Sabtu, 06 Desember 2025

Pemanfaatan Limbah Kulit Nanas sebagai Minuman Fermentasi “Pine Pro” untuk Meningkatkan Kesehatan Pencernaan Masyarakat

  Pendahuluan 

Pola makan masyarakat Indonesia pada umumnya masih kurang seimbang.  Banyak orang terbiasa mengonsumsi makanan tinggi lemak, gorengan, serta  camilan manis, namun jarang mengonsumsi buah dan sayuran. Kebiasaan  tersebut dapat menimbulkan berbagai gangguan pencernaan seperti  sembelit, diare, dan iritasi usus (Putri et al., 2023). Selain itu, pola makan  yang tidak sehat juga dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti  hipertensi, obesitas, diabetes, dan gangguan kolesterol (Laksono et al.,  2022). Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan pencernaan masyarakat  perlu mendapatkan perhatian lebih serius. 

Salah satu upaya untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan adalah dengan  mengonsumsi pangan fungsional, khususnya minuman probiotik. Menurut  Badan POM, pangan fungsional merupakan pangan yang secara alami atau  telah melalui proses pengolahan, mengandung satu atau lebih senyawa yang  memiliki fungsi fisiologis tertentu dan terbukti bermanfaat bagi kesehatan.  Minuman probiotik mengandung bakteri baik, seperti bakteri asam laktat  (BAL), yang mampu menyeimbangkan mikroflora usus dan bertahan hidup  di lingkungan asam lambung, sehingga membantu menjaga fungsi  pencernaan. 

Salah satu bahan potensial yang dapat digunakan adalah buah nanas.  Penelitian mengenai fermentasi kulit nanas menunjukkan bahwa limbah  nanas dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan minuman  probiotik yang murah dan bernilai ekonomi. Namun, produk tersebut masih  perlu dikembangkan lebih lanjut karena kualitas rasa dan penerimaan  konsumen belum optimal. Pengembangan fermentasi dari kulit buah nanas  diharapkan dapat menghasilkan produk probiotik yang memiliki cita rasa  lebih baik dan manfaat kesehatan yang tinggi. 

Salah satu inovasi yang kami kembangkan adalah “PinePro”, minuman  fermentasi berbahan dasar kulit nanas. Produk ini merupakan hasil ide dan 

kreasi kami sendiri, yang dibuat melalui proses fermentasi alami dengan  tambahan gula aren, jahe, dan serai. Kombinasi bahan-bahan tersebut  menghasilkan cita rasa yang unik, segar, dan memiliki aroma khas alami..  Kandungan karbohidrat dan gula alami dalam nanas mendukung proses  fermentasi dan berperan penting dalam pembentukan probiotik. Konsumsi  “PinePro” diketahui dapat memberikan manfaat bagi kesehatan pencernaan  serta membantu memenuhi kebutuhan vitamin C, vitamin A, vitamin B, dan  magnesium (Sagita, 2023). 

Provinsi Lampung, sebagai salah satu sentra penghasil nanas terbesar di  Indonesia, memiliki potensi besar dalam pengembangan produk probiotik  alami ini. Kandungan enzim bromelin dan gula alami dalam nanas Lampung  mendukung proses fermentasi yang ideal untuk menghasilkan minuman  probiotik. Dengan inovasi pengolahan yang tepat, nanas Lampung dapat  menjadi bahan baku utama dalam produksi minuman probiotik yang  terjangkau, menyehatkan, dan berdaya saing nasional. 

Dengan demikian, inovasi produk seperti “PinePro” berbahan dasar nanas  Lampung dapat menjadi solusi alami untuk meningkatkan kesehatan  pencernaan masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi lokal melalui  pemanfaatan hasil pertanian daerah. 

Isi 

Gangguan pencernaan seperti sembelit, perut kembung, dan diare  merupakan masalah kesehatan yang cukup sering dialami oleh masyarakat  dari berbagai kalangan usia. Kondisi ini sering disebabkan oleh pola makan  yang tidak teratur, rendah serat, kurangnya konsumsi air, serta minimnya  asupan makanan yang mengandung probiotik alami. Di pasaran, banyak  produk probiotik yang tersedia dalam bentuk kapsul atau yoghurt impor,  namun produk tersebut seringkali dianggap kurang familiar, tidak praktis  bagi sebagian masyarakat, serta memiliki harga yang relatif mahal. Padahal,  Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat melimpah yang 

dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk probiotik alami dengan  harga yang lebih terjangkau, salah satunya adalah buah nanas Lampung. 

Nanas Lampung merupakan salah satu komoditas buah unggulan daerah  yang dikenal memiliki rasa manis dan kandungan gizi yang tinggi. BPS  melaporkan, Indonesia memproduksi 3,2 juta ton nanas pada tahun 2022,  meningkat sekitar 10,99% dibanding tahun sebelumnya yaitu berjumlah 2,8  juta ton pada 2021. Lampung jadi provinsi penghasil nanas terbesar di  Indonesia pada 2022, yang telah memproduksi 861.706 ton. Kemudian,  posisi kedua diikuti oleh Sumatera Selatan dengan produksi nanas sebanyak  567.120 ton pada tahun lalu.Produk nanas dari Lampung telah menembus  pasar ekspor di 55 negara di sejumlah benua seperti Eropa, Amerika dan  Asia. 

