Pendahuluan
Pembahasan
____
Program Makan Bergizi Gratis atau yang lebih dikenal dengan MBG merupakan program prioritas Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto yang diimplementasikan secara teknis oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga pelaksana utama di bawah koordinasi pemerintah pusat. Program ini ditujukan untuk peserta didik di seluruh jenjang pendidikan negeri, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap anak Indonesia memperoleh asupan gizi seimbang sesuai standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian, sekaligus menekan angka stunting, anemia, dan kelaparan tersembunyi yang selama ini menghambat kualitas sumber daya manusia.
Hingga akhir kuartal ketiga tahun 2025, tepatnya pada 30 September, BGN melaporkan pencapaian yang signifikan. Sebanyak 9.653 unit SPPG telah beroperasi di 38 provinsi dan berhasil melayani sedikitnya 30 juta penerima manfaat. BGN menargetkan peningkatan jumlah SPPG menjadi 32.000 unit pada November 2025 agar cakupan layanan dapat menjangkau seluruh jenjang pendidikan negeri dari PAUD hingga SMA (Insonesia.go.id, 2025). Di samping tujuannya meningkatkan kesejahteraan anak sekolah, MBG memainkan peran penting sebagai katalis ekonomi daerah. Program ini membuka peluang usaha bagi UMKM dan koperasi lokal melalui sistem penyediaan bahan dan jasa makanan di sekolah. Pendekatan ini mendorong sirkulasi ekonomi lokal yang lebih merata, sekaligus memperkuat hubungan antara sekolah dan komunitas sekitar.
Dampak positif dari program MBG mulai dirasakan secara nyata di lapangan. Data yang dirilis oleh Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan bahwa pelaksanaan program telah memicu peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut umur anak-anak dan remaja di sejumlah daerah penerima manfaat. Sebagai contoh, pemantauan selama 15 minggu di Kota Bogor mencatat adanya peningkatan rata-rata IMT, dan kondisi serupa juga terdeteksi di Provinsi Aceh (Antara News, 2025). Lewat indikator ini, terlihat bahwa status kesehatan dan keseimbangan asupan anak sekolah mulai bergerak ke arah yang lebih baik. Program ini juga menjangkau kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita dalam “1.000 hari pertama kehidupan” yang menjadi masa krusial bagi pembentukan kualitas tumbuh kembang anak. Capaian tersebut menunjukkan bahwa MBG berpotensi menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Peningkatan IMT mencerminkan adanya perbaikan pola makan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asupan seimbang di lingkungan sekolah dan keluarga. Keberhasilan awal ini tentunya perlu diikuti dengan pengawasan yang berkelanjutan dan pemerataan pelaksanaan agar manfaat program dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, MBG memberikan kontribusi langsung terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Program ini mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penyediaan akses pangan bergizi bagi jutaan anak sekolah. MBG juga berkontribusi pada SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan menekan kasus anemia dan kekurangan energi kronis. Selain itu, program ini memperkuat SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan konsentrasi belajar dan kehadiran siswa, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan UMKM lokal. Integrasi gizi, pendidikan, dan ekonomi ini menunjukkan peran strategis MBG dalam pembangunan manusia Indonesia.
Namun, di balik capaian positif tersebut, MBG menghadapi tantangan besar dalam hal keamanan pangan dan manajemen distribusi. Sayangnya, program yang bertujuan meningkatkan kesehatan anak sekolah justru diwarnai oleh sejumlah kasus keracunan makanan di berbagai daerah. Menurut laporan Badan Gizi Nasional, faktor utama penyebabnya berkaitan dengan rentang waktu yang terlalu panjang antara proses pengolahan makanan di pagi hari dan penyajiannya pada jam makan siang. Kondisi tersebut menciptakan peluang pertumbuhan mikroorganisme berbahaya apabila makanan tidak dijaga pada suhu yang sesuai, yaitu di atas 60°C untuk hot holding atau di bawah 5°C untuk cold holding (Rorong & Wilar, 2020). Selain itu, aspek kebersihan alat masak, kualitas air, serta sanitasi lingkungan dapur juga menjadi titik rawan yang membutuhkan pengawasan ketat. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan rantai penyimpanan dan distribusi makanan masih menjadi titik lemah yang perlu segera diperbaiki agar keamanan pangan dalam program MBG dapat terjamin di seluruh wilayah.
