Senin, 01 Desember 2025

SUGARSKIN : PEMANFAATAN LIMBAH AMPAS TEBU SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN DAN ANTI-INFLAMASI ALAMI UNTUK MENGATASI JERAWAT



Pendahuluan


Jerawat adalah masalah umum yang sering terjadi pada usia muda dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti iklim, kebersihan, penggunaan kosmetik, usia, ras, makanan, jenis kelamin, dan genetika. Kondisi ini dapat menimbulkan peradangan pada kulit yang mengganggu penampilan dan kenyamanan individu. Penanganan jerawat sering kali dilakukan dengan berbagai produk berbahan kimia, namun tidak jarang menimbulkan efek samping seperti iritasi atau ketergantungan (Damayanti dan Minerva, 2023). Prevalensi jerawat di Indonesia mencapai sekitar 80%–85% pada kelompok remaja, menjadikannya salah satu masalah kulit yang paling umum di usia tersebut. Kemunculan jerawat tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga dapat menurunkan rasa percaya diri dan memengaruhi kondisi psikologis penderitanya. Penggunaan obat jerawat berbahan kimia yang tersedia saat ini sering menimbulkan efek samping seperti iritasi kulit, dan dalam beberapa kasus telah menunjukkan gejala resistensi terhadap pengobatan (Pariury et al., 2021).

Salah satu bahan alami yang berpotensi dikembangkan adalah ampas atau ekstrak tebu (Saccharum officinarum L.). Tanaman tebu merupakan salah satu tanaman yang banyak dijumpai di Indonesia dan selain digunakan untuk produksi gula, bagian batang maupun ampasnya mengandung berbagai senyawa bioaktif. Berdasarkan penelitian sebelumnya, tebu merah mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi (Feng et al., 2023). Kandungan antioksidan tersebut mampu menetralisir radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel kulit dan peradangan. Peranan antioksidan ini sangat penting karena radikal bebas diketahui dapat memperburuk kondisi kulit, termasuk memicu munculnya jerawat.

Ampas tebu yang sering kali hanya dianggap limbah dan dibuang begitu saja juga memiliki potensi besar sebagai sumber bahan aktif alami. Ampas tebu merupakan residu padat hasil pemerasan batang tebu, yang masih mengandung sejumlah senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenol, dan serat lignoselulosa. Beberapa studi menunjukkan bahwa ampas tebu memiliki aktivitas antioksidan dan anti mikroba yang dapat dimanfaatkan dalam bidang farmasi dan kosmetik, termasuk sebagai bahan dasar produk perawatan kulit. Memperhatikan kandungan senyawa bioaktif yang terdapat dalam ampas tebu, bahan ini memiliki peluang besar untuk dimanfaatkan sebagai agen anti-inflamasi alami dalam pengobatan jerawat. Komponen seperti flavonoid dan fenol diketahui mampu meredam aktivitas radikal bebas serta menghambat proses peradangan pada kulit dua mekanisme utama yang memicu timbulnya jerawat. Selain itu, sifat antimikroba dari ampas tebu berpotensi menghambat pertumbuhan Cutibacterium acnes, bakteri yang berperan dalam pembentukan jerawat, tanpa menimbulkan efek samping seperti iritasi atau resistensi yang kerap terjadi pada penggunaan antibiotik sintetis.

Gagasan mengenai “Optimalisasi Potensi Ampas Tebu (Saccharum officinarum) sebagai Solusi Anti-Inflamasi Alami untuk Mengatasi dan Mengurangi Masalah Jerawat Secara Efektif” menjadi sangat relevan. Melalui teknik ekstraksi dan formulasi yang tepat, ampas tebu dapat diolah menjadi bahan aktif dalam produk perawatan kulit seperti gel, masker, atau toner yang tidak hanya memiliki efektivitas terapeutik, tetapi juga mendukung prinsip keberlanjutan dan efisiensi biaya. Strategi ini tidak hanya menawarkan alternatif pengobatan jerawat yang lebih aman dan alami, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan limbah industri tebu dengan mengubah residu menjadi produk bernilai guna tinggi. Penggunaan ampas tebu sebagai komponen aktif dalam formulasi produk perawatan kulit turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), poin 12 (Konsumsi dan Produksi Yang Bertanggungjawab), dan poin 8 (Pekerjaan layak dan Pertumbuhan Ekonomi).


Gambar 1. SDGs poin ke 3, 8, dan 12
(Sumber : Kajian SDGs Indonesia)



Pembahasan


Jerawat merupakan gangguan kulit kronis yang biasanya muncul pada masa remaja dan dapat berlanjut hingga dewasa muda, menyebabkan nyeri, radang, dan masalah penampilan yang menurunkan rasa percaya diri serta kemampuan berinteraksi sosial. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, kondisi ini berpotensi meninggalkan bekas dan jaringan parut yang bersifat permanen. Peradangan yang berulang pada kulit juga dapat memperburuk respons imun setempat dan membuka peluang terjadinya komplikasi tambahan. Dampak psikologisnya signifikan, tercermin dalam meningkatnya kejadian kecemasan dan depresi di antara penderitanya. Akibatnya, keterbatasan dalam perawatan yang efektif dan akses layanan kesehatan dapat menurunkan prestasi akademik maupun produktivitas kerja pada individu yang terkena.