Gambar 1. Grafik Penghasil Nanas Terbesar 2022 

Buah nanas mengandung enzim bromelin yang dapat membantu  memperlancar proses pencernaan protein, mengurangi peradangan pada  saluran cerna, serta mendukung kesehatan sistem pencernaan secara  menyeluruh. Selain itu, kandungan vitamin, mineral, serat, dan antioksidan  dalam nanas juga berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh. Potensi  besar inilah yang menjadi dasar lahirnya gagasan untuk mengembangkan  minuman fermentasi nanas sebagai alternatif probiotik lokal yang alami dan 

menyehatkan. 

Produk “PinePro” dikembangkan sebagai inovasi minuman fermentasi  nanas Lampung yang mengandung probiotik alami. Minuman probiotik  merupakan minuman yang didapatkan dari hasil fermentasi bakteri probiotik  asam laktat (BAL) dan mengandung bakteri hidup yang dapat hidup di  saluran pencernaan sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi saluran  cerna serta memiliki aroma dan rasa yang khas (Sagita et al., 2023).  "PinePro" merupakan salah satu produk fermentatif yang dapat dibuat  dengan berbahan baku ekstrak buah Nanas. Proses Fermentasi adalah proses  produksi makanan yang paling mudah dan sederhana. Fermentasi  merupakan proses yang menggunakan mikroorganisme seperti yeast dan  bakteri, untuk mengubah karbohidrat menjadi alkohol atau asam organik  dalam kondisi anaerobic (Crawford, 2018). Proses fermentasi ini tidak  hanya meningkatkan kandungan probiotik dalam minuman, tetapi juga  memperkaya cita rasa segar khas tropis yang sesuai dengan selera  masyarakat Indonesia. Dengan bahan baku yang mudah diperoleh dan  teknologi pengolahan yang sederhana, “PinePro” dapat diproduksi secara  lokal dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan produk impor. Inovasi  ini tidak hanya bertujuan menyediakan alternatif minuman kesehatan untuk  menjaga sistem pencernaan, tetapi juga memberi nilai tambah bagi hasil  pertanian lokal. Pemanfaatan nanas Lampung sebagai bahan utama dapat  membantu meningkatkan pendapatan petani, mengurangi limbah buah yang  tidak terjual, serta memperkuat kemandirian pangan dan kesehatan  masyarakat. Dengan demikian, “PinePro” menjadi wujud nyata sinergi  antara pemanfaatan sumber daya alam lokal, teknologi fermentasi, dan  inovasi pangan fungsional untuk menciptakan produk probiotik alami yang  terjangkau, bergizi, dan bermanfaat bagi kesehatan masyarakat luas. 

Kandungan karbohidrat dan gula dalam kulit Nanas menjadi penentu jadi  penentu potensinya sebagai bahan baku pembuatan tepache, sehingga  memiliki nilai manfaat yang lebih besar. Pernanfaatan kulit nanas sebagai 

bahan baku minuman tepache bukan tanpa alasan, kandungan nutrisi yang  terdapat pada kulit nanas dapat dikatakan cukup banyak seperti karbohidrat  17.53%, air 81,72%, serat kasar 20,87%. protein 4.41%, dan gula reduksi  13.65%, serta vitamin dan mineral lainnya (Hujjatusnaini et al., 2022).  Dalam kulit nanas terdapat kandungan yang berguna untuk menekan laju  pertumbuhan bakteri. yaitu, fenol, klor, iodium serta adanya enzim seperti  bromelin. Menurut Tivani dan Perwitasari (2021), kulit dari jenis nanas  madu membantu dalam menghambat bakteri Escherichia coli. Minuman  fermentatif tepache merupakan minuman tradisional yang berasal dari  Mexico yang berbahan dasar Nanas b. dan jeruk, yang kemudian banyak  dilakukan inovasi melalu beragam penelitian. Beberapa studi melaporkan  inovasi tepache dengan beragam variasi suplementasi dan jenis buah,  mikroorganisme fermentatif, ataupun perlakuan variable penelitian lainnya  (Pehiningrum et al., 2017). Suplementasi probiotik yang lebih variatif  bertujuan untuk memperbaiki fungsinya sebagai minuman yang  menyehatkan.  

Bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan “PinePro” yaitu kulit nanas,  gula aren, jahe dan serai. Proses pembuatan “PinePro” yaitu: Kulit nanas dan  bahan rempah lainnya dibersihkan. Kupas 1 buah nanas matang ukuran  sedang dan pisahkan kulit nanas, lalu potong-potong ukuran sedang.  Masukkan 278 gram kulit nanas dan 130 gram. Siapkan rempah-rempah  seperti jahe dan serai, lalu masukkan rempah yang sudah disiapkan ke dalam  wadah tersebut. Siapkan 343 gram gula aren. Lalu larutakan terlebih dahulu,  kemudian tuang ke dalam toples. Setelah itu tuangkan 400 ml air minum ke  dalam wadah dan aduk hingga larut sempurna. Tutup wadah dengan kain  agar sirkulasi udara tetap terjaga, kencangkan kain dengan tutup yang  tersedia atau ikat dengan karet gelang agar kotoran atau serangga tidak  mudah masuk. Diamkan 2-3 hari agar fermentasi terjadi. Setelah fermentasi  dilakukan selama 2-3 hari lalu saring cairannya dan buang ampasnya.  Pindahkan pinepro ke dalam botol atau wadah dan simpan di kulkas hingga  dingin. Ketika akan dikonsumsi, encerkan “PinePro” dengan sedikit air atau 

tambahkan potongan es batu. 