Berbagai mikroorganisme penyebab penyakit seperti Escherichia coli, Salmonella, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus sering ditemukan sebagai kontaminan utama (Rorong & Wilar, 2020). Mikroorganisme tersebut dapat menyebabkan bahan pangan kehilangan sterilitas, memicu perubahan fisik maupun kimia, dan akhirnya membuat makanan tidak layak konsumsi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengawasan kebersihan dan penyimpanan di dapur SPPG masih belum optimal. Tanpa sistem pendinginan dan kontrol suhu yang memadai, potensi pertumbuhan bakteri meningkat drastis. Oleh karena itu, aspek higienitas dan manajemen waktu menjadi krusial untuk menjamin keamanan pangan dalam program berskala nasional seperti MBG.
Data resmi BGN memperjelas skala permasalahan tersebut. Sepanjang Januari hingga September 2025, tercatat 70 insiden keracunan dengan total 5.914 penerima manfaat terdampak. Distribusi kasus menunjukkan konsentrasi yang tidak merata: Wilayah I (Sumatera) mencatat 9 kasus dengan 1.307 korban, Wilayah II (Pulau Jawa) 41 kasus dengan 3.610 korban, dan Wilayah III (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara) 20 kasus dengan 997 korban. Di antara wilayah tersebut, Kota Bandar Lampung menonjol sebagai daerah dengan jumlah korban tertinggi. Analisis menunjukkan bahwa rata-rata korban per kasus di Sumatera mencapai 145 orang, jauh di atas rata-rata Jawa (88 orang) dan wilayah lainnya (50 orang). Pola ini mengindikasikan bahwa insiden di Sumatera cenderung lebih masif dan menyebar cepat. Investigasi lanjutan juga menemukan bahwa kontaminasi air menjadi faktor utama penyebaran bakteri patogen di sejumlah dapur SPPG, menandakan perlunya audit kualitas air bersih di setiap satuan pelayanan (Antara News, 2025).
Menanggapi situasi tersebut, Badan Gizi Nasional membentuk dua lini investigasi mendalam untuk menelusuri penyebab dan memperkuat sistem keamanan pangan. Lini investigasi teknis lapangan difokuskan pada audit rantai distribusi bahan pangan, pemeriksaan proses pengolahan di dapur SPPG, serta evaluasi penyimpanan dan distribusi makanan. Sementara itu, lini analisis kebijakan dan sistem pengawasan menitikberatkan pada evaluasi kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP), sertifikasi kebersihan, dan pelatihan petugas pengolah makanan. Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa pendekatan multidisiplin ini tidak hanya mengevaluasi SOP, tetapi juga mengungkap seluruh aspek penyebab keracunan agar kejadian serupa tidak terulang (Badan Gizi Nasional, 2025).
Kendati langkah investigasi sudah dilakukan, model pengawasan MBG saat ini masih bersifat reaktif. Pemeriksaan lapangan dilakukan secara berkala tanpa sistem pemantauan digital terintegrasi, sehingga masalah baru diketahui setelah insiden terjadi. Kondisi ini membuat upaya pengawasan tidak mampu mencegah risiko secara dini. Oleh karena itu, kami merekomendasikan transformasi mendasar menuju pengawasan preventif berbasis aplikasi informasi bernama SEHATI (Sekolah Aman Sehat Bergizi). SEHATI dapat pelaporan real time dapat diterapkan di sekolah untuk mencatat menu, tingkat konsumsi, sisa makanan, dan keluhan siswa secara langsung. Data ini akan diakses oleh BGN dan dinas terkait melalui dasbor nasional, sehingga respons dan perbaikan dapat dilakukan lebih cepat dan akurat.
SEHATI merupakan sebuah aplikasi digital berbasis pelacakan (tracking system) yang dirancang untuk memantau rantai distribusi makanan bergizi secara real time dan berbasis data terintegrasi nasional. SEHATI menghubungkan semua elemen yang terlibat dalam program MBG: mulai dari Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG), kurir distribusi, sekolah penerima, hingga pengawas daerah dan Badan Gizi Nasional (BGN) di tingkat pusat.
