Senin, 03 November 2025

KAWAL GIZI DENGAN SEHATI: INOVASI DIGITAL UNTUK MENGATASI ISU KEAMANAN MBG NEGERI

 PENDAHULUAN 

Program Makan Bergizi Gratis atau yang lebih dikenal dengan MBG  merupakan program prioritas Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto  yang diimplementasikan secara teknis oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai  lembaga pelaksana utama di bawah koordinasi pemerintah pusat. Program ini  ditujukan untuk peserta didik di seluruh jenjang pendidikan negeri, mulai dari  Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah  Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Tujuan utamanya adalah  memastikan bahwa setiap anak Indonesia memperoleh asupan gizi seimbang  sesuai standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian, sekaligus menekan angka  stunting, anemia, dan kelaparan tersembunyi yang selama ini menghambat  kualitas sumber daya manusia.  

Hingga akhir kuartal ketiga tahun 2025, tepatnya pada 30 September,  BGN melaporkan pencapaian yang signifikan. Sebanyak 9.653 unit SPPG telah  beroperasi di 38 provinsi dan berhasil melayani sedikitnya 30 juta penerima  manfaat. BGN menargetkan peningkatan jumlah SPPG menjadi 32.000 unit pada  November 2025 agar cakupan layanan dapat menjangkau seluruh jenjang  pendidikan negeri dari PAUD hingga SMA (Insonesia.go.id, 2025). Di samping  tujuannya meningkatkan kesejahteraan anak sekolah, MBG memainkan peran  penting sebagai katalis ekonomi daerah. Program ini membuka peluang usaha  bagi UMKM dan koperasi lokal melalui sistem penyediaan bahan dan jasa  makanan di sekolah. Pendekatan ini mendorong sirkulasi ekonomi lokal yang  lebih merata, sekaligus memperkuat hubungan antara sekolah dan komunitas  sekitar. 

Dampak positif dari program MBG mulai dirasakan secara nyata di  lapangan. Data yang dirilis oleh Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan bahwa  pelaksanaan program telah memicu peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT)  menurut umur anak-anak dan remaja di sejumlah daerah penerima manfaat.  Sebagai contoh, pemantauan selama 15 minggu di Kota Bogor mencatat adanya  peningkatan rata-rata IMT, dan kondisi serupa juga terdeteksi di Provinsi Aceh (Antara News, 2025). Lewat indikator ini, terlihat bahwa status kesehatan dan  keseimbangan asupan anak sekolah mulai bergerak ke arah yang lebih baik.  Program ini juga menjangkau kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui,  dan anak balita dalam “1.000 hari pertama kehidupan” yang menjadi masa krusial  bagi pembentukan kualitas tumbuh kembang anak. Capaian tersebut menunjukkan  bahwa MBG berpotensi menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas  sumber daya manusia sejak usia dini. Peningkatan IMT mencerminkan adanya  perbaikan pola makan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asupan  seimbang di lingkungan sekolah dan keluarga. Keberhasilan awal ini tentunya  perlu diikuti dengan pengawasan yang berkelanjutan dan pemerataan pelaksanaan  agar manfaat program dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia. 

Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, MBG memberikan kontribusi  langsung terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable  Development Goals/SDGs). Program ini mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan)  melalui penyediaan akses pangan bergizi bagi jutaan anak sekolah. MBG juga  berkontribusi pada SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan menekan  kasus anemia dan kekurangan energi kronis. Selain itu, program ini memperkuat  SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan konsentrasi belajar dan  kehadiran siswa, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)  dengan menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan UMKM lokal. Integrasi  gizi, pendidikan, dan ekonomi ini menunjukkan peran strategis MBG dalam  pembangunan manusia Indonesia.  

Namun, di balik capaian positif tersebut, MBG menghadapi tantangan  besar dalam hal keamanan pangan dan manajemen distribusi. Sayangnya, program  yang bertujuan meningkatkan kesehatan anak sekolah justru diwarnai oleh  sejumlah kasus keracunan makanan di berbagai daerah. Menurut laporan Badan  Gizi Nasional, faktor utama penyebabnya berkaitan dengan rentang waktu yang  terlalu panjang antara proses pengolahan makanan di pagi hari dan penyajiannya  pada jam makan siang. Kondisi tersebut menciptakan peluang pertumbuhan  mikroorganisme berbahaya apabila makanan tidak dijaga pada suhu yang sesuai,  yaitu di atas 60°C untuk hot holding atau di bawah 5°C untuk cold holding (Rorong & Wilar, 2020). Selain itu, aspek kebersihan alat masak, kualitas air,  serta sanitasi lingkungan dapur juga menjadi titik rawan yang membutuhkan  pengawasan ketat. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa  pengelolaan rantai penyimpanan dan distribusi makanan masih menjadi titik  lemah yang perlu segera diperbaiki agar keamanan pangan dalam program MBG  dapat terjamin di seluruh wilayah. 

Berbagai mikroorganisme penyebab penyakit seperti Escherichia coli,  Salmonella, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus sering ditemukan sebagai  kontaminan utama (Rorong & Wilar, 2020). Mikroorganisme tersebut dapat  menyebabkan bahan pangan kehilangan sterilitas, memicu perubahan fisik  maupun kimia, dan akhirnya membuat makanan tidak layak konsumsi. Kondisi ini  menunjukkan bahwa pengawasan kebersihan dan penyimpanan di dapur SPPG  masih belum optimal. Tanpa sistem pendinginan dan kontrol suhu yang memadai,  potensi pertumbuhan bakteri meningkat drastis. Oleh karena itu, aspek higienitas  dan manajemen waktu menjadi krusial untuk menjamin keamanan pangan dalam  program berskala nasional seperti MBG. 

Data resmi BGN memperjelas skala permasalahan tersebut. Sepanjang  Januari hingga September 2025, tercatat 70 insiden keracunan dengan total 5.914  penerima manfaat terdampak. Distribusi kasus menunjukkan konsentrasi yang  tidak merata: Wilayah I (Sumatera) mencatat 9 kasus dengan 1.307 korban,  Wilayah II (Pulau Jawa) 41 kasus dengan 3.610 korban, dan Wilayah III  (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara) 20 kasus  dengan 997 korban. Di antara wilayah tersebut, Kota Bandar Lampung menonjol  sebagai daerah dengan jumlah korban tertinggi. Analisis menunjukkan bahwa  rata-rata korban per kasus di Sumatera mencapai 145 orang, jauh di atas rata-rata  Jawa (88 orang) dan wilayah lainnya (50 orang). Pola ini mengindikasikan bahwa  insiden di Sumatera cenderung lebih masif dan menyebar cepat. Investigasi  lanjutan juga menemukan bahwa kontaminasi air menjadi faktor utama  penyebaran bakteri patogen di sejumlah dapur SPPG, menandakan perlunya audit  kualitas air bersih di setiap satuan pelayanan (Antara News, 2025).

Menanggapi situasi tersebut, Badan Gizi Nasional membentuk dua lini  investigasi mendalam untuk menelusuri penyebab dan memperkuat sistem  keamanan pangan. Lini investigasi teknis lapangan difokuskan pada audit rantai  distribusi bahan pangan, pemeriksaan proses pengolahan di dapur SPPG, serta  evaluasi penyimpanan dan distribusi makanan. Sementara itu, lini analisis  kebijakan dan sistem pengawasan menitikberatkan pada evaluasi kepatuhan  terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP), sertifikasi kebersihan, dan  pelatihan petugas pengolah makanan. Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang,  menegaskan bahwa pendekatan multidisiplin ini tidak hanya mengevaluasi SOP,  tetapi juga mengungkap seluruh aspek penyebab keracunan agar kejadian serupa  tidak terulang (Badan Gizi Nasional, 2025). 

Kendati langkah investigasi sudah dilakukan, model pengawasan MBG  saat ini masih bersifat reaktif. Pemeriksaan lapangan dilakukan secara berkala  tanpa sistem pemantauan digital terintegrasi, sehingga masalah baru diketahui  setelah insiden terjadi. Kondisi ini membuat upaya pengawasan tidak mampu  mencegah risiko secara dini. Oleh karena itu, kami merekomendasikan  transformasi mendasar menuju pengawasan preventif berbasis aplikasi informasi  bernama SEHATI (Sekolah Aman Sehat Bergizi). SEHATI dapat pelaporan real time dapat diterapkan di sekolah untuk mencatat menu, tingkat konsumsi, sisa  makanan, dan keluhan siswa secara langsung. Data ini akan diakses oleh BGN  dan dinas terkait melalui dasbor nasional, sehingga respons dan perbaikan dapat  dilakukan lebih cepat dan akurat.


PEMBAHASAN

SEHATI merupakan sebuah aplikasi digital berbasis pelacakan (tracking  system) yang dirancang untuk memantau rantai distribusi makanan bergizi secara  real time dan berbasis data terintegrasi nasional. SEHATI menghubungkan semua  elemen yang terlibat dalam program MBG: mulai dari Sentra Penyedia Pangan  Gizi (SPPG), kurir distribusi, sekolah penerima, hingga pengawas daerah dan  Badan Gizi Nasional (BGN) di tingkat pusat. 

Dapur Produksi (SPPG) 

Tahap awal dimulai dari Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG), titik  pertama yang menentukan kualitas makanan sebelum sampai ke peserta didik.  Melalui SEHATI, setiap dapur diwajibkan mengisi checklist digital pra-produksi  yang mencakup kebersihan area memasak, ketersediaan alat pelindung diri,  kondisi peralatan, serta kelayakan bahan baku. Sistem ini dilengkapi fitur unggah  bukti foto dan video singkat yang diverifikasi otomatis oleh algoritma pengenalan  citra (image recognition) untuk mendeteksi kelalaian seperti sarung tangan tidak  digunakan atau area memasak kotor. Seluruh aktivitas dapur terekam secara  digital dan dapat dipantau langsung oleh pengawas daerah, pihak sekolah, hingga  Badan Gizi Nasional (BGN) melalui dashboard terpusat. 