Langkah pembuatan “PinePro” 

1. Siapkan wadah yang sudah berisi air, potongan kulit nanas, gula aren,  serta sereh dan jahe yang sudah dicuci 

2. Masukkan bahan-bahan ke dalam wadah yang berisi air, kemudian  diaduk 

3. Diamkan selama 3 hari untuk proses fermentasi 

Gambar 2. Prosedur pembuatan Pinepro 

Produk “PinePro” memiliki berbagai manfaat dan keunggulan yang  mencakup aspek kesehatan, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dari sisi  kesehatan, “PinePro” berperan penting dalam menjaga keseimbangan  mikrobiota usus serta meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan probiotik  hasil fermentasi dari bakteri asam laktat (BAL) dapat membantu  memperlancar pencernaan, mencegah sembelit, dan mengoptimalkan  penyerapan nutrisi. Selain itu, enzim bromelin yang terdapat dalam nanas  mampu mempercepat pemecahan protein dan mengurangi peradangan pada  saluran cerna, sehingga membuat sistem pencernaan bekerja lebih efisien.  Hasil penelitian Sagita et al. (2023) menunjukkan bahwa minuman  fermentasi dengan BAL mampu meningkatkan jumlah bakteri baik dalam  usus serta memiliki efek positif terhadap kesehatan pencernaan.  

Penelitian lain oleh Fitriani et al. (2022) juga menemukan bahwa fermentasi  kulit nanas menghasilkan aktivitas antioksidan yang tinggi, tergantung pada 

jenis gula dan lama fermentasinya, sehingga memberikan manfaat tambahan  dalam melawan radikal bebas di tubuh. 

Dari sisi ekonomi, “PinePro” menjadi contoh inovasi lokal yang memiliki  potensi besar untuk dikembangkan sebagai peluang usaha masyarakat.  Pemanfaatan kulit nanas yang sebelumnya dianggap limbah menjadi bahan  baku utama menjadikan produk ini memiliki nilai tambah tinggi dengan  biaya produksi yang relatif rendah. Kondisi ini membuka kesempatan bagi  petani dan pelaku UMKM di daerah penghasil nanas seperti Lampung untuk  terlibat dalam proses produksi, distribusi, hingga pemasaran produk.  Hujjatusnaini et al. (2022) menjelaskan bahwa kulit nanas memiliki  kandungan karbohidrat sebesar 17,53% dan gula reduksi 13,65%,  menjadikannya bahan ideal untuk fermentasi bernilai ekonomi. Penelitian  Suprihatin et al. (2023) juga memperkuat hal ini dengan menyatakan bahwa  pengolahan kulit nanas menjadi minuman probiotik dapat menciptakan  peluang usaha rumah tangga yang meningkatkan pendapatan masyarakat  lokal serta mendorong kemandirian ekonomi berbasis sumber daya alam  daerah. 

Dari aspek sosial dan lingkungan, “PinePro” memberikan kontribusi positif  melalui pemanfaatan limbah pertanian yang sebelumnya tidak  termanfaatkan. Kulit nanas yang melimpah di daerah penghasil seperti  Lampung dapat diolah menjadi produk bernilai jual, sehingga mengurangi  volume limbah organik yang berpotensi mencemari lingkungan. Selain itu,  pengembangan produk ini dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi  masyarakat lokal, terutama dalam bidang pengumpulan bahan baku, proses  fermentasi, dan pengemasan produk. Menurut Tivani dan Perwitasari  (2021), kulit nanas mengandung senyawa fenol dan enzim bromelin yang  bermanfaat tidak hanya bagi kesehatan, tetapi juga menjadikannya bahan  alami yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut. Dengan demikian,  “PinePro” bukan hanya berperan sebagai minuman kesehatan, tetapi juga  sebagai bentuk kontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan 

pemberdayaan sosial masyarakat. 

Potensi pasar “PinePro” juga sangat besar mengingat tren gaya hidup sehat  yang semakin meningkat di kalangan masyarakat. Konsumen modern,  khususnya kalangan muda dan dewasa yang sadar kesehatan, mulai beralih  pada produk alami dan fungsional yang memiliki manfaat bagi tubuh.  “PinePro” dapat menyasar segmen pasar ini karena menawarkan keunggulan  cita rasa tropis yang segar, bahan lokal, serta harga yang lebih terjangkau  dibandingkan produk probiotik impor. Selain itu, menurut Rahman dan  Alamsyah (2023), produk dengan label “alami”, “lokal”, dan “ramah  lingkungan” memiliki daya tarik tinggi di pasar domestik dan global karena  mencerminkan gaya hidup berkelanjutan. Keunggulan ini semakin diperkuat  oleh bahan-bahan yang digunakan, seperti gula aren, jahe, dan serai, yang  tidak hanya memperkaya cita rasa, tetapi juga menambah manfaat  kesehatan. 

Dalam hal strategi pemasaran, “PinePro” dapat dipromosikan melalui  pendekatan digital menggunakan media sosial seperti Instagram, TikTok,  dan YouTube dengan konten edukatif tentang proses fermentasi dan manfaat  probiotik alami. Kolaborasi dengan kafe, toko organik, dan komunitas  pecinta makanan sehat juga dapat meningkatkan visibilitas produk.  Suprihatin et al. (2023) menyebutkan bahwa pelatihan dan promosi digital  merupakan faktor penting dalam memperkenalkan produk probiotik lokal  agar diterima lebih luas oleh masyarakat. Branding yang menonjolkan  identitas lokal seperti “produk fermentasi khas Lampung” dapat menambah  nilai emosional bagi konsumen, terutama di pasar anak muda yang  menyukai produk dengan cerita autentik di baliknya. 

