Sabtu, 04 Desember 2021

NANOEMULGEL SEBAGAI DRUG DELIVERY SYSTEM SENYAWA AKTIF LIDAH BUAYA (Aloe vera) DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGOBATAN TOPIKAL PSORIASIS

 NANOEMULGEL SEBAGAI DRUG DELIVERY SYSTEM SENYAWA

AKTIF LIDAH BUAYA (Aloe vera) DALAM MENINGKATKAN

EFEKTIVITAS PENGOBATAN TOPIKAL PSORIASIS


ESAI

A Zaidan An Naafi Teknologi Hasil Pertanian 1814051015

Bella Amanda Iswahyudi Teknologi Hasil Pertanian 2014051026


“Health is state of complete physical, mental, and social well-being and not


merely the absence of disease or infirmity”


“Sehat adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh dan bukan


hanya bebas dari penyakit atau kelemahan”

World Health Organization


Berkaca dari kutipan di atas mengenai kesehatan sebagai tolak ukur

kesejahteraan, sudahkan Indonesia sejahtera?, Sudahkan semua permasalahan


kesehatan seluruh kalangan teratasi?. Pada faktanya, Indonesia belum sungguh-

sungguh sejahtera di bidang kesehatan, hal ini terlihat masih banyaknya penyakit


yang belum mendapatkan penangan medis, entah karena biaya yang cukup mahal

sehingga sulit dijangkau kalangan ekonomi sulit maupun teknologi pengobatan

yang masih terbatas. Salah satu penyakit kronis yang hingga saat kini belum jelas

pengobatannya adalah psoriasis. Psoriasis merupakan penyakit peradangan kulit

kronis yang dapat hilang dan timbul serta dapat menyerang seluruh tubuh.

Menurut data laporan global World Helath Organization (WHO) 2016,

tingkat prevalensi psoriasis di negara-negara sekitar 0,09% hingga 11,4%

sehingga membuat psoriasis menjadi masalah global yang serius. Prevalensi

psoriasis di Indonesia mencapai 2,5% dari populasi penduduk, tetapi masih

banyak penderita yang belum mendapat penanganan medis memadai (Krisnarto et

al., 2016). Prosiasis termasuk ke dalam golongan penyakit autoimun yaitu

keadaan dimana sel imun menyerang sel tubuh sendiri. Penyakit ini ditandai

dengan ruam merah, kulit kering, tebal, bersisik, dan mudah terkelupas serta

terkadang disertai dengan rasa gatal dan nyeri. Munculnya indikasi tersebut

sebagai akibat dari peningkatan proliferasi dan diferensiasi yang buruk dari sel-sel

epidermis penghasil protein keratin pada kulit (Ashcroft et al., 2020).


Gambar 1. Penyakit Psoriasis

Sumber : Wordpress, 2013


Psorasis tidak menular dan tidak mematikan, tetapi perubahan fisik yang

jelas dan nyeri yang timbul dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Pasalnya, indikasi fisik yang timbul khususnya di daerah yang sangat terlihat

seperti wajah dan tangan dapat merusak psikologis penderitanya. Masalah

psikologis ini timbul karena penderitanya merasa malu, cemas, depresi, dan

menjadi seseorang yang cenderung tertutup sehingga mempengaruhi kegiatan

sosialnya. Ironisnya, dalam sebuah penelitian dari 127 penderita psoriasis

menyatakan bahwa 9,7% melaporkan keinginan untuk mati dan 5,5% melaporkan

terjadi percobaan bunuh diri (WHO, 2016). Selain dari sisi mental kesehatan,

penderita psoriasis juga berisiko lebih tinggi terkena penyakit serius seperti

penyakit kardiovaskular. (Abuabara et al., 2010).

Psoriasis tidak dapat disembuhkan karena menyangkut imunologi dan

genetika sehingga penyakit ini membutuhkan penanganan seumur hidup (Izzati

dan Waluya, 2012). Hal ini dibuktikan dengan belum ditemukannya pengobatan

mutakhir yang dapat menyembuhkan penderita secara total. Obat yang digunakan

untuk terapi psoriasis hanya dapat menekan gejala, memperbaiki keadaan kulit,

mencegah timbulnya ruam, dan mengurangi potensi timnbulnya penyakit lain.

