinya biasanya berupa sistem sensor, salah satunya sistem sensor cahaya inframerah.
Cahaya inframerah termasuk dalam gelombang elektromagnetik, selain gelombang–gelombang lainnya seperti: gelombang radio, gelombang mikro, cahaya/sinar tampak, sinar ultraviolet, sinar x, dan sinar gama. Sistem sensor  pada dasarnya menggunakan inframerah sebagai media komunikasi yang menghubungkan antara dua perangkat. Penerapan sistem sensor inframerah sangat bermanfaat sebagai pengendali jarak jauh, alarm keamanan, dan otomatisasi pada sistem. Adapun pemancar pada sistem ini terdiri atas sebuah LED (Lightemitting Diode) inframerah yang telah dilengkapi dengan rangkaian yang mampu membangkitkan data untuk dikirimkan melalui sinar inframerah, sedangkan pada bagian receiver (penerima) biasanya terdapat fototransistor, fotodioda, atau modulasi inframerah yang berfungsi untuk menerima sinar inframerah yang dikirimkan oleh pemancar.
Receiver yang digunakan oleh sensor infra merah adalah jenis fototransistor, yaitu jenis transistor bipolar yang menggunakan kontak (junction) base-collector untuk menerima atau mendeteksi cahaya dengan gain internal yang dapat menghasilkan sinyal analog maupun digital (Arifanto Deni, 2010). Fototransistor ini akan mengubah energi cahaya menjadi arus listrik dengan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan fotodioda ,tetapi dengan waktu respon yang secara umum akan lebih lambat daripada fotodioda. Hal ini terjadi karena transistor jenis ini mempunyai kaki basis terbuka untuk menangkap sinar,dan elektron yang ditimbulkan oleh foton cahaya pada junction ini di-injeksikan di bagian basis dan diperkuat dibagian kolektornya (Sardi, 2009).

Pada fototransistor, jika kaki basis mendapat sinar maka akan timbul tegangan pada basisnya dan akan menyebabkan transistor berada pada daerah jenuhnya (saturasi), akibatnya tegangan pada kaki kolektor akan sama dengan ground (Vout = 0 V). Sebaliknya jika kaki basis tidak mendapat sinar, tidak cukup tegangan untuk membuat transistor jenuh, akibatnya semua arus akan dilewatkan ke keluaran (Vout = Vcc ).
Dengan adanya sinar inframerah banyak berkembang kamera tembus pandang yang memanfaatkan sinar inframerah. Sinar inframerah memang tidak dapat ditangkap oleh mata telanjang manusia, namun sinar inframerah tersebut dapat ditangkap oleh kamera digital atau video handycam. Dengan adanya suatu teknologi yang berupa filter iR PF yang berfungi sebagai penerus cahaya inframerah, maka kemampuan kamera atau video tersebut menjadi meningkat. Teknologi ini juga telah diaplikasikan ke kamera handphone.
Kembali pada kehidupan sehari-hari disaat kita sedang beristirahat diruang keluarga terkadang kita merasa direpotkan untuk bangun dan berdiri untuk menghidupkan/mematikan lampu dan alat pendingin (kipas angin). Hali ini sangat berat sekali dilakukan disaat badan sudah lelah. Receiver cahaya inframerah untuk mengendalikan peralatan elektronik dengan sembarang remote controle dapat membantu kita mengendalikan peralatan elektronik sehingga kita dapat leluasa untuk beristirahat.
Hasil eksperimen penulis semua perangkat elektronik yang sudah terpasang receiver akan mendeteksi sinyal inframerah yang berfrekuensi 38 Khz. Karena setiap tombol remote controle memancarkan gelombang frekuensi inframerah yang berbeda, maka pengguna menekan tombol remote secara acak sampai frekuensi cahya inframerah terdeteksi. Setelah  sensor TSOP 1738 mendeteksi sinyal inframerah yang dipancarkan, maka TSOP 1738 akan mengaktifkan kerja IC 4017. Pada saat di IC 4017 inilah terjadi pola on/ off yang akan mengantarkan arus listrik ke gerbang SCR (Silicon Controlled Rectifer). Setelah sampai di SCR (Silicon Controlled Rectifer) arus listrik mensuplai listrik ke perangkat elektronik sehingga perangkat elektronik akan on/off sesuai inruksi yang tertangkap oleh sensor TSOP 1738. Ini merupakan salah satu langkah pemecahan masalah pada pengendalian peralatan elektronik.
Dalam pengembanganya receiver cahaya inframerah untuk  mengendalikan peralatan elektronik berdaya tinggi seperti jetpump, kipas angin, dll memerlukan alat tambahan yang disebut relay. Relay adalah komponen yang menggunakan prinsip kerja medan magnet untuk menggerakan saklar. Saklar ini digerakkan oleh magnet yang dihasilkan oleh kumparan didalam relay yang dialiri arus listrik. Gerakan armature menyebabkan kontak membuka atau menutup dengan konfigurasi sebagai berikut: Normally Open (NO), apabila kontak-kontak tertutup saat relay dicatu. Normally Closed (NC), apabila kontak-kontak terbuka saat relay dicatu. Change Over (CO), relay mempunyai kontak tengah yang normal tertutup, tetapi ketika relay dicatu kontak tengah tersebut akan membuat hubungan dengan kontak-kontak yang lain.
Dengan menggunakan alat teknik sederhana ini kita dapat mengendalikan peralatan elektronik dengan menggunakan sembarang remote controle. Sehingga kita tidak merasa direpotkan disaat sedang beristirahat atau sedang melakukan aktivitas sehari-hari.

Postingan Populer