Dapur Produksi (SPPG)
Tahap awal dimulai dari Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG), titik pertama yang menentukan kualitas makanan sebelum sampai ke peserta didik. Melalui SEHATI, setiap dapur diwajibkan mengisi checklist digital pra-produksi yang mencakup kebersihan area memasak, ketersediaan alat pelindung diri, kondisi peralatan, serta kelayakan bahan baku. Sistem ini dilengkapi fitur unggah bukti foto dan video singkat yang diverifikasi otomatis oleh algoritma pengenalan citra (image recognition) untuk mendeteksi kelalaian seperti sarung tangan tidak digunakan atau area memasak kotor. Seluruh aktivitas dapur terekam secara digital dan dapat dipantau langsung oleh pengawas daerah, pihak sekolah, hingga Badan Gizi Nasional (BGN) melalui dashboard terpusat.
Gambar 1. Desain Aplikasi SEHATI bagian Produksi
Teknologi Internet of Things (IoT) diterapkan melalui sensor suhu dan kelembapan yang dipasang di dapur dan lemari pendingin untuk memantau kondisi penyimpanan bahan secara real time. Jika suhu melebihi ambang batas aman (misalnya >5°C untuk bahan segar atau >60°C untuk makanan matang), sistem langsung mengirimkan notifikasi otomatis ke pengawas dapur dan dashboard pusat. Selain itu, setiap bahan makanan yang masuk dari pemasok didata melalui QR Code dan blockchain log yang menyimpan riwayat asal bahan, tanggal kedatangan, dan masa kedaluwarsa. Dengan pendekatan ini, seluruh rantai pasok dari bahan mentah hingga makanan siap saji dapat ditelusuri kembali (traceable) secara digital tanpa risiko manipulasi data.
Proses Distribusi ke Sekolah
Setelah tahap produksi selesai, sistem berpindah ke fase distribusi makanan menuju sekolah-sekolah penerima. SEHATI menggunakan kode QR unik pada setiap batch makanan yang dikirim. Kode tersebut berisi data lengkap tentang menu, jumlah porsi, waktu keberangkatan, dan identitas petugas distribusi. Semua kendaraan pengantar dilengkapi GPS tracker yang terhubung ke aplikasi untuk memantau rute dan waktu tempuh secara real time. Apabila terjadi keterlambatan lebih dari batas waktu toleransi atau penyimpangan rute, sistem akan otomatis mengeluarkan peringatan ke pengawas wilayah.
Gambar 2. Desain Aplikasi SEHATI bagian Distribusi
Kurir membawa kode QR tersebut hingga ke sekolah tujuan, dan guru piket atau petugas penerima melakukan pemindaian QR Code sebagai bentuk serah terima digital. Pemindaian memvalidasi lokasi penerima melalui geo tagging otomatis, memastikan makanan diterima tepat waktu dan oleh pihak yang berwenang. Proses ini membentuk rantai pengawasan tertutup (closed-loop monitoring system) yang sulit dimanipulasi secara manual.
Pengawasan di Sekolah (Guru dan Siswa)
Gambar 3. Desain Aplikasi SEHATI bagian Laporan
Pada tahap penerimaan di sekolah, SEHATI mengintegrasikan peran guru dan siswa sebagai pengawas lapangan. Guru memiliki akses ke dashboard yang menampilkan status pengiriman, suhu makanan terakhir, serta checklist penerimaan. Sementara itu, siswa dapat berpartisipasi melalui fitur penilaian harian yang memungkinkan mereka memberikan rating bintang (1–5), menulis komentar, dan mengunggah foto makanan. Sistem memanfaatkan natural language processing (NLP) sederhana untuk menganalisis komentar siswa dan mendeteksi pola keluhan berulang seperti “bau tidak sedap” atau “porsi kurang”, yang kemudian ditandai secara otomatis sebagai potensi masalah.
Terdapat juga fitur “Lapor Darurat”, berupa tombol prioritas tinggi yang dapat ditekan oleh guru ketika ditemukan indikasi makanan basi, gejala keracunan, atau kondisi sanitasi tidak layak. Setelah tombol ditekan, sistem segera mengirim alert berlevel merah ke pengawas daerah dan BGN, lengkap dengan foto, waktu kejadian, dan lokasi GPS.
