Jumat, 03 Februari 2017

Salep Cangkang Keong Sebagai Pembeku Darah

By: Toni Chanigia

Fungsi Salep Cangkang Keong Sebagai Pembeku Darah



PENDAHULUAN

Hemofilia adalah suatu penyakit yang membuat darah seorang penderitanya sukar membeku ketika mengalami luka. Ini terjadi karena jumlah zat pembeku darah jenis tertentu kurang dari jumlah normal, bahkan hampir tidak ada. Pada orang normal, pembekuan darah memerlukan waktu ± 5–7 menit. Sementara, pada penderita hemofilia darah akan membeku dalam waktu 50 menit sampai 2 jam. Jika hal tersebut terjadi, maka penderita akan meninggal akibat kehabisan darah. Hemofilia disebabkan oleh gen resesif h yang terpaut pada kromosom-X. Gen H mengakibatkan sifat normal pada darah dan gen h merupakan penyebab hemofilia. Penderita hemofilia mayoritas adalah laki-laki, sangat jarang ditemukan penderita hemofilia perempuan karena bersifat semi-letal (Buku Sekolah Elektronik SMA XII, 2009).

Perlu dilakukan penanganan yang cepat kepada seorang penderita Hemofilia yang terluka, supaya orang tersebut tidak kehabisan darah. Penanganan luka pada penderita hemofilia yang terkenal adalah Replacement Therapy, yaitu pemberian zat atau faktor pembeku darah yang dibutuhkan penderitanya dalam bentuk tranfusi plasma. Proses terapi ini memerlukan biaya mahal untuk melakukannya,  dan dalam pemberian dosis serta jadwal terapi juga harus dibawah pengawasan dokter hematologi. Selain Replacement Therapy, penanganan luka dapat dilakukan dengan cara pemberian alkohol dengan menekan luka dalam waktu yang lama, namun hal ini tentu belum dapat menghentikan penderita hemofilia secara cepat. Penanganan menggunakan alkohol hanya membutuhkan sedikit biaya dan cara penanganannya mudah, tetapi penanganan ini hanya digunakan untuk pertolongan pertama dan tidak bisa dipastikan mutlak dapat menghentikan darah penderita hemophilia (World Federation of Hemophilia, 1998)

Selain permasalahan penghentian luka pada penderita hemofilia, saat ini keong mas ( Pomacea canaliculata L.) yang mayoritas berhabitat di persawahan ataupun lingkungan rawa sangat melimpah tetapi pemanfaatan hewan ini masih sangat kurang, sebagian besar petani menganggap keong mas hanya kumpulan hama yang menyerang tanaman mereka, dan petani banyak menggunakan moluscisida (bahan kimia pembunuh keong) untuk memusnahkannya. Hanya sebagian kecil masyarakat yang memanfaatkannya, misalkan dagingnya untuk pakan ternak seperti bebek, dan memanfaatkan daging keong itu untuk dijadikan lauk makan. Akan tetapi cangkang keong mas sampai saat ini sangat jarang dimanfaatkan, bahkan belum termanfaatkan dan hanya terbuang sia-sia. Cangkang keong mas memiliki kandungan nutrisi per 100 gram cangkang yaitu protein 2,94%, lemak 0,12 %, kalsium (dalam bentuk kapur atau kalsium karbonat) 30,35%, fosfor 0,19 % serta mineral lain (Bahrul Mahdi, 2013).

Selain cangkang keong mas, tanaman genjer atau yang bernama latin (Limnocharis flava) berhabitat di lingkungan rawa biasa dimanfaatkan sebagai sayur oleh masyarakat, tetapi dengan rasa yang sedikit pahit sebagian masyarakat enggan untuk memasaknya menjadi lauk. Tanaman genjer ini mengandung vitamin K atau yang dikenal juga dengan vitamin Koagulasi. Vitamin K ini juga berperan dalam proses pembekuan darah (Wikipedia, 2009)


Cangkang keong mas yang mengandung banyak kalsium dalam bentuk kalsium karbonat dan genjer yang mengandung vitamin K, zat-zat tersebut memiliki sifat koagulan dalam proses pembekuan darah saat terjadi luka, apabila manusia kekurangan ion Ca2+ dan vitamin K ini, maka akan terjadi gangguan dalam proses pembekuan darahnya. Sistematika jalannya pembekuan darah saat terluka yaitu darah keluar jika terjadi luka sehingga darah berhubungan dengan udara. Trombosit yang keluar bersama darah akan pecah karena bergesekan dengan luka dan mengeluarkan trombokinase atau tromboplastin. Dengan bantuan ion ion Ca2+, tromboplastin mengubah protrombin (Protrombin adalah senyawa globulin yang larut dalam plasma dan dibuat di hati dengan bantuan vitamin K. Kalau kekurangan vitamin K, pembentukan protrombin terganggu. Dengan demikian, proses pembekuan darah juga terganggu) dalam darah menjadi trombin. Trombin akan mengubah fibrinogen yang ada dalam darah menjadi benang-benang fibrin, yaitu berupa benang-benang halus yang menutup luka sehingga darah tidak keluar lagi (Buku Sekolah Elektronik SMA XI, 2009)