Gambar 1. Desain Aplikasi SEHATI bagian Produksi


Teknologi Internet of Things (IoT) diterapkan melalui sensor suhu dan  kelembapan yang dipasang di dapur dan lemari pendingin untuk memantau  kondisi penyimpanan bahan secara real time. Jika suhu melebihi ambang batas  aman (misalnya >5°C untuk bahan segar atau >60°C untuk makanan matang),  sistem langsung mengirimkan notifikasi otomatis ke pengawas dapur dan  dashboard pusat. Selain itu, setiap bahan makanan yang masuk dari pemasok  didata melalui QR Code dan blockchain log yang menyimpan riwayat asal bahan,  tanggal kedatangan, dan masa kedaluwarsa. Dengan pendekatan ini, seluruh rantai  pasok dari bahan mentah hingga makanan siap saji dapat ditelusuri kembali  (traceable) secara digital tanpa risiko manipulasi data. 

Proses Distribusi ke Sekolah 

Setelah tahap produksi selesai, sistem berpindah ke fase distribusi  makanan menuju sekolah-sekolah penerima. SEHATI menggunakan kode QR  unik pada setiap batch makanan yang dikirim. Kode tersebut berisi data lengkap  tentang menu, jumlah porsi, waktu keberangkatan, dan identitas petugas distribusi.  Semua kendaraan pengantar dilengkapi GPS tracker yang terhubung ke aplikasi  untuk memantau rute dan waktu tempuh secara real time. Apabila terjadi  keterlambatan lebih dari batas waktu toleransi atau penyimpangan rute, sistem  akan otomatis mengeluarkan peringatan ke pengawas wilayah.

Gambar 2. Desain Aplikasi SEHATI bagian Distribusi 

Kurir membawa kode QR tersebut hingga ke sekolah tujuan, dan guru  piket atau petugas penerima melakukan pemindaian QR Code sebagai bentuk  serah terima digital. Pemindaian memvalidasi lokasi penerima melalui geo tagging otomatis, memastikan makanan diterima tepat waktu dan oleh pihak yang  berwenang. Proses ini membentuk rantai pengawasan tertutup (closed-loop  monitoring system) yang sulit dimanipulasi secara manual.

Pengawasan di Sekolah (Guru dan Siswa) 

Gambar 3. Desain Aplikasi SEHATI bagian Laporan 

Pada tahap penerimaan di sekolah, SEHATI mengintegrasikan peran guru  dan siswa sebagai pengawas lapangan. Guru memiliki akses ke dashboard yang  menampilkan status pengiriman, suhu makanan terakhir, serta checklist  penerimaan. Sementara itu, siswa dapat berpartisipasi melalui fitur penilaian  harian yang memungkinkan mereka memberikan rating bintang (1–5), menulis  komentar, dan mengunggah foto makanan. Sistem memanfaatkan natural  language processing (NLP) sederhana untuk menganalisis komentar siswa dan  mendeteksi pola keluhan berulang seperti “bau tidak sedap” atau “porsi kurang”,  yang kemudian ditandai secara otomatis sebagai potensi masalah. 

Terdapat juga fitur “Lapor Darurat”, berupa tombol prioritas tinggi yang  dapat ditekan oleh guru ketika ditemukan indikasi makanan basi, gejala  keracunan, atau kondisi sanitasi tidak layak. Setelah tombol ditekan, sistem segera  mengirim alert berlevel merah ke pengawas daerah dan BGN, lengkap dengan  foto, waktu kejadian, dan lokasi GPS.

Dasbor Pengawasan Pemerintah dan BGN 

Gambar 4. Desain Aplikasi SEHATI bagian Pengawasan 

Tahap terakhir adalah sistem pemantauan tingkat makro yang diakses oleh  pemerintah daerah dan BGN. Dasbor SEHATI menampilkan peta interaktif  nasional dengan ribuan titik sekolah yang ditandai warna: hijau (aman), kuning  (laporan ringan), dan merah (laporan darurat). Data dikumpulkan dan  disinkronkan melalui cloud computing platform yang memungkinkan akses  simultan dari berbagai lembaga tanpa menunggu laporan manual. 

Sistem ini juga didukung oleh AI-powered early warning system yang  menganalisis data historis untuk mendeteksi anomali. Misalnya, bila lebih dari  20% siswa di satu sekolah melaporkan rating rendah atau keluhan serupa dalam  waktu 24 jam, sistem otomatis mengeluarkan peringatan investigasi cepat kepada  pengawas wilayah. Selain itu, modul analitik kinerja menampilkan rekam jejak  tiap dapur SPPG seperti ketepatan waktu pengiriman, skor kebersihan, dan tingkat  kepuasan siswa. Data ini digunakan sebagai dasar pembinaan, evaluasi kontrak,  hingga pemberian insentif bagi penyedia makanan yang berprestasi.

Kekuatan lain SEHATI terletak pada potensinya sebagai dasar  pengembangan kebijakan nasional berbasis digital. Informasi yang dikumpulkan  dari ribuan titik sekolah memberikan gambaran nyata tentang pola logistik,  kualitas penyedia, serta faktor-faktor risiko yang memengaruhi keberhasilan  program MBG. Dashboard SEHATI dapat digunakan pemerintah daerah untuk  pelaporan otomatis ke kementerian, sementara lembaga audit dapat melakukan  pemeriksaan berbasis data digital tanpa harus menunggu laporan fisik dari  lapangan. Aplikasi ini membuktikan bahwa inovasi digital dapat menjadi  jembatan antara kebijakan dan pelaksanaan di lapangan, sehingga cita-cita besar  “Sekolah Sehat Aman Bergizi” benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata. 

Analisis SWOT & TOWS SEHATI 


Gambar 5. Analisis SWOT & TOWS Aplikasi SEHATI  

Analisis terhadap posisi strategis aplikasi SEHATI dalam Program Makan  Bergizi Gratis (MBG) dilakukan untuk menilai berbagai potensi, peluang, serta  tantangan yang dihadapinya dalam pelaksanaan di lapangan. Analisis ini penting  untuk melihat sejauh mana SEHATI mampu berfungsi secara efektif sebagai instrumen pengawasan digital yang menjamin kualitas, keamanan, dan ketepatan  distribusi makanan bergizi bagi peserta didik. Melalui pendekatan SWOT  (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), faktor-faktor internal seperti  kekuatan dan kelemahan sistem dapat dipetakan secara komprehensif, bersamaan  dengan identifikasi peluang dan ancaman eksternal yang mungkin memengaruhi  keberlanjutan program. Selanjutnya, hasil pemetaan tersebut dikembangkan  menjadi strategi TOWS, yang bertujuan untuk menghubungkan berbagai faktor  internal dan eksternal agar diperoleh langkah-langkah taktis yang realistis dan  terukur. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu BGN dan pemangku  kepentingan terkait dalam merumuskan kebijakan penguatan serta arah  pengembangan SEHATI di masa mendatang. 

Roadmap & Rencana Ekseusi Aplikasi SEHATI 


Gambar 6. Roadmap & Rencana Eksekusi Aplikasi SEHATI  

Rencana eksekusi pengembangan aplikasi SEHATI disusun sebagai  panduan strategis untuk memastikan implementasi teknologi pengawasan pangan  sekolah berjalan terarah, terukur, dan berkelanjutan. Roadmap ini mencakup  periode Kuartal 1 tahun 2026 hingga Kuartal 1 tahun 2027, yang dibagi ke dalam tiga fase utama: penguatan fondasi dan pengembangan prototipe, uji lapangan dan  validasi sistem, serta penyempurnaan menuju ekspansi nasional. Setiap fase  dirancang dengan memperhatikan aspek teknis, kelembagaan, dan kolaboratif  antara pemerintah, sekolah, serta mitra teknologi. Dengan pendekatan bertahap  ini, SEHATI diharapkan mampu bertransformasi dari proyek inovasi digital skala  terbatas menjadi sistem pengawasan pangan nasional yang transparan, partisipatif,  dan berbasis data real time.


PENUTUP

Inovasi yang diterapkan pada SEHATI memberikan kemudahan bagi  Badan Gizi Nasional (BGN) dalam melakukan pengawasan menyeluruh terhadap  pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui fitur pelaporan cepat,  aplikasi ini memungkinkan guru dan siswa untuk memberikan umpan balik  langsung mengenai kondisi makanan yang diterima di sekolah, sehingga potensi  masalah dapat segera diidentifikasi dan ditangani.  

Untuk pengembangan dan keberlanjutan aplikasi pemantau MBG  SEHATI, dibutuhkan dukungan aktif dari seluruh pemangku kepentingan agar  inovasi ini dapat terealisasi secara optimal. Kolaborasi antara BGN, pemerintah  daerah, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci agar sistem pengawasan berbasis  digital ini mampu berjalan efektif serta memberikan dampak nyata bagi  keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui kolaborasi seluruh  pemangku kepentingan tersebut, SEHATI diharapkan mampu meningkatkan  transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas dalam pelaksanaan Program MBG.  Kehadiran sistem digital ini juga menjadi langkah strategis menuju terciptanya  status zero accident atau nol kesalahan dalam penyediaan makanan bergizi bagi  peserta didik di seluruh Indonesia.

_______
Ditulis oleh:
1. As Shifa Putri Justicia (2425041025)
2. Sahwa Destiani Sabella (2415041039)
3. Nur Azizah (2513024005)
4. Aisyah (2513022021)

Jumat, 17 Oktober 2025

CASSBIO PLASTIC-INOVASI PLASTIK BIODEGREDABLE DARI PATI SINGKONG SEBAGAI SOLUSI CERDAS UNTUK MENGURANGI PENGGUNAAN SAMPAH PLASTIK

 PENDAHULUAN 

Data Penggunaan Plastik Sekali Pakai di Indonesia 

Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2024 mencatat timbulan sampah nasional  mencapai sekitar 34,2 juta ton dari 317 kabupaten/kota. Sampah plastik  menyumbang 19,74 % dari total timbulan sampah tersebut. Komposisi plastik  berada di posisi kedua setelah sisa makanan dalam struktur sampah nasional.  Proporsi plastik itu menunjukkan peningkatan dari 19,26 % pada tahun  sebelumnya. Data KLHK menyebut bahwa dari total sampah plastik hanya sekitar  7 % yang berhasil didaur ulang. Sisanya sebagian besar berpotensi menjadi limbah  yang bocor ke lingkungan. Jumlah impor sampah plastik Indonesia pada 2024  tercatat 262.900 ton menurut BPS. Tantangan pengelolaan plastik sekali pakai  semakin kritis bila tren tersebut tidak dikendalikan (Badan Pusat Statistik, 2024). 