Dasbor Pengawasan Pemerintah dan BGN
Gambar 4. Desain Aplikasi SEHATI bagian Pengawasan
Tahap terakhir adalah sistem pemantauan tingkat makro yang diakses oleh pemerintah daerah dan BGN. Dasbor SEHATI menampilkan peta interaktif nasional dengan ribuan titik sekolah yang ditandai warna: hijau (aman), kuning (laporan ringan), dan merah (laporan darurat). Data dikumpulkan dan disinkronkan melalui cloud computing platform yang memungkinkan akses simultan dari berbagai lembaga tanpa menunggu laporan manual.
Sistem ini juga didukung oleh AI-powered early warning system yang menganalisis data historis untuk mendeteksi anomali. Misalnya, bila lebih dari 20% siswa di satu sekolah melaporkan rating rendah atau keluhan serupa dalam waktu 24 jam, sistem otomatis mengeluarkan peringatan investigasi cepat kepada pengawas wilayah. Selain itu, modul analitik kinerja menampilkan rekam jejak tiap dapur SPPG seperti ketepatan waktu pengiriman, skor kebersihan, dan tingkat kepuasan siswa. Data ini digunakan sebagai dasar pembinaan, evaluasi kontrak, hingga pemberian insentif bagi penyedia makanan yang berprestasi.
Kekuatan lain SEHATI terletak pada potensinya sebagai dasar pengembangan kebijakan nasional berbasis digital. Informasi yang dikumpulkan dari ribuan titik sekolah memberikan gambaran nyata tentang pola logistik, kualitas penyedia, serta faktor-faktor risiko yang memengaruhi keberhasilan program MBG. Dashboard SEHATI dapat digunakan pemerintah daerah untuk pelaporan otomatis ke kementerian, sementara lembaga audit dapat melakukan pemeriksaan berbasis data digital tanpa harus menunggu laporan fisik dari lapangan. Aplikasi ini membuktikan bahwa inovasi digital dapat menjadi jembatan antara kebijakan dan pelaksanaan di lapangan, sehingga cita-cita besar “Sekolah Sehat Aman Bergizi” benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata.
Analisis SWOT & TOWS SEHATI
Analisis terhadap posisi strategis aplikasi SEHATI dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilakukan untuk menilai berbagai potensi, peluang, serta tantangan yang dihadapinya dalam pelaksanaan di lapangan. Analisis ini penting untuk melihat sejauh mana SEHATI mampu berfungsi secara efektif sebagai instrumen pengawasan digital yang menjamin kualitas, keamanan, dan ketepatan distribusi makanan bergizi bagi peserta didik. Melalui pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), faktor-faktor internal seperti kekuatan dan kelemahan sistem dapat dipetakan secara komprehensif, bersamaan dengan identifikasi peluang dan ancaman eksternal yang mungkin memengaruhi keberlanjutan program. Selanjutnya, hasil pemetaan tersebut dikembangkan menjadi strategi TOWS, yang bertujuan untuk menghubungkan berbagai faktor internal dan eksternal agar diperoleh langkah-langkah taktis yang realistis dan terukur. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu BGN dan pemangku kepentingan terkait dalam merumuskan kebijakan penguatan serta arah pengembangan SEHATI di masa mendatang.
Roadmap & Rencana Ekseusi Aplikasi SEHATI
Rencana eksekusi pengembangan aplikasi SEHATI disusun sebagai panduan strategis untuk memastikan implementasi teknologi pengawasan pangan sekolah berjalan terarah, terukur, dan berkelanjutan. Roadmap ini mencakup periode Kuartal 1 tahun 2026 hingga Kuartal 1 tahun 2027, yang dibagi ke dalam tiga fase utama: penguatan fondasi dan pengembangan prototipe, uji lapangan dan validasi sistem, serta penyempurnaan menuju ekspansi nasional. Setiap fase dirancang dengan memperhatikan aspek teknis, kelembagaan, dan kolaboratif antara pemerintah, sekolah, serta mitra teknologi. Dengan pendekatan bertahap ini, SEHATI diharapkan mampu bertransformasi dari proyek inovasi digital skala terbatas menjadi sistem pengawasan pangan nasional yang transparan, partisipatif, dan berbasis data real time.