Menurut Amstrong tahun 2020, terapi psoriasis terdiri dari ada dua tipe yaitu

pengobatan sistemik (oral) dan pengobatan topikal (oles), dimana pengobatan


sistemik lebih banyak memberikan efek samping seperti atrofi kulit, toksik

terhadap hepar dan ginjal, serta menurunkan daya tahan tubuh. Di era pandemi

Covid 19, dampak negatif dari pengobatan sistemik yaitu menurunnya daya tahan

tubuh tersebut sebaiknya dihindari dan dialihkan dengan alternatif pengobatan

lainnya. Pengobatan psoriasis yang belum menyembuhkan secara total akan

mengakibatkan beban sosial dan ekonomi dari penderita. Dengan demikian,

permasalahaan-permasalahan tersebut menjadi urgensi sehingga harus segera

ditangani.

Disamping hal tersebut, patut disyukuri bahwa Indonesia sebagai salah

satu negara hutan hujan tropis terbesar di dunia memiliki potensi

kekayaan herbal terbesar nomor 2 setelah China. Potensi tersebut harus dapat

dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai sumber bahan baku obat herbal untuk

mengatasi permasalahan kesehatan dalam negeri, salah satunya psoriasis.

Penggunaan bahan herbal alami sebagai alternatif pengobatan, memiliki beberapa

keuntungan diantaranya efek samping yang lebih lebih sedikit, ketersediaan bahan

baku yang melimpah, dan biaya yang lebih murah. Salah satu terapi alternatif

herbal untuk psoriasis adalah menggunakan Lidah buaya yang dilaporkan

memiliki efek anti-psoriasis karena mengandung senyawa aktif yaitu Senyawa


aktif yang terkandung pada Lidah buaya dalam pengobatan psoriasis, yaitu c-

glucosyl chromone, aloe-emodin, aloin, dan salicylic acid. Namun, pemanfaatan

lidah buaya dalam pengobatan psoriasis dapat dikatakan belum optimal. Hal ini terlihat dari sedikitnya obat psoriasis dengan komposisi lidah buaya, bahkan obat-

obatan yang beredar cenderung menggunakan bahan kimia.


Penggunaan lidah buaya secara langsung ataupun aplikasi obat ekstrak

lidah buaya secara topical pada penderita psoriasis kurang efektif karena bersifat

hidrofobik, distribusi yang lemah, dan tingkat penyerapan senyawa terhadap kulit

sangat rendah. Hal tersebut menjadi penyebab penurunan efektivitas pengobatan

sehingga memerlukan pemberian berulang atau peningkatan dosis. Dengan

demikian, dibutuhkan solusi drug delivery system untuk menghantarkan obat

secara efektif dalam pengobatan psoriasis. Oleh karena itu dibuatlah inovasi

pengobatan dengan teknologi nano berupa sediaan nanoemulgel esktrak lidah

buaya sebagai drug delivery system untuk meningkatkan efektivitas pengobatan


psoriasis. Pemilahan gel sebagai bentuk sediaan dikarenakan gel memiliki potensi

lebih baik sebagai obat topikal dibandingkan dengan salep ataupun krim karena

gel tidak lengket, stabil, dan tidak memiliki warna (transparan).

Nanoemulsi merupakan sebuah teknologi nano dalam pengobatan dengan

ukuran partikel sekitar 50 sampai 1000 nm. Nanoemulsi memiliki sifat yang stabil

karena tersebntuk dari dua cairan yang tidak larut, seperti minyak dan air,

distabilkan oleh film antarmuka molekul surfaktan (Suyal dan Bhatt, 2017).

Ukuran globul nanoemulsi yang sangat kecil menyebabkan sediaan terlihat

transparan dan menyebabkan penurunan gaya gravitasi yang besar dan gerak

Brown yang dapat mencegah terjadinya sedimentasi atau creaming sehingga dapat

meningkatkan stabilitas fisik. Nanoemulsi dapat menghasilkan tegangan

permukaan yang sangat rendah dan luas permukaan yang besar antara fase minyak

dan air (Fanun, 2010). Sebagai drug delivery system, nanoemulsi memiliki tingkat

keefektivitasan yang tinggi karena memiliki luas permukaan yang lebih besar jika

dibandingkan dengan makroemulsi. Selain itu, nanoemulsi juga tidak toksik dan

tidak bersifat iritan sehingga dapat diaplikasikan dengan mudah melalui kulit

maupun membran mukosa (Shah et al., 2010). Nanoemulsi juga dapat

meningkatkan bioavailabilitas obat, meningkatkan absorbsi, membantu

mensolubilisasi zat aktif yang bersifat hidrofobik, serta memiliki efisiensi dan

penetrasi yang cepat pada sebagian obat (Devarajan dan Ravichandran, 2011).