Jika tidak diatasi atau ditangani secara keliru, jerawat dapat berkembang menjadi peradangan berulang dan meninggalkan jaringan parut permanen yang memerlukan perawatan dermatologis lebih intensif dan mahal. Peradangan yang berlangsung lama juga memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi sekunder dan komplikasi kulit lain yang memperpanjang proses penyembuhan. Dampak psikososial akibat jerawat semakin terlihat melalui peningkatan kejadian kecemasan, depresi, dan kecenderungan menarik diri dari pergaulan pada penderitanya. Penurunan kinerja di lingkungan sekolah dan tempat kerja sering dialami oleh individu yang terdampak, sehingga konsekuensi sosial dan ekonomi menjadi lebih besar. Ketersediaan langkah pencegahan serta terapi yang efektif, aman, dan terjangkau menjadi sangat krusial untuk meringankan beban medis, psikologis, dan finansial yang muncul. Tanpa langkah pencegahan dan terapi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan, angka kejadian jerawat akan terus naik dan menambah beban biaya layanan kesehatan. Meningkatnya permintaan perawatan akan membebani fasilitas dan anggaran kesehatan sehingga layanan yang efektif semakin sulit dijangkau oleh kelompok berpendapatan rendah. Akibat jangka panjangnya mencakup penurunan kesehatan mental dan berkurangnya produktivitas generasi usia kerja.

Kasus Acne vulgaris yang tinggi menunjukkan bahwa jerawat merupakan salah satu gangguan kulit yang paling sering dialami masyarakat. Di kawasan Asia Tenggara, angka kejadiannya berkisar antara 40–80% kasus, sedangkan di Indonesia sekitar 80–85% remaja berusia 15–18 tahun mengalami jerawat, 12% pada wanita di atas usia 25 tahun, dan 3% pada kelompok usia 35–44 tahun. Kondisi ini menandakan bahwa jerawat tidak hanya dialami pada masa remaja, tetapi juga dapat terjadi pada usia dewasa. Fakta tersebut sejalan dengan latar belakang penelitian pada foto yang menekankan pentingnya memahami penyebab utama jerawat, yaitu infeksi bakteri Propionibacterium acnes, serta menilai efektivitas penggunaan antibiotik seperti Minosiklin dan Eritromisin dalam pengobatannya. Oleh karena itu, data prevalensi ini menjadi landasan ilmiah untuk melakukan penelitian mengenai perbandingan efektivitas berbagai jenis antibiotik terhadap bakteri penyebab jerawat.


Gambar 2. Diagram alir proses SUGARSKIN
(Sumber : Inovasi Penulis)


Pengembangan produk SUGARSKIN dimulai dengan kajian literatur secara komprehensif untuk mengeksplorasi potensi limbah ampas tebu sebagai bahan aktif dalam formulasi perawatan kulit. Tujuan dari kajian ini adalah mengidentifikasi senyawa bioaktif seperti polifenol dan flavonoid yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan agen anti-inflamasi, serta relevan dalam penanganan masalah jerawat. Setelah potensi tersebut terverifikasi, tahap berikutnya adalah pengumpulan dan pengolahan ampas tebu dari sumber industri lokal. Proses ini meliputi pengeringan dan penghalusan material agar siap untuk tahap ekstraksi senyawa aktif.

Ekstraksi dilakukan menggunakan metode yang sesuai seperti maserasi atau sonikasi, dengan pelarut yang aman seperti etanol atau air. Ekstrak yang dihasilkan kemudian dianalisis untuk memastikan kandungan senyawa bioaktif serta aktivitas biologisnya terhadap stres oksidatif dan peradangan pada kulit. Setelah diperoleh ekstrak yang memenuhi standar, proses formulasi produk dimulai dengan menggabungkan ekstrak tersebut bersama bahan tambahan yang mendukung stabilitas dan efektivitas, seperti aloe vera atau niacinamide, sehingga menghasilkan bentuk akhir berupa serum, krim, atau gel.

Produk yang telah diformulasikan selanjutnya menjalani pengujian efektivitas dan keamanan melalui uji in vitro serta uji iritasi kulit pada subjek uji. Hasil dari pengujian ini menjadi dasar validasi bahwa produk tersebut aman digunakan dan efektif dalam mengatasi jerawat. Setelah itu, dilakukan perancangan kemasan dan strategi branding yang menonjolkan nilai keberlanjutan dan kealamian dari produk SUGARSKIN. Informasi mengenai komposisi, manfaat, dan petunjuk penggunaan disampaikan secara transparan. Pada tahap akhir, produk dipasarkan dengan pendekatan edukatif kepada konsumen, menekankan pentingnya pemanfaatan limbah sebagai solusi perawatan kulit alami, sekaligus mendukung prinsip zero waste dan keberlanjutan lingkungan.


Gambar 3. Gambaran hasil produk inovasi SUGARSKIN
(Sumber : Inovasi Penulis)



Ampas tebu memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan karena mengandung senyawa lignoselulosa yang cukup tinggi. Kandungan selulosa pada ampas tebu mencapai sekitar 45%, disertai dengan kadar serat yang tinggi dan sifat hidrofilik akibat adanya gugus hidroksil pada tiap unit polimernya. Sifat tersebut memungkinkan ampas tebu berinteraksi secara fisik maupun kimia dengan berbagai senyawa lain, termasuk logam berat. Selain itu, ampas tebu juga mudah diperoleh karena ketersediaannya yang melimpah sebagai hasil samping industri gula, serta memiliki biaya pemrosesan yang relatif rendah. Berdasarkan kandungan dan karakteristik tersebut, ampas tebu memiliki kemampuan baik dalam mengikat atau menyerap zat tertentu, menjadikannya bahan alami yang berpotensi besar untuk berbagai aplikasi lingkungan maupun kesehatan.
Kesimpulan