Kekurangan Penggunaan Plastik Sekali Pakai 

Penggunaan plastik sekali pakai telah menjadi isu lingkungan yang mendesak dan  semakin memprihatinkan di seluruh dunia. Masalah ini tidak hanya mempengaruhi  lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan manusia dan ekosistem global  penggunaan plastik sekali pakai secara berkelanjutan menimbulkan berbagai  dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Proses degradasi  plastik menghasilkan mikroplastik yang mencemari air minum serta masuk ke  rantai makanan dan berpotensi mengancam kesehatan manusia (Musleh dan  Rahman, 2024). Penumpukan sampah plastik di tempat pembuangan akhir  memperpendek usia TPA dan melepaskan gas rumah kaca selama proses degradasi  anaerobik. Plastik yang tertinggal di tanah dapat mengganggu porositas tanah dan  menurunkan kesuburan lahan pertanian. Dampak lingkungan tersebut  menimbulkan konsekuensi kesehatan bagi masyarakat di sekitar TPA akibat  kontaminasi air tanah dan udara tercemar. Pola penggunaan plastik sekali pakai  yang tidak terkendali memperburuk keberlanjutan ekosistem (Son dan Bungin,  2024).

Plastik Biodegradable Pati Singkong 

Plastik biodegradable didefinisikan sebagai plastik yang memiliki proses biodegradasi lebih cepat dibandingkan dengan plastik konvensional serta  bahan dapat diperbaharui (Afdal dkk., 2022). Pati singkong menawarkan solusi  praktis terhadap keresahan penggunaan plastik sekali pakai yang sulit terurai karena  bahan ini mudah diperoleh dari sumber lokal dan memiliki kandungan pati yang  tinggi untuk pembentukan film polimer biologis. Pati singkong mudah diperoleh,  harga bahan yang terjangkau, sumber daya panen sekitar yang melimpah, sehingga  penggunaan bahan baku ini berpotensi menurunkan biaya produksi bioplastik dan  memberi nilai tambah bagi petani lokal. Formulasi pati singkong yang diberi  plasticizer dan penguat alami yang dapat memperbaiki sifat mekanik sambil tetap  mempertahankan kemampuan biodegradasi dalam tanah atau kompos (Harahap  dkk., 2023).


PEMBAHASAN 

Plastik Biodegradable 

Plastik biodegradable adalah jenis plastik yang dibuat dari bahan-bahan alami  seperti pati, selulosa, atau limbah pertanian, yang mampu terurai secara biologis  oleh mikroorganisme dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding plastik  konvensional. Hasil pertanian yang berpotensi menghasilkan plastik biodegradable antara lain limbah tanaman pangan yang mengandung pati atau selulosa yang tinggi 

(Khodijah dan Tobing, 2023). Penggunaan plastik biodegradable menjadi alternatif  ramah lingkungan dalam upaya mengurangi penumpukan limbah plastik yang sulit  terurai. Sifat mekanik dan ketahanan air dari plastik biodegradable dapat  ditingkatkan melalui penambahan bahan tambahan seperti plasticizer alami (Tristanti dkk., 2019). 

Tahapan Proses Pembuatan Plastik Biodegradable dari Pati Singkong Proses pembuatan plastik biodegradable diawali dengan menimbang pati sebanyak  10 gram dan 12 gram sebagai bahan utama. Setelah itu, seng oksida (ZnO) dengan  konsentrasi 12% dan 15% dimasukkan ke dalam masing-masing gelas kimia berisi  100 mL. Kemudian, ditambahkan aquadest sebanyak 100 mL sambil dilakukan  pengadukan agar campuran homogen. Setelah ZnO sedikit larut, gliserol sebanyak  5 mL dan 7 mL dimasukkan ke dalam campuran tersebut sesuai dengan konsentrasi  yang telah ditentukan, lalu diaduk kembali hingga merata. Selanjutnya, pati yang  telah ditimbang dimasukkan ke dalam larutan dan diaduk menggunakan stirrer  selama 10 menit untuk mendapatkan campuran yang homogen. Campuran tersebut  kemudian dipanaskan di atas hot plate selama 40 menit sambil diaduk pada suhu  sekitar 80°C hingga terbentuk larutan kental. Setelah itu, larutan dituangkan ke  dalam cetakan dan dikeringkan dalam oven pada suhu 60°C selama 3 jam. Langkah  terakhir adalah mengeluarkan hasil dari oven dan didinginkan pada suhu kamar agar  plastik mudah dilepaskan dari cetakan (Saputra dan Supriyono, 2020).

Secara bertahap, proses pembuatan plastik biodegradable terdiri dari enam tahap  utama. Langkah pertama adalah penyiapan bahan berupa penimbangan pati dan  larutan ZnO dan ditambahkan pelarutan ZnO dalam aquadest untuk menghasilkan  larutan katalis. Proses selanjutnya yaitu penambahan gliserol sebagai plastisizer  yang berfungsi meningkatkan fleksibilitas plastik. Proses yang selanjutnya adalah  pencampuran pati dengan larutan katalis dan pengadukan agar homogen dan  lakukan pemanasan campuran untuk memicu gelatinisasi pati dan membentuk  struktur plastik. Proses yang terakhir adalah pencetakan dan pengeringan untuk  memperoleh plastik biodegradable yang padat dan kering. Proses ini menghasilkan  plastik biodegradable yang ramah lingkungan dengan karakteristik mudah terurai  secara alami (Saputra dan Supriyono, 2020). 

Gambar 1. Produk plastik biodegradable Cassbio 

Plastik Biodegradable Cassbio 

Plastik biodegradable merek Cassbio, yaitu kantong belanja ramah lingkungan  berbahan dasar pati singkong (cassava starch). Kantong ini memiliki tampilan  menyerupai plastik konvensional, berwarna putih transparan dengan berbagai  model pegangan (lubang oval dan tali pegangan), serta bersifat fleksibel namun  mudah terurai di alam. Plastik biodegradable berbasis pati singkong dihasilkan  melalui proses gelatinisasi pati dengan penambahan plasticizer gliserol dan katalis  ZnO untuk meningkatkan kekuatan tarik dan elastisitasnya. Hasil uji biodegradasi  menunjukkan bahwa plastik jenis ini dapat terurai dalam waktu 30–60 hari di 

lingkungan tanah, jauh lebih cepat dibandingkan plastik berbasis polietilena. Plastik biodegradable Cassbio merupakan contoh nyata penerapan bioplastik yang tidak  hanya kuat dan fungsional, tetapi juga mendukung konsep ekonomi hijau dan  keberlanjutan lingkungan (Fitriani dkk., 2021). 

Plastik merupakan produk polimerisasi sintetik atau semi sintetik yang banyak  digunakan sebagai kemasan dalam kehidupan manusia. Kebutuhan akan plastik di  Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan dimana perkapita mencapai 17  kg per tahun dengan pertumbuhan konsumsi mencapai 6-7% per tahunnya (Asngad  dkk., 2020). Plastik dari bahan minyak bumi dapat terurai setelah 500 hingga 1000  tahun setelahnya. Sehingga ketika plastik ditanah dibiarkan tercecer akan dapat  merusak lingkungan, menghambat resapan air, dan merusak kesuburan dalam  tanah. Penggunaan plastik dalam jangka panjang akan berbahaya bagi lingkungan  seperti pencemaran serta kerusakan lingkungan karena tidak dapat di daur ulang  dan tidak dapat terurai oleh mikroba (Intandiana dkk., 2019).  

Berdasarkan hal diatas maka dibutuhkan suatu energi alternatif berbahan plastik  yang diperoleh dari bahan yang tersedia di alam dan cepat terurai yaitu bioplastik.  Bioplastik merupakan plastik biodegradable yang terbuat dari bahan polimer alami  seperti pati, selulosa, dan lemak. Di Indonesia, pati menjadi pilihan sebagai bahan  baku plastik biodegradable karena ketersediaannya cukup melimpah. Jenis pati  yang dapat digunakan sebagai bahan baku plastik biodegradable di antaranya pati  ubi kayu, pati sagu, dan pati jagung. Pembuatan bioplastik biasanya dilakukan  menggunakan metode sederhana dengan mencampurkan polimer alami contohnya  selulosa dengan bahan tambahan seperti plasticizer atau melalui proses fermentasi  dengan bakteri (Intandiana dkk., 2019). 

Keunggulan Plastik Biodegradable 

Dari segi harga, plastik konvensional umumnya jauh lebih murah. Sebagai  gambaran, untuk biji plastik jenis PP di Indonesia diperkirakan berkisar antara Rp  4.000 hingga Rp 16.000 per kg. Sedangkan untuk plastik biodegradable, satu  sumber menyebut bahwa kantong plastik berbahan dasar pati di Indonesia “lebih 

mahal 2-2,5 kali” dari plastik konvensional. Bahkan dalam arti produk jadi,  dijumpai harga kantong plastik biodegradable atau kemasan ramah lingkungan  yang jauh di atas plastik biasa (Intandiana dkk., 2019). 

Dengan melihat dua aspek di atas—termasuk waktu terurai yang jauh lebih singkat  dan harga yang memang lebih tinggi tetapi bisa diimbangi oleh manfaat  lingkungan—argumen untuk implementasi plastik biodegradable menjadi semakin  kuat. Plastik yang sulit terurai akan menumpuk, mencemari tanah, air, bahkan akan  mengganggu kesehatan masyarakat sekitar. Sedangkan plastik biodegradable memungkinkan limbah plastik menjadi lebih cepat kembali ke siklus alam tanpa  meninggalkan residu jangka panjang, sehingga mendukung prinsip keberlanjutan  dan ekonomi sirkular. Meskipun biaya awalnya lebih tinggi, manfaat jangka  panjang berupa pengurangan beban lingkungan, peningkatan citra  perusahaan/produk, dan potensi penghematan pengelolaan limbah menjadikan  transisi ini strategis untuk implementasi secara sistemik.