Namun, pengembangan “PinePro” juga menghadapi beberapa tantangan  yang perlu diantisipasi. Tantangan utama terletak pada masa simpan produk  yang relatif singkat, karena sifat alami fermentasi dapat mengubah rasa dan  tekstur jika tidak disimpan dengan baik. Menurut Fitriani et al. (2022), 

penggunaan teknologi penyimpanan dingin dan kemasan kedap udara dapat  memperpanjang umur simpan tanpa mengurangi kualitas probiotiknya.  Selain itu, standarisasi mutu juga penting untuk menjaga konsistensi rasa  dan keamanan produk. Penggunaan kultur starter yang terkarakterisasi,  pengendalian suhu dan pH selama fermentasi, serta pengujian mikrobiologis  secara berkala merupakan langkah penting untuk memastikan kualitas yang  stabil (Phanichphanth, 2022). 

Tantangan lainnya adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap  produk fermentasi lokal, yang sering dianggap asing karena rasa asam dan  aroma khas fermentasi. Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan edukasi  konsumen melalui sosialisasi, pemberian sampel, serta pelatihan sederhana  tentang manfaat probiotik alami. Langkah ini sejalan dengan penelitian  Suprihatin et al. (2023) yang menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan  masyarakat dapat mendorong penerimaan terhadap produk probiotik  berbasis bahan lokal. Selain itu, dukungan pemerintah dan lembaga  pendidikan dalam bentuk riset lanjutan, pelatihan teknis, dan bantuan  perizinan juga akan memperkuat daya saing “PinePro” di pasar nasional. 

Secara keseluruhan, “PinePro” merupakan inovasi produk probiotik alami  berbasis nanas Lampung yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan  kesehatan masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, dan menjaga kelestarian  lingkungan. Pengembangan produk ini menjadi contoh nyata sinergi antara  sains, teknologi pangan, dan pemberdayaan masyarakat berbasis sumber  daya alam Indonesia. Dengan pengolahan yang tepat, dukungan riset  berkelanjutan, serta strategi pemasaran kreatif, “PinePro” berpeluang  menjadi produk unggulan nasional yang sehat, ekonomis, dan ramah  lingkungan.

Penutup 

“PinePro” merupakan inovasi minuman probiotik alami berbasis fermentasi  nanas Lampung yang memiliki nilai gizi tinggi serta manfaat kesehatan  yang signifikan. Kandungan bakteri asam laktat (BAL) dan enzim bromelin  menjadikan “PinePro” efektif dalam menjaga keseimbangan mikrobiota  usus, memperlancar pencernaan, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Dari  sisi ekonomi, pemanfaatan kulit nanas sebagai bahan baku utama  memberikan nilai tambah pada limbah pertanian sekaligus membuka  peluang usaha bagi petani dan pelaku UMKM lokal. Selain itu, produk ini  berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan melalui pengurangan limbah  organik serta menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat. 

Dengan cita rasa tropis yang segar, bahan lokal yang mudah diperoleh, serta  harga yang terjangkau, “PinePro” memiliki potensi besar untuk bersaing di  pasar produk kesehatan alami. Melalui dukungan riset berkelanjutan, edukasi  konsumen, serta strategi pemasaran digital yang kreatif, “PinePro” dapat  menjadi produk unggulan daerah yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga  memperkuat ekonomi dan memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.



Ditulis oleh: 

Vina Ismiyati 2413052020 

Nina Evriani 2413052071 

Umiyati 2415041022 

Hulwa Ainurroziqoh 2511021096 


KOPISA PAPER: INOVASI KERTAS BIODEGRADABLE DARI LIMBAH KULIT KOPI DAN PELEPAH PISANG RAMAH LINGKUNGAN

 PENDAHULUAN  

Industri kertas di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku  kayu, yang sebagian besar diperoleh melalui penebangan hutan alam maupun  hutan tanaman industri. Ketergantungan ini berkontribusi pada laju deforestasi  yang cukup tinggi setiap tahunnya. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan  Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas hutan berhutan di Indonesia pada tahun 2024  tercatat sebesar 95,5 juta hektare, atau sekitar 51,1% dari total daratan, namun  mengalami deforestasi netto sebesar 175,4 ribu hektare pada tahun yang sama.  Berikut data deforestasi Indonesia, Kawasan hutan, dan areal pengguna lain dari  tahun ke tahun : 

Gambar 1. Data Deforestasi Indonesia, Kehutanan, dan Areal Pengguna Lain  (Sumber: kehutanan.go.id

Salah satu faktor yang mendorong hilangnya tutupan hutan tersebut adalah  ekspansi perkebunan bahan baku industri pulp dan kertas, terutama akasia dan  eucalyptus. Menurut laporan Nusantara Atlas (2023), pada tahun 2022 saja tercatat  25.887 hektare hutan primer di Indonesia dikonversi menjadi lahan perkebunan  untuk industri pulp, dan angka ini meningkat menjadi sekitar 28.000 hektare pada  tahun 2023. Deforestasi ini tidak hanya mengancam keberlanjutan hutan tropis  Indonesia, tetapi juga menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati, terutama  pada habitat satwa langka seperti orangutan di Kalimantan dan Sumatra. Selain itu,  konversi lahan gambut untuk perkebunan kayu serat memicu pelepasan karbon dalam jumlah besar, meningkatkan risiko kebakaran hutan, serta memperburuk  kualitas udara dan siklus hidrologi di wilayah sekitarnya (Greenpeace Southeast  Asia, 2020), sehingga pencarian sumber serat alternatif menjadi mendesak.