Jerawat merupakan permasalahan kulit yang umum terjadi pada remaja dan dewasa muda, disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi bakteri, ketidakseimbangan hormon, dan peradangan kulit. Penggunaan obat kimia dalam penanganannya sering menimbulkan efek samping seperti iritasi dan resistensi, sehingga diperlukan alternatif yang lebih aman dan alami. Ampas tebu (Saccharum officinarum L.) memiliki potensi besar sebagai bahan aktif alami karena mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, dan anti-inflamasi. Pemanfaatan ampas tebu sebagai bahan dasar produk perawatan kulit dapat membantu mengurangi peradangan, menekan pertumbuhan Cutibacterium acnes, serta mempercepat penyembuhan jerawat tanpa efek samping berbahaya. Inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi efektif dan ramah lingkungan, tetapi juga mendukung penerapan prinsip zero waste dengan mengubah limbah industri tebu menjadi produk bernilai guna tinggi. Selain itu, pemanfaatan ampas tebu turut berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Dengan demikian, ampas tebu berpotensi menjadi alternatif alami yang efektif, aman, dan berkelanjutan dalam penanganan jerawat serta mendukung kelestarian lingkungan.

____

Ditulis oleh:

    1. Dewi Amelia Putri (2414151034/2024)
    2. Ledy Indriani (2414161003/2024)
    3. Regeta Amanda Putri (2414151022/2024)
    4. Tsarwan Thirafi Tsasy (2514151013/2025)

Senin, 03 November 2025

KAWAL GIZI DENGAN SEHATI: INOVASI DIGITAL UNTUK MENGATASI ISU KEAMANAN MBG NEGERI

 PENDAHULUAN 

Program Makan Bergizi Gratis atau yang lebih dikenal dengan MBG  merupakan program prioritas Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto  yang diimplementasikan secara teknis oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai  lembaga pelaksana utama di bawah koordinasi pemerintah pusat. Program ini  ditujukan untuk peserta didik di seluruh jenjang pendidikan negeri, mulai dari  Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah  Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Tujuan utamanya adalah  memastikan bahwa setiap anak Indonesia memperoleh asupan gizi seimbang  sesuai standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian, sekaligus menekan angka  stunting, anemia, dan kelaparan tersembunyi yang selama ini menghambat  kualitas sumber daya manusia.  

Hingga akhir kuartal ketiga tahun 2025, tepatnya pada 30 September,  BGN melaporkan pencapaian yang signifikan. Sebanyak 9.653 unit SPPG telah  beroperasi di 38 provinsi dan berhasil melayani sedikitnya 30 juta penerima  manfaat. BGN menargetkan peningkatan jumlah SPPG menjadi 32.000 unit pada  November 2025 agar cakupan layanan dapat menjangkau seluruh jenjang  pendidikan negeri dari PAUD hingga SMA (Insonesia.go.id, 2025). Di samping  tujuannya meningkatkan kesejahteraan anak sekolah, MBG memainkan peran  penting sebagai katalis ekonomi daerah. Program ini membuka peluang usaha  bagi UMKM dan koperasi lokal melalui sistem penyediaan bahan dan jasa  makanan di sekolah. Pendekatan ini mendorong sirkulasi ekonomi lokal yang  lebih merata, sekaligus memperkuat hubungan antara sekolah dan komunitas  sekitar. 

Dampak positif dari program MBG mulai dirasakan secara nyata di  lapangan. Data yang dirilis oleh Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan bahwa  pelaksanaan program telah memicu peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT)  menurut umur anak-anak dan remaja di sejumlah daerah penerima manfaat.  Sebagai contoh, pemantauan selama 15 minggu di Kota Bogor mencatat adanya  peningkatan rata-rata IMT, dan kondisi serupa juga terdeteksi di Provinsi Aceh (Antara News, 2025). Lewat indikator ini, terlihat bahwa status kesehatan dan  keseimbangan asupan anak sekolah mulai bergerak ke arah yang lebih baik.  Program ini juga menjangkau kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui,  dan anak balita dalam “1.000 hari pertama kehidupan” yang menjadi masa krusial  bagi pembentukan kualitas tumbuh kembang anak. Capaian tersebut menunjukkan  bahwa MBG berpotensi menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas  sumber daya manusia sejak usia dini. Peningkatan IMT mencerminkan adanya  perbaikan pola makan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asupan  seimbang di lingkungan sekolah dan keluarga. Keberhasilan awal ini tentunya  perlu diikuti dengan pengawasan yang berkelanjutan dan pemerataan pelaksanaan  agar manfaat program dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia. 

Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, MBG memberikan kontribusi  langsung terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable  Development Goals/SDGs). Program ini mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan)  melalui penyediaan akses pangan bergizi bagi jutaan anak sekolah. MBG juga  berkontribusi pada SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan menekan  kasus anemia dan kekurangan energi kronis. Selain itu, program ini memperkuat  SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan konsentrasi belajar dan  kehadiran siswa, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)  dengan menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan UMKM lokal. Integrasi  gizi, pendidikan, dan ekonomi ini menunjukkan peran strategis MBG dalam  pembangunan manusia Indonesia.  

Namun, di balik capaian positif tersebut, MBG menghadapi tantangan  besar dalam hal keamanan pangan dan manajemen distribusi. Sayangnya, program  yang bertujuan meningkatkan kesehatan anak sekolah justru diwarnai oleh  sejumlah kasus keracunan makanan di berbagai daerah. Menurut laporan Badan  Gizi Nasional, faktor utama penyebabnya berkaitan dengan rentang waktu yang  terlalu panjang antara proses pengolahan makanan di pagi hari dan penyajiannya  pada jam makan siang. Kondisi tersebut menciptakan peluang pertumbuhan  mikroorganisme berbahaya apabila makanan tidak dijaga pada suhu yang sesuai,  yaitu di atas 60°C untuk hot holding atau di bawah 5°C untuk cold holding (Rorong & Wilar, 2020). Selain itu, aspek kebersihan alat masak, kualitas air,  serta sanitasi lingkungan dapur juga menjadi titik rawan yang membutuhkan  pengawasan ketat. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa  pengelolaan rantai penyimpanan dan distribusi makanan masih menjadi titik  lemah yang perlu segera diperbaiki agar keamanan pangan dalam program MBG  dapat terjamin di seluruh wilayah. 