PENUTUP 

Pengelolaan plastik sekali pakai merupakan isu yang kompleks dan telah mencapai  tingkat urgensi lingkungan yang mengkhawatirkan secara global. Peningkatan  proporsi sampah plastik, tingkat daur ulang yang rendah, volume impor yang  signifikan, dan dampak jangka panjang terhadap lingkungan termasuk pencemaran  mikroplastik, pelepasan gas rumah kaca, serta penurunan kualitas tanah dan  kesehatan masyarakat harus menegaskan urgensi untuk mengevaluasi dan  merumuskan strategi pengendalian yang lebih efektif. Persoalan ini tidak hanya  berimplikasi negatif pada kualitas lingkungan, tetapi juga memicu dampak buruk  yang signifikan terhadap kesehatan manusia dan keberlanjutan ekosistem di seluruh  dunia. Secara keberlanjutan pemakaian jenis plastik ini menimbulkan berbagai  konsekuensi merugikan bagi alam dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu  inovasi seperti plastik biodegredable merk Cassbio, merupakan langkah positif  dalam mengurangi dampak negatif tersebut. Cassbio menawarkan kantong belanja  ramah lingkungan yang berbahan dasar pati singkong ramah lingkungan dan  menjadi alternatif yang lebih baik untuk mengurangi penggunaan plastik sekali  pakai yang sulit terurai. Dengan adanya solusi seperti ini bisa mengurangi beban  lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

_______ Ditulis oleh: 1. Ella Alfiah Anggelia (2417021030) 2. Lalytha Anargya Maheswari (2417011002)  3. Leony Putri Arianto Az-Zahrah (2414241019)  4. Rima Zakiyya Taufani (2517051056)


Sabtu, 07 Desember 2024

Cochar : Briket Kulit Kakao dan Zeolit Sebagai Sumber Energi Zero Emission di Provinsi Lampung Dengan Terintegrasi Internet of Things (IoT) Dalam Upaya Mewujudkan SDGs 2030

Pendahuluan

Sustainable Development Goals (SDGs) adalah komitmen masyarakat dunia untuk mencapai tujuan berkelanjutan dalam menghadapi berbagai ancaman dan tantangan negara-negara di dunia. Orientasi tersebut mengacu kepada 17 tujuan dalam kerangka SDGs yang telah diadaptasi oleh negara anggota PBB hingga tahun 2030 (Saputri dkk., 2021). Salah satu tujuan SDGs yang ke-13 yaitu penanganan perubahan iklim. Perubahan iklim dapat dikatakan sebagai kondisi suhu dan pola cuaca dalam jangka waktu tertentu. Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan negara-negara di dunia tanpa terkecuali Indonesia. Berdasarkan data analisis BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, 2024) pada bulan September 2024 tercatat suhu udara rata-rata sebesar 27,4 C. Hal ini tergolong meningkat jika dibandingkan dengan normal suhu udara pada periode tahun 1991-2020 yaitu 26,56 C.

Peningkatan suhu udara (pemanasan global) diperkiran karena aktivitas manusia terutama dalam penggunaan bahan bakar fosil sehingga emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer mengalami peningkatan. Konsumsi bahan bakar fosil akan meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang secara global 72% berasal dari emisi CO2, 18 % berasal dari emisi CH4, 9% berasal dari emisi N2O, dan 1% berasal dari emisi gas lainnya (Susan dkk., 2023). Emisi di Indonesia telah meningkat secara signifikan sejak tahun 1990 yaitu mencapai angka 581 MtCO2 pada tahun 2019. Terdapat beberapa sektor yang berkontribusi sebagai penyumbang emisi CO2 antara lain, sektor industri 37%, transportasi 27%, dan pembangkit listrik dan panas 27%. Berdasarkan data laporan CO2 di Asia Tenggara, Indonesia memiliki jumlah angka paling tinggi dibandingkan dengan negara lainnya dalam interval tahun 2015-2019.

Masalah yang dihadapi saat ini yaitu timbul akibat tingginya angka gas emisi CO2 sehingga terjadi pemanasan global. Upaya pemerintah dalam mengatasi jumlah CO2 yang tinggi salah satunya dengan menggunakan sumber energi rendah emisi (Gamatara dan Kusumawardani., 2024). Sumber daya rendah emisi mengacu pada energi yang menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang lebih sedikit dibandingkan dengan sumber energi lainnya seperti fosil. Penggunaan sumber daya yang rendah emisi tentunya sangat penting sebagai upaya mitigasi perubahan iklim dan transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan (Pahlevi dkk., 2024). Terdapat beberapa alternatif sumber energi yang dapat dikembangkan salah satunya berupa briket. Briket adalah bahan bakar dalam bentuk padat yang terbuat dari limbah organik (Mutiara dkk., 2024). Limbah organik umumnya merupakan limbah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu limbah organik yang belum termanfaatkan secara optimal yaitu adalah kulit buah kakao. Buah kakao terdiri dari ± 74% kulit buah, 2% plasenta, dan 24% biji (Mutiara dkk., 2024). Pada tahun 2022 produksi buah kakao di Provinsi Lampung mencapai 53.991 ton (Badan Pusat Statistika, 2022). Angka produksi buah kakao yang cukup tinggi ini tentunya dapat menjadi peluang potensi untuk pengembangan briket yang berasal dari kulit kakao. Selain itu juga, dengan persentase kulit buah kakao sebesar 74% maka apabila kulit buah ini dibuang di sekitar kebun akan menjadi masalah lingkungan (Barus dkk., 2022).

Zeolit merupakan polimer anorganik yang tersusun dari unit berulang terkecil berupa tetrahedra SiO4 dan AlO4. Zeolit alam menjadi senyawa alumina silikat terhidrasi yang secara fisik dan kimia mempunyai kemampuan sebagai penyerap (adsorpsi), penukar kation dan sebagai katalis. Dalam implementasinya zeolit sudah banyak digunakan sebagai adsorben CO2 maupun zat lainnya. Komponen zeolit mampu menyerap CO2 mencapai 75,5% bergantung pada ukuran partikel dan laju aliran CO2 (Utami, 2017). Berdasarkan pemaparan masalah dan potensi TON/TAHUN Jumlah Produksi Kakao kulit buah kakao serta zeolit sebagai upaya menurunkan gas emisi CO2, penulis menarik solusi yang dapat diterapkan yakni pembuatan cochar berupa briket dari kulit kakao dan zeolit sebagai sumber energi rendah emisi. Skema cochar ini terintegrasi dengan dengan IoT (Internet of Things) untuk meningkatkan efisiensi dan monitoring dalam penggunaan cochar. Melalui solusi ini, akan membantu dalam mengembangkan Provinsi Lampung dalam pengolahan produk inovasi berkelanjutan dan tentunya sebagai upaya dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) tahun 2030.

Pembahasan 

Cochar merupakan inovasi briket yang terbuat dari kulit buah kakao dan zeolit sebagai upaya menurunkan emisi gas CO2. Pemanfaatan kulit buah kakao sebagai briket menjadi salah satu optimalisasi limbah kulit buah kakao supaya tidak menumpuk di lahan dan mengganggu lingkungan. Proses ini diawali dengan pengumpulan kulit kakao, diikuti oleh tahap pengeringan, karbonisasi, penggerusan, dan pengayakan (Saputra dkk., 2023). Tahap pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam kulit kakao, yang dilakukan dengan oven pada suhu 120°C selama 4 jam. Selanjutnya, proses karbonisasi berlangsung dalam furnace pada suhu 400°C selama 1 jam. Kemudian, kulit kakao yang telah dikarbonisasi digerus menggunakan mortar dan disaring dengan ayakan 40 mesh untuk memperoleh arang halus (Virgiwan, 2022).

etelah arang halus berhasil diproduksi, langkah berikutnya yaitu menggabungkan dengan zeolit dan perekat. Namun, zeolit terlebih dahulu diaktivasi. Aktivasi zeolit dilakukan dengan mencampurkan H2SO4 sebanyak 25% dan dilanjutkan proses kalsinasi pada suhu 500 C selama 4 jam menggunakan furnace (Utami, 2017). Zeolit berukuran 60 mesh dipilih karena memiliki efektivitas penyerapan CO₂ yang cukup tinggi, mencapai 75,5% (Utami, 2017). Zeolit yang telah diaktifkan dicampur dengan arang halus dan bahan perekat berupa tepung tapioka sebesar 20% dari berat kulit kakao. Tepung tapioka dilarutkan dalam 50 ml air, lalu dipanaskan hingga membentuk lem perekat. Selanjutnya, lem perekat dicampurkan dengan arang kulit kakao, dan adonan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan briket berbentuk kubus berukuran 5 cm. Briket yang telah dicetak kemudian dikeringkan dalam oven selama dua hari, dengan pemanasan empat jam per hari pada suhu 120ºC agar kadar air briket rendah, sehingga lebih tahan lama dan tidak mudah padam saat digunakan (Saputra dkk., 2023). Dengan demikian, produk akhir berupa cochar siap digunakan sebagai sumber energi.

Briket kulit buah kakao (cochar) memiliki nilai kalor sebesar 5.273 kal/g dan kadar air sebesar 2,98% (Saputra dkk., 2023). Pembuatan cochar dikombinasikan dengan bahan zeolit untuk meningkatkan densitas briket, menyerap kelembaban sehingga menjaga briket dalam penyimpanan, dan menurunkan gas emisi CO2 yang dihasilkan oleh cochar (Badri dan Bahri, 2024).

Cochar sebagai briket menjadi salah satu supply bahan bakar energi rumah tangga maupun industri yang dapat dikembangkan secara luas. Penggunaan Cochar sebagai briket dapat menggantikan penggunaan bahan bakar kayu, sisa gergajian, ataupun bahan bakar yang berasal dari fosil yang lebih efisien dan rendah emisi. Penggunaan bahan bakar fosil secara terus menerus tentunya akan berdampak buruk bagi lingkungan terutama produksi emisi gas CO2 yang tinggi sehingga dapat berpengaruh terhadap perubahan iklim. Selain itu juga cochar dalam proses pembakarannya lebih efisien karena minim menghasilkan asap dan jelaga, sehingga mengurangi polusi udara.

