Jumat, 03 Februari 2017

TEKNOLOGI PENGUSIR TIKUS (SANGAT PENTING UNTUK PETANI)

By: Toni Chanigia
Sumber: Kabartani.com

Teknologi Ampuh Pengusir Tikus (Sangat Penting Untuk Petani)


PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau. Keanekaragaman alam, budaya dan suku bangsa menjadi ciri khas di Indonesia. Namun selain itu, Indonesia juga disebut sebagai agraris. Hal ini dikarenakan penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani pada umumnya (Sugiati,2004). Hasil pertanian yang dihasilkan banyak sekali contohnya, seperti padi, jagung, singkong, sagu dan lain-lain. Dari sekian aneka ragam produk pertanian, padi adalah salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Tentu tidak heran karena beras berperan menjadi makan pokok rakyat Indonesia. Maka produksi padi di Indonesia harus dipertahankan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia. Apalagi dengan profesi sebagian besar sebagai petani, maka tingkat konsumsinya cukup tinggi karena membutuhkan energi yang sangat banyak.

Tanaman padi di Indonesia sangat bergantung dengan musim. Jadi, membutuhkan waktu 3-4 bulan untuk menunggu atau menuliskan usia panen (Sunarto, 2007). Dalam proses penanaman padi membutuhkan beberapa tahap atau proses hingga pemanenan. Pertama adalah membuat bibit padi dengan proses penyemaian. Seiring dengan masa pembibitan, dibuat lahan tempat penanaman padi. Setelah bibit padi siap tanam, maka bibit padi siap ditanam (Wikipedia, 2009). Tentu tidak hanya menunggu begitu saja untuk menunggu hasil panen. Membutuhkan perawatan supaya hasil padi yang diperoleh maksimal. Banyak gulma ataupun hama yang mengganggu proses pertumbuhan padi yang dapat menurunkan tingkat produksi padi. Tindakan seperti penyemprotan atau mencabut gulma sangat penting dalam tahap ini. Selain itu, hama padi seperti wereng, walang sangit, kepik, burung, tikus dan lain-lain menjadi hama pemakan padi yang mulai tua (Supriyadi, 2009). Untuk menangani masalah tersebut, para petani perlu melakukan penyemprotan padi menggunakan obat hama atau membuat jebakan racun untuk memberantas hama-hama tersebut. Untuk hal ini, tikus menjadi hama yang paling sulit untuk diberantas.

Tikus adalah mamalia yang termasuk dalam suku Muridae. Spesies tikus yang paling dikenal adalah mencit (Mus spp.) serta tikus got (Rattus norvegicus) yang ditemukan hampir di semua negara (Wikipedia, 2011). Tikus sawah (Rattus argentiventer) sendiri adalah hama penting yang menyerang seluruh bagian tanaman padi (Winarti, 2007). Cara menyerangnya yaitu merusak tanaman padi pada semua fase tumbuh dari semai hingga panen, bahkan sampai penyimpanan. Serangan tikus di sawah sudah dimulai sejak benih disemai di pesemaian (Sukamto, 2007). Di sini tikus memakan biji-biji yang sedang berkecambah, akibatnya petani terpaksa menyemai ulang. Serangan kedua terjadi pada saat tanaman padi dalam fase anakan (vegetatif). Pada saat ini tikus mengerat anakan pada bagian pangkalnya untuk memakan bagian dalam (titik tumbuh). Serangan ketiga terjadi pada fase generatif, dimana serangan ini merupakan yang paling parah hingga dapat menyebabkan puso atau gagal panen, karena saat itu pembentukan anakan sudah berhenti dan dimulainya pembentukan bakal biji sampai panen sehingga tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru (Wikipedia, 2006).

Tikus menyerang padi malam hari, pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampunagn dekat sawah. Pada periode sawah bera, sebagian besar tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif (Irianto, 2007). Sebagai hewan pengerat (rodent) tikus sawah sering merusak tanaman padi dalam jumlah yang jauh melebihi kebutuhan makannya. Hal itu disebabkan tikus perlu "mengasah" gigi serinya yang selalu tumbuh agar senantiasa dalam ukuran yang pas (Irianto, 2000). Hal ini tentu meresahkan para petani. Hama pengerat ini muncul sebagai dampak dari terjadinya anomally iklim dengan cuaca tahun yang cenderung basah. Jika kawanan tikus sawah tidak segera dibasmi, maka kualitas padi yang dihasilkan menjadi buruk dan akan berimbas pada kuantitasnya pula sehingga menurunkan tingkat produksi padi oleh para petani karena pertumbuhannya terganggu.