Inovasi yang diterapkan pada SEHATI memberikan kemudahan bagi Badan Gizi Nasional (BGN) dalam melakukan pengawasan menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui fitur pelaporan cepat, aplikasi ini memungkinkan guru dan siswa untuk memberikan umpan balik langsung mengenai kondisi makanan yang diterima di sekolah, sehingga potensi masalah dapat segera diidentifikasi dan ditangani.
Data Penggunaan Plastik Sekali Pakai di Indonesia
Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2024 mencatat timbulan sampah nasional mencapai sekitar 34,2 juta ton dari 317 kabupaten/kota. Sampah plastik menyumbang 19,74 % dari total timbulan sampah tersebut. Komposisi plastik berada di posisi kedua setelah sisa makanan dalam struktur sampah nasional. Proporsi plastik itu menunjukkan peningkatan dari 19,26 % pada tahun sebelumnya. Data KLHK menyebut bahwa dari total sampah plastik hanya sekitar 7 % yang berhasil didaur ulang. Sisanya sebagian besar berpotensi menjadi limbah yang bocor ke lingkungan. Jumlah impor sampah plastik Indonesia pada 2024 tercatat 262.900 ton menurut BPS. Tantangan pengelolaan plastik sekali pakai semakin kritis bila tren tersebut tidak dikendalikan (Badan Pusat Statistik, 2024).
Kekurangan Penggunaan Plastik Sekali Pakai
Penggunaan plastik sekali pakai telah menjadi isu lingkungan yang mendesak dan semakin memprihatinkan di seluruh dunia. Masalah ini tidak hanya mempengaruhi lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan manusia dan ekosistem global penggunaan plastik sekali pakai secara berkelanjutan menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Proses degradasi plastik menghasilkan mikroplastik yang mencemari air minum serta masuk ke rantai makanan dan berpotensi mengancam kesehatan manusia (Musleh dan Rahman, 2024). Penumpukan sampah plastik di tempat pembuangan akhir memperpendek usia TPA dan melepaskan gas rumah kaca selama proses degradasi anaerobik. Plastik yang tertinggal di tanah dapat mengganggu porositas tanah dan menurunkan kesuburan lahan pertanian. Dampak lingkungan tersebut menimbulkan konsekuensi kesehatan bagi masyarakat di sekitar TPA akibat kontaminasi air tanah dan udara tercemar. Pola penggunaan plastik sekali pakai yang tidak terkendali memperburuk keberlanjutan ekosistem (Son dan Bungin, 2024).
Plastik Biodegradable Pati Singkong
Plastik biodegradable didefinisikan sebagai plastik yang memiliki proses biodegradasi lebih cepat dibandingkan dengan plastik konvensional serta bahan dapat diperbaharui (Afdal dkk., 2022). Pati singkong menawarkan solusi praktis terhadap keresahan penggunaan plastik sekali pakai yang sulit terurai karena bahan ini mudah diperoleh dari sumber lokal dan memiliki kandungan pati yang tinggi untuk pembentukan film polimer biologis. Pati singkong mudah diperoleh, harga bahan yang terjangkau, sumber daya panen sekitar yang melimpah, sehingga penggunaan bahan baku ini berpotensi menurunkan biaya produksi bioplastik dan memberi nilai tambah bagi petani lokal. Formulasi pati singkong yang diberi plasticizer dan penguat alami yang dapat memperbaiki sifat mekanik sambil tetap mempertahankan kemampuan biodegradasi dalam tanah atau kompos (Harahap dkk., 2023).
Plastik Biodegradable
Plastik biodegradable adalah jenis plastik yang dibuat dari bahan-bahan alami seperti pati, selulosa, atau limbah pertanian, yang mampu terurai secara biologis oleh mikroorganisme dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding plastik konvensional. Hasil pertanian yang berpotensi menghasilkan plastik biodegradable antara lain limbah tanaman pangan yang mengandung pati atau selulosa yang tinggi
(Khodijah dan Tobing, 2023). Penggunaan plastik biodegradable menjadi alternatif ramah lingkungan dalam upaya mengurangi penumpukan limbah plastik yang sulit terurai. Sifat mekanik dan ketahanan air dari plastik biodegradable dapat ditingkatkan melalui penambahan bahan tambahan seperti plasticizer alami (Tristanti dkk., 2019).