Berbagai mikroorganisme penyebab penyakit seperti Escherichia coli,  Salmonella, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus sering ditemukan sebagai  kontaminan utama (Rorong & Wilar, 2020). Mikroorganisme tersebut dapat  menyebabkan bahan pangan kehilangan sterilitas, memicu perubahan fisik  maupun kimia, dan akhirnya membuat makanan tidak layak konsumsi. Kondisi ini  menunjukkan bahwa pengawasan kebersihan dan penyimpanan di dapur SPPG  masih belum optimal. Tanpa sistem pendinginan dan kontrol suhu yang memadai,  potensi pertumbuhan bakteri meningkat drastis. Oleh karena itu, aspek higienitas  dan manajemen waktu menjadi krusial untuk menjamin keamanan pangan dalam  program berskala nasional seperti MBG. 

Data resmi BGN memperjelas skala permasalahan tersebut. Sepanjang  Januari hingga September 2025, tercatat 70 insiden keracunan dengan total 5.914  penerima manfaat terdampak. Distribusi kasus menunjukkan konsentrasi yang  tidak merata: Wilayah I (Sumatera) mencatat 9 kasus dengan 1.307 korban,  Wilayah II (Pulau Jawa) 41 kasus dengan 3.610 korban, dan Wilayah III  (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara) 20 kasus  dengan 997 korban. Di antara wilayah tersebut, Kota Bandar Lampung menonjol  sebagai daerah dengan jumlah korban tertinggi. Analisis menunjukkan bahwa  rata-rata korban per kasus di Sumatera mencapai 145 orang, jauh di atas rata-rata  Jawa (88 orang) dan wilayah lainnya (50 orang). Pola ini mengindikasikan bahwa  insiden di Sumatera cenderung lebih masif dan menyebar cepat. Investigasi  lanjutan juga menemukan bahwa kontaminasi air menjadi faktor utama  penyebaran bakteri patogen di sejumlah dapur SPPG, menandakan perlunya audit  kualitas air bersih di setiap satuan pelayanan (Antara News, 2025).

Menanggapi situasi tersebut, Badan Gizi Nasional membentuk dua lini  investigasi mendalam untuk menelusuri penyebab dan memperkuat sistem  keamanan pangan. Lini investigasi teknis lapangan difokuskan pada audit rantai  distribusi bahan pangan, pemeriksaan proses pengolahan di dapur SPPG, serta  evaluasi penyimpanan dan distribusi makanan. Sementara itu, lini analisis  kebijakan dan sistem pengawasan menitikberatkan pada evaluasi kepatuhan  terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP), sertifikasi kebersihan, dan  pelatihan petugas pengolah makanan. Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang,  menegaskan bahwa pendekatan multidisiplin ini tidak hanya mengevaluasi SOP,  tetapi juga mengungkap seluruh aspek penyebab keracunan agar kejadian serupa  tidak terulang (Badan Gizi Nasional, 2025). 

Kendati langkah investigasi sudah dilakukan, model pengawasan MBG  saat ini masih bersifat reaktif. Pemeriksaan lapangan dilakukan secara berkala  tanpa sistem pemantauan digital terintegrasi, sehingga masalah baru diketahui  setelah insiden terjadi. Kondisi ini membuat upaya pengawasan tidak mampu  mencegah risiko secara dini. Oleh karena itu, kami merekomendasikan  transformasi mendasar menuju pengawasan preventif berbasis aplikasi informasi  bernama SEHATI (Sekolah Aman Sehat Bergizi). SEHATI dapat pelaporan real time dapat diterapkan di sekolah untuk mencatat menu, tingkat konsumsi, sisa  makanan, dan keluhan siswa secara langsung. Data ini akan diakses oleh BGN  dan dinas terkait melalui dasbor nasional, sehingga respons dan perbaikan dapat  dilakukan lebih cepat dan akurat.


PEMBAHASAN

SEHATI merupakan sebuah aplikasi digital berbasis pelacakan (tracking  system) yang dirancang untuk memantau rantai distribusi makanan bergizi secara  real time dan berbasis data terintegrasi nasional. SEHATI menghubungkan semua  elemen yang terlibat dalam program MBG: mulai dari Sentra Penyedia Pangan  Gizi (SPPG), kurir distribusi, sekolah penerima, hingga pengawas daerah dan  Badan Gizi Nasional (BGN) di tingkat pusat. 

Dapur Produksi (SPPG) 

Tahap awal dimulai dari Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG), titik  pertama yang menentukan kualitas makanan sebelum sampai ke peserta didik.  Melalui SEHATI, setiap dapur diwajibkan mengisi checklist digital pra-produksi  yang mencakup kebersihan area memasak, ketersediaan alat pelindung diri,  kondisi peralatan, serta kelayakan bahan baku. Sistem ini dilengkapi fitur unggah  bukti foto dan video singkat yang diverifikasi otomatis oleh algoritma pengenalan  citra (image recognition) untuk mendeteksi kelalaian seperti sarung tangan tidak  digunakan atau area memasak kotor. Seluruh aktivitas dapur terekam secara  digital dan dapat dipantau langsung oleh pengawas daerah, pihak sekolah, hingga  Badan Gizi Nasional (BGN) melalui dashboard terpusat. 