MEKANISME KERJA SALEP KEONG

Luka bukan suatu hal yang asing bagi manusia. Luka terjadi karena akibat dari sesuatu hal, akibat terkena goresan pisau misalnya. Luka yang terjadi pada manusia memiliki spesifikasi yaitu luka ringan seperti luka akibat goresan kecil dan luka berat seperti luka yang diakibatkan oleh kebakaran hebat. Luka yang terjadi biasanya akan mengakibatkan darah keluar dari dalam tubuh, intensitas banyaknya darah yang keluar tergantung dari luka yang terjadi pada manusia. Darah yang keluar dari tubuh ini akan memicu trombosit untuk segera membekukan darah tersebut, yaitu pada saat  darah keluar dan darah berhubungan dengan udara luar, trombosit yang keluar bersama darah akan pecah karena bergesekan dengan luka dan mengeluarkan trombokinase atau tromboplastin. Dengan bantuan ion ion Ca2+, tromboplastin mengubah protrombin (Protrombin adalah senyawa globulin yang larut dalam plasma dan dibuat di hati dengan bantuan vitamin K. Kalau kekurangan vitamin K, pembentukan protrombin terganggu. Dengan demikian, proses pembekuan darah juga terganggu) dalam darah menjadi trombin. Trombin akan mengubah fibrinogen yang ada dalam darah menjadi benang-benang fibrin, yaitu berupa benang-benang halus yang menutup luka sehingga darah tidak keluar lagi (Buku Sekolah Elektronik SMA XI, 2009).

Dalam proses pembekuan darah tidak hanya membutuhkan trombosit untuk membekukannya, tetapi juga membutuhkan unsur zat yang berasal luar tubuh, seperti ion Ca2+ dan vitamin K. Lama waktu dalam pembekuan darah luka ini berbeda-beda untuk setiap orangnya, karena tidak semua manusia memiliki zat pembeku atau koagulan dengan konsentrasi normal dalam darahnya. Beberapa manusia penderita penyakit yang terpaut kromosom seks, yaitu hemofilia. Hemofilia disebabkan oleh gen resesif h yang terpaut pada kromosom-X. Gen H mengakibatkan sifat normal pada darah dan gen h merupakan penyebab hemofilia. (Buku Sekolah Elektronik SMA XII, 2009).  tentu akan mengalami masalah yang besar jika manusia penderita hemofilia ini mengalami luka yang mengeluarkan darah. Penderita hemofilia yang terluka jika tidak segera dihentikan lukanya akan mengakibatkan kekurangan sel darah merah dalam jumlah yang besar, dampak buruk dari kejadian ini yaitu dapat mengakibatkan kematian bagi penderita. Contoh penanganan luka pada penderita hemofilia adalah Replacement Therapy, yaitu pemberian zat atau faktor pembeku darah yang dibutuhkan penderita hemofilia dalam bentuk tranfusi plasma. Proses terapi ini memerlukan biaya mahal untuk melakukannya,  dan dalam pemberian dosis serta jadwal terapi juga harus dibawah pengawasan dokter hematologi. Selain dengan terapi ini biasanya dalam penanganan luka juga dilakukan dengan cara pemberian alkohol seraya menekan luka dengan waktu yang lama, namun tentu saja hal ini belum tentu dapat menghentikan penderita hemofilia dengan cepat. Penanganan yang dengan alkohol ini hanya membutuhkan sedikit biaya dan cara penanganannya mudah, tetapi penanganan ini hanya digunakan untuk pertolongan pertama dan tidak bisa dipastikan mutlak dapat menghentikan darah penderita hemofilia. (World Federation of Hemophilia, 1998).

Di sisi lain saat ini cangkang keong mas, dimana mengandung kapur kalsium karbonat yang dapat digunakan untuk membekukan darah belum termanfaatkan. Kalsium yang terkandung dalam cangkang dapat dimanfaatkan untuk membantu mempercepat pembekuan darah dengan cara merubah protrombin menjadi thrombin (Wikipedia, 2010). Tanaman genjer yang pemanfaatannya hanya sebatas untuk sayur dan kurang diminati ternyata mengandung vitamin K (Rudianto, 2004). Vitamin K ini juga disebut vitamin koagulan yang berperan dalam pembentukan protrombin dan juga membantu mengubahnya menjadi thrombin (Wikipedia, 2010). Untuk menambah nilai daya guna dari cangkang keong mas dan tanaman genjer ini, penulis menciptakan suatu produk yang dapat digunakan untuk mempercepat proses pembekuan darah saat terjadi luka.