Integrasi IoT (Internet of Things) dalam pengembangan inovasi cochar ini perlu diterapkan. Hal ini bertujuan agar proses monitoring dapat berjalan dengan lebih optimal dan meningkatkan efisiensi inovasi. Penggunaan IoT (Internet of Things) ini dirancang untuk mendeteksi jumlah CO2 yang dihasilkan oleh cochar dan langsung terhubung degan perangkat digital melalui aplikasi yaitu My Cochar.

enjelasan skema kerja Cochar terintegrasi IoT (Internet of Things) yaitu dimulai dengan udara akan mengenai sensor MQ-2. Sensor MQ-2 ini nantinya akan mendeteksi gas CO2 dari hasil pembakaran (Amsar dkk., 2020). Hasil baca sensor selanjutnya akan dihantarkan ke mikrokontroler untuk diproses. Mikrokontroler yang digunakan yaitu jenis mikrokontroler PIC16F877 untuk mengoptimalisasi pengolahan data dari hasil baca sensor (Pelawi dan Yulianto., 2023). Selanjutnya, hasil proses data pada mikrokontroler akan masuk ke server untuk diolah dan diberikan respon. Apabila emisi gas CO2 lebih dari 1000 ppm (Awal, 2019), maka akan langsung muncul peringatan melalui notifikasi pada aplikasi My Cochar dan ditampilkan juga hasil baca data gas CO2 melalui fitur yang ada pada aplikasi My Cochar.

Strategi Implementasi yang dapat dilakukan terkait inovasi cochar dengan terintegrasi IoT (Internet of Things) ini yaitu sebagai berikut: 

  1. Sosialisasi; Sosialisasi dilakukan sebagai langkah awal untuk pengenalan dan edukasi proses pembuatan cochar serta penggunaan aplikasi dengan melibatkan perangkat desa untuk mempermudah dalam mengumpulkan masyarakat. 
  2. Uji Coba; Praktik secara langsung pembuatan cochar dan sistem IoT (Internet of  Things) yang terhubung dengan aplikasi My Cochar. 
  3. Implementasi dan Monitoring; Produksi dan penggunaan cochar secara masal serta launching aplikasi sebagai monitoring produk cochar. Melalui strategi implementasi diatasi diharapkan inovasi cochar yang terintegrasi IoT (Internet of  Things) dan terhubung dengan aplikasi My Cochar mampu menjadi produk diversifikasi kulit buah kakao yang bernilai ekonomis dan berkelanjutan serta sebagai optimasi sumber daya yang ada di Provinsi Lampung.

Penutup 

Penanganan perubahan iklim merupakan salah satu tujuan utama Sustainable Development Goals (SDGs). Dampak perubahan iklim dapat berupa pemanasan global dengan suhu udara yang ekstrim. Perubahan iklim disebabkan salah satunya oleh gas rumah kaca (GRK) terutama emisi CO2 baik dari industri maupun rumah tangga. Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi masalah limbah organik yang belum dimanfaatkan secara optimal terutama di Provinsi Lampung yaitu berupa kulit buah kakao. Dampak penumpukan kulit buah kakao di lahan tentunya akan menghambat pertumbuhan tanaman kakao dan merusak lingkungan. Dalam upaya mengatasi kedua masalah tersebut, kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai briket dengan penambahan zeolit untuk optimasi menurunkan emisi CO2 pada bahan bakar briket cochar. Inovasi cochar juga diintegrasikan dengan sistem IoT (Internet of  Things) sebagai upaya meningkatkan efisiensi dalam kegiatan monitoring cochar. Solusi ini tentunya dapat memberikan manfaat dalam pencegahan bencana pemanasan global dan secara tidak langsung mendukung terwujudnya SDGs 2030.

____

Ditulis Oleh:

  1. Muhammad Agung Saputra (2114231008/2021) 
  2. Reni Widi Astuti (2114231045/2021)


KONTRIBUSI KEPADA INDONESIA

Sejak kecil, saya selalu yakin bahwa kesempatan tidak datang begitu saja. Kesempatan harus dijemput dengan langkah yang berani dan hati yang siap. Saya berani mengambil kesempatan tersebut dengan segenap kesiapan hati untuk menjadi delegasi 100% Fully-Funded Leadership Trip to Japan di SejutaCita Future Leaders Chapter 7: Japan. 

Saya, Putri Suspita Dewi, lahir di Lampung 20 Februari 2004 usia 20 tahun. Anak perempuan pertama dari tiga bersaudara. Saya seorang muslimah yang masih berprogres untuk menjadi insan yang baik dan benar di dunia maupun akhirat. Sejak kecil tinggal dengan nenek dan paman sementara orangtua merantau ke Palembang. “Nak, jadi anak sholehah, cerdas, dan berakhlak mulia ya” pesan ayah atau ibu di HP jadul paman dan otomatis semangat juang hidup saya semakin membara ditengah keterbatasan ekonomi. Alhasil sejak SD sampai SMA saya selalu masuk 3 besar ranking dikelas, dan sudah menjadi guru bimbel les Bahasa Inggris dan Komputer di Brain Communication Lampung serta menjadi lulusan terbaik dan termuda disana. 

Setelah lulus SMA, tantangan hidup semakin terasa dan tentu saya akan terus berusaha karna yakin Allah menjadi backingan saya semua akan berhasil. Saya gagal di SNMPTN dan berhasil di SBMPTN S1 Pendidikan Sejarah UNILA. Saya sekarang awardee Bright Scholarsip Lampung dan langsung menjadi leader. Hari-hari saya sebagai mahasiwa, mengabdi pada masyarakat, dan berprestasi akademik serta non-akademik tingkat nasional maupun internasional berhasil menjadi Mapres Pendidikan Sejarah UNILA 2023. Setiap hari saya terus mengupdate versi terbaik saya seperti cleanfood (kesehatan fisik), skill, dan spiritual. Saya sekarang pun menjadi National Ambassador di Indonesia National Job-Expo 2024. Sebelumnya saya diterima sebagai top 100 delegasi Leadership Jepang di Global Goals Youth, tapi saya gagal karena event tersebut self funded. Meski demikian, saya yakin akan berhasil menjadi delegasi 100% Fully-Funded Leadership Trip to Japan di SejutaCita Future Leaders Chapter 7: Japan dibulan Juni! Bismillah!

Ditulis Oleh:

Putri Suspita Dewi

Histopedia (Local History Explorer): Media Pembelajaran Sejarah Lokal Untuk Meningkatkan Kesadaran Siswa Dalam Melestarikan Budaya Lampung

Tujuan Rancangan Media 

Tujuan dari pembuatan media ini adalah untuk meningkatkan kesadaran siswa dalam melestarikan budaya lokal dengan basis teknologi android yang di dalamnya memuat terkait aspek berbagai budaya Lampung yang semestinya senantiasa dilestarikan. 

Langkah-Langkah Rancangan Media 

Pada langkah-langkah rancangan media perlu adanya prosedur dalam penelitian pengembangan dan adapun tahapan-tahapan yang dilalui oleh peneliti dalam mengembangkan suatu produk. Penyusunan naskah dan materi dilakukan dengan menggunakan storyboard. Materi digunakan sebagai informasi yang akan dituliskan atau digambarkan ke dalam storyboard agar berurutan dan mudah dipahami. Desain storyboard pada pengembangan game edukasi berisi terkait percancangan interface meliputi penentuan tata letak, dan isi pada pada game edukasi yang akan dikembangkan, seperti tombol navigasi, teks, layout, dan fitur-fitur lainnya.

Cara Penggunaan dalam Pembelajaran 

Penggunaan media pembelajaran dimulai dengan membuka aplikasi Histopedia (Local History Explorer) dan memilih materi yang terkait dengan sejarah lokal Lampung. Kemudian, guru dapat menggunakan fitur eksplorasi interaktif di aplikasi untuk memperkenalkan siswa pada berbagai aspek sejarah, budaya, dan warisan Lampung, termasuk tokoh-tokoh, peristiwa bersejarah, dan adat istiadat lokal. Dengan menggunakan fitur multimedia seperti video, gambar, dan narasi, siswa diajak untuk berpartisipasi aktif dan memahami konten. Guru dapat mengukur tingkat pemahaman siswa setelah siswa mengeksplorasi materi dengan menggunakan kuis atau evaluasi yang tersedia. Salah satu fitur aplikasi yang memungkinkan diskusi kelompok adalah forum diskusi. Fitur ini memungkinkan siswa untuk berbagi hasil penelitian mereka dan membahas cara mereka dapat membantu melestarikan budaya Lampung. Selain itu, aplikasi ini mendukung kegiatan proyek di mana siswa dapat melakukan penelitian mini tentang sejarah lokal dan mempresentasikan hasilnya menggunakan media digital yang disediakan oleh aplikasi. Hal ini, membuat pembelajaran lebih menarik, interaktif, dan relevan dengan konteks lokal mereka.

Link Simulasi 

https://youtu.be/F9HbVkwo32o 

_____

Ditulis Oleh:

  1. Nur Febri Putranto (2213033070) 
  2. Anindita Nuurii Nabiilah (2213033042) 
  3. Zalfa Izzati Hadini (2213033078)

Jumat, 06 Desember 2024

Dari Mahasiswa Untuk Indonesia: Pemberdayaan Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan Dalam Mewujudkan Perekonomian Berkelanjutan Melalui Inovasi Dan Kewirausahaan Sosial

BAB I PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang 

Mahasiswa memiliki peran krusial sebagai agen perubahan dalam masyarakat. Mereka adalah generasi muda yang sedang berada dalam fase pembentukan wawasan, keterampilan, serta pemahaman terhadap berbagai isu yang berkembang di sekitar mereka. Dalam hal ini, mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda yang memiliki akses terhadap pendidikan dan teknologi, memegang peran penting dalam menciptakan solusi inovatif untuk masalah sosial dan lingkungan. Berdasarkan data yang dikumpulkan dari berbagai universitas, inisiatif kewirausahaan sosial di kalangan mahasiswa semakin mendapatkan perhatian, terutama karena potensi mereka dalam menciptakan dampak sosial yang positif sambil mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan (Raheem et al., 2014). Melalui inovasi dan kewirausahaan, mahasiswa dapat menjadi motor penggerak yang menciptakan solusi kreatif dan relevan untuk menjawab berbagai tantangan yang ada.