Salah satu strategi yang muncul adalah memanfaatkan limbah pertanian  kaya serat sebagai pengganti pulp kayu. Dua limbah menjanjikan adalah pelepah pisang (pseudostem pisang) dan kulit kopi. Pelepah pisang tersedia melimpah di  daerah tropis dan seratnya menyerupai karakteristik kayu, sehingga potensial  dijadikan bahan baku kertas. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa pelepah  pisang mengandung selulosa sebanyak 63 -64 %, hemiselulosa sebanyak 20 %,  lignin sebanyak 5%, kekuatan Tarik rata-rata sebesar 600 Mpa, modulus tarik rata 

rata sebesar 17,85 Gpa, angka pertambahan panjangnya 3,36 %, diameter serat 5,8  µm, serta panjang serat 30,9240 cm (Rizky Amelia, Yerizam and Dewi, 2021). Kulit kopi juga merupakan limbah melimpah dari pengolahan kopi dengan  kandungan selulosa sekitar 39% dan terdapat tanin coklat. Oleh karena itu,  kombinasi kedua limbah ini dapat diolah menjadi KOPISA Paper, inovasi kertas  biodegradable yang sekaligus memanfaatkan pigmen alami kulit kopi sebagai  pewarna kertas ramah lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan ekonomi sirkular 

yaitu mengurangi tekanan terhadap hutan dan limbah pertanian sekaligus  menyediakan produk alternatif hijau. 

PEMBAHASAN  

KOPISA Paper merupakan inovasi kertas ramah lingkungan berbasis  limbah pertanian yang bersifat biodegradable, dibuat dari serat pelepah pisang dan  pewarna alami kulit kopi. Inovasi ini menjadi solusi konkret untuk mengurangi  limbah organik sekaligus ketergantungan industri kertas pada bahan baku kayu. 

Pelepah pisang merupakan salah satu limbah pertanian yang memiliki kandungan  serat selulosa tinggi, (63–64%) dan hemiselulosa (20%), dengan sedikit lignin  (~5%) (Ridwan, Ariani and Hensi, 2022). Kandungan selulosa yang tinggi menjadikan pelepah pisang sebagai bahan potensial untuk pembuatan pulp dan  kertas non-kayu.  

Proses pembuatan kertas dari pelepah pisang diawali dengan pencacahan  bahan mentah menjadi potongan kecil lalu dilakukan penjemuran. Potongan ini  kemudian direbus dengan bahan alami banana peel lye (larutan basa dari kulit  pisang) yang terbukti menghasilkan kandungan serat lebih tinggi sebesar 68%  daripada mengguanakan NaOH 10% yang dengan serat sebesar 56% (Musombi, 

Kisato and Wanduara, 2024). Perebusan dilakukan untuk melarutkan lignin dan  hemiselulosa yang mengikat serat selulosa. Proses ini disebut pulping atau  delignifikasi. Setelah direbus selama 2–3 jam, serat yang telah terpisah kemudian  dicuci dengan air hingga pH netral. Setelah perebusan, umumnya pulp diputihkan  dengan larutan hidrogen peroksida namun, karena KOPISA Paper ramah  lingkungan tahap pemutihan dapat diminimalisir dengan air perasan lemon atau  cukup dibersihkan saja dengan air mengalir untuk mempertahankan warna alami  serat yang estetis. Serat selulosa yang telah dibersihkan kemudian dihancurkan  secara mekanis (beating). Penghalusan dilakukan menggunakan blender serat  hingga terbentuk bubur kertas (pulp) untuk meningkatkan kohesi serat,  menghasilkan pulp kertas siap cetak (Vinitha Palause & Niverditha Ajith, 2024). 

Guna menambahkan warna alami, ekstrak pigmen dari kulit kopi  ditambahkan ke pulp. kulit kopi mengandung serat kasar sebesar 18,69%, tanin  2,47%, dan kandungan air yang cukup tinggi yaitu 75-80%. Salah satu  komponennya yaitu tanin berfungsi untuk memberikan kekuatan warna. Terdapat  dua proses untuk memperoleh warna dari kulit kopi kering yaitu, proses perebusan  di mana warna didapat dengan merebus kulit kopi kering dengan air perbandingan  1:1 sehingga warna dari kuit kopi keluar dan tercampur dengan air rebusan lalu  warna didapat dengan memblender kulit kopi kering hingga didapat kekentalan  seperti bubur (Kharishma, Agustin and Baskoro, 2023). Setelah itu ekstrak  pewarna kulit kopi di campur dengan pulp pelepah pisang dengan perbandingan  pulp dan pewarna 3:1 yang menghasilkan keseimbangan terbaik antara kekuatan  kertas, warna alami, dan daya rekat serat. 