Gambar 1. Desain Aplikasi SEHATI bagian Produksi


Teknologi Internet of Things (IoT) diterapkan melalui sensor suhu dan  kelembapan yang dipasang di dapur dan lemari pendingin untuk memantau  kondisi penyimpanan bahan secara real time. Jika suhu melebihi ambang batas  aman (misalnya >5°C untuk bahan segar atau >60°C untuk makanan matang),  sistem langsung mengirimkan notifikasi otomatis ke pengawas dapur dan  dashboard pusat. Selain itu, setiap bahan makanan yang masuk dari pemasok  didata melalui QR Code dan blockchain log yang menyimpan riwayat asal bahan,  tanggal kedatangan, dan masa kedaluwarsa. Dengan pendekatan ini, seluruh rantai  pasok dari bahan mentah hingga makanan siap saji dapat ditelusuri kembali  (traceable) secara digital tanpa risiko manipulasi data. 

Proses Distribusi ke Sekolah 

Setelah tahap produksi selesai, sistem berpindah ke fase distribusi  makanan menuju sekolah-sekolah penerima. SEHATI menggunakan kode QR  unik pada setiap batch makanan yang dikirim. Kode tersebut berisi data lengkap  tentang menu, jumlah porsi, waktu keberangkatan, dan identitas petugas distribusi.  Semua kendaraan pengantar dilengkapi GPS tracker yang terhubung ke aplikasi  untuk memantau rute dan waktu tempuh secara real time. Apabila terjadi  keterlambatan lebih dari batas waktu toleransi atau penyimpangan rute, sistem  akan otomatis mengeluarkan peringatan ke pengawas wilayah.

Gambar 2. Desain Aplikasi SEHATI bagian Distribusi 

Kurir membawa kode QR tersebut hingga ke sekolah tujuan, dan guru  piket atau petugas penerima melakukan pemindaian QR Code sebagai bentuk  serah terima digital. Pemindaian memvalidasi lokasi penerima melalui geo tagging otomatis, memastikan makanan diterima tepat waktu dan oleh pihak yang  berwenang. Proses ini membentuk rantai pengawasan tertutup (closed-loop  monitoring system) yang sulit dimanipulasi secara manual.

Pengawasan di Sekolah (Guru dan Siswa) 

Gambar 3. Desain Aplikasi SEHATI bagian Laporan 

Pada tahap penerimaan di sekolah, SEHATI mengintegrasikan peran guru  dan siswa sebagai pengawas lapangan. Guru memiliki akses ke dashboard yang  menampilkan status pengiriman, suhu makanan terakhir, serta checklist  penerimaan. Sementara itu, siswa dapat berpartisipasi melalui fitur penilaian  harian yang memungkinkan mereka memberikan rating bintang (1–5), menulis  komentar, dan mengunggah foto makanan. Sistem memanfaatkan natural  language processing (NLP) sederhana untuk menganalisis komentar siswa dan  mendeteksi pola keluhan berulang seperti “bau tidak sedap” atau “porsi kurang”,  yang kemudian ditandai secara otomatis sebagai potensi masalah. 

Terdapat juga fitur “Lapor Darurat”, berupa tombol prioritas tinggi yang  dapat ditekan oleh guru ketika ditemukan indikasi makanan basi, gejala  keracunan, atau kondisi sanitasi tidak layak. Setelah tombol ditekan, sistem segera  mengirim alert berlevel merah ke pengawas daerah dan BGN, lengkap dengan  foto, waktu kejadian, dan lokasi GPS.

Dasbor Pengawasan Pemerintah dan BGN 

Gambar 4. Desain Aplikasi SEHATI bagian Pengawasan 

Tahap terakhir adalah sistem pemantauan tingkat makro yang diakses oleh  pemerintah daerah dan BGN. Dasbor SEHATI menampilkan peta interaktif  nasional dengan ribuan titik sekolah yang ditandai warna: hijau (aman), kuning  (laporan ringan), dan merah (laporan darurat). Data dikumpulkan dan  disinkronkan melalui cloud computing platform yang memungkinkan akses  simultan dari berbagai lembaga tanpa menunggu laporan manual. 

Sistem ini juga didukung oleh AI-powered early warning system yang  menganalisis data historis untuk mendeteksi anomali. Misalnya, bila lebih dari  20% siswa di satu sekolah melaporkan rating rendah atau keluhan serupa dalam  waktu 24 jam, sistem otomatis mengeluarkan peringatan investigasi cepat kepada  pengawas wilayah. Selain itu, modul analitik kinerja menampilkan rekam jejak  tiap dapur SPPG seperti ketepatan waktu pengiriman, skor kebersihan, dan tingkat  kepuasan siswa. Data ini digunakan sebagai dasar pembinaan, evaluasi kontrak,  hingga pemberian insentif bagi penyedia makanan yang berprestasi.

Kekuatan lain SEHATI terletak pada potensinya sebagai dasar  pengembangan kebijakan nasional berbasis digital. Informasi yang dikumpulkan  dari ribuan titik sekolah memberikan gambaran nyata tentang pola logistik,  kualitas penyedia, serta faktor-faktor risiko yang memengaruhi keberhasilan  program MBG. Dashboard SEHATI dapat digunakan pemerintah daerah untuk  pelaporan otomatis ke kementerian, sementara lembaga audit dapat melakukan  pemeriksaan berbasis data digital tanpa harus menunggu laporan fisik dari  lapangan. Aplikasi ini membuktikan bahwa inovasi digital dapat menjadi  jembatan antara kebijakan dan pelaksanaan di lapangan, sehingga cita-cita besar  “Sekolah Sehat Aman Bergizi” benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata. 