Tahapan Proses Pembuatan Plastik Biodegradable dari Pati Singkong Proses pembuatan plastik biodegradable diawali dengan menimbang pati sebanyak 10 gram dan 12 gram sebagai bahan utama. Setelah itu, seng oksida (ZnO) dengan konsentrasi 12% dan 15% dimasukkan ke dalam masing-masing gelas kimia berisi 100 mL. Kemudian, ditambahkan aquadest sebanyak 100 mL sambil dilakukan pengadukan agar campuran homogen. Setelah ZnO sedikit larut, gliserol sebanyak 5 mL dan 7 mL dimasukkan ke dalam campuran tersebut sesuai dengan konsentrasi yang telah ditentukan, lalu diaduk kembali hingga merata. Selanjutnya, pati yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam larutan dan diaduk menggunakan stirrer selama 10 menit untuk mendapatkan campuran yang homogen. Campuran tersebut kemudian dipanaskan di atas hot plate selama 40 menit sambil diaduk pada suhu sekitar 80°C hingga terbentuk larutan kental. Setelah itu, larutan dituangkan ke dalam cetakan dan dikeringkan dalam oven pada suhu 60°C selama 3 jam. Langkah terakhir adalah mengeluarkan hasil dari oven dan didinginkan pada suhu kamar agar plastik mudah dilepaskan dari cetakan (Saputra dan Supriyono, 2020).
Secara bertahap, proses pembuatan plastik biodegradable terdiri dari enam tahap utama. Langkah pertama adalah penyiapan bahan berupa penimbangan pati dan larutan ZnO dan ditambahkan pelarutan ZnO dalam aquadest untuk menghasilkan larutan katalis. Proses selanjutnya yaitu penambahan gliserol sebagai plastisizer yang berfungsi meningkatkan fleksibilitas plastik. Proses yang selanjutnya adalah pencampuran pati dengan larutan katalis dan pengadukan agar homogen dan lakukan pemanasan campuran untuk memicu gelatinisasi pati dan membentuk struktur plastik. Proses yang terakhir adalah pencetakan dan pengeringan untuk memperoleh plastik biodegradable yang padat dan kering. Proses ini menghasilkan plastik biodegradable yang ramah lingkungan dengan karakteristik mudah terurai secara alami (Saputra dan Supriyono, 2020).
Gambar 1. Produk plastik biodegradable Cassbio
Plastik Biodegradable Cassbio
Plastik biodegradable merek Cassbio, yaitu kantong belanja ramah lingkungan berbahan dasar pati singkong (cassava starch). Kantong ini memiliki tampilan menyerupai plastik konvensional, berwarna putih transparan dengan berbagai model pegangan (lubang oval dan tali pegangan), serta bersifat fleksibel namun mudah terurai di alam. Plastik biodegradable berbasis pati singkong dihasilkan melalui proses gelatinisasi pati dengan penambahan plasticizer gliserol dan katalis ZnO untuk meningkatkan kekuatan tarik dan elastisitasnya. Hasil uji biodegradasi menunjukkan bahwa plastik jenis ini dapat terurai dalam waktu 30–60 hari di
lingkungan tanah, jauh lebih cepat dibandingkan plastik berbasis polietilena. Plastik biodegradable Cassbio merupakan contoh nyata penerapan bioplastik yang tidak hanya kuat dan fungsional, tetapi juga mendukung konsep ekonomi hijau dan keberlanjutan lingkungan (Fitriani dkk., 2021).
Plastik merupakan produk polimerisasi sintetik atau semi sintetik yang banyak digunakan sebagai kemasan dalam kehidupan manusia. Kebutuhan akan plastik di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan dimana perkapita mencapai 17 kg per tahun dengan pertumbuhan konsumsi mencapai 6-7% per tahunnya (Asngad dkk., 2020). Plastik dari bahan minyak bumi dapat terurai setelah 500 hingga 1000 tahun setelahnya. Sehingga ketika plastik ditanah dibiarkan tercecer akan dapat merusak lingkungan, menghambat resapan air, dan merusak kesuburan dalam tanah. Penggunaan plastik dalam jangka panjang akan berbahaya bagi lingkungan seperti pencemaran serta kerusakan lingkungan karena tidak dapat di daur ulang dan tidak dapat terurai oleh mikroba (Intandiana dkk., 2019).