TIKUS DI LAHAN PERTANIAN

Tikus sawah sebagian besar tinggal di persawahan dan lingkungan sekitar sawah. Daya adaptasi tinggi, sehingga mudah tersebar di dataran rendah dan dataran tinggi. Mereka suka menggali liang untuk berlindung dan berkembangbiak, membuat terowongan atau jalur sepanjang pematang dan tanggul irigasi.

Tikus sawah termasuk omnivora (pemakan segala jenis makanan). Apabila makanan berlimpah mereka cenderung memilih yang paling disukai, yaitu biji-bijian/padi yang tersedia di sawah. Pada kondisi bera, tikus sering berada di pemukiman, mereka menyerang semua stadium tanaman padi, sejak pesemaian sampai panen. Tingkat kerusakan yang diakibatkan bervariasi tergantung stadium tanaman.
Jumlah anak tikus per induk beragam antara 6-18 ekor, dengan rata-rata 10,8 ekor pada musim kemarau dan 10,7 ekor pada musim hujan, untuk peranakan pertama. Peranakan ke 2-6 adalah 6-8 ekor, dengan rata-rata 7 ekor. Peranakan ke 7 dan seterusnya, jumlah anak menurun mencapai 2-6 ekor, dengan rata-rata 4 ekor. Interval antar peranakan adalah 30-50 hari dalam kondisi normal.

Pada satu musim tanam, tikus betina dapat melahirkan 2-3 kali, sehingga satu induk mampu menghasilkan sampai 100 ekor tikus, sehingga populasi akan bertambah cepat meningkatnya. Tikus betina terjadi cepat, yaitu pada umur 40 hari sudah siap kawin dan dapat bunting. Masa kehamilan mencapai 19-23 hari, dengan rata-rata 21 hari. Tikus jantan lebih lambat menjadi dewasa daripada betinanya, yaitu pada umur 60 hari. Lama hidup tikus sekitar 8 bulan.

Sarang tikus pada pertanaman padi masa vegetatif cenderung pendek dan dangkal, sedangkan pada masa generatif lebih dalam, bercabang, dan luas karena mereka sudah mulai bunting dan akan melahirkan anak. Selama awal musim perkembangbiakan, tikus hidup masih soliter, yaitu satu jantan dan satu betina, tetapi pada musim kopulasi banyak dijumpai beberapa pasangan dalam satu liang/sarang. Dengan menggunakan Radio Tracking System, pada fase vegetatif dan awal generatif tanaman, tikus bergerak mencapai 100-200 m dari sarang, sedangkan pada fase generatif tikus bergerak lebih pendek dan sempit, yaitu 50-125 m dari sarang (Maspary,2010).

TEKNOLOGI STICK REGURATOR SPRAY

Perangkat teknologi Stick Regurstor Spray terdiri atas stick penyemprot, selang regulator, regurator gas, dan tabung gas LPG. Semua perangkat ini akan bekerja ketika gas mengalir melewati selang regulator, regurator gas, dan stick penyemprot sehingga akan menghasilkan api ketika terkena percikan api. Setiap perangkat yang digunakan memiliki fungsi yang berbeda-beda dan akan berfungsi sesuai dengan kebutuhan yang digunakan.

Tabung gas LPG merupakan tabung yang berfungsi untuk menampung gas hasil kilang gas sehingga dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga seperti memasak (Wikipedia, 2009). Komponen utama dalam gas LPG adalah gas propana (C3H8) dan gas butana (C4H10) kurang lebih 99 % serta selebihnya gas pentana (C5H10) yang dicairkan. Gas LPG memiliki karateristik lebih berat dari pada udara dengan berat jenis sekitar 2,01 (dibandingkan dengan udara) dan memiliki tekanan uap dalam tabung sekitar 5,0 – 6,2 Kg/cm2 (Sainti, 2010). Tabung gas yang digunakan dalam teknologi stick regurator spray adalah tabung gas LPG ukuran 3 Kg. Fungsi tabung gas LPG dalam teknologi ini adalag sebagai penyedia sumber energi dalam bentuk gas yang nantinya akan dikonversikan menjadi nyala api sehingga dapat digunakan untuk membakar belerang dalam membrantas hama tikus di area persawahan.