Peran mahasiswa semakin penting mengingat negara ini memiliki populasi yang besar serta beragam tantangan ekonomi. Mahasiswa dapat berperan strategis dalam mendukung pembangunan perekonomian yang berkelanjutan melalui berbagai inovasi yang berpihak pada masyarakat dan lingkungan. Mereka tidak hanya diharapkan menjadi konsumen dari perubahan, tetapi juga sebagai produsen ide-ide baru yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sambil tetap memperhatikan aspek sosial dan ekologis. Dengan demikian, kontribusi mahasiswa tidak hanya berdampak pada pengembangan ekonomi, tetapi juga pada terciptanya masyarakat yang lebih adil dan berkelanjutan. Kewirausahaan sosial merupakan salah satu jalan yang sangat potensial dalam mewujudkan perekonomian yang berkelanjutan. Berbeda dengan kewirausahaan 2 konvensional yang fokus utamanya adalah mencari keuntungan finansial, kewirausahaan sosial mengutamakan penciptaan dampak sosial positif sekaligus memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Permasalahan seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, serta kerusakan lingkungan adalah beberapa tantangan yang dapat diatasi melalui model bisnis yang berfokus pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. 

Kewirausahaan sosial menawarkan pendekatan yang inklusif dan berorientasi jangka panjang, di mana keuntungan ekonomi sejalan dengan upaya pemberdayaan komunitas dan pelestarian lingkungan.Peran mahasiswa semakin penting mengingat negara ini memiliki populasi yang besar serta beragam tantangan ekonomi. Mahasiswa dapat berperan strategis dalam mendukung pembangunan perekonomian yang berkelanjutan melalui berbagai inovasi yang berpihak pada masyarakat dan lingkungan. Mereka tidak hanya diharapkan menjadi konsumen dari perubahan, tetapi juga sebagai produsen ide-ide baru yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sambil tetap memperhatikan aspek sosial dan ekologis. Dengan demikian, kontribusi mahasiswa tidak hanya berdampak pada pengembangan ekonomi, tetapi juga pada terciptanya masyarakat yang lebih adil dan berkelanjutan. Kewirausahaan sosial merupakan salah satu jalan yang sangat potensial dalam mewujudkan perekonomian yang berkelanjutan. Berbeda dengan kewirausahaan 2 konvensional yang fokus utamanya adalah mencari keuntungan finansial, kewirausahaan sosial mengutamakan penciptaan dampak sosial positif sekaligus memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Permasalahan seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, serta kerusakan lingkungan adalah beberapa tantangan yang dapat diatasi melalui model bisnis yang berfokus pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Kewirausahaan sosial menawarkan pendekatan yang inklusif dan berorientasi jangka panjang, di mana keuntungan ekonomi sejalan dengan upaya pemberdayaan komunitas dan pelestarian lingkungan.

Fenomena kewirausahaan sosial di Indonesia, semakin menonjol dengan munculnya berbagai startup yang fokus pada solusi sosial dan lingkungan. Dalam program- program seperti “Internet Plus” di Tiongkok, kewirausahaan sosial yang digagas mahasiswa telah terbukti berperan signifikan dalam mengatasi masalah lingkungan dan sosial, dengan mempertemukan inovasi teknologi dengan tantangan lokal (Yan et al., 2018). Konsep ini dapat diterapkan di Indonesia untuk memberdayakan mahasiswa melalui pendidikan kewirausahaan yang berfokus pada keberlanjutan dan dampak sosial. Universitas dan sektor swasta juga memainkan peran sentral dalam mendukung kewirausahaan sosial. Dengan menyediakan platform penelitian dan pengajaran yang terkait dengan inovasi sosial, universitas dapat membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan kewirausahaan mereka dan memahami pentingnya pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (Li & Yuan Feng-Mei, 2019). Misalnya, universitas-universitas di Jerman telah berhasil memanfaatkan pendidikan kewirausahaan untuk menciptakan ekosistem inovasi yang mendorong pertumbuhan ekonomi regional secara berkelanjutan (Holzbaur, 2005). 

Dalam hal ini, mahasiswa memiliki peluang besar untuk terlibat aktif dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dengan kreatifitas, pengetahuan, dan semangat perubahan yang dimiliki, mahasiswa 3 dapat mengembangkan inovasi sosial yang tidak hanya membawa dampak positif bagi masyarakat lokal, tetapi juga berkontribusi terhadap pencapaian target global untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan berkelanjutan. Mahasiswa yang terlibat dalam kewirausahaan sosial cenderung memiliki pola pikir yang lebih inklusif, tangguh, serta mampu merumuskan solusi jangka panjang yang berkelanjutan (Barrera-Verdugo et al., 2024). Keterlibatan mereka dalam kewirausahaan sosial tidak hanya meningkatkan kesadaran sosial, tetapi juga mendorong pengembangan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara komprehensif.

Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah bagaimana menghubungkan pendidikan kewirausahaan dengan praktik nyata dalam dunia usaha. Sering kali, mahasiswa merasa kurang percaya diri untuk memulai bisnis yang berkelanjutan karena minimnya pengalaman praktis dan kurangnya bimbingan yang memadai (Shu et al., 2020). Oleh karena itu, diperlukan pendekatan baru dalam pendidikan yang lebih memfokuskan pada kreativitas, inovasi, dan penerapan langsung dalam lingkungan kewirausahaan sosial. 

Inovasi dan kewirausahaan sosial yang dikembangkan oleh mahasiswa tidak hanya akan memberikan dampak positif pada perekonomian, tetapi juga berpotensi mempercepat pencapaian pembangunan sosial yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dengan menggabungkan wawasan akademis dan pengalaman lapangan, mahasiswa dapat mengidentifikasi dan merespons kebutuhan masyarakat dengan lebih efektif. Selain itu, pendekatan ini memungkinkan terciptanya solusi yang lebih adaptif terhadap tantangan yang ada, sehingga dampaknya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Oleh karena itu, pemberdayaan mahasiswa melalui inovasi sosial dan kewirausahaan bukan hanya penting untuk pengembangan ekonomi, tetapi juga untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan berkelanjutan. Karena topik ini menarik untuk diteliti, sehingga penulis mengangkat judul “Dari Mahasiswa Untuk Indonesia: Pemberdayaan Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan Dalam Mewujudkan Perekonomian Berkelanjutan Melalui Inovasi Dan Kewirausahaan Sosial” untuk menjawab pertanyaan dari permasalahan yang ada.

1.2 Rumusan Masalah 

  1. Bagaimana peran Universitas dalam menunjang kegiatan mahasiwa dalam mendorong mahasiswa untuk mewujudkan perekonomian yang berkelanjutan? 
  2. Bagaimana peran pihak terkait dalam mendorong mahasiswa untuk mewujudkan perekonomian yang berkelanjutan? 

1.3 Tujuan 

  1. Untuk mengetahui peran Universitas dalam rangka mewujudkan perekonomian yang berkelanjutan 
  2. Untuk mengetahui peran pihak terkait dalam mendorong mahasiswa untuk mewujudkan perekonomian yang berkelanjutan
1.4 Manfaat 
Tulisan ini memberikan referensi mengenai dampak positif mahasiswa yang tertarik pada kewirausahaan dalam mewujudkan ekonomi berkelanjutan, sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Mahasiswa wirausaha tidak hanya menciptakan solusi bisnis yang inovatif, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan ekonomi dan lingkungan. Selain itu, kontribusi dari berbagai pihak seperti pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta sangat penting untuk mendukung pengembangan kewirausahaan sosial melalui kebijakan, pendanaan, dan bimbingan yang memadai.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 

2.1 Pendidikan Kewirausahaan 
Pendidikan kewirausahaan adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan kewirausahaan pada individu. Pendidikan kewirausahaan menggabungkan teori ekonomi, manajemen, dan inovasi untuk membentuk pola pikir wirausaha yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan, berinovasi, serta menghadapi tantangan dalam dunia bisnis yang dinamis. Khusus untuk mahasiswa, pendidikan kewirausahaan bertujuan untuk membangun kesadaran akan peluang bisnis, mengembangkan keterampilan praktis, serta membentuk pola pikir inovatif dan kreatif. 

Pendidikan kewirausahaan yang berfokus pada keberlanjutan dapat membekali mahasiswa dengan keterampilan yang diperlukan untuk menciptakan usaha yang mendukung tujuan lingkungan dan sosial. Kurikulum kewirausahaan yang berbasis keberlanjutan memberikan mahasiswa wawasan mengenai praktik bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan dapat meminimalkan dampak negatif terhadap alam. Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan berbasis keberlanjutan membantu meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya integrasi nilai-nilai keberlanjutan dalam kegiatan bisnis mereka di masa depan (Aurellia & Puspitowati, 2023). 