Proses mencetak diawali dengan merendam mould dan deckle ke wadah  yang diisi dengan campuran air warna dari kulit kopi dan pulp pelepah pisang.  Penyaring lalu diangkat sehingga campuran bubur kertas akan terbawa pada  cetakan. Perlahan-lahan lalu cetakan digoyangkan pelan sampai air pada cetakan  meniris dan turun kembali ke wadah. Setelah itu lembaran kertas dipres untuk mengeluarkan sisa air dengan menggunakan spons atau kain lalu pindahkan pada  triplek untuk dikeringkan dengan menjemurnya dibawah sinar matahari. Proses ini  menghasilkan kertas alami berwarna berwarna kecoklatan alami yang menambah  estetika produk. Warna cokelat keemasan hingga gelap yang dihasilkan 

menciptakan kesan rustic. Bahkan, Gopinath et al. (2023) mengamati bahwa  kombinasi serat alami dengan pewarna nabati mampu meningkatkan nilai jual  produk hingga 20% di pasar kerajinan karena dianggap lebih eksklusif dan  berkarakter. 

Pengujian mutu kertas menjadi tahap penting untuk menilai keberhasilan  proses pembuatan. Beberapa parameter yang diuji antara lain kekuatan tarik  (tensile strength), ketahanan sobek (tear index), daya serap air (water absorbency),  dan kehalusan permukaan (smoothness). Berdasarkan hasil (Musombi, Kisato and  Wanduara, 2024), kertas dari pelepah pisang memiliki kekuatan tarik rata-rata 25– 35 N/m² dan daya serap air yang cukup baik untuk aplikasi kertas seni maupun  kemasan ramah lingkungan. 

KOPISA Paper menghadirkan inovasi berkelanjutan yang berperan  penting dalam meningkatkan efisiensi sumber daya dan mengubah limbah  pertanian menjadi produk bernilai tinggi, sejalan dengan tujuan Sustainable  Development Goal 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.  Dari sisi sosial, kegiatan produksi berbasis komunitas mampu memberdayakan  masyarakat pedesaan melalui pelatihan pembuatan kertas alami yang  menumbuhkan keterampilan baru dan membuka peluang usaha kecil, (Kurnianingsih, 2024), sejalan dengan (Sagi et al., 2024) yang menyatakan bahwa  serat pisang layak digunakan sebagai bahan baku pulp non-kayu yang kompetitif.  Dari sisi lingkungan, penggunaan serat non-kayu dan pewarna alami dari kulit kopi  membantu mengurangi ketergantungan pada kayu serta menekan pencemaran  akibat bahan kimia sintetis (Kharishma, Agustin and Baskoro, 2023). Selain itu,  Uthami (2024) menegaskan bahwa pemanfaatan pelepah pisang sebagai bahan  pulp dapat mengurangi tekanan terhadap hutan dan emisi karbon dari industri pulp kayu. Selain itu, KOPISA Paper dapat dikembangkan menjadi kertas dekoratif,  kartu ucapan, buku jurnaling, kertas lukis watercolour, kemasan ramah  lingkungan, serta pembungkus makanan. Melalui integrasi nilai sosial, ekonomi,  dan ekologis tersebut, KOPISA Paper bukan sekadar alternatif kertas  konvensional, tetapi simbol transformasi menuju ekonomi sirkular dan pola  produksi berkelanjutan di Indonesia.

KESIMPULAN 

KOPISA Paper merupakan inovasi ramah lingkungan yang memanfaatkan  limbah pelepah pisang dan kulit kopi sebagai bahan dasar pembuatan kertas  alternatif yang berkelanjutan. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, inovasi ini  tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah pertanian, tetapi juga menghadirkan  solusi nyata terhadap ketergantungan industri kertas pada bahan baku kayu. Proses  pembuatannya sederhana, efisien, dan dapat diterapkan pada skala rumah tangga  maupun komunitas, sehingga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat  pedesaan. Dari sisi sosial dan ekonomi, KOPISA Paper membuka peluang  wirausaha hijau, meningkatkan pendapatan, serta memperkuat ekonomi kreatif  lokal. Dari sisi lingkungan, produk ini mengurangi emisi karbon, menekan laju  deforestasi, dan menggantikan penggunaan bahan kimia sintetis dengan pewarna  alami. Dengan karakter serat alami dan nilai estetika tinggi, KOPISA Paper  berpotensi menjadi produk unggulan berbasis limbah yang mendukung Sustainable  Development Goal 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.  Secara keseluruhan, KOPISA Paper bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan  wujud nyata kolaborasi antara kreativitas, keberlanjutan, dan pemberdayaan  masyarakat menuju masa depan industri hijau Indonesia.



Ditulis Oleh:  

Sovi Verliana 2413021052 

Nadya Liantina 2417011067 

Yoga Dwi Saputra 2415021039 

Ahmad muzaki 2414151063


HEXBRIQ: OPTIMALISASI PEMANFAAATAN POTENSI LIMBAH DAUN PISANG DAN KULIT JAGUNG SEBAGAI BRIKET HEKSAGONAL UNTUK ENERGI TERBARUKAN DAN PUPUK ORGANIK




PENDAHULUAN

Kebutuhan energi global terus mengalami peningkatan, sementara sumber energi fosil yang tersedia semakin terbatas dan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti emisi gas rumah kaca. Oleh sebab itu, pengembangan energi alternatif yang berbasis biomassa menjadi pilihan yang sangat relevan. Limbah pertanian seperti daun pisang dan kulit jagung memiliki potensi besar sebagai bahan bakar terbarukan karena kandungan zat organiknya yang tinggi. Studi oleh (Kamar et al., 2023) memperlihatkan bahwa limbah kulit jagung pasar mampu diolah menjadi briket yang sesuai standar mutu SNI 1/6235/2000, dengan parameter seperti kadar air, kadar abu, dan nilai kalor.