Pengertian regurator adalah alat pengatur tekanan yang berfungsi sebagai penyalur dan mengatur serta menstabilkan tekanan gas yang keluar dari tabung supaya aliran gas menjadi konstan (Rudianto, 2010). Jeni-jenis regurator cukup banyaka diantaranya regurator oxygen, regurator LPG, regurator acetylene, dan regurator CO2 (Supriyadi, 2006). Pada teknologi stick regurator spray menggunakan jenis regurator gas LPG. Untuk inovasi ini regurator gas LPG memiliki fungsi sebagai pengatur keluarnya gas dari tabung gas LPG. Regurator gas LPG fungsinya bersamaan dengan selang regulator. Gas yang keluar dari  regurator akan dihubungkan ke stick penyemprot menggunakan selang regulator sehingga gas akan keluar secara aman tanpa ada kebocoran. http://www.indonesiastudent.com/pengertian-karya-tulis-ilmiah-kriteria-contoh-menurut-ahli/

Stick penyemprot sendiri akan berfungsi sebagai pengarah atau penempat posisi keluarnya gas di lubang tikus. Stick penyemprot dapat dibuat dengan menggunakan besi silinder berongga dengan diameter rongga ± 0,5 cm dengan memberikan kran pengatur untuk mengatur gas keluar dan memberikan corong di ujung stick yang berfungsi sebagai penghalang angin supaya ketika api menyala tidak mati. Selain stick penyemprot dapat dibuat, stick  penyemprot dapat menggunakan barang bekas dari stick bekas tabung penyemprot yang banyak digunakan oleh petani. Namun stick bekas tabung penyemprot perlu dimodifikasi dengan memberikan corong penghalang angin di ujung stick.

PRINSIP KERJA STICK REGURATOR SPRAY

Teknologi stick regulator spray bekerja jika terdapat gas LPG yang bertindak sebagai sumber energi. Gas yang ada di dalam tabung gas LPG akan keluar karena ada tekanan dari regulator. Selanjutnya gas akan masuk kedalam selang regulator dan akan disalurkan ke stick penyemprot. Di stick penyemprot terdapat kran yang berfungsi sebagai pengatur keluarnya gas supaya dapat menimbulkan api. Ketika kran dalam keadaan off maka gas tidak dapat keluar dan ketika dalam keadaan on gas akan keluar menuju ujung stick yang dipasang corong penghalang angin. Kemudian gas yang keluar dipicu menggunakan korek api sehingga akan terbentuk kobaran api. Kobaran api tidak akan padam karena angin terhalang oleh corong dan api akan padam ketika kran dalam keadaan of. Ketika api sudah muncul dari stick penyemprot, letakan belerang di muka lubang rumah tikus  dan selanjutnya bakar belerang dengan meletakan corong stick di muka lubang rumah tikus. Belerang yang terbakar  akan membentuk gas CO dan gas racun lainnya sehingga tikus yang berada didalam lubang akan mati ketika menghirup gas hasil pembakaran belerang.