Di universitas, mahasiswa berpartisipasi dalam penelitian yang mendorong perkembangan solusi inovatif untuk tantangan keberlanjutan. Seperti riset di bidang teknologi hijau, energi terbarukan, manajemen limbah, dan pertanian berkelanjutan, yang sering kali melibatkan mahasiswa, memiliki dampak langsung pada peningkatan 6 metode ekonomi berkelanjutan. Melalui penelitian ini, mahasiswa membantu mengembangkan teknologi dan strategi yang dapat diadopsi oleh industri dan pemerintah untuk mendukung keberlanjutan ekonomi. beberapa pendekatan yang dapat diterapkan pada mahasiswa adalah:
  • Pembelajaran Berbasis Proyek, yakni mahasiswa dilibatkan dalam proyek nyata di mana mereka dapat merancang dan menjalankan usaha kecil. Proyek ini memberikan pengalaman langsung tentang bagaimana mengelola bisnis, menghadapi tantangan pasar, dan membuat keputusan bisnis strategis. Misalnya Program Pembinaan Wirausaha Mahasiswa Indonesia (P2MW) dan Program Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K).
  • Mentoring dan Bimbingan, ini dapat menghubungkan mahasiswa dengan pengusaha berpengalaman atau mentor untuk mendapatkan bimbingan dalam memulai dan mengelola bisnis. Mentor dapat memberikan nasihat praktis, berbagi pengalaman, dan membantu mahasiswa menghindari kesalahan umum dalam berwirausaha.
  • Pembelajaran Kolaboratif dan Kerja Tim, mahasiswa didorong untuk bekerja dalam tim untuk mengembangkan ide bisnis. Kerja tim membantu mereka belajar keterampilan kolaborasi, kepemimpinan, serta manajemen konflik dalam konteks kewirausahaan. 
  • Kompetisi Kewirausahaan, kompetisi bisnis atau kewirausahaan memberikan mahasiswa kesempatan untuk menguji ide bisnis mereka di hadapan pihak swasta atau panel juri. Kompetisi ini biasanya mencakup penghargaan atau pendanaan untuk ide bisnis terbaik.

2.3 Ekonomi Berkelanjutan 
  1. Definisi dan Konsep Ekonomi Berkelanjutan: Ekonomi berkelanjutan adalah sistem ekonomi yang tidak hanya menjelaskan pertumbuhan ekonomi tetapi juga memengaruhi dampak sosial dan lingkungan dari 7 aktivitas ekonomi. Konsep ini muncul sebagai respons terhadap isu-isu global seperti perubahan iklim, fluktuasi permukaan laut, dan ketidakadilan sosial. Ekonomi berkelanjutan bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan keberlanjutan ekosistem, dengan memastikan kesejahteraan sosial yang lebih adil bagi semua lapisan masyarakat. Ekonomi berkelanjutan memerlukan perubahan paradigma dari eksploitasi daya alam ke penggunaan yang lebih efisien dan bijaksana, yang menjamin keberlanjutan bagi generasi mendatang (Nababan, 2014). Dalam kerangka ekonomi berkelanjutan, penggunaan sumber daya alam harus dilakukan secara efisien dan bertanggung jawab. Hal ini penting untuk memastikan bahwa kebutuhan saat ini terpenuhi tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Selain aspek lingkungan, ekonomi berkelanjutan juga menyoroti pentingnya keadilan sosial. Sistem ekonomi yang berkelanjutan harus memberikan manfaat yang adil dan merata kepada semua kelompok masyarakat, terutama yang paling rentan. Ketimpangan sosial yang semakin melebar, baik dalam hal pendapatan maupun akses terhadap sumber daya, menuntut reformasi dalam kebijakan ekonomi. Selain aspek lingkungan, ekonomi berkelanjutan juga menyoroti pentingnya keadilan sosial. Sistem ekonomi yang berkelanjutan harus memberikan manfaat yang adil dan merata kepada semua kelompok masyarakat, terutama yang paling rentan.
  2. Prinsip Triple Bottom Line (Profit, People, Planet) : Prinsip triple bottom line dalam ekonomi berkelanjutan mengukur kesuksesan tidak hanya berdasarkan keuntungan finansial (profit) tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial (people) dan lingkungan (planet). Prinsip ini pertama kali diperkenalkan oleh John Elkington sebagai cara untuk mengevaluasi keseimbangan antara tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam kerangka ini, sebuah bisnis atau aktivitas ekonomi dikatakan berkelanjutan jika dapat menciptakan nilai bagi ketiga aspek tersebut tanpa mengorbankan salah satu dari yang lain (Coman, 2008). Dengan begitu manfaat dari prinsip ini yaitu:
    • Keuntungan Finansial: Praktik berkelanjutan dapat mengurangi biaya operasional, misalnya melalui penghematan energi dan pengelolaan limbah yang lebih baik.
    • Keberlanjutan Sosial: Perusahaan yang memperhatikan kesejahteraan pekerja dan masyarakat mendapatkan loyalitas dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan.
    • Reputasi dan Citra Merek: Perusahaan yang memprioritaskan aspek lingkungan dan sosial memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan dukungan konsumen yang semakin peduli dengan keberlanjutan. 
    • Akses terhadap Investasi: Banyak investor sekarang lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki kinerja yang baik di ketiga pilar TBL, terutama dalam hal lingkungan dan sosial.
BAB III METODE PENELITIAN 
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Definisi dari penelitian kualitatif adalah penelitian yang berguna untuk menyelidiki, menggambarkan, menjelaskan, dan menemukan kualitas atau ciri-ciri pengaruh sosial. Pengaruh sosial yang tidak dapat dijelaskan, diukur, atau digambarkan dengan metode penelitian kuantitatif dianggap sebagai pengaruh kualitatif. Dalam penelitian kualitatif ini, fokus utamanya adalah mengetahui kontribusi yang diberikan oleh mahasiswa dalam kegiatan kewirausahaannya baik di internal kampus maupun eksternal kampus yang mampu menyumbang ekonomi berkelanjutan untuk indonesia. Oleh karena itu, ukuran sampel yang digunakan dalam penelitian kualitatif biasanya terbatas, karena tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan generalisasi statistik dari temuan, melainkan untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan mendalam. Selain itu, hasil penelitian kualitatif biasanya disajikan secara deskriptif, di mana temuan-temuannya dideskripsikan dan dijelaskan secara rinci, daripada mencoba membuat prediksi atau kesimpulan statistik.

Artikel ini menggunakan jenis penelitian library research, karena dalam mengumpulkan, menganalisis, dan mengolah data pada artikel ini diambil dari studi literatur yang tertulis dan juga relevan dalam mengumpulkan data yang fokus pada kajian artikel mengenai kewirausahaan sosial sebagai wujud inovasi sosial mahasiswa. Digunakan data sekunder yaitu berupa data-data yang bersumber dari data yang tersedia, berupa dokumen, catatan-catatan, publikasi terbitan pemerintah, dan sumber lainnya. Berbagai data yang diperooleh dirangkum kemudian dipaparkan secara deskriptif dan kemudian dibuat suatu kesimpulan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 
4.1 Gambaran Umum 
Universitas memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan kewirausahaan sosial di kalangan mahasiswa. Sebagai institusi pendidikan, Universitas tidak hanya bertanggung jawab untuk memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan mahasiswa dalam menghadapi tantangan global. Dengan menyediakan pendidikan kewirausahaan yang terintegrasi dengan prinsip-prinsip keberlanjutan, Universitas dapat mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menciptakan solusi yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial dan lingkungan yang positif. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa untuk melihat kewirausahaan dari sudut pandang yang lebih luas, di mana keuntungan ekonomi tidak menjadi satu-satunya tujuan, melainkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan turut menjadi prioritas. 

Studi menunjukkan bahwa Universitas yang berfokus pada inovasi berkelanjutan dan kewirausahaan sosial berperan sebagai katalis dalam membentuk pola pikir kewirausahaan yang inovatif dan berkelanjutan di kalangan mahasiswa (Holzbaur, 2005). Dalam lingkungan akademis yang mendukung, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan ide-ide yang bersifat disruptif dan relevan dengan tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. Selain itu, melalui berbagai program, seperti inkubasi bisnis, pelatihan kewirausahaan, dan penelitian kolaboratif, Universitas dapat menciptakan ekosistem yang memungkinkan mahasiswa untuk mengeksplorasi, menguji, dan mengimplementasikan inovasi sosial yang dapat diterapkan secara luas. Dengan demikian, Universitas berperan penting dalam menyiapkan generasi wirausaha sosial yang mampu memberikan solusi berkelanjutan untuk masa depan.

Beberapa Universitas di berbagai negara telah sukses mendukung kewirausahaan berkelanjutan dengan mengintegrasikan pendidikan kewirausahaan dan prinsip keberlanjutan ke dalam kurikulum mereka. Langkah ini bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan solusi inovatif dalam bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan. Contohnya, Universitas di Jerman dan Amerika Serikat telah mengadopsi pendekatan "living labs", di mana mahasiswa berpartisipasi dalam proyek-proyek nyata yang bertujuan mendorong perubahan sosial serta inovasi berkelanjutan (Purcell et al., 2019). Dengan konsep ini, mahasiswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga langsung terlibat dalam praktek lapangan yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan keterampilan kewirausahaan dengan memecahkan masalah-masalah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. 

Pendekatan "living labs" ini tidak hanya memperkuat hubungan antara akademisi dan mahasiswa, tetapi juga memperluas kolaborasi dengan sektor swasta dan pemerintah dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Melalui kemitraan lintas sektor ini, Universitas berperan sebagai penghubung yang mengintegrasikan berbagai sumber daya dan pemangku kepentingan untuk mendorong inovasi berkelanjutan yang berdampak luas. Dengan demikian, Universitas berfungsi sebagai pusat pembelajaran sekaligus laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk mengembangkan solusi nyata yang berkontribusi pada pencapaian keberlanjutan global. 

4.2 Program Pemerintah dalam Mendukung Inovasi dan Kewirausahaan Mahasiswa
Program Pembinaan Wirausaha Mahasiswa Indonesia (P2MW) merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk mendukung pengembangan kewirausahaan di kalangan mahasiswa. P2MW adalah program pengembangan usaha mahasiswa yang diselenggarakan oleh Direktorat Belmawa, Ditjen Diktiristek. Program ini bertujuan untuk mendorong mahasiswa menjalankan wirausaha dan meningkatkan 12 ekosistem kewirausahaan di perguruan tinggi. P2MW mencakup pembinaan, pendampingan, dan pelatihan usaha mahasiswa. Berdasarkan data yang ada, jumlah proposal mahasiswa yang lolos pendanaan P2MW mengalami peningkatan signifikan selama tiga tahun terakhir. Pada tahun 2022, terdapat 888 proposal yang berhasil mendapatkan pendanaan. Jumlah ini meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 2023 menjadi 1.871 proposal, dan pada tahun 2024, jumlah proposal yang lolos pendanaan mencapai 2.017 proposal (Ditjen Diktiristek, 2022, 2023, 2024). Peningkatan yang signifikan ini mencerminkan minat yang semakin tinggi di kalangan mahasiswa terhadap kewirausahaan. Mahasiswa tidak hanya dilihat sebagai penerima manfaat dari ekonomi, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menciptakan solusi inovatif bagi masyarakat. Dengan dukungan pendanaan, mahasiswa lebih terdorong untuk mengembangkan ide bisnis yang berfokus pada keberlanjutan dan dampak sosial. 