Berdasarkan hal diatas maka dibutuhkan suatu energi alternatif berbahan plastik yang diperoleh dari bahan yang tersedia di alam dan cepat terurai yaitu bioplastik. Bioplastik merupakan plastik biodegradable yang terbuat dari bahan polimer alami seperti pati, selulosa, dan lemak. Di Indonesia, pati menjadi pilihan sebagai bahan baku plastik biodegradable karena ketersediaannya cukup melimpah. Jenis pati yang dapat digunakan sebagai bahan baku plastik biodegradable di antaranya pati ubi kayu, pati sagu, dan pati jagung. Pembuatan bioplastik biasanya dilakukan menggunakan metode sederhana dengan mencampurkan polimer alami contohnya selulosa dengan bahan tambahan seperti plasticizer atau melalui proses fermentasi dengan bakteri (Intandiana dkk., 2019).
Keunggulan Plastik Biodegradable
Dari segi harga, plastik konvensional umumnya jauh lebih murah. Sebagai gambaran, untuk biji plastik jenis PP di Indonesia diperkirakan berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 16.000 per kg. Sedangkan untuk plastik biodegradable, satu sumber menyebut bahwa kantong plastik berbahan dasar pati di Indonesia “lebih
mahal 2-2,5 kali” dari plastik konvensional. Bahkan dalam arti produk jadi, dijumpai harga kantong plastik biodegradable atau kemasan ramah lingkungan yang jauh di atas plastik biasa (Intandiana dkk., 2019).
Dengan melihat dua aspek di atas—termasuk waktu terurai yang jauh lebih singkat dan harga yang memang lebih tinggi tetapi bisa diimbangi oleh manfaat lingkungan—argumen untuk implementasi plastik biodegradable menjadi semakin kuat. Plastik yang sulit terurai akan menumpuk, mencemari tanah, air, bahkan akan mengganggu kesehatan masyarakat sekitar. Sedangkan plastik biodegradable memungkinkan limbah plastik menjadi lebih cepat kembali ke siklus alam tanpa meninggalkan residu jangka panjang, sehingga mendukung prinsip keberlanjutan dan ekonomi sirkular. Meskipun biaya awalnya lebih tinggi, manfaat jangka panjang berupa pengurangan beban lingkungan, peningkatan citra perusahaan/produk, dan potensi penghematan pengelolaan limbah menjadikan transisi ini strategis untuk implementasi secara sistemik.
Pengelolaan plastik sekali pakai merupakan isu yang kompleks dan telah mencapai tingkat urgensi lingkungan yang mengkhawatirkan secara global. Peningkatan proporsi sampah plastik, tingkat daur ulang yang rendah, volume impor yang signifikan, dan dampak jangka panjang terhadap lingkungan termasuk pencemaran mikroplastik, pelepasan gas rumah kaca, serta penurunan kualitas tanah dan kesehatan masyarakat harus menegaskan urgensi untuk mengevaluasi dan merumuskan strategi pengendalian yang lebih efektif. Persoalan ini tidak hanya berimplikasi negatif pada kualitas lingkungan, tetapi juga memicu dampak buruk yang signifikan terhadap kesehatan manusia dan keberlanjutan ekosistem di seluruh dunia. Secara keberlanjutan pemakaian jenis plastik ini menimbulkan berbagai konsekuensi merugikan bagi alam dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu inovasi seperti plastik biodegredable merk Cassbio, merupakan langkah positif dalam mengurangi dampak negatif tersebut. Cassbio menawarkan kantong belanja ramah lingkungan yang berbahan dasar pati singkong ramah lingkungan dan menjadi alternatif yang lebih baik untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang sulit terurai. Dengan adanya solusi seperti ini bisa mengurangi beban lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat.
_______ Ditulis oleh: 1. Ella Alfiah Anggelia (2417021030) 2. Lalytha Anargya Maheswari (2417011002) 3. Leony Putri Arianto Az-Zahrah (2414241019) 4. Rima Zakiyya Taufani (2517051056)
New Update (2 Mei 2019) 🚨🚨🚨🚨🚨🚨🚨 PEKAN ILMIAH NASIONAL 4 📯DIPERPANJANG !!!🔔 Pengumpulan abstrak gelo...