Limbah daun pisang juga sudah sering diteliti sebagai sumber biomassa alternatif. Penelitian (Masthura, 2019) mengenai Analisis Fisis dan Laju Pembakaran Briket Bioarang dari Bahan Pelepah Pisang menemukan bahwa variasi perbandingan antara arang pelepah pisang dan perekat memengaruhi kadar air, densitas, nilai kalor, dan laju pembakaran. Selain itu, penelitian terkait Karakteristik Briket Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang Kepok menyimpulkan bahwa pemakaian mesh 50 dan perekat 15% menghasilkan nilai kalor 5.216,48 kal/g, kadar abu 8,42%, dan kadar air 7,9% sehingga layak dijadikan energi terbarukan (Marali et al., 2023).

Kombinasi berbagai jenis biomassa untuk pembuatan briket sudah dikaji sebagai upaya optimasi kinerja. Contohnya, penelitian Optimization of Bio Briquettes as an Alternative Fuel yang memakai kulit kakao, kulit pisang, dan tepung tapioka menyatakan bahwa perpaduan bahan yang optimal dapat meningkatkan nilai kalor serta karakteristik fisik briket (A et al., 2024). Oleh karena itu, penggabungan limbah daun pisang dan kulit jagung sebagai bahan baku briket kombinasi berpotensi menjawab kebutuhan tersebut.

Meskipun demikian, kajian yang mendalami pemanfaatan limbah daun pisang dan kulit jagung secara bersamaan dalam bentuk briket, khususnya bentuk heksagonal, masih sangat terbatas. Rumusan masalah dalam penelitian ini mengarah pada bagaimana mengoptimalkan pemakaian keduanya sebagai bahan baku briket energi terbarukan, apakah bentuk heksagonal dapat meningkatkan

efisiensi pembakaran dan penumpukan dibanding bentuk konvensional, serta bagaimana residu abu hasil pembakaran dimanfaatkan sebagai pupuk organik bernilai tambah. Tujuan penelitian ini ialah mengkaji potensi bahan baku limbah daun pisang dan kulit jagung, mengembangkan bentuk heksagonal briket untuk mengoptimalkan kinerja, dan menganalisis karakteristik abu briket serta potensi penggunaannya sebagai pupuk ramah lingkungan.

Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan yang mengoptimalkan pemanfaatan limbah daun pisang dan kulit jagung sebagai briket heksagonal serta eksplorasi pemanfaatan residu menjadi pupuk organik sangat penting demi mendukung solusi energi terbarukan yang inovatif dan berkelanjutan.

PEMBAHASAN

Limbah pertanian berupa daun pisang dan kulit jagung merupakan hasil samping kegiatan pertanian yang melimpah ruang dan jumlahnya. Sering kali limbah ini dianggap belum bernilai ekonomis, sehingga dibiarkan menjadi tumpukan sampah atau dibakar secara langsung tanpa pengolahan. Kebiasaan pembakaran limbah tersebut tidak hanya menimbulkan pencemaran udara, tetapi juga menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat sekitar. Padahal, jika ditelaah lebih jauh, limbah ini kaya akan senyawa organik seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang secara kimiawi menjadi bahan baku potensial untuk menghasilkan energi terbarukan. Pemanfaatan limbah ini sebagai biomassa merupakan solusi yang relevan untuk menjawab tantangan kebutuhan energi yang terus meningkat, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Potensi Limbah Daun Pisang dan Kulit Jagung sebagai Biomassa Energi

Isi senyawa organik dalam limbah daun pisang dan kulit jagung sangat bernilai tinggi karena dapat dikonversi menjadi sumber energi melalui proses pembakaran atau karbonisasi. Keberadaan zat organik ini menjadi modal utama dalam produksi briket biomassa yang akan menjadi alternatif bahan bakar fosil. Selain itu, limbah ini dapat diperoleh dengan mudah sepanjang tahun sebagai hasil samping pertanian, sehingga menjadikannya sumber energi yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, pengolahan limbah ini tidak hanya mengurangi beban

pencemaran, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat yang mengarah pada pembangunan berkelanjutan.




Gambar 1 Limbah daun pisang (sumber: pagaralampos.com, "Manfaat

Tersembunyi Daun Pisang Kering yang Sering Terlupakan", 2025)

Gambar 2 Limbah kulit jagung (sumber: rumahmesin.com, "Cara Membuat Kerajinan dari Kulit Jagung yang Mudah Sekali untuk ditiru", 2020)


Pemilihan bentuk heksagonal untuk briket Hexbriq merupakan langkah inovatif yang bertujuan memaksimalkan efisiensi dari sisi pembakaran dan penyimpanan. Struktur heksagonal memiliki keistimewaan berupa rongga udara yang menyebar di tengah, memungkinkan oksigen lebih mudah masuk dan memperlancar nyala api secara merata. Dibandingkan bentuk briket konvensional seperti bulat atau silinder, bentuk heksagonal ini dapat menghasilkan panas yang lebih stabil sambil meminimalkan emisi asap selama pembakaran. Selain itu, bentuk yang rapi dan simetris memudahkan proses penyusunan, pengemasan, serta pengangkutan, meningkatkan nilai ekonomi dan daya tarik bagi konsumen.