Selain P2MW, Program Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K) juga menjadi platform penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan usaha sosial. Pada tahun 2022, sebanyak 293 proposal berhasil mendapatkan pendanaan melalui program PKM-K. Angka ini meningkat drastis menjadi 988 proposal pada tahun 2023, namun sedikit menurun menjadi 656 proposal pada tahun 2024(Ditjen Dikti, 2022, 2023, 2024). Penurunan jumlah proposal yang lolos pada tahun 2024 dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tingkat persaingan yang semakin ketat dan peningkatan kualitas seleksi. Meskipun demikian, program PKM-K tetap menjadi wadah yang efektif bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan kewirausahaan mereka dan berkontribusi terhadap ekonomi berkelanjutan melalui pengembangan usaha berbasis inovasi sosial. 

Peningkatan jumlah proposal P2MW dan PKM-K yang lolos pendanaan menunjukkan bahwa semakin banyak mahasiswa yang berfokus pada kewirausahaan sosial. Kewirausahaan sosial sendiri merupakan elemen penting dari ekonomi berkelanjutan karena menggabungkan tujuan ekonomi dengan dampak sosial dan lingkungan yang positif. Mahasiswa yang berpartisipasi dalam kewirausahaan sosial 13 tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga bertujuan untuk menyelesaikan masalah sosial seperti kemiskinan, ketimpangan, dan degradasi lingkungan, sehingga secara langsung mendukung terciptanya ekonomi berkelanjutan. Program seperti P2MW dan PKM-K mendorong mahasiswa untuk berinovasi dalam menciptakan produk dan layanan yang ramah lingkungan dan inklusif. Contoh konkretnya adalah proposal-proposal yang berfokus pada teknologi ramah lingkungan, bisnis berbasis komunitas, serta solusi inovatif dalam pengelolaan sumber daya alam yang dapat membantu mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa yang mengembangkan usaha berbasis kewirausahaan sosial ini berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama dalam hal pemberdayaan ekonomi lokal, penyediaan pekerjaan layak, dan pelestarian lingkungan. 

Banyak mahasiswa juga berperan sebagai agen perubahan melalui media digital selain melalui program formal seperti P2MW dan PKM-K. Saat ini, semakin banyak mahasiswa yang beralih menjadi influencer dan content creator, memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram, YouTube, dan TikTok untuk mengedukasi serta mempengaruhi masyarakat. Dalam konteks kewirausahaan sosial, mahasiswa yang menjadi influencer sering mempromosikan gaya hidup berkelanjutan, produk ramah lingkungan, dan nilai-nilai kewirausahaan sosial. Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa ada peningkatan jumlah mahasiswa yang memilih untuk mendirikan usaha mandiri tanpa bergantung pada program pendanaan pemerintah. Mereka memanfaatkan keterampilan digital dan jaringan sosial untuk membangun bisnis online, seperti toko daring, layanan konsultasi, dan jasa pembuatan konten. Para mahasiswa ini berperan besar dalam membentuk ekosistem kewirausahaan yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan di kalangan generasi muda. 

Keberhasilan mahasiswa dalam program-program ini menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan yang berfokus pada dampak sosial dan keberlanjutan telah 14 berhasil mendorong mahasiswa untuk berpikir lebih kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan masalah. Program seperti P2MW dan PKM-K menyediakan ekosistem yang mendukung mahasiswa dalam mewujudkan ide bisnis mereka, dengan tujuan jangka panjang untuk menciptakan perubahan sosial. Selain itu, peran mahasiswa sebagai influencer dan content creator juga menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kekuatan untuk mempengaruhi masyarakat melalui media digital. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini tidak hanya menciptakan konten yang menghibur, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan sosial dengan mempromosikan nilai-nilai keberlanjutan dan inovasi.

4.3 Peran Pihak Terkait dalam Mendorong Proses Pemberdayaan Mahasiswa 

Sektor swasta juga memberikan kontribusi besar dalam mendukung pengembangan kewirausahaan sosial di kalangan mahasiswa. Dukungan yang diberikan oleh sektor swasta termasuk dalam bentuk pendanaan, kolaborasi, serta penyediaan akses ke jaringan profesional dan pasar. Melalui kemitraan ini, sektor swasta membantu mahasiswa mengembangkan ide-ide bisnis mereka, memberikan bimbingan, serta membuka peluang untuk implementasi inovasi yang berdampak sosial.Sebagai contoh, di Bulgaria, sektor swasta memimpin transformasi ekonomi berbasis keberlanjutan dengan berkolaborasi dengan Universitas lokal untuk mendorong regenerasi ekonomi dan inovasi sosial (Purcell et al., 2018). Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana kemitraan antara Universitas dan sektor swasta dapat menciptakan dampak yang signifikan dalam membangun ekonomi berkelanjutan. 

Pihak eksternal lainnya, seperti lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah (NGO), dan komunitas global, juga memainkan peran penting dalam mendukung pemberdayaan mahasiswa melalui kewirausahaan sosial. Lembaga-lembaga ini sering kali menyediakan program pendanaan, dukungan teknis, dan pelatihan untuk mahasiswa yang ingin mengembangkan ide-ide bisnis yang berorientasi pada dampak sosial. Dalam kasus lain, Universitas di Eropa membentuk jaringan pendidikan tinggi yang berfokus pada keberlanjutan untuk mengembangkan kapasitas mahasiswa dalam 15 bidang kewirausahaan sosial. Jaringan ini berfungsi sebagai platform untuk bertukar pengalaman dan merumuskan kebijakan bersama terkait kewirausahaan berkelanjutan. Kolaborasi ini memungkinkan Universitas untuk memperluas dampaknya dalam menciptakan solusi inovatif melalui partisipasi mahasiswa. 

Peran yang dimainkan oleh Universitas, sektor swasta, dan pihak eksternal lainnya dalam mendukung kewirausahaan sosial dan inovasi berkelanjutan sangatlah penting. Melalui pendidikan kewirausahaan yang berfokus pada keberlanjutan, beberapa Universitas memberikan fondasi yang kuat bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan kewirausahaan yang dapat diterapkan dalam konteks bisnis sosial. Sektor swasta dan pihak eksternal berkontribusi dengan menyediakan sumber daya, pengetahuan, dan jaringan yang diperlukan untuk mengembangkan usaha sosial yang berkelanjutan. 

Dengan adanya kolaborasi antara Universitas, sektor swasta, dan pihak eksternal lainnya, mahasiswa tidak hanya dipandang sebagai pelaku pasif dalam ekosistem kewirausahaan, tetapi juga sebagai agen perubahan yang aktif. Program-program pendukung yang ada membantu mahasiswa mengubah ide-ide inovatif menjadi bisnis nyata yang berdampak sosial dan lingkungan. Keberhasilan model ini dapat dilihat dalam peningkatan jumlah mahasiswa yang terlibat dalam program kewirausahaan sosial dan jumlah proposal yang lolos pendanaan di berbagai program kewirausahaan mahasiswa.

BAB V KESIMPULAN 

5.1 Kesimpulan 

Mahasiswa memainkan peran strategis sebagai agen perubahan dalam mewujudkan perekonomian berkelanjutan melalui inovasi dan kewirausahaan sosial. Dengan latar belakang pendidikan yang mereka peroleh di universitas, mahasiswa memiliki kemampuan untuk menciptakan solusi inovatif yang menjawab tantangan sosial dan lingkungan. Pendidikan kewirausahaan yang terintegrasi dengan prinsip keberlanjutan memberikan bekal penting bagi mahasiswa untuk berpikir kreatif dan kritis dalam menghadapi isu-isu global, seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, dan degradasi lingkungan. Kolaborasi antara universitas, sektor swasta, dan pihak eksternal lainnya, seperti pemerintah dan organisasi non-pemerintah, sangat penting dalam mendukung pemberdayaan mahasiswa. Dukungan dalam bentuk program pendanaan, bimbingan, serta penyediaan akses ke jaringan profesional memungkinkan mahasiswa untuk mengembangkan dan mengimplementasikan ide bisnis mereka dengan fokus pada dampak sosial dan lingkungan. Melalui program seperti P2MW dan PKM-K, semakin banyak mahasiswa yang berfokus pada kewirausahaan sosial, yang berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). 

5.2 Saran 
Penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini banyak kekurangannya, baik data yang dipaparkan ataupun hasil yang kurang mendalam. Kekurangan pada penelitian ini dapat digunakan sebagai panduan untuk penelitian selanjutnya. Berikut saran dari penulis untuk penelitian ini: 
  1. Untuk institusi pendidikan, disarankan agar universitas memperkuat kurikulum kewirausahaan yang berbasis pada prinsip keberlanjutan dengan mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek nyata. Ini akan memberikan pengalaman praktis yang relevan bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan sosial dan lingkungan.
  2. Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan dukungan terhadap program- program pendanaan kewirausahaan sosial di kalangan mahasiswa, seperti P2MW dan PKM-K, guna memfasilitasi lebih banyak mahasiswa untuk memulai bisnis yang berfokus pada dampak sosial dan lingkungan.
  3. Sektor swasta diharapkan menjalin kolaborasi lebih erat dengan universitas untuk menyediakan bimbingan dan akses jaringan profesional, sehingga mahasiswa dapat lebih mudah mengimplementasikan inovasi berkelanjutan yang diciptakan dalam skala yang lebih luas. 
  4. Mahasiswa disarankan untuk lebih aktif memanfaatkan peluang dalam kewirausahaan sosial dengan mengedepankan inovasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan, baik melalui penelitian maupun keterlibatan dalam program-program inkubasi bisnis yang ada.
Ditulis Oleh:
  1. Wahyuni Safitri 2111021029 
  2. Fahmi Destry Amelia 2111021065 
  3. Desy Nur Maya 2114051017

Postingan Populer