Pembuatan nanoemulsi membutuhkan bahan serbuk kering lidah buaya

(zat aktif), isopropilmiristat (minyak), tween 80 (surfaktan), propilenglikol

(kosurfaktan) serta kolagen sebagai bahan tambahan pada fase air (akua p.i).

Pembuatan nanoemulsi dilakukan dengan melarutkan serbuk terlebih dahulu

dalam 10 mL akua p.i dengan bantuan stirer sampai larut, serta dibuat fase air

dengan melarutkan kolagen pada sisa akua p.i (40mL) dengan bantuan stirer

sampai larut sempurna. Serbuk yang sudah larut kemudian dimasukkan tetes demi

tetes ke dalam propilenglikol sambil diaduk menggunakan stirer pada kecepatan

10 selama 5 menit dengan suhu dijaga 75oC. Kemudian, ditambahkan tween 80

sedikit demi sedikit dengan tetap diaduk pada kecepatan 10 selama 5 menit

dengan suhu 75oC untuk menghomogenkan campuran. Selanjutnya, ditambahkan

isopropilmiristat (minyak) tetes demi tetes ke dalam campuran dengan tetap

diaduk pada kecepatan 10 dengan suhu 75oC selama 5 menit. Dimasukkan fase air

tetes demi tetes ke dalam campuran dengan tetap memperhatikan putaran dan

suhu stirer. Hasil nanoemulsi kemudian dimasukkan ke dalam botol dan

didiamkan selama 24 jam untuk mendapat hasil yang jernih.

Pembuatan gel nanoemulsi dilakukan dengan mengembangkan terlebih

dahulu karbopol 940 dalam akuades panas (10 mL) selama 24 jam, serta

melarutkan kitosan dalam asam asetat 1% (10 mL). Kitosan yang sudah larut

dibasakan terlebih dahulu dengan NaOH 0,1 N sebanyak 10 mL (sampai pH 5).

Karbopol yang sudah mengembang dipindahkan sedikit ke dalam mortir dan

ditambahkan metilparaben yang sudah dilarutkan dalam etanol 96%, diaduk


sampai homogen. Ditambahkan trietanolamin dan diaduk sampai homogen.

Dituangkan sedikit demi sedikit nanoemulsi dan karbopol yang tersisa sambil

tetap diaduk sampai terbentuk massa gel yang homogen. Selanjutnya,

ditambahkan kitosan sedikit demi sedikit sambil tetap diaduk sampai terbentuk

massa gel yang homogen.

Mekanisme kerja nanoemulsigel lidah buaya dalam pengobatan psoriasis

yaitu dengan pengolesan gel pada bagian tubuh yang terdapat psoriasis,

nanoemulgel akan mengantarkan senyawa aktif tersebut dengan tingkat

bpenyerapan yang sangat tinggi. Kemudian senyawa C-glucosyl chromone yang

memiliki efek antiinflamasi menghambat jalur COX (cyclooxygenase) terutama

COX-2 dan mengurangi pelepasan tumor necrosis factor (TNF)-α. Hambatan pada

jalur COX menurunkan produksi PGE2, produksi nitric oxide (NO), dan

pelepasan sitokin proinflamasi sehingga proses inflamasi pada psoriasis

berkurang. Aloe emodin dan aloin berperan sebagai antiproliferasi dengan

menurunkan produksi sitokin seperti interleukin (IL)-6, IL-1β, TNF-α dan induksi

apoptosis, serta menurunkan proliferasi keratinosit melalui penurunan produksi

TNF-α. Salicylic acid sebagai keratolitik alamiah akan mengurangi ketebalan

skuama pada psoriasis melalui penghancuran material perekat antar korneosit

sehingga terjadi penurunan kohesi antar korneosit.

