Rabu, 09 November 2022

PENGOKOHAN BUDAYA LITERASI : SEKADAR RUMOR ATAU TIPUAN BELAKA ?

Pendahuluan

Berbicara mengenai literasi dalam lingkup buku sebagai jendela ilmu, pastinya tidak

akan terlepas dari julukan si ‘kutu buku’ yang sangat terkenal bagi seseorang yang

menjadikan buku-buku sebagai temannya. Bukan suatu istilah negatif, tetapi tidak

jarang kita menemukan penggunaan istilah ‘kutu buku’ diartikan dengan konotasi

negatif.


Pandangan aneh yang diberikan seseorang dengan melontarkan perkataan “ kutu buku

nih, rajin sekali ” menjadikan sebuah stigma negatif karena menganggap membaca buku

adalah hal aneh dan buruk. Anggapan ‘kuper’ diterima para kutu buku. Sementara di

sisi lain anak muda ingin dianggap keren. Sehingga stigma negatif yang didapatkan

menjadikannya enggan untuk membaca buku.


Digitalisasi pada abad 21 kian merambah ke segala bidang. Peningkatan tekonologi

digital dalam mendorong kemajuan bangsa terus dicecar secara maksimal. Dunia boleh

berkata kemudahan akses teknologi dan komunikasi menjadi tawaran dari

perkembangan era digital. Akan tetapi, fakta di lapangan berkata lain. Perkembangan

era digital seakan berbalik arah memberikan dampak negatif, yaitu darurat minat baca.


Seperti dikatakan Ratnasari (2011: 16), minat adalah suatu perhatian kuat terhadap

kegiatan membaca yang mengantarkan kemauan diri untuk membaca. Minat baca saat

ini tergusur oleh tren gawai yang menurunkan minat baca berliterasi. Kecenderungan

manusia dalam mendapatkan sesuatu secara instan, cepat, dan mudah membuat budaya

literasi menjadi luntur. Minat baca sebagai kriteria pengukuran kualitas pendidikan di

sebuah negara menjadikan indeks tingkat pendidikan tinggi Indonesia tergolong rendah,

yaitu 14,6% (Kompasiana.com ).


Lantas, bagaimana kita menyikapi hal ini ? apakah dengan berdiam saja cukup menjadi

‘jalan ninja’ kita dalam menyikapi permasalahan ini ?


Penutup

Keterpurukan bangsa dalam minat literasi seakan terlihat seperti ‘lingkaran setan’ yang

terus melekat dalam sendi kehidupan. Kebodohan, kemalasan, kemiskinan menjadi tiga

hal pokok yang mengisi hal tersebut. Usaha pemutusan ‘lingkaran setan’ yang terus

membelenggu bangsa harus segera dilakukan oleh banyak pihak. Dengan pengokohan

budaya literasi di masyarakat, kebodohan akan dapat terberantas dan hilangnya

kemalasan yang menyelimutinya, serta bangsa Indonesia akan terbebas dari kemiskinan

yang kian meronta.


---

Salam Peneliti Muda!

Untuk hasil karya yang lebih lengkap dapat menghubungi:

Instagram: @ukmpenelitianunila

Email: ukmpenelitianunila@gmail.com / ukmpunila@gmail.com

Youtube: UKM Penelitian Unila

Tiktok: ukmpunila


0 comments:

Posting Komentar

Postingan Populer