Gambar 1 Hexagonal charcoal

(sumber: Surefire Wood, “Hexagonal

Charcoal: The Future of Sustainable

Fuel”, 2025)

Keunggulan Desain Heksagonal Briket Hexbriq

Penggunaan desain heksagonal tidak hanya memberikan keuntungan dari segi efisiensi pembakaran, namun juga terkait aspek praktis dalam distribusi dan penyimpanan. Bentuk ini memungkinkan modulasi susunan briket yang lebih padat dan stabil di dalam tempat penyimpanan. Faktor bentuk juga berkontribusi pada pengalaman pengguna yang lebih baik, karena briket dapat lebih mudah ditata sehingga menghemat ruang dan memudahkan pengangkutan. Dengan inovasi bentuk ini, Hexbriq hadir sebagai produk biomassa yang tidak hanya optimal secara teknis tetapi juga memenuhi aspek pemasaran yang penting.



Gambar 4 Gambar 2 Arang briket heksagonal

(sumber: Wikipedia, "Japanese Briquette

Charcoal", 2011)

Hexbriq: Solusi Energi Ramah Lingkungan

Proses produksi briket Hexbriq dimulai dengan pengeringan dan penggilingan limbah daun pisang serta kulit jagung hingga menjadi serbuk halus. Serbuk ini kemudian dikarbonisasi pada suhu 400–500 °C untuk menghasilkan bioarang sebagai bahan utama. Bioarang dicampur perekat alami berupa tepung tapioka sebanyak 10–15% dari massa bahan kering. Campuran ini dicetak ke dalam cetakan heksagonal yang memungkinkan adanya rongga udara di tengah briket, memperlancar aliran udara saat pembakaran. Briket yang telah dicetak dikeringkan pada suhu 105 °C sampai kadar air kurang dari 8% untuk memastikan briket padat, tahan lama, dan kualitas pembakaran yang optimal.

Penentuan komposisi bahan baku menjadi kunci dalam menghasilkan briket dengan nilai kalor dan karakteristik fisik terbaik. Kombinasi 60% kulit jagung dan 40% daun pisang menghasilkan nilai kalor sekitar 5.200 kalori per gram, dengan

kadar abu dan kadar air yang rendah sehingga pembakaran menjadi lebih efisien dan bersih. Komposisi ini dipilih untuk menyeimbangkan antara daya tahan mekanik briket dan efisiensi energi yang dihasilkan. Nilai kalor briket Hexbriq dapat mencapai lebih dari 5.000 kalori per gram, sebanding dengan batu bara kelas menengah, sementara struktur heksagonal dengan ventilasi tengah menjamin pembakaran yang merata dan stabil. Formula ini memastikan Hexbriq berfungsi sebagai solusi energi terbarukan yang ramah lingkungan, praktis digunakan, serta mendukung pengelolaan limbah pertanian secara berkelanjutan.

Hexbriq dan Peranannya dalam Ekonomi Sirkular dan Pemberdayaan Masyarakat

Hexbriq tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi karbon dengan menjadi alternatif bahan bakar ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, terutama di kawasan pedesaan. Produksi dan distribusi Hexbriq dapat menjadi usaha produktif yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah pertanian secara berkelanjutan. Penggunaan limbah sebagai bahan baku utama menjadikan produk ini sangat relevan dalam konteks pembangunan hijau dan pertanian berkelanjutan.

Sisa pembakaran Hexbriq berupa biochar memiliki manfaat besar sebagai pupuk organik yang efektif. Struktur pori biochar membantu menyimpan air dan nutrisi tanaman serta meningkatkan pH tanah asam, yang sering menjadi kendala dalam pertanian. Unsur hara penting seperti kalium, kalsium, dan fosfor terkandung dalam biochar sehingga dapat langsung memperbaiki kualitas tanah dan mendorong peningkatan hasil tanaman. Pendekatan ini mengintegrasikan prinsip ekonomi sirkular yang mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai guna, mendukung keberlanjutan produksi energi dan pertanian.

Program pelatihan teknis yang menyasar komunitas lokal mampu membuka wawasan dan memberi keterampilan langsung bagi produsen briket. Selain itu, sosialisasi manfaat briket sebagai energi terbarukan dan ramah lingkungan dapat meningkatkan minat dan kesadaran konsumen sehingga mendukung pengembangan pasar Hexbriq secara luas.

Wilayah pedesaan menjadi target utama pengembangan teknologi Hexbriq karena ketersediaan bahan baku melimpah sekaligus kebutuhan energi yang terus meningkat. Teknologi sederhana serta peralatan yang mudah diakses membuat produksi Hexbriq dapat dijalankan secara mandiri oleh masyarakat desa. Kerjasama dengan lembaga pendidikan dan riset diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi serta memperluas jaringan pemasaran produk.

KESIMPULAN



Hexbriq adalah solusi energi terbarukan yang efektif karena memanfaatkan limbah daun pisang dan kulit jagung yang dapat diperbaharui secara alami. Dengan menghasilkan energi panas yang efisien dan menghasilkan residu biochar yang berguna sebagai pupuk organik, Hexbriq mendukung siklus ekonomi sirkular dan kelestarian lingkungan. Produk ini memenuhi kriteria energi terbarukan yang berasal dari sumber alami, dapat diperbaharui, dan ramah lingkungan. Dukungan edukasi masyarakat sangat penting untuk mengoptimalkan penggunaan dan penyebaran teknologi ini, sehingga mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan membantu pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Ditulis oleh:

Citra Devy Ariani 2415041021

Juliyanti 2417011096

Kartika Aprilia 2317011015

Sabila Syakinah 2417011026

Postingan Populer