Pemanfaatan nanoemulsigel ekstrak lidah buaya merupakan salah satu

bentuk pengembangan produk herbal dengan memanfaatkan kekayaan alam

Indonesia. Nanoemulsigel ekstrak lidah buaya merupakan formulasi yang

memiliki hubungan sinergis dalam pengobatan psoriasis dimana lidah buaya

memiliki senyawa aktif antipsiorasis yang dihantarkan dengan baik oleh

nanoemulgel sebagai drug delivery system sehingga diharapkan dapat menjadi

solusi untuk dapat mengatasi permasalahan efek terapi yang lebih berat dan biaya

yang relatif mahal. Bentuk sediaan berupa gel yang ringan ketika diaplikasikan

pada kulit dan tidak mengganggu penggunanya sehingga lebih acceptable.

Meskipun psoriasis tidak dapat disembuhkan, penggunaan obat ini diharapkan

dapat menekan indikasi yang muncul seperti menyamarkan perubahan fisik yang

terjadi sehingga penderita psoriasis tampak terlihat normal. Selain sebagai solusi

dalam pengobatan psoriasis menuju Indonesia sehat, pengembangan


nanoemulsigel ekstrak lidah buaya juga diharapkan menjadi solusi untuk

menurunkan angka impor obat dalam rangka menuju kemandirian bahan baku

obat nasional serta berkontribusi dalam penyelesaian permasalahan Sustainable

Development Goals (SDGs) poin ketiga yaitu kehidupan sehat dan sejahtera.


DAFTAR PUSTAKA


Abuabara K, Azfar RS, Shin DB, Neimann AL, Troxel AB, Gelfand JM. 2010.


Cause-specific mortality in patients with severe psoriasis: a population-

based cohort study in the U.K. Br J Dermatol. 163(3). pp. 586–592.


Armstrong AW, Read C. 2020. Pathophysiology, Clinical Presentation, and

Treatment of Psoriasis: A Review. JAMA. 323(19). Pp. 1945–1960.

doi:10.1001/jama.2020.4006

Ashcroft, D & Li-Wan-Po, Alain & Griffiths, Chris. 2020. Therapeutic strategies

for psoriasis. Journal of clinical pharmacy and therapeutics. 25. pp 1-10.

Devarajan, V. dan Ravichandran, V. 2011. Nanoemulsion: As Modified Drug

Delivery Tool. International Journal of Comprehensive Pharmacy. 4(1): 4-

5.

Fanun, M. 2010. Colloids in Drug Delivery. Florida: CRC Press.

Izzati, A. dan Walyuta O. T. 2012. Gambaran Penerimaan Diri Pada Penderita

Psoriasis. Jurnal Psikologi. 10(02). Pp. 68-78.

Julianti dan . 2018. Lidah buaya sebagai Terapi Alternatif Psoriasis. Jurnal

Cermin Dunia Kedokteran. 45(12). Pp. 940-943.

Krisnarto E, Novitasari A, Aulirahma DM. 2016. Faktor Prediktor Kualitas Hidup

Pasien Psoriasis : Studi Cross Sectional. Jurnal Unimus. 49. pp.43–51.

Paulsen E, Korsholm L, Brandup F. 2005. A double-blind, placebo-controlled

study a commercial Lidah buaya gel in the treatment of slight to moderate

psoriasis vulgaris. J Eur Acad Dermatol Venereol. 19. Pp. 326-331.

Popadic D, Savic E, Ramic Z, Djordjevic V, Trajkovic V, Medenica L, et al.

2012. Aloe-emodin inhibits proliferation of adult human keratinocytes in

vitro. Jurnal Cosmet Science. 63. Pp. 297-302.

Shah, P., Bhalodia, D., dan Shelat, P. 2010. Nanoemulsions: A Pharmaceutical

aReview. Systematic Reviews in Pharmacy. 1(1): 26-30.

Syed TA, Ahmad SA, Holt AH, Ahmad SH, Azfal M. 1996. Management of

psoriasis with Lidah buaya extract in a hydrophylic cream: A placebo-


controlled, in a hydrophylic cream: A placebo-controlled, double-blind

study. Trop Med Int Health. 1. Pp. 505-509.

WHO. 2016. Global report on PSORIASIS. Geneva: WHO Document Production

Service.

Vogel GH. 2008. Drug discovery and evaluation: Pharmacological assays.

Springer Publishing. New York.

Yuliastuti Dwinidya. 2015. PSORIASIS. Jurnal Cermin Dunia Kedokteran.

42(12). Pp 901-906.

0 comments:

Posting Komentar

Postingan Populer