PENERAPAN TEKNOLOGI STICK REGURATOR SPRAY

Beras adalah makanan pokok seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Lampung Tengah. Oleh karena itu, tingkat konsumsi beras cukup tinggi. Banyak petani yang menanam padi pada lahan persawahannya. Hal ini dapat dilihat dari potensi lahan sawah yang setiap tahun dapat ditanami padi di Kabupaten Lampung Tengah pada tahun 2005 mencapai luas areal total 68.489 ha meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2003 (45.435 ha).  Total lahan sawah irigasi tehnis PU dan irigasi tehnis Non PU yang dapat ditanami dalam satu tahun pada tahun 2005, masing-masing adalah seluas 48.237 ha (di 23 Kecamatan) dan 2.379 ha (di 9 Kecamatan).  Sementara luas lahan sawah irigasi tehnis dan semi tehnis yang diusahakan dan dapat ditanami padi pada 2005, masing-masing adalah 41.727 ha (di 19 kecamatan) dan 2.843 ha (di 7 Kecamatan).  Luas lahan sawah tadah hujan, sawah pasang surut, sawah irigasi sederhana, dan sawah lebak yang diusahakan dan dapat ditanami padi pada tahun 2005, masing-masing mencapai 9.325 ha (ada di 19 Kecamatan), 711 ha (Kec. Way Sepitih dan Seputih Banyak), 3.667 ha (10 Kecamatan, terutama Kec. Sendang Agung, Padang Ratu, Anak Tuha, Kalirejo, dan Pubian) dan 7.837 ha (9 Kecamatan, terutama di Kecamatan Rumbia dan Seputih Surabaya) (Pertanian Lampung Tengah , 2013).  

Teknologi Stick Regulator Spray adalah teknologi inovasi dengan bahan berupa gas LPG dan belerang (batu gamping) sebagai pemberantas hama tikus sawah pada areal penanaman padi. Dengan teknologi ini, individu dapat memberantas hama tikus di area sawah ± 2 ha yang membutuhkan bahan gas LPG 3 Kg dan belerang secukupnya. Tentu dengan adanya teknologi tersebut sangat membantu petani padi dalam mengoptimalkan hasil panen sehingga meminimalkan tingkat kerugian. Teknologi ini dapat bekerja ketika regulator memberikan tekanan pada tabung gas. Kemudian gas yang keluar dari tabung akan menyalur pada selang regulator. Pada ujung selang regulator juga dipasang stick penyemprot yang dilengkapi dengan kran pengatur keluarnya gas. Kran ini dapat diposisikan off ataupun on. Jadi, setelah gas berada pada selang regulator, gas akan dilanjutkan pada stick tersebut. ketika kran berada pada keadaan off, maka gas tidak keluar dan ketika pada posisi on maka gas akan keluar. Teknologi Stick Regulator Spray tidak hanya dapat digunakan pada lahan persawahan, tetapi dapat digunakan pada area lain yang terserang hama tikus.

Individu yang sudah melakukan pemberantasan hama tikus dengan teknologi Stick Regulator Spray sebanyak satu kali, diharapkan mengobservasi keadaan lahan setelah dilakukan pemberantasan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hasil pemberantasan terhadap hama tikus. Jika masih terdapat tikus yang lolos dari pemberantasan pertama, maka individu dianjurkan untuk pemberantasan kedua hingga tidak ditemukan hama tikus lagi. Dengan prinsip teknologi Stick Regulator Spray, individu tidak perlu bersusah payah mengejar-ngejar tikus untuk dibunuh. Maka teknologi Stick Regulator Spray memiliki beberapa kelebihan, yaitu efisiensi waktu dalam proses pemberantasan, pembuatan teknologi tersebut lebih mudah, dapat digunakan berkali-kali, dana yang dikeluarkan lebih murah karena dapat menggunakan beberapa barang bekas, hasil pemberantasan hama tikus lebih optimal, dan efisiensi  tenaga untuk memberantas hama tikus. http://www.indonesiastudent.com/pengertian-karya-tulis-ilmiah-kriteria-contoh-menurut-ahli/

Terciptanya inovasi teknologi Stick Regulator Spray memberikan pengaruh yang sangat besar dalam dunia pertanian, khususnya petani padi. Karena dengan adanya teknologi tersebut, individu dapat mengoptimalkan hasil panen serta meminimalkan kerugian gagal panen akibat hama tikus yang merajalela pada area penanaman padi. Sehingga tingkat ketersediaan beras sebagai makanan pokok masyarakat Kabupaten Lampung Tengah dapat mengimbangi jumlah penduduk dikabupaten tersebut. Dan kelangkaan ataupun harga beras yang cukup tinggi dapat diatasi di Kabupaten Lampung Tengah. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa keberadaan teknologi Stick Regulator Spray sebagai pemberantas hama tikus sangat berpengaruh terhadap tingkat ketersediaan beras dan keberhasilan petani padi ketika panen. 

0 komentar:

Posting Komentar