Analisis SWOT & TOWS SEHATI 


Gambar 5. Analisis SWOT & TOWS Aplikasi SEHATI  

Analisis terhadap posisi strategis aplikasi SEHATI dalam Program Makan  Bergizi Gratis (MBG) dilakukan untuk menilai berbagai potensi, peluang, serta  tantangan yang dihadapinya dalam pelaksanaan di lapangan. Analisis ini penting  untuk melihat sejauh mana SEHATI mampu berfungsi secara efektif sebagai instrumen pengawasan digital yang menjamin kualitas, keamanan, dan ketepatan  distribusi makanan bergizi bagi peserta didik. Melalui pendekatan SWOT  (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), faktor-faktor internal seperti  kekuatan dan kelemahan sistem dapat dipetakan secara komprehensif, bersamaan  dengan identifikasi peluang dan ancaman eksternal yang mungkin memengaruhi  keberlanjutan program. Selanjutnya, hasil pemetaan tersebut dikembangkan  menjadi strategi TOWS, yang bertujuan untuk menghubungkan berbagai faktor  internal dan eksternal agar diperoleh langkah-langkah taktis yang realistis dan  terukur. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu BGN dan pemangku  kepentingan terkait dalam merumuskan kebijakan penguatan serta arah  pengembangan SEHATI di masa mendatang. 

Roadmap & Rencana Ekseusi Aplikasi SEHATI 


Gambar 6. Roadmap & Rencana Eksekusi Aplikasi SEHATI  

Rencana eksekusi pengembangan aplikasi SEHATI disusun sebagai  panduan strategis untuk memastikan implementasi teknologi pengawasan pangan  sekolah berjalan terarah, terukur, dan berkelanjutan. Roadmap ini mencakup  periode Kuartal 1 tahun 2026 hingga Kuartal 1 tahun 2027, yang dibagi ke dalam tiga fase utama: penguatan fondasi dan pengembangan prototipe, uji lapangan dan  validasi sistem, serta penyempurnaan menuju ekspansi nasional. Setiap fase  dirancang dengan memperhatikan aspek teknis, kelembagaan, dan kolaboratif  antara pemerintah, sekolah, serta mitra teknologi. Dengan pendekatan bertahap  ini, SEHATI diharapkan mampu bertransformasi dari proyek inovasi digital skala  terbatas menjadi sistem pengawasan pangan nasional yang transparan, partisipatif,  dan berbasis data real time.


PENUTUP

Inovasi yang diterapkan pada SEHATI memberikan kemudahan bagi  Badan Gizi Nasional (BGN) dalam melakukan pengawasan menyeluruh terhadap  pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui fitur pelaporan cepat,  aplikasi ini memungkinkan guru dan siswa untuk memberikan umpan balik  langsung mengenai kondisi makanan yang diterima di sekolah, sehingga potensi  masalah dapat segera diidentifikasi dan ditangani.  

Untuk pengembangan dan keberlanjutan aplikasi pemantau MBG  SEHATI, dibutuhkan dukungan aktif dari seluruh pemangku kepentingan agar  inovasi ini dapat terealisasi secara optimal. Kolaborasi antara BGN, pemerintah  daerah, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci agar sistem pengawasan berbasis  digital ini mampu berjalan efektif serta memberikan dampak nyata bagi  keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui kolaborasi seluruh  pemangku kepentingan tersebut, SEHATI diharapkan mampu meningkatkan  transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas dalam pelaksanaan Program MBG.  Kehadiran sistem digital ini juga menjadi langkah strategis menuju terciptanya  status zero accident atau nol kesalahan dalam penyediaan makanan bergizi bagi  peserta didik di seluruh Indonesia.

_______
Ditulis oleh:
1. As Shifa Putri Justicia (2425041025)
2. Sahwa Destiani Sabella (2415041039)
3. Nur Azizah (2513024005)
4. Aisyah (2513022021)

Jumat, 17 Oktober 2025

CASSBIO PLASTIC-INOVASI PLASTIK BIODEGREDABLE DARI PATI SINGKONG SEBAGAI SOLUSI CERDAS UNTUK MENGURANGI PENGGUNAAN SAMPAH PLASTIK

 PENDAHULUAN 

Data Penggunaan Plastik Sekali Pakai di Indonesia 

Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2024 mencatat timbulan sampah nasional  mencapai sekitar 34,2 juta ton dari 317 kabupaten/kota. Sampah plastik  menyumbang 19,74 % dari total timbulan sampah tersebut. Komposisi plastik  berada di posisi kedua setelah sisa makanan dalam struktur sampah nasional.  Proporsi plastik itu menunjukkan peningkatan dari 19,26 % pada tahun  sebelumnya. Data KLHK menyebut bahwa dari total sampah plastik hanya sekitar  7 % yang berhasil didaur ulang. Sisanya sebagian besar berpotensi menjadi limbah  yang bocor ke lingkungan. Jumlah impor sampah plastik Indonesia pada 2024  tercatat 262.900 ton menurut BPS. Tantangan pengelolaan plastik sekali pakai  semakin kritis bila tren tersebut tidak dikendalikan (Badan Pusat Statistik, 2024). 