Cara pembuatan salep dari cangkang keong mas dan tanaman genjer cukup sederhana, yaitu dengan membuat serbuk cangkang keong mas dengan cara menumbuknya dan membuat estrak tanaman genjer dengan cara di blender. Setelah itu mencampurkan serbuk cangkang keong mas dan estrak tanaman genjer ke dalam vaselin. Kemudian campuran ini dipanaskan selama kurang dari 5 menit. Pemanasan ini bertujuan untuk melunakan serbuk cangkang keong mas supaya tidak kasar saat dioleskan ke luka dan pemanasan ini juga bertujuan mencampurkan semua bahan secara sempurna.

Fungsi kerja dari salep ini adalah mempercepat proses pembekuan darah yang dialami saat terjadi luka. Prinsipnya kalsium karbonat yang terdapat pada cangkang keong ini bersifat koagulan atau pembeku. Kalsium yang terkandung dalam cangkang ini cukup besar dan bertugas dalam pengubahan protrombin yang berfungsi untuk pembekuan darah menjadi trombin. Thrombin ini akan mengubah fibrinogen dalam darah menjadi benang-benang fibrin yang dapat menutup luka dan menggumpalkan darah sehingga darah tidak terus-menerus keluar dari luka tersebut (Buku Sekolah Elektronik SMA XII, 2009). Genjer yang digunakan dalam salep ini juga berfungsi dalam proses pembekuan darahnya. Vitamin K yang sebenarnya berfungsi membentuk protrombin dalam hati, dalam konsep salep ini, vitamin K dalam genjer ditambahkan untuk mempercepat pembekuan darah dengan cara membantu mengubah protrombin menjadi thrombin (Wikipedia, 2010), dengan penambahan kalsium dan vitamin K ini didapatkan hasil penyingkatan waktu dalam proses pembekuan darah luka.

Dalam pembuatan salep ini digunakan vaselin yang berfungsi sebagai lotion supaya salep mudah untuk dioleskan di kulit. Vaselin ini bersifat hidrofilik (bersifat suka air), sehingga selain salep ini mudah dioleskan di kulit, juga mudah untuk membersihkannya dengan menggunakan air, tidak seperti salep yang menggunakan bahan dasar zat yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) seperti lemak hewan dan minyak (Bahrul, 2012). Tujuan dari pemanasan saat pembuatan salep ini yaitu agar partikel-partikel zat yang dicampurkan dapat menyatu dengan baik.

Dari segi ekonomis, pembuatan salep cangkang keong mas dan tanaman genjer ini hanya membutuhkan biaya produksi kurang lebih Rp 5.800,- per 400 gram salep ( 100 gram cangkang keong mas, 100 gram genjer, 200 gram vaselin ), tentu saja apabila diperuntukan untuk penghentian darah luka penderita hemofilia yang darahnya sukar membeku atau mungkin membutuhkan waktu yang lama dalam pembekuan darahnya  yang biasanya menggunakan Replacement Therapy untuk menghentikan darahnya dan dilakukan oleh dokter ahli hematologi tentu akan lebih murah apabila menggunakan treatment salep keong mas dan genjer untuk menghentikan pendarahan lukanya. Dalam segi efisiensi waktu, pembuatan salep ini hanya memerlukan waktu yang relatif singkat, dan cara pembuatannya yang sederhana dapat diimplementasikan di ruang lingkup masyarakat luas.

Dengan berbagai keuntungan tersebut, diharapkan supaya masyarakat sadar untuk dapat memanfaatkan benda-benda yang terbuang dan dianggap kurang  berguna seperti cangkang keong mas dan tanaman genjer menjadi sesuatu produk yang bernilai lebih dan dapat digunakan sebagai pemercepat  penggumpal darah luka dengan cara diproduksi menjadi salep dengan bahan tambahan vaselin. Untuk prospek kedepan, salep ini dapat diproduksi secara masal supaya masyarakat penderita hemofilia pada khususnya dapat memperoleh cara untuk mempercepat pembekuan darahnya jika terjadi luka  dan tidak berujung pada akibat fatal akibat kehabisan banyak sel darah merah yaitu kematian. 

Versi full disini

0 komentar:

Posting Komentar