Kekurangan Penggunaan Plastik Sekali Pakai 

Penggunaan plastik sekali pakai telah menjadi isu lingkungan yang mendesak dan  semakin memprihatinkan di seluruh dunia. Masalah ini tidak hanya mempengaruhi  lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan manusia dan ekosistem global  penggunaan plastik sekali pakai secara berkelanjutan menimbulkan berbagai  dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Proses degradasi  plastik menghasilkan mikroplastik yang mencemari air minum serta masuk ke  rantai makanan dan berpotensi mengancam kesehatan manusia (Musleh dan  Rahman, 2024). Penumpukan sampah plastik di tempat pembuangan akhir  memperpendek usia TPA dan melepaskan gas rumah kaca selama proses degradasi  anaerobik. Plastik yang tertinggal di tanah dapat mengganggu porositas tanah dan  menurunkan kesuburan lahan pertanian. Dampak lingkungan tersebut  menimbulkan konsekuensi kesehatan bagi masyarakat di sekitar TPA akibat  kontaminasi air tanah dan udara tercemar. Pola penggunaan plastik sekali pakai  yang tidak terkendali memperburuk keberlanjutan ekosistem (Son dan Bungin,  2024).

Plastik Biodegradable Pati Singkong 

Plastik biodegradable didefinisikan sebagai plastik yang memiliki proses biodegradasi lebih cepat dibandingkan dengan plastik konvensional serta  bahan dapat diperbaharui (Afdal dkk., 2022). Pati singkong menawarkan solusi  praktis terhadap keresahan penggunaan plastik sekali pakai yang sulit terurai karena  bahan ini mudah diperoleh dari sumber lokal dan memiliki kandungan pati yang  tinggi untuk pembentukan film polimer biologis. Pati singkong mudah diperoleh,  harga bahan yang terjangkau, sumber daya panen sekitar yang melimpah, sehingga  penggunaan bahan baku ini berpotensi menurunkan biaya produksi bioplastik dan  memberi nilai tambah bagi petani lokal. Formulasi pati singkong yang diberi  plasticizer dan penguat alami yang dapat memperbaiki sifat mekanik sambil tetap  mempertahankan kemampuan biodegradasi dalam tanah atau kompos (Harahap  dkk., 2023).


PEMBAHASAN 

Plastik Biodegradable 

Plastik biodegradable adalah jenis plastik yang dibuat dari bahan-bahan alami  seperti pati, selulosa, atau limbah pertanian, yang mampu terurai secara biologis  oleh mikroorganisme dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding plastik  konvensional. Hasil pertanian yang berpotensi menghasilkan plastik biodegradable antara lain limbah tanaman pangan yang mengandung pati atau selulosa yang tinggi 

(Khodijah dan Tobing, 2023). Penggunaan plastik biodegradable menjadi alternatif  ramah lingkungan dalam upaya mengurangi penumpukan limbah plastik yang sulit  terurai. Sifat mekanik dan ketahanan air dari plastik biodegradable dapat  ditingkatkan melalui penambahan bahan tambahan seperti plasticizer alami (Tristanti dkk., 2019). 

Tahapan Proses Pembuatan Plastik Biodegradable dari Pati Singkong Proses pembuatan plastik biodegradable diawali dengan menimbang pati sebanyak  10 gram dan 12 gram sebagai bahan utama. Setelah itu, seng oksida (ZnO) dengan  konsentrasi 12% dan 15% dimasukkan ke dalam masing-masing gelas kimia berisi  100 mL. Kemudian, ditambahkan aquadest sebanyak 100 mL sambil dilakukan  pengadukan agar campuran homogen. Setelah ZnO sedikit larut, gliserol sebanyak  5 mL dan 7 mL dimasukkan ke dalam campuran tersebut sesuai dengan konsentrasi  yang telah ditentukan, lalu diaduk kembali hingga merata. Selanjutnya, pati yang  telah ditimbang dimasukkan ke dalam larutan dan diaduk menggunakan stirrer  selama 10 menit untuk mendapatkan campuran yang homogen. Campuran tersebut  kemudian dipanaskan di atas hot plate selama 40 menit sambil diaduk pada suhu  sekitar 80°C hingga terbentuk larutan kental. Setelah itu, larutan dituangkan ke  dalam cetakan dan dikeringkan dalam oven pada suhu 60°C selama 3 jam. Langkah  terakhir adalah mengeluarkan hasil dari oven dan didinginkan pada suhu kamar agar  plastik mudah dilepaskan dari cetakan (Saputra dan Supriyono, 2020).

Secara bertahap, proses pembuatan plastik biodegradable terdiri dari enam tahap  utama. Langkah pertama adalah penyiapan bahan berupa penimbangan pati dan  larutan ZnO dan ditambahkan pelarutan ZnO dalam aquadest untuk menghasilkan  larutan katalis. Proses selanjutnya yaitu penambahan gliserol sebagai plastisizer  yang berfungsi meningkatkan fleksibilitas plastik. Proses yang selanjutnya adalah  pencampuran pati dengan larutan katalis dan pengadukan agar homogen dan  lakukan pemanasan campuran untuk memicu gelatinisasi pati dan membentuk  struktur plastik. Proses yang terakhir adalah pencetakan dan pengeringan untuk  memperoleh plastik biodegradable yang padat dan kering. Proses ini menghasilkan  plastik biodegradable yang ramah lingkungan dengan karakteristik mudah terurai  secara alami (Saputra dan Supriyono, 2020). 

Gambar 1. Produk plastik biodegradable Cassbio 

Plastik Biodegradable Cassbio 

Plastik biodegradable merek Cassbio, yaitu kantong belanja ramah lingkungan  berbahan dasar pati singkong (cassava starch). Kantong ini memiliki tampilan  menyerupai plastik konvensional, berwarna putih transparan dengan berbagai  model pegangan (lubang oval dan tali pegangan), serta bersifat fleksibel namun  mudah terurai di alam. Plastik biodegradable berbasis pati singkong dihasilkan  melalui proses gelatinisasi pati dengan penambahan plasticizer gliserol dan katalis  ZnO untuk meningkatkan kekuatan tarik dan elastisitasnya. Hasil uji biodegradasi  menunjukkan bahwa plastik jenis ini dapat terurai dalam waktu 30–60 hari di 

lingkungan tanah, jauh lebih cepat dibandingkan plastik berbasis polietilena. Plastik biodegradable Cassbio merupakan contoh nyata penerapan bioplastik yang tidak  hanya kuat dan fungsional, tetapi juga mendukung konsep ekonomi hijau dan  keberlanjutan lingkungan (Fitriani dkk., 2021). 

Plastik merupakan produk polimerisasi sintetik atau semi sintetik yang banyak  digunakan sebagai kemasan dalam kehidupan manusia. Kebutuhan akan plastik di  Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan dimana perkapita mencapai 17  kg per tahun dengan pertumbuhan konsumsi mencapai 6-7% per tahunnya (Asngad  dkk., 2020). Plastik dari bahan minyak bumi dapat terurai setelah 500 hingga 1000  tahun setelahnya. Sehingga ketika plastik ditanah dibiarkan tercecer akan dapat  merusak lingkungan, menghambat resapan air, dan merusak kesuburan dalam  tanah. Penggunaan plastik dalam jangka panjang akan berbahaya bagi lingkungan  seperti pencemaran serta kerusakan lingkungan karena tidak dapat di daur ulang  dan tidak dapat terurai oleh mikroba (Intandiana dkk., 2019).  

Berdasarkan hal diatas maka dibutuhkan suatu energi alternatif berbahan plastik  yang diperoleh dari bahan yang tersedia di alam dan cepat terurai yaitu bioplastik.  Bioplastik merupakan plastik biodegradable yang terbuat dari bahan polimer alami  seperti pati, selulosa, dan lemak. Di Indonesia, pati menjadi pilihan sebagai bahan  baku plastik biodegradable karena ketersediaannya cukup melimpah. Jenis pati  yang dapat digunakan sebagai bahan baku plastik biodegradable di antaranya pati  ubi kayu, pati sagu, dan pati jagung. Pembuatan bioplastik biasanya dilakukan  menggunakan metode sederhana dengan mencampurkan polimer alami contohnya  selulosa dengan bahan tambahan seperti plasticizer atau melalui proses fermentasi  dengan bakteri (Intandiana dkk., 2019). 

Keunggulan Plastik Biodegradable 

Dari segi harga, plastik konvensional umumnya jauh lebih murah. Sebagai  gambaran, untuk biji plastik jenis PP di Indonesia diperkirakan berkisar antara Rp  4.000 hingga Rp 16.000 per kg. Sedangkan untuk plastik biodegradable, satu  sumber menyebut bahwa kantong plastik berbahan dasar pati di Indonesia “lebih 

mahal 2-2,5 kali” dari plastik konvensional. Bahkan dalam arti produk jadi,  dijumpai harga kantong plastik biodegradable atau kemasan ramah lingkungan  yang jauh di atas plastik biasa (Intandiana dkk., 2019). 

Dengan melihat dua aspek di atas—termasuk waktu terurai yang jauh lebih singkat  dan harga yang memang lebih tinggi tetapi bisa diimbangi oleh manfaat  lingkungan—argumen untuk implementasi plastik biodegradable menjadi semakin  kuat. Plastik yang sulit terurai akan menumpuk, mencemari tanah, air, bahkan akan  mengganggu kesehatan masyarakat sekitar. Sedangkan plastik biodegradable memungkinkan limbah plastik menjadi lebih cepat kembali ke siklus alam tanpa  meninggalkan residu jangka panjang, sehingga mendukung prinsip keberlanjutan  dan ekonomi sirkular. Meskipun biaya awalnya lebih tinggi, manfaat jangka  panjang berupa pengurangan beban lingkungan, peningkatan citra  perusahaan/produk, dan potensi penghematan pengelolaan limbah menjadikan  transisi ini strategis untuk implementasi secara sistemik.


PENUTUP 

Pengelolaan plastik sekali pakai merupakan isu yang kompleks dan telah mencapai  tingkat urgensi lingkungan yang mengkhawatirkan secara global. Peningkatan  proporsi sampah plastik, tingkat daur ulang yang rendah, volume impor yang  signifikan, dan dampak jangka panjang terhadap lingkungan termasuk pencemaran  mikroplastik, pelepasan gas rumah kaca, serta penurunan kualitas tanah dan  kesehatan masyarakat harus menegaskan urgensi untuk mengevaluasi dan  merumuskan strategi pengendalian yang lebih efektif. Persoalan ini tidak hanya  berimplikasi negatif pada kualitas lingkungan, tetapi juga memicu dampak buruk  yang signifikan terhadap kesehatan manusia dan keberlanjutan ekosistem di seluruh  dunia. Secara keberlanjutan pemakaian jenis plastik ini menimbulkan berbagai  konsekuensi merugikan bagi alam dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu  inovasi seperti plastik biodegredable merk Cassbio, merupakan langkah positif  dalam mengurangi dampak negatif tersebut. Cassbio menawarkan kantong belanja  ramah lingkungan yang berbahan dasar pati singkong ramah lingkungan dan  menjadi alternatif yang lebih baik untuk mengurangi penggunaan plastik sekali  pakai yang sulit terurai. Dengan adanya solusi seperti ini bisa mengurangi beban  lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

_______ Ditulis oleh: 1. Ella Alfiah Anggelia (2417021030) 2. Lalytha Anargya Maheswari (2417011002)  3. Leony Putri Arianto Az-Zahrah (2414241019)  4. Rima Zakiyya Taufani (2517051056)


Postingan Populer